
Citra menggeleng cepat pada sang ibu. "Enggak Bu, aku nggak pacaran sama dia." Ucap Citra sambil menunjuk Tholib yang sudah duduk kembali.
Ibu Citra memijit pelipisnya yang mendadak sakit. Pusing karena anaknya hendak menjadi perebut suami orang dan sekarang ada laki-laki yang ngaku-ngaku jadi pacar anaknya. Ini yang benar mana?
Ibu Citra menghela napasnya.
"Tante, Tante tidak apa-apa kan?" Tholib begitu perhatian kepada wanita yang duduk di hadapannya ini.
Ibu Citra tersenyum. "Tante baik-baik saja, kamu tidak usah khawatir. O ya, tadi nama kamu siapa?" Tanya Ibu Citra kepada Tholib.
"Nama saya Tholib Tante, Tholib bin Toyyib." Jawab Tholib dengan senyum khasnya membuat Citra menganga lebar mendengar Tholib menyebut nama lengkapnya.
"Nama yang bagus." Puji Ibu Citra karena mengira nama Tholib adalah nama gabungan Tholibin padahal aslinya tidak.
Tholib senang mendapat pujian itu namun Citra melirik malas.
"Pffthh..." Andi hampir saja tertawa lepas untungnya berhasil ia tahan. Belum apa-apa Tholib sudah menyebut nama Bapaknya. Dikira ini acara akad, sampai nyelipin 'bin' segala. Tapi ia salut sama keberanian teman kerjanya ini, patut diacungi jempol.
"Mas, apanya yang lucu sih?" Zahira berbisik di telinga Adam karena semua teman kerja suaminya ini seperti menahan tawa.
"Gimana nggak lucu Yank, Tholib nyelipin 'bin' di kalimatnya." Jawab Adam berbisik pula.
Zahira masih belum paham. "Maksudnya?" Tanyanya lagi.
"Tholib itu tidak punya nama kepanjangan Yank, namanya cuma 'Tholib' saja. Kalau nama Toyyib itu nama Bapaknya." Jelas Adam agar sang istri mengerti.
Zahira pun membekap mulutnya agar tawanya tidak menggelegar. Lucu juga nama teman kerja suaminya ini apalagi orangnya juga cukup humoris.
"Onty.. onty, adek mau minum." Mikha menarik-narik gamis Zahira. Batita lucu itu sudah kehausan sebab sedari tadi tidak ada yang memperhatikan dirinya.
Zahira pun mengambil segelas jus jeruk untuk Mikha.
Ibu Citra kini beralih menatap Zahira. Di pandanginya perempuan hamil itu yang menurutnya begitu manis.
"Siapa nama kamu Nak?" Tanya Ibu Citra kepada Zahira.
Zahira menunjuk dirinya sendiri." Tante bertanya sama saya ya?" Zahira bertanya balik.
"Iyalah, emang sama siapa lagi." Sahut Citra ketus.
"Hush, sama tamu harus sopan." Tegur sang ibu sambil memukul paha Citra.
__ADS_1
Ibu Citra mengangguk. "Iya, Tante bertanya sama kamu." Ucapnya lagi.
"Nama saya Zahira Tante." Jawabnya sopan sambil tersenyum manis tanpa memperdulikan lirikan sinis Citra.
"Kamu sedang hamil ya, sudah berapa bulan usia kandungan kamu?" Tanya Ibu Citra melirik ke perut buncit Zahira.
"Sudah empat bulan Tan." Jawab Zahira sambil mengelus perutnya.
"Berarti kalian sudah tahu dong ya jenis kelamin anak kalian." Ujar Ibu Citra.
Zahira menggeleng. "Kami belum mengetahui apa jenis kelaminnya." Jawab Zahira.
"Kok bisa?"
"Karena belum tanggalnya untuk periksa kandungan lagi." Kata Zahira dan ibunya Citra hanya manggut-manggut.
"Harusnya aku yang bersanding dengan Adam, bukan gadis udik ini." Gerutu Citra dalam hati.
Andai dari dulu Adam membalas perasaan cintanya mungkin dialah yang akan menjadi ibu dari anak-anak Adam kelak. Bukan gadis kampung yang ada di hadapannya ini.
"Tamunya sudah datang ya." Ayah Citra menghampiri mereka diruang tamu.
Mereka pun berdiri dan bersalaman dengan Ayah Citra disertai senyum ramah juga. Hanya Tholib seorang yang mencium punggung tangan Ayah Citra.
