
"Kak Andi berkata apa tadi?" Tanya Mila menyuruh Andi untuk mengulang kembali ucapannya.
Andi menghela nafas sesaat. "Iya Mil.. aku tidak bohong, aku sudah lama suka sama kamu." Jawab Andi.
Mila gadis yang berusia 21 tahun itu hanya melongo. Apa katanya tadi Andi laki-laki yang memiliki wajah yang lumayan tampan itu barusan mengutarakan perasaan sukanya pada dirinya.
Kemudian Mila memandang ke arah Adam dan Zahira. Dan pasangan suami istri itu mengangguk membenarkan. Mila pun tidak tahu harus menjawab apa. Karena sejujurnya dia juga sudah tertarik oleh pesona seorang Andi.
"Emm.. apa aku harus jawab sekarang, Kak?" Tanya Mila melihat Andi.
Andi mengangguk cepat. "Iya, kamu harus jawab sekarang juga Mil." Jawab Andi dengan tidak sabaran.
"Semoga dia menerima." Batin Andi harap-harap cemas.
Adam dan Zahira juga turut penasaran jawaban apa yang akan di berikan Mila. Bahkan Zahira sampai menggenggam erat lengan Adam karena saking penasarannya. Sementara kedua orang tua Mila juga ikutan menunggu jawaban dari putrinya itu.
Ternyata pasangan paruh baya itu tidak benar-benar pergi. Mereka mengintip di balik tembok untuk mendengarkan pembicaraan mereka.
Mila menganggukkan kepalanya. "Iya, aku juga suka sama Kak Andi." Jawab Mila dengan tertunduk malu.
Mata Andi langsung berbinar, bersorak senang dalam hati.
"Yes." Batinnya senang.
"Sungguh Mil?" Tanya Andi sekali lagi. Dan hanya di angguki kepala oleh Mila.
Zahira dan Adam sama-sama senang, mereka bisa bernafas dengan lega akhirnya Andi bisa mendapatkan tambatan hatinya juga.
Sedangkan kedua orang tua Mila juga turut senang. Putrinya di sukai oleh salah satu pemuda yang terbilang cukup mapan, jadi jika nanti Andi dan Mila menikah maka mereka tidak akan khawatir. Terlebih Andi juga masih satu kampung dengan mereka dan orang tua Andi juga terkenal sangat baik di kampung ini.
"Selamat Ndi." Ucap Adam menepuk bahu sang sahabat.
Andi bangkit dari duduknya, berjalan ke arah Mila yang duduk bersebrangan dengan dia. Andi kemudian berjongkok melihat wajah Mila yang bersemu merah karena menahan malu.
Dan tanpa aba-aba Andi memakaikan sebuah cincin di jari manis Mila. Tentu saja hal itu membuat semua orang terperangah.
"K-kak.." Suara Mila bergetar, tiba-tiba saja Andi memberinya sebuah cincin.
"Ini sebagai tanda ikatan, jika kamu adalah milikku." Kata Andi menatap dalam wajah Mila.
Mata Mila sampai berkaca-kaca melihat keromantisan Andi.
"Terima kasih." Ucap Mila pelan.
"Seharusnya aku yang berterima kasih karena kamu telah sudi menerimaku sebagai kekasihmu dan aku juga tidak sabar untuk menjadi suamimu nanti." Ucap Andi sembari manaik turunkan alisnya menggoda Mila.
__ADS_1
"Ish.. apa sih Kak." Ujar Mila menahan senyumnya.
"Uh.. sweet banget Kak Andi." Celetuk Zahira sembari menangkup kedua pipinya, membuat Adam segera menoleh dan dia berbisik di telinga Zahira.
"Masih juga romantis Mas mu ini Sayang." Ucap Adam tidak terima.
Zahira mencebik. "Iya, romantis pas udah sayang-sayangnya. Dulu aja gimana? Dingin banget kan tiap kali lihat aku." Ucap Zahira mengingat sikap Adam dulu. Adam terkekeh dan mengacak-acak kerudung istrinya.
"Jadi sekarang, kita sudah resmi pacaran!" Ucap Andi mantap. Lalu duduk di samping Mila dengan senyum terkembang.
"Bagus benget Mil cincinmu. Kapan Kak Andi belinya?" Tanya Zahira.
"Sudah lama sekitar dua Minggu yang lalu." Jawab Andi.
