
Selesai mandi dan berpakaian, Zahira mengajak Arvind untuk sholat Ashar. Bocah tampan itu mengikuti setiap gerakan tubuh Mamanya, mulutnya juga komat-kamit tidak jelas di setiap gerakan sholatnya seolah dia memahami baca'an yang dibaca Zahira. Sesekali Arvind juga melirik Mamanya takut jika gerakannya salah.
Usai sholat Zahira mengulurkan tangan kanannya kepada Arvind dan bocah lucu itu menciumnya.
"Anak sholeh." Puji Zahira lalu mengecup kening sang putra.
"Mama calung na.." Tunjuk Arvind.
"Berdiri sayang, biar Mama lepas." Zahira melepas sarung Arvind.
"Alpin mau telual , mau tundu Papa di lual." Ucapnya pada sang Mama.
"Iya." Jawab Zahira sambil melipat mukenanya dan juga sarung Arvind.
Arvind pun berlari keluar dari kamarnya.
"Eeyy.." Suara Ibu yang hampir saja ditabrak Arvind.
"Mau ke mana cucu tampan Uti? Kok lari-lari gitu?" Ibu membukukkan badannya bertanya kepada Arvind.
"Mau tundu Papa." Jawab Arvind dengan suara cadelnya.
"Oh, mau tunggu Papa pulang ya. Ayo sama Uti keluarnya." Ajak Ibu sambil menggandeng tangan mungil Arvind.
Ternyata di depan sudah ada Akmal yang menunggu Arvind untuk diajak jalan-jalan keliling kampung.
"Hai, ponakan tampan Om.." Sapa Akmal.
"Hayo.. Om Amal.." Balas Arvind.
"Seperti biasa tampan, ayo kita jalan-jalan sore!" Ajak Akmal dengan semangat.
"No! Alpin mau libul duyu hali ini." Tolak Arvind sambil menggeleng.
Akmal melongo mendengar perkataan ponakannya namun kemudian ia tertawa.
"Haha.. gayamu cil.. cil.. pake acara libur segala." Kekeh Akmal seraya geleng-geleng kepala.
Arvind tidak menghiraukan Om nya. Bocah lucu itu memilih duduk di lantai sambil meletakkan kedua tangan mungilnya di atas lutut.
"Beneran nggak mau ikut Om. Di lapangan ada yang main layangan lho." Ucap Akmal membujuk Arvind.
"Ndak." Jawab Arvind singkat dengan pandangan lurus ke depan menunggu kepulangan Papanya.
Akmal pun ikut duduk di lantai.
"Emang kenapa nggak mau Om ajak?" Tanya Akmal.
"Alpin mau tundu Papa puyang." Jawabnya.
"Serius nih, tetep nggak mau ikut Om?" Tanya Akmal sekali lagi.
__ADS_1
"No, Om Amal.." Jawab Arvind tetap pada pendiriannya.
Akmal hanya bisa menghela nafasnya, gagal deh mengajak ponakan lucunya jalan-jalan. Tak begitu lama terdengar suara sepeda motor sport memasuki pekarangan rumah.
Mata Arvind berbinar kala orang yang ditunggu akhirnya datang juga.
"Yee.. Papa na Alpin puyang.." Teriak Arvind berdiri sambil bersorak ria.
"Eh, awas jatuh ke bawah." Ucap Akmal ketika Arvind loncat-loncat.
Sementara Adam, laki-laki tampan itu mengulas senyum. Kepulangannya disambut anaknya. Adam segera mematikan mesin motornya lalu melepas helm. Ia pun turun dari motor.
Arvind berlari berhambur kepelukan Papanya. Adam segera menggendong tubuh Arvind di tangan kirinya lalu ia cium pipi Arvind yang harum itu.
"Tumben, nggak pergi jalan-jalan sama Om Akmal?" Tanya Adam kepada Arvind.
Arvind hanya menggeleng saja sembari meletakkan kepalanya di bahu sang Papa.
"Assalamu'alaikum.." Adam mencium tangan Ibu dan Ayah.
