
"Ya Bu, bagus.. dorong lagi.." Dokter Arni memberi arahan kepada Zahira.
"Ayo sayang kamu pasti bisa." Ucap Ibu menyemangati. Dalam hatinya Zahira menantikan kedatangan Adam.
Zahira mengikuti arahan dari Dokter Arni dengan baik, mengambil nafas lalu mengejan sekuat-kuatnya.
"Ayo Bu sedikit lagi. Kepala bayinya sudah kelihatan." Dokter Arni juga memberi semangat kepada Zahira.
Zahira kembali mengumpulkan tenaganya, sekali lagi ia mengejan. Hingga..
"Oek.. oek.. oek.." Tangisan melengking bayi perempuan menggema di ruang bersalin itu.
Zahira terkulai lemas sembari mengatur nafasnya. Tetesan air mata membasahi kedua pipinya setelah berhasil berjuang melahirkan anak keduanya lahir ke dunia ini melalui persalinan normal meski tidak ditemani Adam disisinya.
"Alhamdulillah.. kamu hebat Nak." Ibu tak kuasa menahan tangisnya melihat cucu keduanya sudah keluar dari rahim ibunya.
"Selamat ya Zahira, bayimu berjenis kelamin perempuan dan semua sempurna." Ucap Dokter Arni dengan tersenyum lalu memberikan bayi yang berwarna merah itu kepada perawat untuk dibersihkan. Dokter Arni pun menyelesaikan tugasnya yang belum selesai.
"Nah, sekarang bayimu sudah bersih." Dokter Arni meletakkan bayi mungil itu di dekapan ibunya untuk proses IMD (inisiasi menyusui dini).
Bayi yang masih merah itu kuat sekali menghisapnya. Zahira mengelus pipi bayi mungilnya, lembut dan juga halus.
"Kita tunggu Papa datang ya Dek." Ucap Zahira.
***
"Kenapa pintunya terkunci?" Heran Adam.
Setelah ponselnya kehabisan daya, Adam langsung pamit pada teman-temannya untuk pulang duluan. Begitu sampai rumah ternyata rumahnya sepi dan semua pintu juga tertutup rapat.
"Jangan-jangan terjadi sesuatu dengan Zahira." Asumsinya. Ia kembali naik ke motor sportnya menuju rumah mertuanya untuk memastikan kebenarannya.
"Assalamu'alaikum." Ucap Adam.
Kebetulan sekali kedua mertuanya dan Akmal masih di rumah belum ke klinik dan baru mau ke sana.
"Wa'alaikumsalam." Jawab mereka serempak.
"Bapak sama Emak mau ke mana?" Tanya Adam sopan.
Mereka saling berpandang heran.
__ADS_1
"Kok malah tanya mau ke mana? Ya jelas, kami mau ke klinik lah Nak. Istrimu saat ini sudah melahirkan." Jawab Ibu.
Deg..
"Zahira sudah melahirkan, dan aku tidak disisinya.. Ya Allah." Adam merutuki kebodohannya.
"Mas Adam baru pulang kerja ya?" Selidik Akmal melihat tas kerja Adam masih menggantung di punggungnya.
Adam menghela napasnya. "Iya Mal, Mas baru pulang. Sampai rumah tadi keadaan rumah sangat sepi makanya Mas langsung ke sini mau menanyakan sesuatu karena sedari tadi pikiran Mas tidak enak." Jawab Adam.
Andai saja ponselnya tidak mati pasti ia bisa memberi dukungan kepada istrinya yang bertaruh nyawa melahirkan anak keduanya. Tapi sayang seribu sayang ia mengingkari janjinya yang ia ucapkan sendiri. Bila Zahira melahirkan maka ia akan ada di samping perempuan itu menemani Zahira sampai persalinannya selesai.
"Nak, masa keluargamu nggak ada yang menghubungi mu sama sekali?" Tanya Ibu.
"Ponsel Adam mati Mak." Sesalnya.
"Sudah, lebih baik kita segera ke klinik pasti kedatanganmu sudah ditunggu istrimu. Sebentar lagi waktunya Maghrib ini." Sela Bapak menghentikan pembicaraan mereka sembari menepuk pundak menantunya.
Mereka pun beriringan pergi ke klinik Dokter Arni.
***
"Kakak nggak mau lihat Adek?" Tanya Zahira kepada anak pertamanya itu seraya menepuk-nepuk pundak Arvind.