"Jadi, Kak Andi sudah menyiapkan ini semua dong?" Tanya Zahira.
"Tentu saja." Jawab Andi dengan bangganya.
"Sombong kamu." Cibir Adam.
Mila tertawa melihat Andi dan Adam saling mengejek.
"Sebentar ya aku tinggal dulu, mau menyuguhkan kue ini." Mila hendak beranjak dari duduknya tapi langsung di cegah Andi.
"Tidak usah, kue itu aku khususkan untuk kamu dan keluargamu saja. Lagian mereka juga sudah pada kenyang." Jawab Andi sambil menunjuk Adam dan Zahira dengan dagunya.
Zahira membuka mulut mendengar ucapan Andi barusan. "Kenyang dari mana coba, perutku aja masih lapar, tadi makan cuma dikit." Batin Zahira kesal.
"Benar Mil tidak usah lagian kita juga tidak akan berlama-lama di sini, iya kan Kak Andi?" Sahut Zahira melihat Andi dengan seringai liciknya.
Andi melototkan matanya pada Zahira. Kenapa harus pulang secepat ini? Dia saja belum puas memandangi wajah kekasihnya itu.
"Nanti saja Ra pulangnya, lagian kita juga baru bentar di sini?" Protes Andi.
"Bentar apanya coba, lihat tuh jam sudah pukul delapan. Mereka juga kan butuh istirahat." Ucap Zahira.
Andi menghela nafas kesal. Meski sebenarnya belum rela harus pulang sekarang tapi yang dikatakan Zahira betul juga. Lagi pula masih ada hari-hari lainnya jika dia ingin menjumpai kekasihnya.
"Ya udah, kapan-kapan kita jumpa lagi ya Dek." Ucap Andi lembut kepada Mila.
"Iya Kak." Jawab Mila malu-malu mendengar Andi memanggil dirinya adek.
"Kakak balik ya Dek, istirahat yang cukup jangan banyak begadang. Titip salam sama Ibu dan Ayahmu. Assalamu'alaikum." Pamit Andi.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Mila melihat mereka bertiga sudah keluar dari rumahnya.
__ADS_1
***
Andi belum pulang, masih berada di rumah Adam. Kini mereka berdua duduk di teras. Sedangkan Zahira berada di dapur mengambil piring untuk meletakkan nasi goreng yang baru dia beli.
"Ini nasi gorengnya, ayo kita santap!" Ajak Zahira dengan semangat meletakkan tiga porsi nasi goreng untuk Adam dan Andi.
"Kebetulan banget Ra.. perutku juga lapar." Ucap Andi berbinar-binar sembari menghirup aroma nasi goreng di hadapannya.
"Emang Kak Andi aja yang lapar, aku juga. Salah sendiri kenapa tadi larang Mila menyuguhkan kue." Sinis Zahira membuat Adam langsung menyuapi Zahira agar tidak banyak bicara.
"Sukurin." Ejek Andi tersenyum menang.
Zahira mendelik pada Adam sambil menguyah nasi gorengnya. Selepas kunyahan itu selesai Zahira ingin memprotes Adam. Tapi lagi-lagi mulut Zahira langsung di sumpal Adam dengan nasi goreng hingga nasi goreng milik mereka habis tak tersisa.
"Alhamdulillah.." Ucap Andi merasa kekenyangan.
Zahira langsung meminum air putihnya hingga tandas.
"Sudah kenyang kan?" Tanya Adam pada sang istri.
"Kenyang banget." Jawab Zahira menyandarkan kepalanya di bahu Adam.
"Gimana nggak kenyang makannya aja di suapin." Cibir Andi.
"Itulah enaknya punya pasangan halal." Balas Zahira cuek.
"Wah.. kayaknya istrimu dendam banget sama aku Dam, gara-gara masalah kue tadi." Kata Andi.
"Emang." Ucap Zahira.
Adam terkekeh. "Besok Mas belikan." Sahut Adam mengelus bahu Zahira.
"Bener ya.. besok harus Mas belikan." Ucap Zahira, tapi seketika dia teringat jika Adam membeli kue di toko itu maka akan bertemu dengan ulet keket itu lagi.
"Iya." Angguk Adam pasti.
"Kak Andi, besok kawal Mas Adam ya.. pas beli kuenya!" Perintah Zahira.
"Kenapa harus di kawal segala?" Tanya Andi dengan wajah bingungnya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...