Tiba - Tiba Dijodohkan

Tiba - Tiba Dijodohkan
Ada Rasa dari dulu


__ADS_3

"Mama adek lapal.. mau maem." Ucap si kecil Mikha menatap Mamanya dengan wajah imutnya.


Obrolan mereka terpaksa berhenti.


"Mau maem nasi?" Tanya Risma.


Mikha langsung mengangguk cepat. Zahira merasa kasihan pada anak sahabatnya itu, karena sudah mengabaikan keberadaan Mikha.


"Bentar ya sayang, onty ambilkan Mikha maem dulu." Ucap Zahira lalu melangkah ke dapur mengambil nasi dan ayam goreng.


"Ini nasi dan ayamnya, di habiskan ya sayang..." Zahira memberikan kepada Mikha. Mata Mikha berbinar melihat ayam goreng.


"Ashiikk.. ayam goleng..." Sorak Mikha senang.


"Aduh Ra, jadi nggak enak aku. Padahal tadi Mikha udah sarapan lho, tapi sekarang sudah lapar lagi." Risma tidak enak.


"Udah nggak apa-apa, kamu kayak sama orang lain aja Ris, pakai sungkan segala." Kekeh Zahira.


Risma pun menyuapi anaknya. Begitu lahap sekali Mikha makan sampai habis tak tersisa. Ternyata Ayam goreng adalah makanan kesukaannya.


"Bilang apa sayang pada onty Hira." Ucap Risma setelah selesai menyuapi anaknya makan lalu meletakkan piring di meja.


"Telima tacih onty..." Ucap Mikha memperlihatkan deretan gigi putihnya. "Sama-sama sayang." Jawab Zahira sambil tersenyum.


"Emak kamu lama ya Ra, pergi belanjanya." Ucap Risma melihat jam di dinding.


Sudah satu jam lebih Risma berada di rumah Zahira. Tapi Ibu Zahira belum juga pulang dari pasar.


"Iya, Emak hari ini udah mulai beli bahan-bahan untuk acara masakan nanti. Sedikit demi sedikit lah belanjanya, biar nggak riweh pas di hari H nya." Jelas Zahira.

__ADS_1


Ibu Zahira memang mulai belanja dari sekarang. Karna banyak sekali bahan-bahan untuk membuat makanan yang harus ia beli. Agar nantinya tidak ada yang kelupaan. Mengingat banyak sekali makanan apa saja yang harus ia buat, karna nantinya akan di bagikan kepada para tetangga, juga untuk di bawa ke rumah calon besannya.


"Kurang dua minggu lagi kan acara Akad nikah kalian?" Tanya Risma memastikan.


Zahira mengangguk. "Iya. Kamu jangan lupa hadir tepat waktu ya untuk mendampingiku." Pinta Zahira.


"Haha.. tentu aja, kamu jangan khawatir. Aku bakal datang lebih awal untuk mendampingi-mu. Biar kamu nggak grogi." Risma tersenyum lucu.


Risma juga pernah di posisi Zahira, bagaimana perasaan deg-degan dirinya pas akan mendengar Ijab kabul yang di ucapkan oleh suaminya sewaktu dulu.


"Maaf ya Ra.. aku nggak bisa lama-lama di sini. Nanti suamiku marah lagi karena bertamu nggak tahu waktu." Risma harus undur diri, kemudian berdiri memeluk sahabatnya sambil cium pipi kanan dan pipi kiri.


"Iya, kapan-kapan main ke sini lagi ya." Ucap Zahira.


Risma mengangguk. "Pasti itu, ayo sayang kita pulang, salim dulu sama onty Hira." Pinta Risma kepada putrinya.


Mikha pun mencium tangan Zahira.


"Wa'alaikumsalam." Zahira melambaikan tangan kepada Risma dan putrinya yang sudah meninggalkan rumahnya.


***


Di rumah Adam lagi kedatangan tamu, seorang pemuda yang lumayan tampan. Siapa lagi jika bukan Andi, teman dekat Adam dari Taman kanak-kanak sampai saat ini. Andi datang ke rumah Adam meminta penjelasan mengenai pernikahan sang sahabat yang akan di langsungkan dua Minggu lagi.


"Assalamu'alaikum." Ucap Andi.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Adam di ruang tamu sambil merapikan kertas-kertas yang di ketiknya tadi.


"Parah nih, mau nikah tapi nggak bilang-bilang." Cerocos Andi tanpa basa-basi duduk di depan Adam.

__ADS_1


Adam menaikkan sebelah alisnya. "Tahu dari mana kamu?" Tanya Adam.


"Dari Ibuku lah, Ibuku dengar kalo kamu mau nikah dengan Zahira." Andi sangat kesal.


"Sorry, aku belum sempat beritahu kamu." Jawab Adam santai seolah-olah tidak bersalah sama sekali.


Andi geleng-geleng kepala. "Belum sempat apanya, tiap hari kita ketemu. Bisa-bisanya loe bilang nggak sempat." Ketusnya.


Adam tersenyum tipis. "Ya, aku emang sengaja, biar kamu tahu pas hari H nya." Ucap Adam santai.


"Benar-benar parah loe. Malang sekali nasib Zahira punya calon suami tapi cueknya minta ampun." Cibir Andi.


"Sialan kamu." Adam melempar Andi dengan kertas kosong.


"Haha.. tapi gimana bisa kamu sama Zahira mau nikah?" Heran Andi.


"Kami dijodohkan." Jawab Adam singkat.


"Terus kamu langsung setuju! Sudah aku duga kalo kamu dari dulu emang udah ada rasa sama Zahira." Imbuh Andi tersenyum penuh kemenangan.


"Kata siapa?" Adam mengelak.


"Mata kamu yang nggak bisa bo'ong? Diam-diam kamu selalu memandangi Zahira kan, saat Zahira tidak menyadarinya. Juga sifat dingin berlebihan-mu yang kamu tunjukkan padanya."


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2