Tiba - Tiba Dijodohkan

Tiba - Tiba Dijodohkan
Akmal kecelakaan


__ADS_3

"Tumben Papanya Arvind jam segini belum pulang? Padahal ini sudah jam tujuh lebih?" Tanya Ibu kepada Zahira.


"Mas Adam lagi main futsal Bu." Jawab Zahira sambil ngemil keripik kentang, duduk di sofa ruang tengah menonton televisi.


"Kamu makan gih nggak usah nunggu suamimu." Perintah Ibu. Kedua mertua Zahira sudah makan malam.


"Nanti aja Bu, paling bentar lagi Mas Adam juga bakalan pulang." Tolak Zahira. Ia ingin menunggu suaminya untuk makan malam bersama.


"Ya sudah terserah kamu saja." Ibu tidak mau memaksa lagi.


Kini wanita paruh baya itu beralih pada cucunya yang saat ini sedang bergerak-gerak lincah. Sedari tadi bayi lucu itu sama sekali belum memejamkan mata mungkin karena siangnya kebanyakan tidur makanya baby Arvind belum ngantuk juga.


"Cucu Uti sekarang makin aktif ya, tambah berat juga." Ibu mengajak Arvind berbicara, gemas dengan wajah tampannya Arvind.


"Nanti kalau Arvind sudah besar kita jalan-jalan sama Akung, Mama dan Papa ya." Lanjut Ibu sambil menciumi kedua pipi tembem baby Arvind.


"Assalamu'alaikum, Nduk!!" Ibu Zahira masuk ke rumah besannya, memanggil nama Zahira.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Ayah, duduk seorang diri di ruang tamu sambil mengetik sesuatu di laptopnya.


Seketika Ayah menghentikan ketikannya sambil melepas kaca mata. Ayah mengernyit bingung saat besannya ini masuk ke rumahnya dengan tergesa-gesa dan wajahnya juga cemas.


"Zahira mana San?" Tanya ibu dengan nafas yang tersengal-sengal seperti orang habis lari.


"Ada di ruang tengah bersama ibunya Adam." Jawab Ayah.


Ibu Zahira langsung saja berjalan ke ruang tengah untuk segera menemui putrinya itu, meninggalkan Ayah yang cukup penasaran.


"Nduk.." Panggil Ibu dengan tidak sabarnya.


"Emak." Zahira menoleh sambil tersenyum. Pasti ibunya ini juga mau bermain sama baby Arvind.


"Nduk, anterin Emak ke puskesmas xx Nduk.. adikmu sekarang kecelakaan." Ucap sang ibu sambil menarik tangan Zahira agar segera berdiri dan mengantarkannya ke puskesmas yang di sebut.


Mata Ibu sudah berkaca-kaca karena sangat mencemaskan kondisi anak bungsunya itu.


"Kecelakaan gimana Mak?" Tanya Zahira yang juga ikut panik.


"Emak juga nggak tahu Nduk.. tadi ada orang nelpon Emak, katanya adikmu mengalami kecelakaan terus sekarang sudah ada di puskesmas xx. Ayo Nduk kita ke sana lihat kondisi adikmu Nduk.. Bapakmu juga tidak ada di rumah, Emak telpon berkali-kali tapi tidak diangkat juga. Emak khawatir sama kondisi adikmu Nduk.." Jawab Ibu panjang lebar.


"Iya ya Mak.. tunggu bentar aku ambil tas dulu." Jawab Zahira dan langsung masuk ke kamarnya.


Ibu Zahira sampai tidak menyadari jika ada besan perempuan dan juga cucunya.


"San.." Panggil ibu Adam yang dari tadi hanya menyimak dan akan bertanya tapi sudah disela oleh Zahira.


"Ayo Mak." Ajak Zahira menggandeng tangan sang ibu. Bahkan saking khawatirnya sama keadaan Akmal, Zahira sampai lupa tidak pamit pada mertuanya dan meninggalkan anaknya begitu saja.

__ADS_1


"Iya Nduk." Angguk Ibu berjalan disisi anaknya, mereka berjalan dengan cepat.


"Yah, aku pinjem motornya ya." Ucap Zahira tanpa memandang pada Ayah mertuanya.


Zahira dan ibunya menuju garasi untuk mengambil motor. Setelah sang Ibu sudah naik di jok belakang, Zahira langsung melajukan sepeda motornya.


Sementara Ibu mertua menggendong baby Arvind menghampiri sang suami yang masih saja memandang ke arah pintu. Ibu menyayangkan dengan sikap Zahira yang main pergi begitu saja.


"Yah.. Zahira sudah pergi ya?" Tanya Ibu seraya mendudukkan dirinya.


Ayah menoleh. "Sudah, Zahira mau ke mana Bu? Kenapa tergesa-gesa gitu?" Tanya Ayah.


"Katanya Akmal kecelakaan Yah, mereka mau ke puskesmas xx untuk melihat kondisi Akmal." Jawab Ibu pelan.


"Akmal kecelakaan Bu? Ya Allah kasihan sekali anak itu." Ujar Ayah.


