
Setelah kegiatan suami istri mereka selesai, Adam tidak bisa tidur. Masih memikirkan cara bagaimana untuk menyadarkan Haikal bahwa ia salah karena mencintai wanita yang sudah bersuami. Adam di landa kebingungan jika dibiarkan seperti ini maka tidak akan pernah terselesaikan juga.
Adam mengelus-elus kepala Zahira yang saat ini tengah menyandar di dada bidangnya. Ia terkekeh kecil, senang sekali istrinya ini jika bersandar di dadanya seperti tempat ternyaman saja menurutnya.
"Cepat hadir di perut Mama sayang." Bisik Adam pelan seraya mengelus perut rata Zahira berharap akan kehadiran sang buah hati.
"Sepertinya besok aku harus mengatakan kepada Zahira tentang Haikal." Gumamnya kemudian mendekap tubuh Zahira lalu memejamkan kedua matanya yang sudah terasa berat.
***
Adam menggeliatkan tubuhnya ketika mendengar suara adzan subuh. Zahira masih diposisi ter-nyamannya tanpa berpindah sedikit pun. Laki-laki tampan itu mulai membangunkan istrinya untuk melaksanakan sholat subuh.
"Yank.. ayo bangun sudah subuh." Bisik Adam di telinga Zahira.
"Nanti ya Mas, badanku pegal-pegal semua nih. Gara-gara ulah kamu semalam nggak pernah puas kalau minta.." Jawab Zahira dengan suara malas karena enggan untuk bangun.
"Haha.. itu karena kamu juga ikut menikmatinya Sayang, makanya Mas tambah semangat untuk minta lebih." Jawab Adam terkekeh.
Zahira semakin erat memeluk tubuh Adam, ia tidak sadar jika masih dalam selimut yang sama tanpa adanya kain yang menutupi tubuhnya berbeda dengan Adam yang telah memakai celana pendek.
"Oke, jika kamu nggak mau bangun. Mas bakal mengulanginya lagi pagi ini. Sepertinya asyik juga pagi-pagi mencobanya." Adam mulai jahil pada Zahira.
Zahira menghentikan tangan Adam yang sudah bergerilya di bagian atas.
"Iya.. iya aku bangun nih, tangannya tolong di kondisikan pagi-pagi nggak boleh mesum." Ucap Zahira sinis lalu duduk bersandar di kepala ranjang menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebalnya.
Adam beranjak dari ranjang.
"Baiklah, sebagai permintaan maaf Mas, karena sudah buat kamu lelah maka Mas akan gendong kamu ke kamar mandi. Kita mandi bersama." Ucap Adam.
"Iya boleh, tapi cuma mandi aja ya.. nggak boleh yang aneh-aneh." Zahira memperingati. "Tolong ambilkan bajuku Mas, mau aku pakai." Zahira menunjuk bajunya yang tergeletak di lantai.
"Udah nggak usah pakai baju segala, kelamaan."
Adam langsung menggendong Zahira ala bridal style menuju kamar mandi membuat Zahira terpekik kaget. Tangan Zahira tak tinggal diam memukuli dada Adam karena malu. Adam sendiri tidak bisa menghentikan tawanya.
Setelah dua puluh menit berada di kamar mandi untuk mandi besar kini mereka sudah berjama'ah sholat subuh. Adam dan Zahira juga menyempatkan untuk mengaji Al-qur'an walau hanya beberapa lembar.
"Mas aku nyapu rumah dulu ya." Ucap Zahira setelah selesai mengaji seraya melipat mukenah dan meletakkan di meja kecil bersama Al-qur'annya.
__ADS_1
Adam mengangguk, ia juga sudah selesai mengajinya.
"Iya, kalau nyapunya udah selesai kita jalan-jalan ya menghirup udara segar, masaknya nanti saja." Jawab Adam.
"Ok. Iya yah.. kita belum pernah tuh jalan-jalan pagi setelah menikah." Ucap Zahira mengingat-ingat.
"Makanya itu Mas ngajak kamu, nanti kita beli saja sarapannya biar kamu nggak capek." Terang Adam.
"Siap bossku." Jawab Zahira tersenyum lebar.
Zahira keluar kamar untuk membersihkan rumah. Tidak berselang lama ia sudah kembali ke kamar dan mengajak sang suami untuk jalan-jalan menikmati udara pagi. Mereka juga berpamitan kepada Ayah yang kebetulan keluar dari kamarnya.
"Tidak usah buru-buru pulangnya, kalian nikmati saja waktu kalian. Soal sarapan biar Ayah beli sendiri, nanti Ayah bisa beli bubur ayam." Ucap Ayah memberi pengertian.
