
"Kamu dulu dekat banget kan sama Haikal?" Tanya Mbak Susi.
Zahira tertawa ringan. "Mbak Susi masih ingat aja kalo dulu kami amat dekat. Kak Haikal juga kalau kemana-mana slalu ngajak aku. Apalagi kami ini tetangga, ya.. meskipun rumah Kak Haikal berjarak lima rumah dari rumahku sih." Jawab Zahira mengingat bagaimana kedekatannya dengan Haikal sewaktu dulu.
Dulu saat dirinya baru masuk Sekolah Menengah Pertama, Haikal menawarinya untuk berangkat bersama dengan sepeda motor yang Haikal miliki. Waktu itu Haikal juga baru masuk Sekolah Menengah Atas bersama Adam dan Andi. Berhubung arah sekolah mereka searah, Zahira tidak bisa menolak tawaran dari Haikal. Setiap hari mereka selalu berangkat bersama. Kecuali jika Haikal lagi sibuk dengan tugas kelompoknya, maka Zahira akan bersepeda sendiri ke sekolahnya bareng dengan teman lainnya.
Kedekatan mereka berdua bagaikan adik dan kakak. Bagaimana tidak, ke mana pun Haikal pergi akan selalu mengajak Zahira. Seperti membeli baju, membeli sepatu, pergi ke pasar malam, makan-makan di jajanan kaki lima dan masih banyak lagi. Haikal juga tidak pernah luput untuk belajar bersama dengan Zahira. Haikal akan dengan sabar mengajari Zahira jika Zahira tidak tahu tentang rumus-rumus matematika yang ia pelajari.
"Iya. Dan kamu pernah tuh, ngadu ke Haikal sampe nangis-nangis kalau kamu pernah dijahili sama anak laki-laki teman sekolah kamu." Sahut Mbak Susi sambil tertawa.
"Haha... aku aja udah lupa Mbak, kalo aku pernah ngadu sambil nangis-nangis pada Kak Haikal." Jawab Zahira tertawa.
"Tapi Mbak Susi kok bisa tahu?" Heran Zahira.
Pernah Zahira menangis sewaktu pulang sekolah, karena tas yang berisi buku pelajarannya di siram air oleh teman laki-lakinya. Waktu itu Zahira tidak sengaja melihat teman lelakinya sedang merokok di belakang gedung sekolah tepatnya di samping toilet. Zahira pun mengadu pada wali kelasnya dan anak laki-laki tersebut langsung di hukum. Karena tidak terima anak tersebut membalas Zahira.
"Gimana Mbak nggak ingat, kamu pulang dari sekolah udah nangis. Sambil jemur buku-buku pelajaran, terus Haikal yang juga baru pulang dari sekolah melihat kamu menangis langsung saja menghampirimu. Terus kamu ceritakan kejadian itu, Haikal marah deh." Jawab Mbak Susi mengingat Zahira yang tidak bisa berhenti menangis, akibat buku-bukunya basah kuyup.
"Haha.. jika di ingat-ingat konyol juga ya Mbak aku?" Sahut Zahira sambil geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Iya kamu tuh cengeng banget sampai Haikal rela belum pulang ke rumahnya untuk ganti baju. Demi bantu buku kamu biar cepat kering. Karena kamu bilang besoknya harus di bawa lagi." Kekeh Mbak Susi.
Zahira tersenyum manis. "Kak Haikal waktu itu emang malaikat banget buatku. Jadi kangen sama masa-masa dulu." Kenangnya.
Pembicaraan mereka terpaksa berhenti karena tiba-tiba baby Bagas menangis mungkin sudah mengantuk. Mbak Susi pun pamit pulang.
***
Adam dan teman-teman divisinya tengah menikmati makan siang di kantin kantor. Mereka makan dengan diselingi canda tawa oleh teman Adam yang orangnya humoris. Mereka juga sudah tahu jika Adam akan segera menikah.
"Jadi mulai besok kamu sudah cuti Dam?" Tanya teman Adam yang berkemeja biru.
"Kalau itu jangan khawatir bro, kami pasti on time. Kami juga sangat penasaran sama calon istrimu itu. Gadis yang berhasil membuat seorang Adam bisa senyum-senyum sendiri saat bekerja. Sampai-sampai kamu nggak sadar bahwa kami sedang mengawasimu." Kekeh teman Adam yang berkaca mata.
"Hahaha..." tawa pecah semua teman Adam, mereka duduk satu meja.
"Tidak mungkin! Kalian salah lihat kali." Ucap Adam menyangkal. Apa iya dirinya sekonyol itu, sampai harus senyum-senyum nggak jelas di depan layar komputer.
"Yah... dia nggak percaya pemirsa." Sahut Andi seraya geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Jelas kamu nggak sadar, lha wong kamu cuma fokus sama layar komputermu aja saat kamu lagi senyum-senyum nggak jelas." Sambung teman Adam yang sedikit gemuk.
"Iya, bahkan kami sampai heran waktu itu. Terus kami nanya ke Andi perihal kamu yang senyum-senyum sendiri. Tapi Andi bilang nggak tahu. Lalu kemarin lusa kamu baru mengatakan bahwa akan menikah. Jadi kami bisa menyimpulkan bahwa kamu lagi kasmaran." Jelas laki-laki yang berkemeja biru.
"Parah kamu Dam, mendadak sekali memberitahu kami, untung saja pas hari Minggu acara Akad kamu." Ucap laki-laki yang sedikit gemuk.
"Jangankan kalian, aku aja tidak tahu menahu kalo Adam mau nikah. Jika Ibuku tidak memberitahuku, udah ketinggalan berita aku. Pengen banget hajar mukanya yang lempeng itu." Kesal Andi melirik sinis Adam.
"Haha.. sungguh terlalu kamu Dam." Ujar laki-laki berkaca mata.
"Aku memang sengaja." Jawab Adam enteng.
Semua teman-teman kerja Adam hanya bisa geleng-geleng kepala. Mereka memang sudah hafal betul dengan sifat Adam.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...