
Keesokan paginya, Zahira nampak menyiapkan pakaian kerja sang suami di saat Adam sedang mandi. Beberapa menit kemudian laki-laki tampan itu sudah keluar dengan rambut basahnya, Zahira pun menoleh.
"Mas, pakaian kerja kamu sudah aku siapkan ya, aku mau keluar dulu." Kata Zahira.
Adam mengangguk tanpa bersuara lalu memakai pakaiannya.
Zahira membantu sang ibu mertua menata makanan di atas meja makan. Zahira tadi bangun kesiangan jadinya ia tidak sempat membantu sang mertua memasak. Semalam ia sulit sekali memejamkan mata dan baru bisa tidur di jam yang sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.
"Sekarang kamu panggil suamimu Nak." Perintah Ibu selesai menata sarapannya di meja.
"Iya, Bu." Jawab Zahira lalu melangkah ke kamar memanggil sang suami.
Ceklek..
Zahira membuka pintu kamarnya dan seketika Adam menoleh. Laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu sudah rapi.
"Mas, ayo sarapan. Makanannya sudah siap." Ucap Zahira.
"Kiss paginya dulu." Adam menunjuk bibirnya.
Zahira tersenyum lalu berjinjit mengecup sekilas bibir itu. Namun Adam kurang puas sehingga ia meminta yang lebih lama.
"Nanti malam persiapkan diri kamu." Bisik Adam di telinga Zahira. Zahira pun tersipu malu ia tahu apa yang dimaksud oleh sang suami. Zahira hanya mengangguk tanda sudah paham.
"Ayo keluar." Adam menggandeng mesra tangan Zahira menuju meja makan. Lalu menarik kursi mempersilahkan perempuan itu duduk.
Dengan sigap Zahira mengambilkan menu sarapan untuk Adam dan juga dirinya.
Dert.. dert.. ponsel Adam berbunyi di saku celananya.
Adam yang hendak menyuapkan makanan ke mulutnya terpaksa berhenti untuk melihat siapa yang menelpon. Lagi-lagi hanya sebuah nomor, namun Adam sudah bisa menebak siapa pemilik nomor itu meski tidak ia simpan.
"Siapa Mas?" Tanya Zahira sambil makan.
"Bukan siapa-siapa." Jawab Adam singkat lalu mematikan sambungan itu dan meletakkan ponselnya di atas meja.
"Ayah kok belum siap-siap?" Tanya Zahira melihat pakaian Ayah yang masih memakai baju santai.
"Kebetulan hari ini Ayah tidak ada jadwal mengajar." Jawabnya.
"O.." Angguk Zahira.
Lima belas menit kemudian mereka sudah selesai sarapan. Adam masuk ke kamar untuk mengambil tas kerjanya. Zahira mengantar laki-laki itu ke depan.
"Mas, kamu belum ngasih aku uang bulanan." Kata Zahira.
"Sudah Mas taruh di atas meja rias." Jawab Adam sambil mencolek hidung Zahira. Adam tidak akan lupa dengan nafkah sang istri ditiap bulannya.
Zahira hanya nyengir. "Kirain Mas lupa." Sahutnya.
Adam tersenyum.
__ADS_1
"Enggak lah, Mas berangkat ya." Ucapnya sambil mengecup kening Zahira.
Adam menundukkan kepalanya berpamitan juga dengan sang buah hati.
"Papa kerja dulu ya Dek, apa ada yang Adek mau nanti?" Tanya Adam sambil mengelus perut buncit itu.
"Nggak ada Papa.." Zahira yang mewakili.
Adam tersenyum tipis lalu menegakkan kembali badannya.
"Bener nggak mau dibawakan apa-apa?" Adam bertanya sekali lagi.
"Lihat nanti aja deh." Jawab Zahira sambil mencium punggung tangan Adam.
"Kabari Mas ya, jika mau makan sesuatu." Ucapnya.
Zahira mengangguk. "Iya nanti aku hubungi jika ingin." Jawab Zahira dengan senyuman.
"Assalamu'alaikum." Pamit Adam.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Zahira sambil dada-dada.
***
Begitu Adam sudah duduk di meja kubikelnya, Andi menghampiri sahabatnya itu. Dia ingin membahas soal Adam yang mau-maunya membantu si gadis licik, Citra.
"Dam, kemarin kamu nekad banget pake ngebantuin si keong racun segala." Ujar Andi.
