
"Lagi ngapain sayang?" Tanya Adam yang baru saja keluar dari kamar.
"Gambal." Jawab Arvind singkat sambil tiduran di karpet bulu.
Bocah tampan itu sedang asyik mewarnai gambar hewan di buku bewarnanya. Tidak ada yang menemani, Arvind hanya sendirian di ruang tengah itu.
"Mama ke mana kok tidak ada?" Tanya Adam sembari mengedarkan pandangannya mencari keberadaan istrinya.
"Di dapul agi buat Alpin cucu." Jawabnya terdengar begitu lucu.
Adam memperhatikan anaknya yang tampak serius dengan gambarnya. Arvind sangat senang dengan kegiatan mewarnai ini. Apalagi setiap keluar rumah untuk sekedar jalan-jalan bersama, maka Arvind akan selalu merengek meminta dibelikan buku mewarnai lagi meski di rumah buku mewarnainya sudah cukup banyak dan tentu saja Adam sama Zahira tidak keberatan.
Daripada Arvind bermain gadget, yang bisa saja mengakibatkannya menjadi kecanduan. Lebih baik memberi edukasi yang bermanfaat. Meski Arvind belum masuk sekolah namun Arvind sudah pandai berhitung dan juga mengenal beberapa huruf abjad dan huruf Hijaiyah. Setiap hari Zahira selalu mengajari Arvind mengenal angka-angka dan juga berbagai macam hewan dan untungnya Arvind ini cepat tanggap.
"Oh.." Angguk Adam.
Tidak begitu lama Zahira berjalan ke arah mereka dengan membawa nampan yang mana di atasnya terdapat segelas susu coklat dan juga salad buah lalu meletakkannya di atas meja.
"Susu Kakak sudah jadi nih." Zahira memberitahu Arvind seraya mendudukkan dirinya di sofa.
"Bental, Alpin beyum celecai gambal na." Jawabnya.
Adam mendekati istrinya yang lagi makan salad buah. Usia kandungan Zahira saat ini sudah masuk bulan ke lima. Beruntung di kehamilan kedua ini tidak terlalu merepotkan Zahira, sehingga Arvind bisa mendapatkan perhatian lebih dari dirinya.
Di kehamilan kedua Zahira ini, Adam dan kedua orangtuanya sangat posesif menjaga Zahira agar selalu berhati-hati dalam setiap kegiatan yang dilakukan ibu hamil itu, mengingat riwayat Zahira hamil dulu.
"Bagi dong Yank." Pinta Adam sembari membuka mulutnya.
"Nggak ah, di kulkas masih ada tuh. Mas ambil sana!" Zahira menolak membagi salad buahnya pada Adam.
"Dikit aja Yank." Rayu Adam berusaha agar Zahira menyuapinya.
"Nggak Mas." Zahira tetap menolak.
"Papa tayak anak tecil." Celetuk Arvind sembari meminum susu coklatnya berdiri di hadapan mereka.
Zahira terkekeh Adam dikatai anak kecil oleh Arvind.
"Anak Papa, bicara apa tadi?" Tanya Adam menolehkan kepalanya.
"Papa tayak anak tecil." Jawab Arvind mengulang perkataannya.
Adam langsung membawa Arvind ke pangkuannya lalu menggelitiki bocah lucu itu.
"Ehehehe.. Papa cudah, Papa Alpin geyi. Ehehe.." Arvind meronta-ronta agar Adam berhenti menggelitikinya.
"Tadi kamu ngatain Papa, hmm.. sekarang rasakan akibatnya." Ucap Adam yang belum berhenti juga.
"Hehe.. Papa cudah. Mama.. toyonging Alpin." Sembari menjauhkan kepala sang Papa yang berada di lehernya.
"Hehe.." Arvind tidak kuat menahan rasa geli.
__ADS_1
Zahira geleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka berdua.
"Udah Mas, hentikan." Zahira merasa kasihan pada anaknya. Mau tidak mau Adam menyudahinya.
"Mama.." Arvind mengulurkan kedua tangannya pada Zahira.
"Oh, anak Mama.. capek ya habis digelitikin Papa?" Tanya Zahira. Adam meletakkan Arvind dipangkuan istrinya.
"Hati-hati kena perut kamu." Titah Adam.
"Iya Mas." Jawab Zahira sembari mengusap keringat di dahi Arvind.
"Mau minum?" Tawar Adam.
Arvind mengangguk, Adam menjangkau air putih di atas meja lalu membantu Arvind minum minuman itu.
Adam memandang lekat-lekat wajah sang istri yang menurutnya semakin cantik saja meskipun sedang berbadan dua. Sosok istri yang begitu penyayang terhadap keluarga. Bahkan Zahira juga tidak pernah mengeluh setiap melakoni perannya sebagai ibu rumah tangga, Zahira selalu ikhlas menjalani ini semua. Dan itu membuat Adam semakin bangga.
