Tiba - Tiba Dijodohkan

Tiba - Tiba Dijodohkan
Ekstra part 10


__ADS_3

"Kakak ikut Papa sholat Maghrib di masjid ya." Ucap Adam kepada Arvind.


Adzan Maghrib sudah berkumandang dan Adam segera mengambil air wudhu. Sementara Zahira tengah memberi ASI baby Fisha dengan Arvind yang berada di sampingnya.


"Ndak mau, Alpin mau cholat cama Mama aja." Jawabnya menolak ajakan Papanya.


"Mama nggak bisa sholat Kak, jadi Kakak Arvind yang sholeh ini ikut Papa ke masjid ya." Sahut Zahira memberi pengertian pada bocah tampan itu.


Adam dan Zahira membiasakan Arvind untuk melakukan sholat meskipun tidak lima waktu, yang penting anaknya ini mau mengikuti setiap kali mereka mengerjakan kewajiban sebagai seorang muslim.


"Ya deh.." Angguk Arvind lalu turun dari ranjang dan meminta pada sang Papa untuk mengganti bajunya dengan baju koko dan juga sarung.


Zahira tersenyum, Arvind selalu menuruti permintaannya.


"Pamit dulu sama Mama." Titah Adam.


Arvind pun mencium tangan Zahira.


"Acayamu'ayaikum Mama.. Alpin cholat dulu ya." Ucap Arvind dengan suara cadelnya tak lupa Arvind juga mencium pipi adiknya.


"Iya sayang, Wa'alaikumsalam." Jawab Zahira sembari mengulas senyum.


Adam dan Arvind meninggalkan Zahira menuju Masjid untuk sholat berjama'ah dengan para lelaki lainnya.


"Nanti Adek juga harus seperti Kakak ya, kalau diajak sholat nggak boleh malas harus selalu semangat." Ujar Zahira pada baby Fisha.


Tak lama Ibu pun masuk ke kamar Zahira untuk melihat cucu keduanya apakah sudah tidur atau belum.


"Ibu kira Fisha lagi tidur?" Tanya Ibu dan langsung duduk di samping menantunya di tepi ranjang.


"Belum Bu, masih anteng ini mimik ASI nya." Jawab Zahira mengelus-elus pipi chubby bayi mungil itu.


Baby Fisha pun melepaskan mulutnya dari dada sang Mama setelah ia merasa kenyang, hampir setengah jam baby Fisha minum sumber nutrisinya itu.


"Sini biar Ibu yang gendong, kamu makan saja dulu." Ujar Ibu mengambil alih baby Fisha dari gendongan menantunya.


Zahira pun mengangguk dan mereka sama-sama keluar kamar. Ibu membawa baby Fisha ke ruang tengah sambil menonton televisi sementara Zahira pergi ke dapur mengambil makanan dan makan di sana sekalian.


Adam, Arvind dan Ayah sudah pulang dari Masjid tak lupa mereka juga mengucap salam. Arvind melihat Ibu sedang menggendong adiknya, ia pun segera duduk disebelah Uti-nya.


"Kakak, ganti baju dulu." Tegur Adam. Arvind pun mengangguk dan masuk kamar.


"Mama mana?" Tanya bocah tampan itu kepada Papanya yang lagi membantu dirinya berganti pakaian.

__ADS_1


"Papa juga tidak tahu sayang, kan kita juga baru pulang dari Masjid." Jawab Adam lalu menggantung baju koko dan sarung Arvind di dalam lemari.


Arvind pun keluar kamar mencari keberadaan Mamanya.


"Mama.." Panggil bocah tampan itu.


"Ada apa sayang kok teriak-teriak?" Tanya Zahira baru keluar dari dapur setelah selesai makan.


"Hehe.. ndak papa, Alpin tuma cali Mama aja." Jawabnya sambil tertawa. Membuat Zahira geleng-geleng kepala. Makin ke sini Arvind semakin lengket saja pada dirinya.


"Kamu dari mana Yank, tadi dicariin Arvind." Sahut Adam dibelakang Zahira.


Arvind dan Zahira menoleh. "Dari dapur Mas, makan." Jawab Zahira.


"Yaah Mama.. tok udah matan duluan, telus Alpin matan cama ciapa?" Keluhnya manja memeluk kedua lutut Zahira.


"Ya makan sama Papa, Akung dan Uti lah Kak.." Adam yang menjawab.


"Alpin mau na dicuapi Mama.." Rengeknya, tetap harus sama Zahira.