"Wa'alaikumsalam." Jawab mereka.
Akmal berdiri dari duduknya mencium tangan kakak iparnya itu.
"Sudah lama Mal?" Tanya Adam basa-basi.
"Lumayan sih Mas." Jawabnya.
"Mas.." Panggil Zahira yang baru keluar, ia segera mencium tangan suaminya itu. Adam lantas mengecup kening Zahira.
"Sudah, di musholla kantor tadi." Jawab Adam.
Tanpa mengatakan apa-apa, Zahira menarik lengan Adam agar mengikutinya ke halaman samping rumah.
"Kenapa tarik-tarik?" Protes Adam sebab Arvind masih dalam gendongannya.
"Udah, ikut aja dulu." Jawab Zahira.
Akmal yang penasaran pun mengikuti mereka.
"Mau ngapain Mbak berhenti di bawah pohon mangga?" Tanya Akmal heran.
Zahira melepas rangkulannya dari lengan Adam. Ia tersenyum begitu manis pada laki-laki tampan itu membuat Adam menaikkan sebelah alisnya.
"Masku sayang.. ambilin mangga itu dong.." Rayu Zahira seraya menunjuk ke atas.
Adam, Akmal dan Arvind sama-sama kompak melihat ke atas.
"Nggak salah Mbak, sore-sore gini mau makan mangga? Nggak ada yang matang lho Mbak?" Sahut Akmal aneh.
Buah mangga semuanya masih hijau belum ada yang masak sama sekali.
__ADS_1
"Iihh.. biarin aja, Mbak udah kepengen dari tadi." Balas Zahira cemberut seperti anak kecil.
Adam curiga dengan permintaan istrinya ini apa jangan-jangan..
"Mas.. kok malah diem sih, cepetan manjat pohonnya." Intruksi Zahira.
Adam menghela napasnya sesaat lalu memberikan Arvind pada Akmal.
"Mal, kamu gendong Arvind." Ucapnya.
Adam mengambil tangga untuk memudahkan dirinya menaiki pohon mangga itu, dengan gerakan lincah ia sudah berada di salah satu dahan.
"Iya Mas yang itu.." Teriak Zahira heboh.
"Yee.. Papa jadi cepidelmen.." Arvind juga tak kalah hebohnya melihat Papanya memetik buah mangga untuk Mamanya. Dia bertepuk tangan.
"Awas kepala kalian." Teriak Adam dari atas lalu melemparnya ke rerumputan agar tidak pecah.
Zahira pun memungutnya. "Mas, sudah cukup." Teriaknya.
Adam mengangguk kemudian turun dengan perlahan agar tidak sampai jatuh.
"Hati-hati Papa.." Teriak Arvind. Akmal mengacak-ngacak rambut Arvind karena gemas.
Turun dari pohon, Adam langsung mengibaskan kemeja yang ia pakai karena terdapat beberapa semut yang mengerubungi tubuhnya.
"Ada semut ya Mas?" Tanya Zahira mendekati suaminya.
"Iya." Jawab Adam sambil menggaruk punggungnya.
"Sini biar aku lihat." Zahira hendak membuka kancing baju Adam namun langsung dihentikan oleh laki-laki tampan itu.
"Kenapa?" Tanya Zahira.
"Jangan disini nanti dilihat Arvind." Bisik Adam.
Zahira mengerti dengan maksud suaminya itu.
"Sayang main sama Om Akmal dulu ya." Ucap Zahira dan Arvind pun mengangguk lucu.
Adam menggandeng tangan Zahira untuk masuk ke kamar. Adam segera membuka kemeja dan kaos dalamnya, bisa dilihat saat ini tubuh dan punggung Adam merah-merah karena digigit semut. Semutnya pun menempel di baju Adam.
Zahira membantu menggaruk punggung Adam.
"Yank, kamu nggak ngerasa aneh gitu sama tubuh kamu?" Tanya Adam.
"Aneh gimana Mas?" Zahira balik bertanya.
"Sore-sore gini kamu pengen makan mangga muda." Jawab Adam.
.
__ADS_1
.
.