"Tapi kenapa sama Zahira, besan laki-laki ke mana?" Tanya Ayah lagi karena jika Zahira pergi gimana sama cucunya jika tiba-tiba menangis karena merasa haus.


"Besan laki-laki tidak di rumah, sedang pergi juga." Jawab Ibu.


"Assalamu'alaikum." Ucap Adam.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Ayah dan Ibu.


"Nah, Papa sudah pulang." Ucap Ibu sambil menunjuk Adam yang langsung menghempaskan tubuhnya di sofa.


"Mandi dulu Nak, setelah itu kamu makan." Ujar Ibu.


"Iya, Bu." Jawab Adam lalu bangkit dari duduknya berjalan ke kamar untuk menyegarkan diri.


***


Setelah memarkirkan sepeda motornya, Zahira dan ibunya langsung masuk ke dalam puskesmas. Mereka bertanya pada perawat dengan pasien kecelakaan bernama Akmal dan perawat itu menunjukkan kamar Akmal.


"Dek.." Panggil Zahira setelah membuka pintu dan disana Akmal berbaring lemah di atas bed pasien.


Tangan kiri Akmal harus di gips sebab mengalami patah tulang.


"Mak.. Mbak.." Sahut Akmal lirih. Akmal merasa takut jika sang ibu akan memarahi dirinya karena tidak mendengarkan perkataannya kalau ia tidak boleh keluar tadi dan hasilnya sekarang ia harus terbaring lemah di sini.


"Gimana ceritanya Dek, kamu bisa kecelakaan?" Tanya Zahira. Sementara mengelus lengan kiri remaja itu yang terpasang gips.


"Aku keserempet mobil Mbak. Mobil itu lajunya kencang sekali." Jawab Akmal tidak berani menatap wajah Zahira karena sepeda motor yang ia naiki juga mengalami kerusakan akibat terjatuh tadi.


"Makanya, kalau orangtua ngomong itu di dengerin. Tidak boleh keluar ya tidak boleh, sekarang gini kan akibatnya." Sahut ibu yang sudah tidak tahan untuk tidak bersuara.


Akmal mengangguk lemah. "Iya Mak, Akmal salah karena tidak patuh sama ucapan Emak." Ucap Akmal menyesal.

__ADS_1


"Emak sama sekali tidak marah, tapi jangan di ulangi lagi. Sudah tahu kan rasanya, gimana membangkang sama orangtua?" Tanya Ibu bertutur lembut.


"Iya Mak." Jawab Akmal.


"Mbak.. sepeda motormu juga rusak." Kata Akmal sambil tersenyum kaku.


Zahira menghela napasnya. "Sudah kamu jangan mikirin motor, yang penting kamu segera sembuh biar nggak ketinggalan pelajaran sekolah." Imbuh Zahira, tidak apa-apa jika motornya rusak karena ada bengkel yang akan memperbaikinya.


***


Baby Arvind menangis di gendongan Papanya, bayi lucu itu sudah lapar ia juga tidak mau tidur. Adam sampai kesal karena sudah satu jam Zahira tidak pulang-pulang. Di telfon juga tidak diangkat. Adam sudah tahu kalau Zahira sedang pergi setelah diberitahu oleh ibu.


"Cup.. cup.. anak Papa. Iya kita tunggu Mama dulu ya Nak." Sambil mengelus-ngelus kening Arvind yang belum berhenti menangis.


Oek.. oek..


"Bu, coba telfon Zahira lagi." Adam di temani sang ibu menenangkan baby Arvind di kamar.


"Tidak diangkat Nak." Jawab Ibu.


Adam mendesah berat sementara Arvind masih saja menangis. Adam tetap berusaha menenangkan anaknya itu.


"Cup.. cup.. cucu Uti sayang." Ucap Ibu mengelus-elus kening Arvind.


"Zahira!!" Geram Adam, tidak ingat apa kalau dia punya anak bayi di rumah.


Ayah sampai masuk ke kamar Adam karena cucunya tidak kunjung berhenti menangis.


"Nak.. apa sebaiknya kamu beli sufor saja, kita juga tidak tahu kapan istrimu akan pulang. Kasihan Arvind?" Usul Ibu. Zahira juga sudah tidak pernah lagi memompa ASInya.


"Baiklah Bu." Jawab Adam, yang tidak tega melihat anaknya nangis seperti ini. Kemudian memberikan Arvind pada ibu.


Zahira sudah pulang dan ia cepat-cepat masuk kamar begitu mendengar suara tangisan anaknya.


"Arvind.." Panggilnya nampak cemas.


Adam, Ayah dan Ibu langsung menoleh. Adam yang sedang memakai jaket seketika mengeraskan rahangnya.


Zahira mendekat pada anaknya sambil mengulurkan tangannya. "Mama sudah pulang Nak." Ucapnya. Namun tiba-tiba...


"Berhenti disitu!" Ucap Ibu dengan tegas sambil menjauhkan Arvind agar tidak dijangkau Zahira.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


.


__ADS_2