
Pagi yang cerah di hari Sabtu. Setelah selesai sarapan bersama, Adam langsung memanaskan mesin mobilnya untuk ia pakai pergi jalan-jalan ke pantai.
Zahira dan sang ibu mertua juga sedang duduk di teras melihat Adam yang sedang mengelap mobil dari debu yang menempel.
"Kalian akan pergi ke mana Nak?" Tanya Ibu. Dia belum tahu akan rencana jalan-jalan antara Adam dan Zahira.
Zahira menoleh. "Kami mau pergi ke pantai Bu." Jawab Zahira sambil tersenyum.
"Hmm, pantas saja kamu dari tadi kok senang sekali." Ujar Ibu juga ikut tersenyum.
"Hehe.. iya Bu. Udah lama juga nggak pernah liburan." Sahut Zahira memberitahu.
"Hanya berdua saja atau adik kamu juga ikut?" Tanya Ibu.
Zahira menggeleng. "Kami ber-empat kok Bu, tapi bukan dengan Akmal." Jawab Zahira.
"Oh, Ibu kira Akmal kamu ajak juga. Terus dengan siapa yang berdua itu?" Tanya Ibu penasaran.
"Akmal kalo diajak pasti juga tidak akan mau Bu. Kami perginya sama Kak Andi dan Mila." Jawab Zahira.
"Mila, Mila tetangga kita itu ya Nak." Jelas Ibu takut jika pendengaran nya salah tangkap.
Zahira mengangguk.
"Iya Bu, Mila itu sekarang pacaran sama Kak Andi. Dan yang punya keinginan jalan-jalan ke pantai itu ya Kak Andi." Jawab Zahira sambil memberitahu tentang hubungan asmara antara Andi dan Mila.
Ibu pun menjadi kaget dibuatnya. "Lho, sejak kapan? Kok Ibu baru tahu?" Tanya Ibu terheran-heran.
Zahira tersenyum lucu melihat ekspresi kaget Ibu. Dia aja juga kaget apalagi ibu mertuanya.
"Belum lama juga kok Bu mereka pacarannya. Jika di hitung baru juga tiga hari ini." Jawab Zahira.
Ibu manggut-manggut. "Syukurlah, jika Andi sudah punya pacar. Dengan begitu dia nanti bisa menyusul kalian ke jenjang pernikahan." Do'a Ibu untuk Andi.
"Amin.. sebenarnya Kak Andi juga sudah punya niatan untuk menjalin rumah tangga Bu." Ungkap Zahira.
Adam sudah selesai mengelapi badan mobil. Lalu dia mencuci tangannya di kran air. Melihat sang istri dan sang ibu yang asyik mengobrol ia langsung menghampiri keduanya mengambil duduk di samping sang istri kemudian meminum kopi yang baru di buatkan oleh Zahira.
"Ayo masuk, kita mandi lalu bersiap-siap." Ajak Adam setelah meminum kopinya.
Zahira pun mengangguk dan bangkit dari duduknya untuk mengikuti langkah Adam.
"Bu, aku masuk ya." Ucap Zahira sambil membawa secangkir kopi yang tinggal ampasnya.
"Iya Nak." Jawab Ibu mengangguk.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Andi dan Mila memasuki halaman rumah Adam.
"Assalamu'alaikum.." Ucap salam mereka menghampiri Ibu Adam.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Ibu sambil tersenyum ramah.
"Adam sama Zahira mana Bu?" Tanya Andi seraya mendudukkan dirinya di kursi diikuti juga oleh Mila.
"Lagi di kamar sedang bersiap-siap juga. Mila, apa kabar Nak? Bibi baru tahu kalau kamu sama Andi sedang menjalin kasih." Kata Ibu bertanya pada gadis yang duduk di depannya.
"Kabar Mila baik Bi.." Jawab Mila dengan tersenyum malu.
"Widih, Ibu dengar dari siapa nih, Adam atau Zahira?" Tanya Andi dengan usil.
"Dari menantu Ibu lah." Jawabnya.
"Kirain dari Adam." Kekeh Andi.
Ibu juga ikut tertawa. "Mana mungkin anak Ibu yang irit bicara itu cerita-cerita tentang beginian." Ujarnya.
