
Melihat kesungguhan Citra, akhirnya Zahira memaafkan kesalahan gadis yang menundukkan kepala di hadapannya ini. Biar bagaimana pun Zahira juga tidak ingin memiliki dendam kepada orang lain. Hidup damai tanpa permusuhan akan membuat kehidupan menjadi nyaman.
Zahira membalas genggaman tangan Citra. "Baiklah, aku maafkan semua kesalahan kamu." Jawabnya sembari tersenyum manis.
Seketika hati Citra menjadi lega bercampur senang. Kenapa tidak dari dulu saja ia meminta maaf kepada orang yang sudah ia sakiti ini. Tapi tidak masalah jika baru sekarang ia mengutarakan maafnya daripada tidak sama sekali.
"Terima kasih Zahira, kamu baik sekali." Ucap Citra berkaca-kaca.
"Sama-sama, sesama manusia kita harus saling memaafkan. Benar kan?" Tanya Zahira.
Citra mengangguk. "Iya kamu benar." Jawab Citra dengan senyum haru.
"Jadi mulai sekarang kita berteman ya." Ajak Zahira.
"Kamu mau mengajak aku berteman Ra? Apa kamu tidak masalah jika punya teman seperti aku?" Tanya Citra memastikan.
"Nggak masalah lah, emang apa salahnya?" Zahira balik bertanya.
Citra tersenyum kaku. Ternyata Zahira adalah orang yang sangat baik, belum ada satu jam permintaan maafnya, Zahira sudah menawarinya pertemanan.
"Ya, tidak masalah sih. Cuma nggak nyangka aja, tiba-tiba kamu menawariku pertemanan. Jujur aku seneng banget Zahira." Jawab Citra nampak riang setelah sedihnya hilang.
"Itulah indahnya hidup jika kita saling menghargai satu sama lain." Ujar Zahira.
"Iya, ucapan kamu ada benarnya." Sahut Citra menganguk setuju.
Sementara Adam, laki-laki tampan itu hanya mengulas senyum tipis melihat kebaikan dari sang istri yang begitu ikhlas memaafkan kesalahan orang yang sudah membuatnya hampir terpuruk.
"O ya, kamu mau pesan apa. Biar aku pesankan." Tawar Zahira kepada Citra.
"Tidak Ra, tidak usah. Aku sudah pesan makanan tadi bersama temanku." Jawab Citra menolak.
"Teman? Terus di mana teman kamu?" Heran Zahira.
"Tuh, orangnya ada di sana." Tunjuk Citra kepada temannya.
"Oh.." Angguk Zahira setelah mengetahui keberadaan teman Citra itu.
"Sepertinya sampai di sini dulu ya pembicaraan kita. Aku harus balik ke mejaku kasian temanku di sana sendirian." Ujar Citra.
"Iya, kapan-kapan kita lanjutkan lagi." Jawab Zahira.
Citra mengangguk. "Pasti itu." Ucapnya sambil berdiri lalu cipika-cipiki dengan Zahira.
"Mau pulang?" Tawar Adam setelah dari tadi memilih diam tanpa ikut nimbrung ataupun menyela.
"Iya deh Mas." Jawab Zahira.
Adam memanggil pelayan cafe untuk membayar makanan yang sudah mereka pesan. Lalu menggandeng tangan Zahira meninggalkan tempat makan itu.
__ADS_1
Sesampainya di rumah. Adam dan Zahira hendak masuk kamar namun langkah mereka harus terhenti ketika melihat Andi tengah berbincang bersama Ayah dan Ibu di ruang tamu.
"Nah, itu dia. Adam sudah pulang." Ucap Ibu membuat Ayah dan Andi menoleh bersamaan.
Adam dan Zahira tidak jadi masuk kamar, mereka berdua pun duduk.
"Sudah lama Ndi kamu di sini?" Tanya Adam.
"Sudah satu jam Dam aku nunggu kamu." Jawab Andi.
"Ada urusan apa kamu mencariku?" Tanya Adam lagi.
"Gini Dam, lusa aku berencana mau lamar Mila." Jawab Andi.
Sontak saja semua orang yang berada di situ kaget mendengar pernyataan Andi.
"Kak Andi serius mau lamar Mila? Apa Mila sudah tahu dengan rencana Kak Andi ini?" Tanya Zahira.
Andi mengangguk. "Mila dan keluarganya sudah tahu kok Ra." Jawab Andi sambil tersenyum.
