
"Sudah, berhenti mijiti tubuh Mas." Adam menyingkirkan tangan Zahira yang berada di lengannya. Ia pun memiringkan badannya lalu mengelus perut sang istri.
"Anak Papa hari ini apa kabarnya? Jangan sering-sering bikin Mama mual ya sayang, kasihan Mama tiap pagi harus muntah. Badan Mama juga ikutan lemes." Adam berbicara dengan calon anaknya.
Zahira tersenyum, ia begitu senang Adam sangat memperdulikan dirinya. Tangan Zahira mengelus rambut lebat Adam dan laki-laki itu merebahkan kepalanya di pangkuan sang istri.
"Tadi siang kamu makannya banyak kan?" Tanya Adam menatap Zahira.
"Banyak Mas, apalagi pepes pindang buatan Emak. Hmm.. sangat nikmat." Jawab Zahira mengacungkan jari jempolnya.
"Sekarang masih ada kan pepes pindangnya, Mas juga mau." Ucap Adam. Mendadak ia juga ingin merasakan enaknya pepes pindang buatan ibu mertuanya itu.
Zahira mengangguk.
"Masih Mas. Mau makan sekarang?" Tanya Zahira.
"Iya, sekarang aja." Angguk Adam.
Ia pun bangkit dari pangkuan sang istri lalu turun dari ranjang. Zahira kembali memakai kerudungnya, mengajak Adam ke dapur. Zahira membuka magic com lalu mengisi piring Adam dengan nasi panas itu.
"Dua centong cukup kan Mas, nasinya?" Tanya Zahira membuat Adam mengangguk. Zahira membuka daun pisang yang membungkus pepes pindangnya.
"Hmm.. sedap." Gumam Adam ketika tercium aroma kemangi di dalam bumbunya.
"Silahkan Mas." Zahira meletakkan piring di depan Adam yang sudah duduk manis di kursi.
"Terimakasih." Ucapnya.
Laki-laki tampan itu mulai menyantap nasi dan pepes pindangnya.
"Benar kata kamu Yank, pepesnya enak sekali. Bumbunya juga tidak begitu pedas." Puji Adam di sela-sela makannya.
Zahira hanya tersenyum kemudian berdiri mengambil air minum untuk Adam.
"Ayo buka mulut kamu. A..." Adam mengulurkan sendok di depan mulut Zahira.
Tanpa protes Zahira menerima suapan dari Adam, mereka pun makan bersama-sama dengan Adam yang terus menyuapi Zahira. Adegan ini tentu saja di saksikan oleh Akmal yang masuk ke dapur untuk mengambil mangkuk karena baru saja membeli mie ayam di depan rumah.
"Haduh.. ada dua sejoli yang lagi mesra-mesraan di dapur." Olok Akmal sambil mengambil mangkuk di rak.
Zahira meneguk air putih di gelas kemudian bertanya tanpa menyahuti olokan Akmal.
"Kamu beli mie ayam di mana Mal?"
Akmal menuang mie ayamnya ke dalam mangkuk.
"Di depan Mbak." Jawab Akmal singkat.
"Sekarang masih ada nggak orangnya?" Zahira bertanya lagi.
__ADS_1
"Nggak ada, penjualnya udah pergi. Emang kenapa, Mbak mau beli juga?" Tanya Akmal lalu duduk di sebelah sang kakak.
"Yahh... padahal Mbak juga pengen beli." Jawab Zahira dengan lesu.
Sementara Adam langsung mencuci piringnya.
"Mbak kan baru makan, masa mau makan lagi." Heran Akmal.
"Tapi Mbak masih lapar Dek, semenjak Mbak hamil porsi makan Mbak jadi nambah terus." Jelas Zahira.
Akmal manggut-manggut, yang ia dengar memang begitu kalau orang hamil memang makannya selalu banyak. Jadi kakaknya ini termasuk salah satunya juga, pikir Akmal.
"Ya udah, kalau gitu kita bagi dua aja Mbak." Ucap Akmal. Tidak tega juga melihat sang kakak yang sepertinya ingin sekali makan mie ayamnya.
Mata Zahira langsung berbinar.
"Yang benar Mal?" Tanya Zahira memastikan. Takutnya adiknya ini berbohong.
Akmal mengangguk. "Iya Mbak.. aku juga nggak mau nanti ponakanku ileran." Jawab Akmal sambil memutar malas kedua matanya, lalu mengambil satu mangkuk lagi dan membagi mie ayamnya menjadi dua.
Meskipun Akmal selalu bersikap usil sama Zahira tapi dia tetap sayang sama kakaknya itu. Hanya saja Akmal anak laki-laki yang jiwa usilnya selalu muncul jika lagi melihat Zahira.