"Nggak penting aku tahu dari mana. Yang aku takutkan itu kalau sampai Zahira tahu itu gimana? Siap-siap aja kamu diamuk sama istrimu dan aku tidak mau bantu kamu lagi." Jawab Andi ketus bercampur kesal juga.
"Ya, jangan sampai Zahira tahu." Jawab Adam dengan entengnya membuat Andi geleng-geleng kepala.
Susah sekali memperingati laki-laki satu ini, pikir Andi. Lalu kembali ke tempat duduknya. Semua rekan-rekannya juga sudah mulai berdatangan termasuk Citra juga. Gadis itu diam-diam tersenyum ke arah Adam, namun Adam tidak melihatnya dan hal itu diketahui oleh Andi.
***
Di rumah Adam.
"Kamu masak apa Nak siang-siang gini?" Tanya Ibu menghampiri Zahira di dapur.
Zahira menoleh.
"Aku bikin capcay Bu." Jawab Zahira yang nampak sibuk dengan olahan masaknya. Juga hendak menggoreng ayam krispi.
"Tapi banyak sekali?" Tanya Ibu lagi.
Zahira tersenyum. "Aku mau bikin kejutan buat Mas Adam Bu, aku kan tidak pernah membawakan makan siang untuk Mas Adam. Jadi nanti kalau jam makan siang tiba aku mau ke sana ngirim makanan ini. Sekalian untuk Kak Andi juga." Jelas Zahira.
"Oh.." Ibu mengangguk-angguk.
"Mau ibu bantu?" Tawarnya.
__ADS_1
"Boleh." Jawab Zahira lalu menyuruh ibu untuk menggoreng ayam krispinya.
Satu jam kemudian masakan Zahira sudah matang semua. Zahira pun menatanya di dalam rantang stainless susun. Ibu juga turut membantu mencuci peralatan masak tadi.
"Sudah adzan dzuhur kamu sholat dulu. Nanti kamu diantar sama Ayah ya, jangan pergi sendiri." Ucap Ibu.
Zahira mengangguk lalu berjalan ke kamar untuk mandi dan juga sholat Dzuhur. Zahira sudah rapi dengan memakai gamis dan kerudung segi empatnya. Ayah sudah menunggu Zahira di depan.
"Ayo masuk lah Nak, dan ini rantangnya." Ucap Ibu sambil mengulurkan tas kepada Zahira.
Zahira mencium tangan sang ibu. "Pergi dulu ya Bu. Assalamu'alaikum." Pamitnya.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Ibu.
Di perjalanan ke kantor Adam, Ayah mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Kamu sudah pernah ke kantor suamimu Nak?" Tanya Ayah.
"Belum pernah Yah, baru pertama ini." Jawab Zahira.
"Tapi kamu sudah tahu tempatnya kan?" Tanya Ayah lagi.
Zahira mengangguk. "Tahu kok Yah." Jawab Zahira.
Tiga puluh menit kemudian mobil Ayah sudah masuk ke pekarangan kantor Adam. Zahira pun turun.
"Ayah juga ada urusan jadi tidak bisa mengantar kamu ke dalam. Nanti kalau kamu sudah selesai, hubungi Ayah ya.." Ucapnya.
"Iya Yah nanti Zahira telfon kok." Jawabnya sambil tersenyum.
Mobil Ayah pun berlalu dan Zahira masuk ke lobby menunggu Adam dan duduk di sana. Selang beberapa menit para karyawan kantor sudah berhamburan keluar untuk mencari makan siang.
Zahira tersenyum ia sudah tidak sabar melihat Adam yang pastinya bakal terkejut melihat dirinya ada di kantor ini, terlebih lagi mengantarkan makan siang juga.
Namun mata Zahira memicing saat melihat sosok wanita yang sangat ia kenali berjalan disisi suaminya, keduanya juga saling mengobrol dan tampak begitu akrab. Dada Zahira bergemuruh menahan amarah, sejak kapan meraka berdua sedakat itu.
Zahira pun berjalan mendekat dan menghentikan langkah mereka dimana ada Andi juga disitu.
"Zahira?" Adam terkejut melihat sang istri berada di kantornya.
Plak..
Tanpa ba-bi-bu Zahira menampar pipi Citra.
"Zahira! Apa-apaan kamu!" Bentak Adam.
.
.
.
__ADS_1