"Kenapa Mas?" Tanya Zahira yang menyadari jika sedari tadi suaminya ini memperhatikan dirinya dengan lekat.
Adam tersenyum tipis.
"Nggak apa-apa. Mas lagi memandangi ciptaan Tuhan yang begitu indah." Jawabnya.
"Gombal." Ucap Zahira dengan pipi bersemu merah.
"Beneran sayang Mas nggak bohong. Makin hari kamu makin cantik. Pasti anak kedua kita ini perempuan. Apalagi kamu senang sekali berdandan." Jawab Adam jujur.
Harus Zahira akui sejak hamil Arvind dulu dan di kehamilan sekarang, Zahira kerap sekali tidak pede dengan penampilannya, Zahira merasa jika dirinya itu jelek. Padahal itu hanya menurut Zahira saja tapi kalau menurut Adam, istrinya ini makin seksi dengan perut buncit itu.
Adam merangkul pundak Zahira.
"Kenapa bisa berkata seperti itu, dengarkan Mas ya.. kamu itu segala-galanya bagi Mas. Sampai kapanpun cuma kamu di hati Mas dan juga anak-anak kita." Jelas Adam mengecup kening Zahira.
"Awas Papa.." Arvind menjauhkan tubuh Adam dari Zahira.
"Kamu ini boy, ganggu keromantisan Mama sama Papa aja." Ucap Adam, sedikit tidak terima dan terpaksa harus menggeser sedikit badannya.
"Mama puna na Alpin dan dedek bayi. No Papa!" Ucap Arvind sembari memeluk Zahira yang terhalang perut buncit Mamanya.
Zahira hanya tersenyum.
"Nak, kamu nggak kangen sama Yang ti. Mau nggak kalau Papa anter ke sana." Adam mencoba membujuk Arvind.
"Nanti kamu bisa ajak Yang kung pergi ke sawah lihat capung sama burung-burung di sana." Lanjut Adam.
"Mau mau.." Tanpa pikir panjang, Arvind menjawab dengan mata berbinar. Apalagi Arvind paling suka menangkap capung.
"Kunci motor Papa ada di kamar tolong kamu ambilin ya, ada di meja rias." Ucapnya.
"Ote.." Arvind pun berlari menuju kamar.
__ADS_1
Adam kembali merapatkan duduknya pada Zahira. Merangkul pundak perempuan itu.
"Pinter banget ya Mas kamu. Mengasingkan Arvind ke rumah Emak." Cibir Zahira mengetahui siasat Adam yang tak lain dan tak bukan adalah agar bisa berduaan dengan dirinya tanpa di ganggu Arvind.
Adam tertawa. "Seratus untuk kamu." Jawabnya sambil mencubit hidung bangir Zahira.
"Ayo Papa." Ajak Arvind. Seketika Adam menjauhkan dirinya dari Zahira.
"Iya, ayo boy tapi sebelum itu pamit dulu sama Mama." Ucap Adam.
Arvind mencium tangan Zahira dan juga mencium perut buncitnya.
"Dada Mama.. Cayamu'ayaikum." Pamit Arvind.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Zahira.
"Tunggu Mas ya." Bisik Adam.
\*\*\*
Adam mengantar Arvind ke rumah mertuanya. Kebetulan Akmal juga berada di rumah.
"Eh, cucu Yang ti datang.. Mama kok nggak ikut ke sini?" Tanya Ibu sembari menciumi kedua pipi bulat Arvind.
"Mama di lumah. A'kung.. ayo te cawah yihat capung." Arvind menarik-narik tangan Bapak.
"Akung baru saja dari sawah masa harus ke sawah lagi." Ujar Bapak.
"Ayo A'kung.." Rengek Arvind.
"Turutin aja Pak." Sahut Ibu.
"Pak, Mak. Saya pamit pulang. Kasihan Zahira di rumah sendirian. Arvind, nggak boleh nakal ya di rumah Yang ti." Pesan Adam sebelum pulang.
"Iyya.." Jawab Arvind.
Adam meninggalkan rumah kedua mertuanya. Sampai rumah Adam segera masuk ke dalam setelah memasukkan motor ke garasi. Dilihatnya sang istri menonton serial FTV bagitu khusuk, Adam langsung duduk di samping Zahira.
"Eh, cepet banget baliknya." Zahira menoleh pada laki-laki tampan itu.
Adam tidak menjawab malah menduselkan kepalanya pada leher Zahira yang tidak memakai kerudung.
"Mas.. kepalamu." Ucap Zahira berusaha menyingkirkan kepala Adam.
"Sstt.. Diam sayang.." Sahut Adam.
.
.
😅😅 Masih nungguin kelanjutannya nggak.
__ADS_1
.