"Makasih Ayah." Zahira sangat senang karena ia dan Adam bisa jalan-jalan pagi sepuasnya tanpa kepikiran memasak.
***
Adam dan Zahira kini menikmati udara pagi di sekitaran kampung mereka dengan berjalan kaki seraya bergandengan tangan. Zahira tak henti-hentinya menampilkan senyum manisnya kepada Adam karena baru pertama kali ini mereka bisa berduaan romantis walau hanya hal sederhana saja.
"Aku sangat mencintai Mas Adam!" Ucap Zahira memeluk lengan suaminya.
"Hmm.. indahnya pemandangan kampung ini jika di lihat di pagi hari." Zahira memandangi deretan sawah dari kejauhan.
Adam tersenyum simpul. "Bagi Mas, yang paling indah itu melihat senyum manis kamu hanya untuk Mas seorang." Sahut Adam menggombali perempuan itu.
"Aduh.. manis sekali sih kata-kata suamiku ini." Gemas Zahira mencubit pipi kiri Adam.
Adam makin mengeratkan gandengan tangan mereka dan matahari juga mulai menampakkan sinarnya pelan-pelan di bagian ufuk timur. Para penduduk setempat juga sudah mulai dengan kegiatannya datang ke ladang mereka. Di sekitaran jalan yang Adam dan Zahira lewati banyak sekali warga yang menyapa. Adam dan Zahira juga menyapa balik seraya memberikan senyum ramahnya.
"Gimana, udah mulai lapar belum?" Tanya Adam menoleh ke arah sang istri.
"Iya, udah lapar banget." Jawab Zahira cepat.
"Gimana kalau kita sarapan nasi pecel di warung Mbok Inah." Ajak Adam.
"Boleh tuh, apalagi bumbu kacang di tambah bakwan tempenya. Hmm.. nikmatnya. Tapi kita bungkus aja ya Mas. Kita makan di rumah Emak." Ucap Zahira dengan semangat.
"Baiklah terserah kamu saja. Ayo kita ke sana mumpung belum rame." Ucap Adam.
__ADS_1
Mereka pun menuju warung penjual nasi pecel yang letaknya di perempatan jalan di kampung mereka. Ternyata banyak juga yang membeli nasi pecel itu untuk sarapan.
"Eh, ada pengantin baru." Sapa ibu-ibu paruh baya kepada Adam dan Zahira. "Mau beli nasi pecel juga ya?" Ibu itu bertanya.
"Iya Bi, kami mau beli nasi pecel." Jawab Zahira sopan.
"Kamu sekarang makin cantik saja ya Ra, semenjak menikah." Ibu itu memuji.
"Hehe.. terima kasih Bi pujiannya." Balas Zahira tersenyum, Adam juga ikut tersenyum pada Ibu tersebut.
"Ya sudah, Bibi duluan ya. Pesanan Bibi juga sudah selesai." Pamit ibu itu sambil menunjukkan nasi pecelnya lalu berlalu dari warung tersebut.
Zahira membeli nasi pecel sebanyak lima bungkus untuk di makan di rumah orang tuanya sekaligus membelikan mereka juga. Kini Adam dan Zahira melanjutkan langkah kaki mereka ke rumah orang tua Zahira. Lagi-lagi mereka di sapa oleh ibu-ibu di gang rumah Zahira yang kebetulan sedang berbelanja di tukang sayur keliling.
"Assalamu'alaikum." Ucap Adam dan Zahira bersamaan memasuki rumah orang tua Zahira.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Ibu Zahira.
"Lho.. kok kalian pagi-pagi sudah kemari?" Tanya Ibu.
"Hehe.. iya. Hira rindu sama Emak, Bapak dan Akmal." Jawab Zahira menyebut nama keluarganya satu persatu-satu. Membuat Ibu geleng-geleng kepala.
"Terus kamu bawa apa itu Nduk?" Ibu melihat kantong plastik yang di tenteng Zahira.
"Ini nasi pecel Mak, tadi kami beli di warung Mbok Inah. Kita sarapan sama-sama yuk Mak." Ajak Zahira.
Ibu Zahira mengangguk setuju lalu memanggil Bapak dan Akmal untuk menikmati sarapan pagi mereka bersama Adam dan Zahira. Mereka duduk lesehan di tikar.
"Assalamu'alaikum..."
Terdengar suara seseorang yang mengucap salam dari luar.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Author masih minta sumbangan nih pada kalian berupa like, vote dan hadiah🤗💖