"Makasih." Jawab Zahira riang dan langsung melahap mie ayamnya.
Adam yang melihat Akmal begitu peduli pada istrinya mengulas senyum. Begitu manis sekali jika melihat mereka yang akur kayak gini.
***
Mereka tengah makan malam selesai sholat Maghrib.
"Iya Bu, selepas ini ya." Jawab Ayah menyetujui kemauan sang istri.
"Nggak enak ya Yah, rumah hanya ada kita berdua." Ibu merasa kesepian di tinggal Zahira dan Adam menginap di rumah besan mereka.
Ayah meminum air putih di gelas kaca.
"Itu karena kita sudah terbiasa dengan adanya mereka Bu. Jadi ya, rumah ini terasa sepi." Jawab Ayah memaklumi kegundahan di hati sang istri.
"Sekarang kita habiskan makanan ini lalu kita pergi ke rumah besan kita." Ucap Ayah.
Dengan semangat Ibu mengangguk antusias. Beberapa menit kemudian mereka sudah selesai makan malam dan Ibu bergegas mencuci piring-piring kotor.
"Ayo Yah, kita pergi." Ajak Ibu kepada Ayah yang masih duduk di meja makan dan sedang berbalas pesan ke sesama rekan guru.
"Bentar Bu, Ayah balas pesan dulu." Jawab Ayah membuat Ibu terpaksa harus menunggu sebentar.
"Sudah Bu, ayo." Ayah memasukkan ponselnya ke dalam saku dan mereka pun berjalan keluar tidak lupa juga mengunci pintu rumah.
Ayah membonceng Ibu menuju ke rumah besan mereka.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum." Ucap salam Ayah dan Ibu Adam.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Ibu Zahira melihat siapa yang datang.
"Eh, Besan.. ayo-ayo silahkan masuk." Sambut Ibu Zahira, sangat senang melihat kedua besannya datang ke rumahnya. Mereka pun duduk di ruang tamu.
"Ada siapa Mak?" Tanya Bapak kepada istrinya.
Bapak yang tadinya sedang menonton pertandingan sepak bola bersama Akmal terpaksa harus ia jeda untuk melihat tamu yang datang ke rumahnya.
"Besan rupanya yang bertamu, kirain siapa." Ucap Bapak sambil tersenyum setelah mengetahui tamunya.
Ayah dan Ibu Adam juga sama-sama tersenyum.
"Iya San, kami yang datang." Jawab Ayah.
"Mak.. tolong buatkan Besan kita teh hangat." Perintah Bapak.
Ibu Zahira mengangguk. "Iya Pak." Jawabnya.
"Eh, nggak perlu repot-repot San, kami tadi juga sudah minum di rumah." Sahut Ibu Adam bermaksud menolak.
"Sudah San tidak apa-apa. Masa tamu harus dianggurin sih." Balas Ibu Zahira tersenyum.
Ibu Zahira beranjak dari duduknya berlalu ke dapur meninggalkan kedua besannya yang berbincang-bincang bersama Bapak.
Sementara di sebuah kamar yang tidak terlalu luas. Adam dan Zahira sedang bermesra-mesraan, mereka bahkan tidak mendengar jika Ayah dan Ibu datang berkunjung.
"Mas.." Panggil Zahira dengan suara manjanya sambil memeluk tubuh Adam. Mereka tengah bersandar di kepala ranjang, tidak keluar dari kamar usai menjalankan ibadah sholat Maghrib tadi.
"Apa Sayang." Jawab Adam lembut seraya mengelus bahu sang istri.
"Kapan-kapan kita jalan-jalan ke Mall yuk." Ajak Zahira menampilkan wajah manisnya.
Zahira ingin sekali datang ke pusat perbelanjaan itu. Sudah lama ia tidak pernah ke sana lagi, terakhir kali ia mengunjungi Mall itu bersama Eko dan Dini sebelum orang tuanya menjodohkannya dengan Adam. Bicara soal Eko dan Dini, tiba-tiba Zahira jadi ingat akan mereka berdua yang sekarang jarang sekali datang ke rumahnya.
Adam tersenyum tipis. "Iya, kita pergi di hari sabtu." Ucap Adam mengabulkan keinginan Zahira.
"Jangan di hari sabtu Mas, hari minggu aja. Soalnya aku juga mau ngajak Eko sama Dini." Sahut Zahira.
Para orangtua masih asyik mengobrol di ruang tamu.
"Oh iya San, di mana Adam dan Zahira?" Tanya Ibu kepada Ibunya Zahira karena sedari tadi tidak melihat anak dan menantunya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...