Adam menjajarkan tubuhnya pada bocah tampan itu yang saat ini tengah merajuk.


"Kakak kan sudah besar, sudah punya adek malah. Jadi tidak boleh bergantung sama Mama terus ya. Mama juga harus ngurusin adek Fisha." Tutur Adam menasehati Arvind.


***


"Kamu mau ke mana Mal, ganteng sekali?" Tanya sang ibu penuh selidik, yang sedang berbincang ringan sama Bapak di teras depan.


"Biasa Mak, Akmal mau kencan dulu." Jawabnya seraya menaik turunkan alisnya. Gaya Akmal sudah seperti orang yang banyak duit.


"Kencan mulu kamu Le, baru juga jadi mahasiswa semester pertama." Cibir Ibu seraya geleng-geleng kepala.


Ibu juga tidak melarang kalau Akmal sudah punya pacar yang penting Akmal bisa menjaga batasan dalam pacarannya. Selain kuliah, Akmal juga bekerja sambilan yaitu bekerja disalah satu mini market yang letaknya tidak jauh dari kampusnya.


"Namanya juga anak muda jaman sekarang Mak. Kalau nggak punya pacar tuh rasanya hidup terasa hampa." Jelas Akmal sembari menyugar rambutnya ke belakang.


Ternyata Akmal tipe laki-laki yang setia terbukti sampai sekarang dia masih pacaran dengan gadis yang bernama Lisa itu, cinta pertamanya sewaktu SMP dulu. Yang mana, dulu itu pernah ketahuan oleh Zahira kala mereka sedang makan di salah satu pusat perbelanjaan.


"Halah.. lebay kamu Le." Balas sang ibu. Akmal pun terkekeh.


"Ya sudah Akmal pergi dulu ya, kasihan my bunny Akmal sudah nunggu." Pamitnya pada kedua orangtuanya seraya mencium tangan mereka.


"Opo my bunny kuwi." Gerutu Ibu yang tidak paham.

__ADS_1


"Pulangnya jangan malam-malam, ingat anak gadis orang yang kamu bawa!" Pesan Bapak.


"Iya, tahu kok Pak, jam sembilan Akmal juga sudah pulang." Jawabnya meyakinkan kedua orangtuanya.


"Hati-hati." Ucap Ibu, Akmal pun mengangguk dan berlalu dari hadapan mereka.


***


Samar-samar Adam mendengar baby Fisha menangis. Ia pun membuka kedua matanya, dilihatnya Zahira tertidur pulas bahkan tidak mendengar suara tangisan bayinya. Adam segera bangkit dari ranjang menghampiri bayi mungilnya di dalam box bayi.


"Putri cantik Papa kenapa nangis, heum?" Adam membawa baby Fisha ke dalam gendongannya.


Dan masih saja menangis lalu Adam baringkan di atas ranjang untuk memeriksa popoknya ternyata sudah penuh. Pantas saja nangisnya nyaring sekali ternyata bayinya ini sangat risih jika popoknya sudah penuh begini.


Zahira pun terbangun. "Mas.. kok kamu nggak bangunin aku?" Tanya Zahira dengan suara seraknya melihat Adam mengganti popok bayinya sendiri.


"Mas nggak tega bangunin kamu Yank. Kamu tidurnya anteng sekali." Jawab Adam.


"Minum ASI dulu ya sama Mama." Lalu memberikan putri kecilnya pada Zahira.


Zahira menyusui baby Fisha dengan bersandar di pundak Adam matanya sesekali terpejam, ia masih mengantuk. Dengan sigap Adam merangkul pinggang Zahira agar tidak hilang keseimbangan.


Setelah dirasa cukup Zahira menghentikan aktifitas bayi mungil itu lalu ia letakkan dengan hati-hati di dalam box bayi.


"Jangan tidur dulu ya, Mas mau kangen-kangenan sama kamu." Bisik Adam memeluk Zahira dari belakang.


"Tapi aku ngantuk banget Mas." Jawab Zahira membalikkan badannya menghadap laki-laki tampan itu mengelus pipi Adam.


"Ya sudah kita tidur di sofa saja biar tidak menganggu tidurnya Arvind." Ujar Adam.


"Sofa kan sempit." Ucap Zahira.


"Nggak apa-apa kita tidurnya sambil duduk." Jawab Adam menarik Zahira untuk duduk disampingnya lalu membawa perempuan itu ke dalam dekapan hangatnya.


Zahira pun membalas pelukan suaminya sambil mendengarkan detak jantung Adam yang mengalun indah dan itu hanya untuknya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2