***
Setelah berpamitan kepada Ibu, kini mobil berwarna putih itu sudah melaju membelah jalan raya dengan Adam yang megemudikan mobilnya sendiri. Tetapi nanti dia akan bergantian dengan Andi saat waktu pulang tiba.
"Mas, nanti singgah di mini market depan ya." Ujar Zahira.
"Iya Sayang." Jawab Adam tanpa menoleh karena fokus melihat depan.
"Kamu mau beli apa Ra?" Tanya Andi.
"Mau beli cemilan sama minuman dingin Kak, mengganjal perut selama di perjalanan." Jawab Zahira.
"Makan mulu kamu." Ejek Andi.
"Biarin, nanti Kak Andi juga akan minta jika aku beli makanan yang enak-enak." Balas Zahira membuat Adam mencubit gemas pipi sang istri.
"Oh, itu sudah jelas. Sesama manusia memang harus berbagi. Benar kan Dek?" Andi meminta pendapat dari Mila yang mana gadis itu hanya mengangguk dan tersenyum.
Mobil Adam berhenti di pelataran mini market. Zahira mengajak Mila turun memasuki mini market untuk membeli makanan ringan berupa roti, snack dan juga beberapa minuman dingin. Tidak ketinggalan Zahira juga membeli empat es krim cup rasa coklat dan stroberi. Setelah membayar semua barang belanjanya Zahira dan Mila masuk ke dalam mobil.
"Ayo Mas, kita jalan." Ucap Zahira setelah memasang sabuk pengaman. Mobil pun melaju lagi.
Zahira membuka Snack rasa jagung bakar. Ia juga menyuapi Adam agar bisa menikmati cemilan yang baru ia beli.
"Ra, bagi snack nya dong." Pinta Andi.
__ADS_1
Padahal Mila juga sudah di belikan Zahira bebarapa cemilan sama minuman dingin dan juga es krim. Tapi bukan Andi namanya jika dia tidak menggoda Zahira.
"Nggak boleh, minta sama Mila sana!" Sinis Zahira.
"Pelit amat kamu Ra." Komen Andi.
"Nih Kak, cemilan yang tadi dibelikan Mbak Zahira. Kakak bisa ambil yang mana." Mila membuka kresek berisi makanan ringan dan juga dua botol minuman dingin rasa jeruk.
"Yank, tolong minumnya." Pinta Adam yang sudah kehausan.
Zahira langsung membuka penutup botol dan memberikannya pada Adam agar di minum sendiri tapi tetap hati-hati nyetirnya.
"Tadi beli apa saja?" Tanya Adam melirik Zahira.
"Banyak Mas, aku juga beli es krim." Jawab Zahira lalu memakan es krim rasa coklat setelah Snack yang ia makan tidak habis.
"Mau?" Zahira menawari.
"Boleh." Angguk Adam dan langsung membuka mulutnya menerima suapan es krim dari istrinya.
"Mesraan mulu kalian berdua." Cibir Andi merasa iri.
"Sirik aja, Kak Andi." Balas Zahira membuat Adam geleng-geleng kepala.
Karena tidak ingin kalah sama Adam dan Zahira. Andi membuka es krim cup rasa stroberi dan langsung menyuapi Mila.
"Bagaimana, enak es krimnya?" Tanya Andi. Setelah bertanya, Andi langsung makan es krim yang sangat dingin itu hingga giginya terasa ngilu.
"Enak lah. Kan aku yang beli." Bukan Mila yang menjawab melainkan Zahira.
"Kamu jangan tersinggung ya Mil. Memang Andi dan istriku ini sukanya berantem jika mereka sudah bertemu." Ujar Adam dengan nada dingin dan wajah datarnya melirik Mila dikaca spion.
Mila mengangguk. "I-iya Kak, a-aku tidak marah sama sekali kok. Justru tambah lucu aja lihat Mbak Hira orangnya sangat periang." Jawab Mila dengan tersenyum kaku melihat wajah datar Adam.
"Wah, parah kamu Dam. Biasa aja kali nada bicaranya tidak usah datar segala sama pacarku. Jadi takut kan dia." Omel Andi.
"Iya nih Mas Adam. Hilangkan sifat dingin itu!" Sahut Zahira yang juga ikut memprotes sang suami.
Adam hanya bisa menghela nafas.
.
.
Bersambung...
__ADS_1