"Yah, ini lho Nak Adam yang waktu itu pernah menolong Ibu." Ibu Citra menunjuk Adam.
Adam hanya mengangguk saat namanya disebut. Ayah Citra pun tersenyum dan berucap terimakasih kepada Adam.
"Sama-sama Om." Jawab Adam.
"Ternyata kamu tampan juga ya, pantas saja putri Om ini selalu membanggakan kamu dikala dia cerita sama kami saat bertemu denganmu lagi. Apalagi sekarang kalian satu kantor dan tidak ayal jika putri Om ini semangat sekali untuk berangkat kerjanya, ternyata penyebabnya adalah kamu. Om juga tidak masalah jika kalian punya hubungan spesial, Om akan memberi restu." Ucapnya panjang lebar.
"Yah, jangan bicara seperti itu, dia sudah punya istri. Istrinya di sampingnya tuh dan sekarang sedang hamil." Ibu Citra berbisik di telinga suaminya. Wanita itu tidak enak hati kepada istri Adam.
Ayah Citra membulatkan matanya lalu berganti menatap putrinya yang saat ini menundukkan kepala. Ternyata dia sudah dibohongi oleh anaknya sendiri, berani-beraninya dia mengatakan jika ingin menjadi istri dari pemuda yang telah menikah.
Citra tidak berani menatap wajah Ayahnya dia malu jika sang Ayah akan memarahinya di depan teman-temannya.
"Maafkan Om ya, Om tidak tahu kalau kamu sudah menikah." Sesalnya.
"Tidak masalah Om." Jawab Adam memaklumi. Namun berbeda dengan Zahira, dia lama-lama bosan jika yang dibahas hanya tentang suaminya saja. Emang nggak ada topik lain apa.
__ADS_1
"Mas, kita pulang yuk. Aku udah capek nih." Keluh Zahira. Suaranya cukup keras sehingga mereka semua mendengar.
Sementara Ayah dan Ibu Citra saling pandang. Mereka berdua paham pasti istri Adam ini tidak nyaman berada di rumahnya. Citra yang sepertinya tidak rela jika Adam harus segera pergi.
"Ya sudah, ayo kita pulang." Angguk Adam kepada Zahira.
"Lho.. kok pulang Dam. Aku aja belum puas berada di rumah pacarku." Protes Tholib.
"Kalau kamu mau di sini dulu ya nggak apa-apa. Aku tidak bisa mengabaikan kemauan istriku." Jawab Adam kini sudah berdiri bersama Zahira.
"Bener Lib, kata Adam. Kalau kamu emang mau saling akrab sama orang tua Citra kamu di sini aja jangan ikutin kami pulang." Sahut Andi memberi saran.
Tholib pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia cukup segan sama Ayahnya Citra. Apa yang harus ia katakan nanti jika disini hanya seorang diri tanpa adanya teman-temannya. Mau tidak mau Tholib juga harus undur diri.
Akhirnya mereka semua pamit pada sang tuan rumah dan juga minta maaf karena tidak bisa berlama-lama bertamu di rumah mereka.
Setelah kepergian mereka, Citra kini disidang oleh Ayahnya. Gadis itu menunduk takut sambil meremat kedua tangannya.
"Apa kamu sudah tahu kalau orang yang bernama Adam itu sudah menikah?" Matanya menatap tajam.
Citra mengangguk dibalik wajah takutnya. Ayah Citra pun menghela napas kasar. Dia sudah gagal mendidik anak semata wayangnya yang berniat menjadi orang ketiga.
"Berani-beraninya kamu membohongi kami!" Ucapnya kesal.
"Kamu tahu, sebutan apa yang disematkan oleh orang-orang diluaran sana jika kamu sampai berhasil merebut suami orang?" Ayah Citra begitu geram.
"PELAKOR.. sebutan itu juga tidak asing di telingamu kan?" Bentak Ayah Citra.
Citra dan ibunya bahkan sampai terkesiap dengan suara keras itu.
"Kamu juga seorang perempuan, bagaimana jika di posisimu ada perempuan lain yang ingin merebut suamimu? Apa kamu akan terima? JAWAB PERTANYAAN AYAH JANGAN DIAM SAJA!" Bentaknya lagi.
"T-tidak Ay-yah." Jawab Citra semakin takut bahkan tubuhnya sampai gemetar.
"Kamu bikin Ayah malu saja. Mulai sekarang, lupakan Adam, cari laki-laki lain!" Peringatnya tegas tidak mau dibantah.
.
.
Bersambung...🙏🙏
__ADS_1
.