
Akibat menunggu kepulangan Adam, Zahira sampai ketiduran di sofa. Adam sendiri baru bisa pulang pada pukul 20:30 karena harus menanti kedatangan keluarga ibu paruh baya itu. Anak serta menantunya berada di luar kota sehingga Adam harus menunggu selama tiga jam di rumah sakit tersebut.
Adam langsung mendudukkan dirinya di sofa karena badannya sangat letih meskipun hanya duduk-duduk saja selama menemani ibu itu.
"Lama banget Nak kamu pulangnya, lihat istrimu sampai ketiduran begitu." Ucap Ibu sambil meletakkan teh dihadapan Adam.
Begitu Adam sudah pulang Ibu langsung membuatkan secangkir teh hangat untuk sang putra.
"Iya Bu, anak beserta menantu ibu yang Adam tolong tadi bekerja di luar kota. Jadinya Adam harus menemani ibu itu sampai anaknya datang karena tidak mungkin juga Adam tinggalin begitu saja." Jawab Adam.
Ibu pun mengangguk.
Adam mendekat ke arah sang istri lalu mengangkat kedua kaki Zahira. Adam memijit kaki Zahira meskipun dia juga sedang lelah. Ini sebagai permintaan maaf Adam kepada istrinya itu, karena sudah membuat Zahira cemas.
Ayah dan Ibu tersenyum melihat Adam yang sangat peduli kepada Zahira.
"Bu, apa sudah lama Zahira tidurnya?" Tanya Adam sambil memandangi wajah istrinya.
"Sudah satu jam." Jawab Ayah.
"Kamu sudah makan Nak?" Ibu hampir lupa menanyakan apakah sang anak sudah makan atau belum.
"Belum Bu." Jawab Adam singkat.
"Ya sudah, Ibu ambilkan kamu makanan dulu." Ucap Ibu.
Adam mengangguk lalu Ibu berjalan ke dapur mengambil nasi dan lauk pauk.
"Ini Nak." Ucap Ibu meletakkan sepiring nasi dan segelas air putih.
Adam beralih ke sofa tunggal untuk makan malam yang sempat tertunda tadi. Lima belas menit kemudian laki-laki tampan itu sudah selesai dengan makannya.
"Bawalah istrimu ke kamar. Kasihan nanti, sudah lama juga tidur di sofa." Ucap Ayah.
"Iya Yah." Jawab Adam. Ia pun mengangkat tubuh sang istri yang makin hari makin berat saja. Zahira sendiri tidak terganggu saat Adam mengendong dirinya. Mungkin ia letih menunggu Adam yang tak kunjung pulang.
Adam membaringkan tubuh Zahira di kasur. Ia sendiri langsung ke kamar mandi mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Hanya butuh sepuluh menit Adam sudah selesai menyegarkan dirinya.
__ADS_1
Laki-laki itu membaringkan tubuhnya di samping wanita yang sekarang mengandung buah hatinya. Adam juga memberi usapan lembut di perut sang istri. Sehari tidak bertemu dengan Zahira membuat Adam juga merindukan calon anaknya itu. Di kecupnya perut Zahira lalu beralih ke kening wanita yang sedang terlelap di sampingnya.
"Selamat tidur istrinya Mas." Ucap Adam lalu mendekap tubuh Zahira.
Jam dua dini hari Zahira terbangun akibat rasa lapar yang menderanya. Ia pun meregangkan pelukan Adam di tubuhnya lalu membangunkan lelaki tampan itu.
"Mas.. Mas Adam, bangun Mas." Zahira menepuk lembut pipi sang suami.
"Apa Sayang?" Tanya Adam dengan suara serak tapi matanya masih terpejam enggan untuk membuka.
"Aku lapar Mas." Jawab Zahira lirih. Sebenarnya Zahira takut membangunkan sang suami.
"Kalau lapar ya makan Sayang." Balas Adam tanpa membuka matanya.
"Iya aku tahu.. tolong anterin dong Mas ke dapurnya, aku takut." Pinta Zahira.
Tengah malam seperti ini jika harus ke dapur seorang diri tentu saja Zahira tidak berani, ia salah satu orang yang sangat penakut. Menonton film horor saja Zahira langsung kabur ketika diajak Eko nonton di bioskop.
