
Dua bulan telah berlalu begitu saja, tak terasa kini kandungan Zahira sudah memasuki mingggu ke 29, itu artinya janin yang di kandung Zahira berusia tujuh bulan lebih dan Ibu akan mengadakan syukuran tujuh bulanan dengan mengundang ibu-ibu pengajian.
"Mas, kamu akan undang teman kantor kamu kan?" Tanya Zahira kepada Adam yang tengah menemani dirinya duduk di ayunan gantung rotan yang baru Adam beli beberapa Minggu lalu.
"Tentu Sayang. Mas bakal undang mereka." Jawab Adam sambil mengayunkan ayunannya secara pelan.
"Onty Hila.." Panggil Mikha seraya berlari ke arah mereka lalu minta duduk di pangkuan Adam.
"Hai sayang.." Sapa Zahira tersenyum lebar senang sekali jika batita imut itu datang ke rumahnya.
"Nih Ra, aku bawa oleh-oleh Wingko babat untuk kamu." Risma mengulurkan jajanan khas daerah kepada Zahira.
Kemarin Risma dan suaminya baru pulang dari luar kota untuk memenuhi permintaan Mikha yang ingin pergi ke kebun binatang, melihat langsung binatang-binatang yang biasanya Mikha lihat di layar televisi.
"Makasih ya Ris." Jawab Zahira senang.
"Sama-sama Ra. Ayunan baru ya?" Tanya Risma ketika memperhatikan tempat yang di duduki sahabatnya itu.
"Iya, aku nyuruh Mas Adam beli ayunan ini." Jawab Zahira.
"Wah.. bagus banget Ra. Kak Adam, boleh tidak Kakak pindah ke kursi saja. Aku mau duduk di ayunan ini." Kata Risma yang ingin merasakan duduk berayun.
"Iya." Jawab Adam. Laki-laki tampan itupun berdiri lalu memberikan Mikha kepada Risma.
"Yank, Mas masuk ke dalam ya." Kata Adam meninggalkan dua perempuan itu di teras.
"Iya Mas." Angguk Zahira.
Kini Risma dan Zahira berayun ria sambil berbincang-bincang.
"Enak banget jadi kamu Ra, kamu minta ini-itu langsung di turuti Kak Adam." Ujar Risma yang sedikit iri dengan kehidupan sahabatnya ini.
Zahira tertawa kecil.
"Ya, nggak semuanya lah Ris.. aku juga kalau minta sesuatu nggak mesti yang mahal-mahal, kasihan nanti Mas Adam udah capek-capek kerja duitnya aku pake foya-foya." Jawab Zahira meluruskan perkataan Risma.
"Onty.. onty.. pelut onty gelak-gelak." Mikha nampak antusias saat merasakan pergerakan di perut Zahira.
Saat datang ke rumah Adam. Orang pertama yang dicari Mikha adalah Zahira karena batita imut itu gemas sekali dengan perut besar Zahira yang tidak pernah bosan ia elus.
"Eh, iya Sayang. Dedeknya nendang nih." Sahut Zahira ketika perutnya berdenyut pelan.
"Itu tandanya dedek bayi rindu sama Kakak Mikha." Ujar Risma, sekarang membiasakan menyebut nama anaknya dengan sebutan 'Kakak'.
"Lindu cama Kakak ya dedek." Mikha pun mencium perut Zahira. Batita itu nampak mengerti dengan ucapan sang Mama.
"Kakak sih, sekarang jarang main ke rumah onty." Ucap Zahira sambil mengelus rambut Mikha.
__ADS_1
"Oh ya Ris, jangan lupa besok malam datang ke rumah ya." Kata Zahira.
"Ngapain Ra?" Tanya Risma.
"Syukuran tujuh bulanan." Jawab Zahira.
"Iya ya, aku sampai lupa." Ucap Risma terkekeh.
Zahira tersenyum. "Kamu tuh." Ucapnya sambil geleng-geleng kepala.
Tak lama Ibu keluar sambil membawa minuman dan beberapa cemilan lalu di letakkan di atas meja.
"Sudah lama Ris?" Tanya Ibu mendekat ke arah mereka. Risma dan Zahira sama-sama menoleh.
"Eh, Bibi." Risma pun berdiri dan mencium tangan ibu Adam.
"Ibu buatkan kalian jus mangga, ayo kalian minum." Ucap Ibu.
"Ibu kok tahu kalau Risma ada di sini?" Tanya Zahira lalu beranjak dari ayunan dan pindah ke kursi diikuti Risma yang menggandeng tangan Mikha.
"Suamimu ngasih tahu ibu kalau di depan ada Risma sama anaknya." Jawab Ibu dan ibu langsung sigap membuatkan minuman untuk sahabat menantunya itu.
"Oh.. ini Bu, ada Wingko babat dari Risma." Kata Zahira memberikan bingkisan kepada ibu mertuanya.
