Tiba - Tiba Dijodohkan

Tiba - Tiba Dijodohkan
Menjaga Mas Adam


__ADS_3

Tapi saat Adam akan menjawab pertanyaan dari sang Ibu seketika adzan Isya' berkumandang. Adam memutuskan untuk tidak menjawabnya karena baginya itu sama sekali tidak terlalu penting juga.


"Sudah adzan, Mas mau sholat di Masjid dulu." Adam mengalihkan pembicaraan dari sang Ibu dan juga Zahira.


"Eh.. Mas kan belum jawab pertanyaan Ibu. Main pergi gitu aja." Zahira menahan tangan suaminya agar tidak pergi dulu.


"Lagian itu pertanyaan tidak penting juga kan." Jawab Adam dengan santainya. "Sudah, Mas mau ganti baju, keburu iqomah entar." Adam melepaskan tangan Zahira.


Adam beranjak dari duduknya dan berjalan ke kamar untuk berganti baju dan berangkat ke Masjid. Zahira sangat kesal dengan Adam di tanya seperti itu malah tidak mau ngaku. Zahira hanya bisa cemberut saat melihat Adam yang sudah pergi ke Masjid.


"Awas saja nanti." Gerutu Zahira dalam hati sambil melipat tangannya di dada dan menyandarkan punggungnya di sofa. Hatinya masih dongkol.


Zahira pun mengalihkan pandangannya pada Ibu mertuanya.


"Bu.. bagaimana menurut Ibu. Apa Mas Adam pernah joget-joget dengan biduan-biduan genit itu?" Tanya Zahira meminta pendapat pada sang Ibu mertua dengan wajah seriusnya.


Ibu menggeser duduknya agar dekat dengan Zahira. Sedangkan Ayah dia juga sudah berlalu untuk pergi ke Masjid juga, melaksanakan sholat isya berjamaah dengan para lelaki lainnya.


"Kalau menurut Ibu sih tidak mungkin Nak, masa iya putra Ibu mau joget-joget dengan mereka yang genitnya minta ampun. Kamu tahu sendiri kan Adam itu orangnya gimana? Dia itu punya sifat dingin, wajahnya saja datar gitu." Jawab Ibu dengan rasa yakinnya.


"Tapi kan bisa aja Bu, apalagi ini di kampung. Kebanyakan pemuda di sini aja suka banget bergoyang di atas panggung sambil memberi saweran yang nominalnya tidak sedikit." Jawab Zahira yang masih ragu.


Zahira kesal dengan sendirinya jika membayangkan Adam sang suami yang ikutan bergoyang di atas panggung dengan wanita-wanita lain, lalu dia akan memberikan uang saweran juga.


"Ih.. jangan sampai." Zahira bergidik sendiri jika membayangkan itu.


"Wah.. jika putra Ibu seperti itu, maka ini gawat Nak. Nanti kamu harus menjaganya biar Adam tidak sampai naik ke atas penggung." Ucap Ibu memberi peringatan kepada Zahira.


Zahira mengangguk. "Pasti Bu, nanti Mas Adam akan selalu Zahira jaga biar tidak bisa kemana-mana." Ucapnya pasti.


Ibu pun melirik Zahira sejenak sebelum dia bertanya sesuatu yang serius.


"Emm.. Nak, Ibu mau bertanya sama kamu tapi kamu jangan marah ya.. jika Ibu ini terlalu ikut campur sama masalah kamu?" Tanya Ibu dengan hati-hati sambil memegang kedua tangan Zahira.


"Ibu mau bertanya apa?" Zahira balik bertanya.


Zahira cukup penasaran perihal apa yang ingin di tanyakan oleh wanita paruh baya ini.


"Kemarin itu kalian ada masalah apa sih, hingga Adam berani mengabaikan kamu Nak?" Tanya Ibu yang tidak bisa membendung rasa penasaran nya sejak kemarin.


Tapi berhubung kini hanya ada mereka berdua saja, jadi Ibu memberanikan diri untuk bertanya. Walau kesannya tidak pantas untuk ikut campur masalah di antara anak dan menantunya ini. Tapi sungguh, Ibu sangat ingin tahu lebih jelas.


"Oh.. masalah yang kemarin itu." Jawab Zahira dan Ibu langsung mengangguk.


"Cuma salah paham aja kok Bu. Mas Adam tuh cemburu karena waktu itu Zahira dapat kado dari Kak Haikal." Terang Zahira.

__ADS_1


"Memang kamu dapat kado apa dari Haikal, sampai putra Ibu itu bisa cemburu gitu?" Tanya Ibu dengan kening yang hampir menyatu.


"Gamis Bu.. gamisnya bagus banget terus kainnya lembut lagi." Jawab Zahira.


