Tiba - Tiba Dijodohkan

Tiba - Tiba Dijodohkan
Libur dulu


__ADS_3

Setelah kepergian Citra dari mini market itu. Suasana kembali seperti semula tapi yang berbeda adalah Zahira masih saja kesal bahkan mood untuk berbelanja sudah hilang. Zahira sudah tidak berselera lagi untuk memilih-milih barang apa saja yang mau dia beli.


Padahal sebelum berangkat tadi, Zahira begitu semangat tapi karena sebuah insiden tadi. Kekesalannya mempengaruhi niatnya untuk tidak berlama-lama di tempat ini. Berkali-kali Adam membujuk tapi tidak mempan juga.


"Beneran tidak mau belanja di sini?" Tanya Adam sekali lagi.


"Enggak, kapan-kapan aja kita beli kebutuhan kamar mandi." Jawab Zahira malas.


Membuat Adam menghela nafas kemudian mengangguk menyetujui kemauan sang istri.


"Ya sudah jika tetap tidak mau belanja lagi. Sekarang kita pulang ya." Ajak Adam dengan suara lembut.


Adam dan Zahira keluar dari mini market lalu ke sepeda motor Adam yang terparkir. Adam memakaikan helm di kepala sang istri. Setelah Zahira duduk di jok belakang, Adam melajukan kendaraan roda duanya itu menuju ke tempat penjual Martabak telur. Siapa tahu nanti mood Zahira bisa kembali lagi seperti semula.


Begitu sampai di penjual martabak telur. Mereka pun segera memesan tiga porsi martabak yang di inginkan oleh Zahira. Beberapa menit menunggu, pesanan mereka pun sudah jadi. Adam langsung membayarnya dan kini mereka memutuskan untuk pulang.


"Mas, kita ke rumah Emak ya." Pinta Zahira saat memakai helm di kepalanya.


"Untuk apa?" Tanya Adam dingin sambil menaikkan sebelah alisnya, naik ke atas motor sportnya.


Adam khawatir jika nanti Zahira tidak mau pulang ke rumahnya. Dan sang istri memilih tidur di sana.


"Mau ngasih satu porsi martabak telur ini." Jawab Zahira sambil mengangkat kantong kresek berisi kardus martabak telur yang ia pegang.


Adam mengangguk. "Iya, kita akan ke sana." Jawabnya cukup lega.


"Sekarang kamu naik." Perintah Adam.


Zahira naik di belakang, memeluk tubuh Adam. Lima belas menit berkendara motor Adam sudah sampai di rumah kedua mertuanya.


"Assalamu'alaikum.." Ucap salam Zahira dan Adam memasuki rumah orang tuanya.


"Wa'alaikumsalam." Jawab pemilik rumah.


"Emak, Bapak." Sapa Zahira saat melihat kedua orang tuanya sedang menonton televisi.


"Kamu Nduk." Ujar Ibu sambil tersenyum saat Adam dan Zahira mencium tangannya dan juga tangan Bapak.


Akmal yang berada di dalam kamar dan mendengar suara Kakaknya langsung saja keluar untuk melihat Zahira.


"Mbak, bawa apa itu?" Tanya Akmal.


Zahira tersenyum dan mengulurkan kepada Akmal. "Martabak telur Dek." Jawabnya setelah Akmal menerima.


"Asik.. martabak telur. Mbak emang the best deh pokoknya." Ucap Akmal memuji kebaikan Zahira sambil mengangkat jari jempolnya.


"Ambil piring dulu di dapur." Perintah sang Ibu.


"Ok." Jawab Akmal dengan semangat lalu melangkah ke dapur.


"Ayo kalian berdua duduk jangan hanya berdiri." Tegur Ibu kepada Adam dan Zahira. Mereka berdua pun duduk di karpet.


"Emak dengar kalian habis jalan-jalan ke pantai ya?" Tanya Ibu.


Adam dan Zahira sama-sama mengangguk. "Iya Mak." Jawab Adam.

__ADS_1


"Emak tahu dari siapa?" Tanya Zahira.


"Dari Ibu mertua kamu, tadi pagi Emak datang ke rumah kalian. Tapi katanya kalian tidak di rumah pergi ke pantai." Jawab Ibu.


"Oh.. iya Mak, kami sedang liburan. Hira juga membelikan kalian semua oleh-oleh tapi masih ada di rumah. Belum sempat Hira buka." Ucap Zahira.


"Oleh-oleh apa Mbak?" Tanya Akmal yang baru dari arah dapur langsung ikutan menyahut.


Lalu memberikan piring kepada sang Ibu untuk tempat martabak telurnya.


"Banyak, Mbak juga belikan kamu baju sama celana pendek." Jawab Zahira.


"Bagus tidak! Awas aja kalo baju dan celana pendeknya jelek. Aku tolak!" Ucap Akmal.


"Bagus dong. Kapan sih Mbak belikan kamu barang yang jelek. Mbak jamin kamu bakal suka nanti." Jawab Zahira dengan bangganya.