"Kamu dapat makanan ini dari mana Ris?" Tanya Ibu saat Risma sedang meminun jusnya.
"Aku beli Bi. Kemarin aku, Mikha dan suamiku pergi ke kebun binatang. Lalu pulangnya kami mampir untuk membeli oleh-oleh buat orang rumah." Jawab Risma.
***
Malam ini rumah Adam sangat ramai oleh para tamu yang akan mengikuti pengajian tujuh bulanan. Adam dan Zahira sama-sama mengenakan pakaian berwarna putih. Pasangan suami istri itu nampak bahagia begitu para tamu yang hadir memberi ucapan selamat.
Yang lebih bahagia disini adalah ibu mertua Zahira. Ibu begitu antusias ketika mengenalkan Zahira kepada rekan-rekan guru yang juga turut diundang oleh Ayah sebab saat pernikahan Adam dan Zahira dulu, Ayah tidak mengundang rekan-rekan gurunya hanya mengundang kepala sekolah saja.
Acara pun berjalan dengan sangat lancar, lantunan Ayat suci Al-Quran dan panjatan do'a keselamatan telah selesai dilaksanakan.
"Kita ke sana yuk Yank." Ajak Adam kepada Zahira.
Zahira mengangguk. "Ayo Mas." Lalu dibantu Adam berdiri.
Adam mengajak Zahira bergabung dengan para sahabat yang saat ini tengah mengambil makanan di atas meja yang sudah terhidang. Adam menepuk bahu Tholib ketika laki-laki itu mengambil berbagai jenis makanan.
"Kenapa datangnya telat?" Tanya Adam, Tholib pun menoleh.
"Maaf Dam harus jemput pacar dulu, dia dandannya lama." Jawab Tholib mengarahkan pandangannya kepada Citra yang berdiri di sampingnya untuk mengambil makanan juga.
Citra mencubit lengan Tholib. "Nggak lama ya. Cuma setengah jam doang." Sewot Citra tidak terima karena dijadikan Tholib alasan terlambat untuk menghadiri acara tujuh bulanan Zahira.
__ADS_1
"Haha.. jangan marah dong sayangnya Mas Tholib." Ucapnya merayu.
Zahira dibuat bingung dengan Tholib yang tiba-tiba merangkul pundak Citra tanpa mendapat perlawanan dari Citra.
"Kalian berdua pacaran ya?" Tanya Zahira karena sepertinya hanya dia sendiri yang ketinggalan berita.
"Dam, kamu nggak ngasih tahu Zahira kalau Tholib dan Citra sudah pacaran." Sahut Andi.
Sekarang Andi sudah tidak manggil keong racun lagi begitu mengetahui Citra sudah insyaf dan juga telah berpacaran dengan Tholib.
"Tidak, karena tidak penting juga menurutku." Jawab Adam cuek.
"Kamu tuh Mas. Berita sepenting ini kamu nggak ngasih tahu aku." Protes Zahira.
"Kami pacarannya sudah dua bulan ini Ra." Jawab Citra.
Begitu Tholib mengutarakan perasaan sukanya, tanpa pikir panjang Citra menerima Tholib untuk menjadi kekasihnya. Karena jika di pikir-pikir usianya juga sudah pas untuk membina rumah tangga.
Zahira merasa senang ternyata Citra menepati ucapannya dulu.
"Selamat ya Cit, aku tunggu undangannya." Zahira memeluk tubuh Citra.
Dari kejauhan Risma memperhatikan interaksi Zahira dan Citra. Risma penasaran kenapa mereka bisa sedekat itu terlebih lagi pakai pelukan segala.
"Kamu lihat apa Ris?" Tanya Dini yang duduk bersama Risma dan Mila tidak ketinggalan Mikha juga.
"Itu, aku lagi lihatin Zahira di sana." Tunjuk Risma.
Dini dan Mila pun mengikuti arah pandang Risma.
"Oh.. mereka itu teman-teman kantornya Kak Andi dan Kak Adam, Mbak. Termasuk perempuan yang sedang ngobrol sama Mbak Zahira." Ucap Mila.
"Kok kamu tahu Mil?" Tanya Risma.
"Tahu lah Mbak, kan aku juga sering diajak kumpul bareng bersama mereka sama Kak Andi." Jawab Mila.
"Kamu tahu nama perempuan itu?" Tanya Risma lagi.
"Maksudnya Mbak Citra pacar Kak Tholib?" Tanya Mila.
"Pacar?" Bingung Risma.
"Iya, Mbak Citra itu pacarnya Kak Tholib laki-laki sedikit gemuk itu lho Mbak.." Terang Mila.
"Jadi, Citra itu teman kantornya Adam dan Citra juga pacaran sama teman kantornya sendiri." Batin Risma matanya tetap mengarah dimana Zahira berkumpul bersama teman-temannya Adam.
.
__ADS_1
.
Bersambung...