"Hanya karena sebuah gamis saja, dia berani mengacuhkan kamu?" Ibu sampai geleng-geleng kepala tidak percaya.


"Iya." Jawab Zahira singkat lalu mengambil cemilan yang ada di toples.


"Adam.. Adam, cemburu tidak masuk akal. Ternyata dia posesif banget ya Nak sama kamu." Ucap Ibu terkekeh kecil.


"Bener banget kata Ibu." Zahira mengangguk membenarkan ucapan sang ibu mertua.


"Apalagi kemarin, pas kamu tinggal ke rumah Emakmu. Dia celingukan kesana kemari mencari keberadaan kamu Nak.." Lanjut Ibu terkikik geli.


"Haha.. ya seperti itulah putra Ibu. Nggak bisa jauh-jauh dari aku, sampai-sampai punya pemikiran kalo aku mau kabur dari rumah ini. Ada-ada saja." Jawab Zahira di selingi tawa kecilnya.


"Eh, kok bisa?" Tanya Ibu terkejut setelah tawanya berhenti.


"Mas Adam bilang, katanya Ibu nggak cerita yang sebenarnya kalau aku nginap di rumah Emak." Ujar Zahira.


"Oh.. Ibu memang sengaja bohongi Adam. Biar dia tau rasa, gimana nggak enaknya bila di cuekin istri." Jelas Ibu.


***


Selesai sholat Isya, Adam memutuskan mampir ke warung terlebih dahulu. Ternyata di sana juga ada Andi yang kebetulan sedang minum kopi.


"Kamu Dam.." Andi menoleh ke arah Adam lalu menggeser sedikit badannya agar Adam bisa duduk.


"Baru pulang dari Masjid kamu?" Tanya Andi melihat penampilan Adam.


"Iya." Jawab Adam dengan anggukan kepala.


Lalu memesan kopi dan juga gorengan yang baru saja matang.


"Kamu dapat undangan dari Bowo tidak?" Tanya Andi lagi.


"Iya dapat." Jelas Adam singkat lalu menyeruput kopinya yang sudah jadi.


"Hah.. pusing aku." Keluh Andi sambil membuang nafas berat di udara.


"Kenapa?" Tanya Adam menoleh pada sang sahabat.


"Kapan ya giliran aku menikah juga. Bowo aja adik kelas kita sudah mendapatkan jodohnya. Lah.. terus aku kapan? Sampai sekarang aja aku masih jomblo." Jawab Andi dengan nada frustasinya.


Adam menepuk bahu Andi memberi semangat. "Memang kamu sudah berencana untuk menikah apa?" Tanya Adam.

__ADS_1


"Tentu saja sudah ada niatan Dam.. Tapi aku sendiri tidak tahu siapa jodohku kelak." Jawab Andi.


"Ya, minta saja sama kedua orang tuamu. Biar kamu segera dicarikan jodoh sama seperti aku ini." Adam memberi saran.


"Tapi aku sudah jatuh hati sama seseorang Dam." Jelas Andi.


"Siapa?" Tanya Adam penasaran.


"Mila, tetangga kamu." Jawab Andi singkat.


"Mila yang anaknya pendiam itu." Ucap Adam memastikan jika ia tidak salah orang.


Andi mengangguk membenarkan.


"Kalau kamu memang benar-benar menyukainya segera lah kamu ungkapkan perasaanmu. Biar Mila nggak keburu di ambil orang lain." Sambung Adam.


"Tapi kamu bantu aku ya Dam." Pinta Andi.


"Bantu gimana?" Tanya laki-laki tampan itu.


"Ya, untuk mempertemukan aku sama Mila." Jawab Andi.


"Baiklah nanti aku bantu kamu." Ucap Adam mengangguk pasti.


Sekarang Andi bisa bernafas lega setelah menceritakan semuanya kepada Adam.


***


Pukul 22:00 Adam baru pulang dari warung. Segera berganti baju dan membaringkan tubuhnya di samping sang istri. Zahira yang tadinya tertidur pulas merasa terusik dengan pergerakan Adam. Ia pun membuka kedua matanya.


"Mas.. kok baru pulang?" Tanya Zahira dengan suara parau.


"Iya.. tadi Mas mampir dulu ke warung." Jawab Adam.


Zahira pun tidak bertanya lagi karena matanya sudah sangat ngantuk. Adam tersenyum melihat sang istri sudah memejamkan matanya lagi. Adam menarik tubuh Zahira agar bisa ia peluk dengan leluasa.


Cup..


"Selamat tidur sayang." Bisik Adam setelah mengecup kening Zahira.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


Maaf ya.. jika ceritanya membosankan🙏🙏 mohon di maklumi karena Author hanya seorang amatir.


__ADS_2