
Adam mengangguk menyetujui. "Baiklah kita pulang." Jawab Adam.
"Tapi aku haus.." Lirih Zahira.
"Ini, kamu minum dulu." Adam membuka tutup botol minuman dingin itu. Zahira langsung meminumnya sampai habis.
"Dek.. Zahira tadi kenapa?" Bisik Andi bertanya kepada Mila.
"Mbak Hira tadi muntah-muntah di toilet Kak." Jawab Mila. Mereka berdua berdiri menghadap Zahira.
"Muntah-muntah." Ulang Andi heran dan Mila mengangguk iya.
"Sudah?" Tanya Adam yang berjongkok di depan sang istri. Setelah Zahira selesai dengan minumnya.
Zahira mengangguk. "Sudah Mas." Jawabnya.
"Mau Mas gendong atau jalan sendiri." Tawar Adam.
"Aku jalan sendiri saja Mas." Ujar Zahira menolak tawaran Adam untuk di gendong.
Kini mereka semua memutuskan untuk pulang. Meski waktu masih pukul setengah satu siang. Andi dan Mila juga tidak masalah karena mereka cukup mengerti dengan keadaan Zahira sekarang.
Zahira berjalan sendiri dengan dibantu Adam. Sedang semua barang-barang mereka dibawa Andi dan Mila. Beruntung tadi mereka menyempatkan membeli oleh-oleh terlebih dahulu untuk keluarga di rumah sehingga pulang tidak dengan tangan kosong.
Mereka menuju ke parkiran mobil dengan Adam yang langsung sigap membuka pintu mobil bagian belakang untuk Zahira duduk di sana dengan dirinya.
"Ndi, kamu yang nyetir ya. Ini kuncinya." Ucap Adam memberikan kunci mobil pada Andi.
"Oke." Sahut Andi setelah memasukkan semua barang-barang ke dalam bagasi.
Andi juga membukakan pintu mobil bagian depan untuk sang kekasih. Setengah berlari Andi mengitari badan mobil, lalu membuka pintu dan masuk ke dalam. Setelah melihat Mila sudah memasang sabuk pengaman. Andi mulai melajukan mobil meninggalkan tempat parkir kemudian menembus jalan raya yang begitu padat meski ini siang hari.
"Mas.. kepalaku masih saja pusing." Keluh Zahira, menyandarkan kepalanya di dada Adam.
"Sini biar Mas pijit." Ucap Adam memijit lembut kening Zahira untuk mengurangi rasa pusingnya.
Dengan mata terpejam Zahira menikmati pijatan lembut Adam. Meski tidak sepenuhnya hilang rasa pusing di kepalanya, tapi cukup membantu juga.
"Kak Adam, tadi Mbak Hira muntah-muntah di toilet." Ucap Mila sambil menghadap ke belakang memberitahu Adam yang tengah memijit kening Zahira.
"Muntah-muntah, kok bisa?" Tanya Adam dingin.
Mila mengangkat kedua bahunya. "Aku juga nggak tahu Kak, tapi yang keluar tadi cuma cairan kuning aja." Jawab Mila, sudah tidak takut lagi dengan wajah datar Adam.
__ADS_1
"Apa gara-gara kebanyakan makan bakso ya Dam." