Tiba - Tiba Dijodohkan

Tiba - Tiba Dijodohkan
Ingin merawat Ibu


__ADS_3

Setelah semua tamu sudah pulang kini hanya tinggal keluarga Adam dan keluarga Zahira saja yang berbincang-bincang di ruang tamu setelah di bersihkan terlebih dahulu. Sedangkan sang pengantin wanita tengah berganti pakaian di dalam kamar dibantu oleh sang ibu tercinta.


"Kamu cantik sekali Nduk.. Emak sama Bapak sampai tidak mengenali kamu tadi." Ungkap Ibu Zahira sembari melepaskan jarum-jarum pentul di kerudung putrinya.


"Iya Mak, Hira juga sampai nggak percaya. Kalau riasannya bakal sabagus ini padahal cuma riasan tipis." Jelas Zahira, tersenyum menatap dirinya di pantulan cermin meja rias.


"Itu karna kamu yang memang ndak pernah make up-an Nduk, selama ini kamu kan cuma makai bedak dan lipstik saja." Ucap sang ibu.


"Hehe.. Hira kan nggak pandai dandan Mak. Nanti kalau pakai make up yang berlebihan takutnya malah kayak ondel-ondel lewat." Jawab Zahira terkekeh. Ibu juga ikut terkekeh.


"Nduk.. kamu kan sudah jadi seorang istri. Harus nurut sama perintah suami ya. Mengurus semua keperluan suami juga penting, mulai bangun tidur siapkan pakaian kerjanya. Dan jika kamu hendak keluar rumah, jangan lupa pamit dengannya meski suamimu sedang di tempat kerjanya." Pesan ibu.


"Iya Mak.. Hira mengerti, terima kasih udah mengingatkan." Zahira berbalik badan lalu memeluk perut sang ibu yang berdiri di depannya. lbu mengelus lembut puncak kepalanya.


"Ini sudah selesai, kamu bisa bersih-bersih di kamar mandi. Emak keluar ya, menemui kedua mertuamu. Masalah pakaian jangan khawatir, biar nanti diantar sama adikmu." Ucap sang ibu. Kemudian melangkah keluar.


Setelah memastikan pintu kamar sudah tertutup rapat, Zahira masuk ke kamar mandi tidak lupa membawa baju gantinya juga. Adam berjalan ke kamarnya setelah melihat sang ibu mertua sudah keluar dari kamarnya.


Ceklek


Pintu ia buka, di edarkan pandangannya mencari sang istri tetapi Zahira tidak ada. Mendengar suara gemericik air di kamar mandi, Adam bisa menyimpulkan bahwa Zahira tengah membersihkan diri. Adam merebahkan tubuhnya di kasur dengan kaki yang menjuntai. Cukup melelahkan juga hari ini tapi ia sangat bahagia.


Mendengar pintu kamar mandi terbuka membuat Adam menolehkan kepalanya. Zahira keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah lengkap, tapi ada hal yang berbeda yaitu perempuan itu tidak lagi memakai kerudungnya hanya handuk yang menempel di rambut basahnya. Adam dibuat terkesima melihat pemandangan yang tidak pernah ia lihat sama sekali. Zahira benar-benar cantik bila tidak memakai kerudung apalagi harum sabun yang dipakainya benar-benar mengusik diri Adam saat ini.


Zahira sendiri tidak menyadari jika suaminya tengah memandangi dirinya sambil rebahan di kasur. Ia sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk. Lalu berjalan ke meja rias untuk memakai lotion di kedua lengannya dan kedua kakinya setelah melipat baju panjangnya tersebut.


"Ehhemm." Suara deheman Adam menghentikan kegiatan Zahira.


"Kak Adam!!" Zahira kaget melihat suaminya sudah berada di kasur, kapan masuknya kenapa dia bisa tidak tahu.


"Ma-maaf aku nggak tahu kalau Kakak udah ada di kamar." Ucap Zahira kikuk, Adam kini sudah mengubah posisinya menjadi duduk di pinggiran kasur.


"Kakak.. Apa kamu tidak bisa mengubah panggilan itu terhadapku?" Pinta Adam dengan nada dingin, kini ia tidak suka jika Zahira memanggilnya dengan sebutan Kakak apalagi mereka sudah berstatus suami istri.


"Maksudnya." Jawab Zahira bingung.