"Yank.. Mas sangat ngantuk, kamu jangan ganggu tidurnya Mas." Jawab Adam dengan suara malas lalu memiringkan badannya memunggungi Zahira.
"Apa aku ke dapur sendiri saja ya." Gumam Zahira sambil mengelus perutnya. Dia ragu-ragu untuk ke dapur seorang diri.
"Mas Adam tega benget nggak mau ngantar aku makan." Lirih Zahira sedih.
Zahira mencoba membangunkan Adam sekali lagi siapa tahu suaminya itu mau menemaninya.
"Mas.. ayo dong bangun. Aku nggak berani nih.. kamu nggak kasihan apa sama aku." Bujuk Zahira sedikit mengguncang bahu Adam.
Adam berdecak kesal lalu menepis tangan Zahira di pundaknya. Adam benar-benar sangat ngantuk, ia juga sangat letih. Bukan tidak mau mengantar sang istri ke dapur tapi ia butuh istirahat yang cukup banyak malam ini. Dengan teganya Adam tetap mengabaikan Zahira.
"Ck, Zahira.. dibilang jangan ganggu ya jangan ganggu!" Kesal Adam.
Mendapat perlakuan seperti itu. Zahira langsung menjauhkan tangannya di pundak sang suami. Ia menatap nanar punggung Adam. Ia menyibak selimut lalu turun dari ranjang. Dengan langkah hati-hati Zahira membuka handle pintu agar tidak menimbulkan bunyi.
Semua lampu di rumah memang dimatikan, untung saja ia membawa ponselnya sebegai alat penerangan. Dengan rasa takut Zahira berjalan ke arah dapur. Andai di perutnya tidak ada sang anak mungkin Zahira akan mengabaikan rasa laparnya itu. Tapi ini lain lagi sang janin juga butuh asupan makanan.
Zahira menyalakan lampu dapur. Lalu merebus air untuk membuat susu hangat. Juga memanaskan lauk yang masih tersedia di lemari dapur. Setelah itu Zahira mulai memakan makanannya di keheningan tengah malam. Agak merinding juga bulu kuduknya memperhatikan sekelilingnya yang teramat sunyi.
__ADS_1
"Alhamdulillah..akhirnya kenyang juga." Setelah itu Zahira mencuci piring dan gelasnya.
Zahira tidak langsung kembali ke kamar, ia memutuskan untuk duduk di ruang tengah sambil membuka ponselnya. Baru beberapa menit mata Zahira terasa mengantuk, ia pun memejamkan mata dan tertidur di sofa tanpa memakai selimut.
***
Adzan subuh berkumandang Adam menggeliatkan tubuhnya. Ia meraba-raba sisi kirinya mencari sang istri.
"Dimana Zahira?" Gumamnya lalu menyibak selimut dan turun dari ranjang, berjalan ke arah kamar mandi untuk berwudhu lalu sholat subuh.
Sementara Zahira dia tidur meringkuk di atas sofa menggigil kedinginan, kulitnya juga merah-merah akibat digigiti nyamuk nakal.
Ibu yang baru keluar dari kamar, matanya memicing melihat ada seseorang yang tidur meringkuk di sofa. Ia pun mendekat memastikan siapa orang itu.
"Lho, Zahira kok tidur di sofa ruang tengah." Ibu merasa aneh. Bukannya semalam menantunya ini sudah diangkat sama anaknya ke kamar. Tapi sekarang kenapa bisa tidur di sini lagi, pikir Ibu bingung.
"Sayang, Nak.. bangun, sudah subuh." Ibu membangunkan Zahira dengan cara menepuk-nepuk pipi Zahira.
Kedua mata Zahira terbuka secara perlahan-lahan. Ia bangun dari tidurnya berganti menjadi posisi duduk.
"Ada apa Bu?" Tanya Zahira sambil menggaruk tangannya yang gatal.
"Sudah subuh Sayang, kenapa kamu bisa tidur di sofa lagi?" Tanya Ibu.
"Ah, sudah subuh ternyata." Ucap Zahira dengan suara serak.
"Iya Nak" Ibu mengangguk.
Tanpa berkata apa-apa lagi. Zahira berjalan ke kamar mandi yang berada di sebelah dapur, berwudhu di sana. Lalu sholat subuh di ruang musholla bukan di kamarnya.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1