"Sudah-sudah, daripada kamu ribut lebih baik makan ini." Ucap Ibu kepada Akmal.


Akmal langsung mengambil satu. "Hmm.. mantap!" Ucap Akmal mengunyah martabak telur itu.


"Kalian berdua tidak makan?" Tanya Bapak.


"Enggak Pak, makanan ini Hira khususkan untuk kalian." Jawab Zahira.


Bapak manggut-manggut. "Kalian tidak mau sekali-kali nginap di sini?" Tanya Bapak memandang Adam dan Zahira bergantian.


Zahira menoleh ke arah sang suami meminta jawaban. Adam menggeleng tanda menolak.


"Maaf Pak, lain kali aja ya." Jawab Zahira meski sebenarnya ia juga merindukan kamar tidurnya.


Hingga martabak telur itu habis hanya dalam hitungan menit.


"Mbak, kapan-kapan beli martabak telur lagi ya." Pinta Akmal ternyata Akmal ketagihan juga.


"Enggak mau, bisa tekor Mbak nantinya." Ucap Zahira.


"Heleh, duitnya juga punya Mas Adam. Yang capek kerja juga Mas Adam, ngaku-ngaku bakal tekor." Cibir Akmal membuat kedua orang tua dan Adam geleng-geleng kepala dengan ketidak akuran adik kakak itu.


"Yank, kita pulang." Ajak Adam setelah melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan lebih.


"Ah iya, ayo Mas." Kata Zahira.


"Mak, Pak.. kami pulang ya. Assalamu'alaikum." Pamit Zahira dan Adam.


"Wa'alaikumsalam." Jawab mereka bertiga.


***


Setelah sampai di rumah, Zahira langsung membuka kardus martabak telur. Ia mengambil beberapa lembar tissue terlebih dahulu untuk pegangan agar tidak terkena minyaknya.


"Mas mau?" Tanya Zahira di sela-sela kunyahan-nya menawari Adam.


Adam mengangguk. "Mau lah. Emang kamu saja yang suka." Jawabnya kemudian membuka mulut agar Zahira menyuapi dirinya.


Zahira makannya sedikit belepotan, tangan Adam pun terulur untuk mengambil sisa ayam yang menempel di bibir sang istri lalu memasukkan ke dalam mulutnya.

__ADS_1


"Ih, jorok Mas. Itu kan bekasku kok malah di makan bukannya dibuang." Tegur Zahira.


"Mana ada jorok, tiap hari juga kita bertukar sali**." Jawab Adam dengan entengnya.


Zahira memutar kedua matanya malas. "Terserah Mas Adam deh." Pungkasnya.


"Makan apa Nak?" Tanya Ibu menghampiri mereka di ruang tamu.


"Martabak telur Bu." Jawab Zahira.


"Boleh Ibu minta?" Sebelum mengambil, Ibu meminta persetujuan lebih dulu takut jika nanti Zahira kembali protes.


"Boleh banget dong Bu.. ayo duduk." Zahira menyuruh sang ibu mertua duduk di hadapannya.


Dengan senang hati Ibu pun ikutan makan martabak telur yang sangat menggugah selera itu.


"Ayah mana Bu?" Tanya Adam.


"Ada di kamar, lagi ngecek tugas-tugas dari murid didiknya." Jawab Ibu.


"Tadi mampir ke mana saja, kenapa baru pulang?" Tanya Ibu.


"Ke rumah Emak dulu Bu." Jawab Zahira.


"Kalian habiskan sendiri ya, Ibu sudah kenyang." Ucap Ibu setelah habis tiga potong.


"Adam juga sudah kenyang Bu." Sahut Adam yang juga habis tiga potong sama seperti sang Ibu.


"Kalau aku malah belum." Jawab Zahira masih memakan martabak telurnya walau sudah habis lima potong.


"Ibu lihat-lihat, kamu sekarang banyak makan ya Nak." Ucap Ibu terkekeh.


"Betul kata Ibu, sekarang istri Adam ini suka sekali makan. Aku sendiri heran." Sahut Adam sambil mencubit gemas pipi Zahira.


Ibu tersenyum senang melihat Adam begitu mencintai Zahira.


"Ya sudah, Ibu balik ke kamar mau tidur." Ucap Ibu meninggalkan Adam dan Zahira.


"Huh.. Alhamdulillah kenyang." Ucap Zahira setelah makan enam potong irisan martabak telur.


"Ayo ke kamar kita belum sholat isya." Ajak Adam.


"Mas duluan aja, aku mau buang kardus ini di dapur." Kata Zahira.


Adam mengangguk lalu melangkah ke kamar meninggalkan Zahira. Setelah dari dapur Zahira masuk ke dalam kamarnya, Adam sudah berwudhu dia menunggu Zahira untuk sholat isya. Zahira pun bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu lalu mereka melaksanakan sholat isya berjamaah.


Selesai sholat Zahira sudah bersiap untuk tidur namun Adam justru mengganggu dirinya.


"Hari ini libur dulu ya Mas.." Pinta Zahira sambil memelas.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2