"Alhamdulillah.." Ucap semuanya, turut bahagia karena tidak lama lagi Andi akan naik ke pelaminan. Andi juga senang keluarga Adam begitu mendukungnya.
"Kamu dan Zahira harus ikut aku ya Dam datang ke rumah Mila lusa." Perintah Andi.
"Iya, kamu jangan khawatir. Aku dan Zahira bakal dampingi kamu." Jawab Adam.
"Ayah, Ibu, Aku pamit pulang ya. Assalamu'alaikum." Ucap Andi.
"Wa'alaikumsalam." Jawab mereka serempak.
Sepeninggal Andi.
"Gimana Nak, hasil periksa kandungan kamu tadi?" Tanya Ibu kepada Zahira.
"Alhamdulillah, bayi di perut Hira sehat Bu. Dan nanti Ibu bakal punya cucu laki-laki." Jawab Zahira tersenyum.
"Ayah.." Pekik riang Ibu. "Cucu kita nanti laki-laki Yah." Ibu nampak semangat mendengar jenis kelamin cucunya sudah diketahui.
***
Citra berbaring di ranjang empuk kamarnya. Hari ini ia sangat bahagia sebab kegundahan dalam hatinya sudah tersalurkan dengan mendapat pintu maaf dari Zahira.
"Sekarang saatnya kamu harus rubah diri kamu Cit." Citra bermonolog sendiri.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Tertera nama 'Tholib' yang memanggil. Citra pun mengangkatnya.
"Hallo.." Sapa Citra.
"Hallo Adek cantiknya Mas Tholib. Udah tidur belum?" Tanya Tholib dengan suara khasnya.
__ADS_1
Citra tersenyum mendapat perhatian dari teman kantornya itu.
"Belum bisa tidur nih.'' Jawab Citra singkat.
"Berarti kita ini sama Dek, Mas Tholib juga belum bisa tidur." Ucap Tholib.
"Haha.. biasanya kamu tidur di jam berapa?" Tanya Citra sambil tengkurap dengan kedua kaki bergerak bebas.
"Tidurku itu tidak menentu Adek cantik.. kadang di jam sepuluh saja Mas Tholibmu ini belum bisa tidur." Jawab Tholib.
"Kenapa di jam segitu belum bisa tidur?" Tanya Citra lagi. Hmm.. asyik juga ngobrol sama laki-laki gendut ini.
"Namanya juga masih bujang Dek." Jawab Tholib sekenanya.
"Makanya cari pacar dong, biar nggak bujang terus." Ujar Citra terkikik geli.
"Kamu aja yang jadi pacar Mas Tholib. Kita kan sama-sama jomblo, gimana?" Ajak Tholib.
***
Sudah menjadi kegiatan rutin, bila sebelum tidur Adam selalu memberi pijatan lembut di kedua kaki Zahira. Meski Zahira tidak meminta tapi Adam sendiri yang berinisiatif alasannya agar otot-otot di kaki Zahira tidak kaku.
Adam juga sadar bahwa mengandung itu bukan perkara mudah. Karena semakin besar kehamilan semakin besar pula keluhan yang di alami oleh ibu hamil. Seperti di malam sebelumnya, Zahira terbangun di tengah malam karena tiba-tiba perutnya mengalami kram. Dan hal itu membuat Adam menjadi panik sendiri, namun Zahira berhasil menenangkan dirinya.
"Mas, aku senang benget. Akhirnya Kak Andi bakal mengakhiri masa lajangnya." Ungkap Zahira.
"Sama, Mas juga sangat senang." Jawab Adam menatap Zahira yang tengah bersandar di kepala ranjang.
"O ya Mas, kita nanti bawa apa nih untuk ikutan melamar?" Tanya Zahira yang bingung harus bawa apa untuk Mila dan keluarganya.
"Biasanya kan bawa kue Yank atau kalau tidak ya jajanan khas kampung kita." Jawab Adam.
"Gimana kalau kue saja Mas." Kata Zahira.
"Terserah kamu saja mau kue yang gimana. Nanti Mas yang beli." Ujar Adam.
"Uh, baik banget sih suamiku." Puji Zahira, tidak perlu repot-repot dia.
"Mas, kamu ingat nggak. Waktu kamu datang pertama kali ke rumahku saat kita dijodohkan dulu?" Tanya Zahira sembari tersenyum lucu.
Adam menghentikan tangannya di kaki Zahira.
"Iya, Mas masih ingat. Memangnya kenapa?" Sambil menaikkan sebelah alisnya.
.
.
Bersambung...
__ADS_1