Arvind hanya menggeleng dan menelusupkan wajahnya di dada sang Mama. Mata bocah tampan itu tampak bengkak akibat terlalu lama menangis. Arvind ingin bersama Mamanya namun dilarang oleh Akungnya agar tidak mengganggu proses persalinan berlangsung tadi.
"Lihat Kak, adeknya imut banget tuh?" Ibu juga membujuk Arvind agar melihat adiknya.
Tetap saja Arvind tidak mau dan masih diam. Tiba-tiba..
"Assalamu'alaikum.." Adam, Ibu, Bapak dan Akmal masuk ke kamar inap Zahira.
"Wa'alaikumsalam." Jawab mereka serempak dan menoleh ke sumber suara.
Pandangan pertama yang Adam lihat adalah istrinya yang memberikan senyuman manis padanya. Adam segera mendekati Zahira dan Arvind.
"Maafin Mas ya sayang." Sesal Adam, menampilkan raut sedihnya seraya mencium kening perempuan itu.
"Nggak apa-apa Mas." Jawab Zahira.
Adam menarik kursi dan duduk di samping ranjang. Adam ingin berlama-lama dengan istrinya dulu biarlah anak keduanya itu bersama kakek dan neneknya yang saat ini memperebutkan menggendong bayi mungil itu.
__ADS_1
"Kak, ada Papa ayo buka matanya." Pinta Zahira. Akhirnya Arvind mau membuka kedua matanya dan kini minta duduk di pangkuan Adam.
"Nak, kenapa HP kamu nggak bisa dihubungi! Kamu tahu gimana sedihnya istrimu tadi berjuang melahirkan tanpa adanya kamu. Lama lagi pulangnya!" Ibu mengomeli Adam tidak peduli jika ada kedua besannya. Ibu cukup kesal.
"Maaf, tadi Mas jenguk anaknya Tholib dulu Yank yang dirawat di rumah sakit dan kenapa ponsel Mas nggak bisa dihubungi, itu karena baterainya habis." Jelas Adam. Ibu hanya geleng-geleng kepala.
"Sekali lagi maafin Mas ya." Pinta Adam.
"Iya Mas.." Zahira menggenggam tangan laki-laki tampan itu. "Lihat Adek dulu gih, nggak pengen tahu apa?" Ujar Zahira pada Adam.
Adam tersenyum tipis. "Nanti saja, biar para Uti dan Akung dulu. Mas belakangan saja." Jawabnya.
"Sekarang masih lemes nggak badannya?" Tanya Adam sembari mengusap-usap kening Zahira.
"Udah enggak, tapi tadi lemes banget Mas karena lumayan kehilangan tenaga." Jawab Zahira.
"Kamu hebat Sayang." Puji Adam dan kembali melabuhkan kecupan di kening Zahira.
"Cucu Yang ti yang imut ini namanya siapa?" Tanya Ibu mendekati ranjang Zahira.
Zahira melirik suaminya. "Namanya RAFISHA ZAHIAR PRATAMA, dipanggil Fisha." Jawab Adam, membuat Zahira tersenyum. Nama yang mereka pilih setelah tahu jenis kelamin anak keduanya.
"Nama yang cantik semoga jadi anak yang sholehah ya cucu Yang ti." Ucap Ibu lalu memberikan cucunya pada Zahira yang sepertinya mau minum ASi.
Ayah mengajak semuanya keluar untuk memberi ruang kepada Adam dan Zahira.
"Hehe.. Adek Alpin lutu ya Ma." Sembari menoel pipi gembul adiknya yang lagi minum sumber kehidupannya.
Baby Fisha membuka kedua mata beningnya, mengerjap-ngerjap lucu dan tiba-tiba tersenyum. Mata yang bulat indah dan hidung mancung. Wajahnya perpaduan antara wajah Adam dan Zahira, benar-benar menggemaskan. Sekarang keluarga kecil Adam dan Zahira sudah lengkap dan semoga kebahagiaan selalu menyelimuti mereka.
"Terimakasih sayang kamu sudah memberi Mas kebahagiaan yang sangat lengkap. Mas sangat-sangat bersyukur. I Love You Mama dari anak-anak ku." Ucap Adam mengecup bibir Zahira sekilas.
"I Love You too Mas, Papa dari anak-anak ku." Balas Zahira tersenyum.
.
.
Ehem.. ehem.. gimana-gimana udah puas belum?
.
__ADS_1