Tiba - Tiba Dijodohkan

Tiba - Tiba Dijodohkan
H-1


__ADS_3

Keesokan harinya.


Pukul 10:00 siang di rumah Zahira sudah ramai oleh para ibu-ibu tetangga yang sedang membantu Ibu memasak, juga membuat kue-kue khas kampung mereka. Yang besoknya akan dibawa ke rumah sang mempelai pria. Sebagian juga akan dibagikan ke tetangga.


Saat ini ada yang lagi memarut kelapa untuk dijadikan santan dalam membuat kue basah dari berbagai jenis. Ada juga yang bertugas mengupas bawang putih dan bawang merah juga bumbu-bumbu dapur lainnya untuk di olah menjadi Kare ayam, Sambal bali dengan ikan bandeng dan telur rebus. Ada yang menggoreng rengginang juga kerupuk udang.


Zahira sendiri tidak di perbolehkan untuk masuk ke dapur. Alasannya agar sang mempelai wanita tidak merasakan perih, akibat uap panas dari api juga bumbu-bumbu dapur yang di tumis.


"Kamu istirahat saja Nduk di kamar, biar besoknya kamu lebih segar. Ingat, kamu harus bangun pagi-pagi. Pukul 5 subuh kamu sudah di rias di rumahnya Nak Adam lho?" Ucap Ibu Zahira menghampiri sang putri yang sedang berdiri di depan kulkas untuk mengambil air minum.


Zahira memang harus di rias di rumah Adam. Agar sang perias nanti tidak kerepotan mengingat Akadnya di mulai pukul 08:00 pagi.


"Hira bosen Mak masa harus istirahat di kamar terus?" Keluhnya karena tidak tahu harus melakukan apa.


"Nduk, di luar ada Risma." Ucap Bapak.


Zahira menoleh. "Sama siapa Pak?" Tanyanya.


"Sama Mikha, gih kamu keluar temui Nak Risma." Suruh Bapak.


Zahira berjalan ke depan sambil membawa dua minuman dingin.


"Ris.." Panggil Zahira dengan senyum lebarnya.


Risma pun menoleh, membalas senyum Zahira. "Ayo sini duduk, aku tahu kamu pasti lagi bosen." Risma menepuk kursi kosong di sebelahnya.

__ADS_1


Zahira duduk di sebelah Risma sambil meletakkan botol minuman di atas meja.


"Tahu aja kamu kalau aku lagi bosan. Nggak boleh ini itu, disuruh istirahat aja sama yang lainnya." Adu Zahira membuat Risma terkekeh.


"Tentu saja aku tahu, kamu lupa apa aku kan pernah di posisi kamu. Makanya aku kemari menemani kamu biar kamu ada teman ngobrol." Jawab Risma menyenggol lengan Zahira.


"Ris aku deg-degan banget. Dulu, apa kamu juga kayak aku?" Tanya Zahira penasaran.


Risma tersenyum lucu. "Aku dulu juga gitu, tapi aku bawa santai aja. Udah kamu harus rileks biar besok nggak gugup." Jawab Risma menenangkan sahabatnya.


"Gitu ya?" Ucap Zahira.


"Iya. Pokoknya jangan tegang." Saran Risma.


"Eh, kamu udah denger belum?" Ucap Zahira.


"Itu loh, katanya Kak Haikal sama kedua orangtuanya bakal pulang kampung." Jawab Zahira.


"Iya. Aku udah dengar, kalau nggak salah besok deh mereka udah sampai." Jawab Risma sambil melihat anaknya yang sedang bermain sendiri.


"Kebetulan banget, barengan dengan acara Akadku?" Girang Zahira.


Mereka pun berbincang-bincang sampai Mikha merengek minta pulang.


***

__ADS_1


Sedangkan di rumah Adam saat ini juga ramai, sama halnya dengan di rumah Zahira. Para ibu-ibu tetangga juga membantu memasak. Ada juga petugas yang memasang dekorasi untuk tempat duduk pengantin.


Adam dan ibunya saat ini sedang melihat petugas dekor yang memasang bunga-bunga hidup di dinding kayu yang dibawa oleh petugas dekor sendiri. Sangat terlihat indah jika di pandang. Zahira memang tidak salah pilih dalam hal memilih dekorasi meskipun hanya sederhana.


"Kamu tidak keberatan kan Nak, karena cuma Akad saja tidak ada resepsi?" Tanya Ibu sambil menepuk lembut tangan Adam.


"Nggak masalah sama sekali Bu, asalkan Adam dan Zahira sudah sah dimata hukum dan agama." Jawabnya.


"Kamu memang anak yang berbakti Nak? Kamu selalu menuruti perintah Ibu." Ibu tersenyum bahagia.


"Sudah seharusnya seperti itu. Karena Adam anak Ibu satu-satunya." Jelasnya, menatap lembut wajah sang ibu.


"Ibu tidak bisa membayangkan andai kamu tidak bisa tegas dengan gadis itu dulu."


"Ibu tidak usah membahas masalah itu, itu juga sudah lama. Adam bahkan tidak pernah berpacaran dengan Citra. Dia saja yang terlalu obsesi pada Adam, mengaku-ngaku pada setiap teman kampus Adam. Kalau kami ini sepasang kekasih. Padahal itu tidak benar sama sekali." Sahut Adam.


Adam memang terkenal tampan di kampusnya dulu. Sampai ada salah satu gadis cantik yang bernama Citra mengejar-ngejar Adam selama dua tahun agar mau menjadi kekasihnya. Citra juga mengaku-ngaku pada teman kuliah Adam jika mereka sudah pacaran. Padahal Adam sama sekali tidak tertarik dengan hal yang berbau pacaran. Adam murni jomblo dari lahir.


Adam juga tidak pernah menanggapi bualan Citra. Adam membiarkan saja, siapa tahu Citra akan berhenti dengan sendirinya. Sampai-sampai Adam sudah jengah dan memberi peringatan tegas pada Citra agar berhenti mengusiknya. Seperti Adam yang sedang makan di kantin Citra dengan seenaknya dengan bergelayut manja di lengannya.


Belum lagi Citra juga sering datang ke rumah Adam dengan mengaku-ngaku sebagai pacarnya pada Ayah dan Ibu Adam.


Ibu menghela nafas dalam. "Bagaimana ibu tidak mengingatnya, dia sering datang kesini dengan tidak tahu malunya hingga para warga di kampung ini menganggap kalian itu sepasang kekasih." Jawab Ibu sedikit kesal.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2