__ADS_1


Adam menghela nafas. "Kita ini sudah sah menjadi suami istri jadi ubah panggilanmu itu! Jangan memanggilku kakak lagi." Tegas Adam.


"Terus aku harus manggil apa?" Tanya Zahira dengan wajah bingungnya.


Adam bangkit lalu menghampiri Zahira yang masih duduk di kursi meja rias.


Pletak...


"Panggil Mas! Gitu aja nggak tahu." Adam menyentil kening Zahira karena istrinya itu kelewat polosnya.


"Aduh.. sakit Kak.. keras banget sih sentilannya." Gerutu Zahira sambil mengusap-usap keningnya yang sakit.


Adam hanya berlalu, masuk ke kamar mandi tanpa memperdulikan Zahira yang menggerutu kesal.


***


Di tempat lain.


Haikal dan keluarganya sudah tiba di kampung halamannya. Mereka kini sudah istirahat di rumah yang sudah lama mereka tinggalkan. Rumah yang dalam seminggu tiga kali selalu di bersihkan oleh pak RT dan istrinya, tentu saja dengan bayaran di setiap tahun tiga kali tranfers oleh ayah Haikal pada pak RT.


Ayah dan anak itu sedang duduk di kursi ruang tamu sambil menikmati secangkir kopi yang sudah dibuatkan oleh Bu RT.


"Kamu benar Kal, Ayah kan setiap tahunnya selalu mengirimi uang pada pak RT untuk mengurus rumah ini agar tetap terawat meskipun sudah lama kita tinggalkan." Jawab Ayah Haikal.


Sedangkan ibu Haikal kini sedang tidur di kamar akibat perjalanan jauh mereka.


***


"Le.. antar tas besar ini ke rumah kakak iparmu. Biar Mbakmu bisa berganti baju, ini sudah jam empat sore." Ucap Ibu sambil memberikan tas besar berisi pakaian lengkap Zahira kepada Akmal.


"Kenapa nggak Mbak Hira aja sih Mak yang ngambil sendiri. Kenapa harus Akmal." Protesnya karena lagi asyik-asyiknya bermain game di ponsel.


"Jangan ngebantah Le.. apa kamu mau Emak sita Hape kamu." Ancamnya kepada si bungsu.


"Jangan dong. Iya iya.. Akmal antar ke rumah kakak ipar." Sahutnya cepat. Bisa gawat jika ponselnya di sita beneran oleh sang ibu.

__ADS_1


"Itu baru anak penurut plus tampan." Puji Ibu pada putra bungsunya yang bandelnya minta ampun.


Akmal menaiki sepeda motor matic milik Zahira untuk mengantar tas yang berisi baju-baju.


"Assalamu'alaikum..." Ucap salam Akmal di teras rumah Adam.


"Wa'alaikumsalam. Eh, kamu dek.. ada apa?" Tanya Zahira melihat Akmal yang datang.


"Ini, disuruh Emak nganter baju milik kamu Mbak." Akmal mengulurkan tas tersebut kepada Zahira.


"Makasih adek tampanku.. jadi ngrepotin kamu!" Jawab Zahira sembari menerima tas besar itu.


Akmal mengangguk.


"Aku langsung pulang ya Mbak." Pamitnya tidak mau berlama-lama karena harus melanjutkan lagi bermain gamenya.


"Iya, sekali lagi makasih." Ucap Zahira.


Setelah melihat Akmal sudah hilang dari pandangan, Zahira langsung masuk ke kamarnya untuk menyusun semua pakaiannya ke dalam lemari. Zahira sendiri sudah mandi dan sholat ashar, ia juga sudah berganti pakaian dengan baju yang dibelikan Adam beberapa pasang di lemari kamarnya. Adam benar-benar sudah menyiapkan semua untuk dirinya.


"Apa ibu sudah mandi?" Tanya Zahira menghampiri sang ibu mertua yang duduk sendiri di halaman samping.


"Sudah Nak, tadi ayahmu yang memandikan ibu." Jawabnya sambil memegang tangan menantunya untuk duduk di sebelahnya.


"Maaf, harusnya aku yang memandikan ibu." Ucap Zahira merasa bersalah.


"Kenapa harus minta maaf sayang? Sudah kebiasaan ayah memandikan ibu, jadi kamu tidak perlu sungkan." Ucap Ibu tersenyum lembut.


"Karena aku juga ingin merawat ibu. Ibu adalah ibuku sekarang." Jawab Zahira.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2