Tiba - Tiba Dijodohkan

Tiba - Tiba Dijodohkan
Sakit


__ADS_3

"Enak makannya?" Tanya Adam dingin, memandangi wajah istrinya yang menunduk itu.


"E-enak Mas." Jawab Zahira terbata-bata.


"Duh, kenapa malah ke sini? Sebenarnya yang ketinggalan itu apa sih." Terka Zahira dalam hati.


Zahira menjadi salah tingkah, Adam tidak beranjak dari duduknya. Bukannya berangkat kerja malah menemaninya makan, emang tidak takut terlambat apa?


Adam mengerutkan keningnya melihat bubur ayam yang masih ada satu porsi di atas meja.


"Untuk siapa itu?" Tunjuk Adam dengan dagunya.


"Hah.." Zahira mendongak.


"Bubur ayam itu untuk siapa? Banyak juga kamu belinya." Ujar Adam mengulang perkataannya dengan raut datar sambil memegang styrofoam.


Zahira tersenyum kaku. "Itu juga punyaku Mas, buat jaga-jaga aja kalau aku masih lapar." Jawab Zahira lalu melanjutkan lagi makan buburnya.


"Oh." Sahut Adam singkat. Dan tanpa disuruh Adam memakan bubur ayam itu dengan lahap.


"Ya.. kok dimakan? Lalu siangnya aku makan apa dong.." Zahira hanya bisa berucap dalam hati.


"Mas, buburnya kok kamu makan?" Akhirnya Zahira memberanikan bertanya sambil menenangkan Arvind yang tiba-tiba merengek.


"Mas juga lapar tadi tidak jadi sarapan." Jawab Adam dingin.


"Cup.. cup. Adek bobo nya nggak nyaman ya?" Tanya Zahira lalu berdiri sembari mengelus kening Arvind.


Adam menghentikan suapannya ketika Zahira masuk rumah begitu saja, meninggalkan dirinya. Ia meletakkan sendok dengan kasar, selera makannya hilang sudah.


**


Zahira masuk ke dalam kamar untuk menidurkan Arvind di atas ranjangnya agar mudah untuk memberi Asi.


Ceklek.. suara pintu terbuka. Zahira yang tadinya memejamkan mata harus ia urungkan dan menolehkan kepalanya melihat siapa yang masuk ke kamarnya disaat ia sedang memberi jagoan kecilnya Asi.


"Eh, I-ibu.." Sapanya kikuk.


Ibu masuk ke kamar Adam karena ingin melihat cucunya yang sedari tadi belum ia temui. Wanita paruh baya itu mendudukkan dirinya di ranjang namun hanya diam saja sembari mengelus kepala Arvind dengan sayang.


"Cucu Uti kok udah bobo aja sih, padahal mau Uti ajak main." Ucap Ibu mengabaikan Zahira.


Mendengar suara neneknya, Arvind pun membuka kedua mata kecilnya membuat Ibu tersenyum.


"Ayo kita keluar tampan." Ajak Ibu dan langsung menggendong Arvind lalu membawanya keluar kamar. Zahira hanya bisa menghela napasnya.


"Mumpung Arvind sama ibu, lebih baik aku mencuci baju." Gumamnya lalu membawa keranjang berisi pakaian kotor Adam dan Arvind.

__ADS_1


Melihat pakaian kotor kedua mertuanya yang menumpuk di samping mesin cuci membuat Zahira mencucinya juga. Sambil menunggu cuciannya, Zahira memainkan ponselnya membuka aplikasi belanja online mencari baju bayi yang menurutnya bagus jika Arvind pakai untuk pernikahan Andi nanti.


"Bagus-bagus benget, jadi pengen beli semuanya." Sambil tersenyum lucu.


"Tapi tidak mungkin juga, yang ada pemborosan namanya."


Setelah mendapatkan satu stel baju yang ia inginkan. Berbarengan dengan itu mesin cuci juga sudah berhenti. Zahira meletakkan ponselnya kemudian menjemur semua pakaiannya.


"Haus banget, Ibu dan Arvind ke mana ya kok tidak ada?" Setelah meletakkan ember di ruang belakang Zahira mencari-cari keberadaan anaknya sambil mengambil air minum di kulkas.


Karena tidak menemukan mereka berdua, Zahira menghempaskan tubuhnya di sofa seraya memijit keningnya yang mendadak pusing.


"Pusing banget, efek kurang tidur kayaknya." Gumamnya.


Bagaimana tidak, hampir di jam satu dini hari Arvind selalu nangis karena merasa haus dan setelah itu tak kunjung tidur lagi walau sudah diberi ASI. Karena memang sudah menjadi kebiasaannya di jam-jam seperti itu untuk bermain, hingga pukul tiga pagi barulah bayi lucu itu tertidur lelap.


Baru juga mejamkan mata untuk menghilangkan rasa pening, ponsel di saku gamisnya kini bergetar, dengan enggan Zahira harus mengangkatnya.


"Hallo." Ucap Zahira.


"Nduk.." Suara sang ibu di sebrang sana.


"Ya Mak, Emak perlu sesuatu?" Zahira bertanya to the poin pada sang ibu yang masih berada di Puskesmas. Barangkali ibunya itu membutuhkan bantuan.


"Iya Nduk, tolong kamu pulang sebentar ya. Bersihkan rumah sekaligus kamu cuci semua baju kotor Emak dan adikmu. Bapakmu tidak sempat melakukannya karena harus kerja juga." Jawab sang ibu.


"Satu lagi Nduk, kamu masak juga ya. Kasihan Bapakmu harus beli makanan terus selama Emak tinggal." Ujar Ibu.


"Bahan-bahan di kulkas masih ada kan?" Tanya Zahira.


"Masih ada, nanti kamu masak ayam kecap sama tumis kangkung aja biar nggak ribet kamunya." Ujar Ibu.


"Iya Mak." Balas Zahira.


"Ya sudah, hanya itu yang mau Emak omongin. Kalau gitu Emak tutup telponnya. Assalamu'alaikum." Ucap Ibu.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Zahira lalu mematikan sambungannya.


Zahira mendesah berat nambah lagi pekerjaannya. Baru juga mau istirahat, sekarang harus ke rumah untuk membersihkan rumahnya yang pastinya saat ini sudah kotor sekali karena ditinggal ibunya selama tiga hari.


Zahira bangkit dari duduknya lalu melangkah ke teras depan, siapa tahu ibu dan Arvind ada di sana.


Sambil memangku Arvind ibu duduk di ayunan. Dari raut wajahnya saja ibu bahagia sekali bersama cucunya itu.


"Bu.." Panggil Zahira, Ibu pun menoleh.


"Aku minta izin. Aku mau pulang sebentar ya." Ujar Zahira memberitahu.

__ADS_1


"Ngapain pulang?" Tanya Ibu sedikit sewot.


"Bersih-bersih rumah Bu dan juga masak untuk makan Bapak nanti." Jawab Zahira.


"Pasti lama, kamu pompa dulu Asi kamu biar Arvind nggak kehausan selama kamu tinggal." Ibu tidak mau kejadian kemarin itu terulang lagi.


"Iya Bu." Zahira menurut lalu masuk ke kamar untuk memompa ASI nya, cadangan buat Arvind selama ia pergi ke rumah.


"Bu, Asi Arvind aku taruh di meja ruang tengah. Aku tinggal dulu ya." Pamit Zahira sambil mencium kening sang putra.


Zahira harus berjalan kaki untuk pulang ke rumahnya dengan waktu lima belas menit karena tidak adanya sepeda.


Begitu sampai di halaman rumahnya, Zahira melihat banyaknya rontokan daun-daun kering berserakan di tanah membuat ia geleng-geleng kepala.


Dengan sigap ia segera mengambil sapu untuk membersihkannya agar sedap di pandang. Kemudian berganti menyapu di dalam rumah setelah itu mencuci baju kotor milik kedua orang tuanya dan juga bajunya Akmal. Hingga menghabiskan waktu satu setengah jam lamanya.


"Hah, tinggal masak saja yang belum. Ya Allah capek banget aku?" Keluhnya sembari merebahkan tubuhnya di ranjang kamarnya.


***


Sore hari. Selesai memandikan Arvind dan memberikan pada ibu mertua. Zahira juga langsung mandi dan setelah itu sholat Ashar. Namun entah kenapa tiba-tiba seluruh tubuhnya menjadi panas.


"Apa mungkin aku demam ya." Lirihnya setelah melipat mukenah.


"Lebih baik aku tidur saja, Arvind juga lagi sama ibu." Zahira menggulung seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Assalamu'alaikum." Ucap Adam sambil mencium tangan Ibu dan Ayah.


"Wa'alaikumsalam." Jawab mereka.


"Lihat, Papa Arvind sudah pulang.." Ucap Ibu kepada cucunya, duduk di teras bersama Ayah.


Adam tersenyum namun tidak berani mencium Arvind karena belum membersihkan diri.


"Papa masuk dulu ya Nak sekalian mandi juga." Ucapnya.


Begitu masuk kamar, pemandangan yang ia lihat adalah istrinya tidur meringkuk dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Tidak seperti biasanya Zahira tidur di sore hari.


"Tumben." Namun ia segera masuk ke kamar mandi karena belum melaksanakan sholat Ashar.


Bahkan Adam sampai selesai sholat pun Zahira tidak kunjung bangun. Dibalik selimutnya perempuan itu menggigil kedinginan, kepalanya juga terasa berat.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


.


__ADS_2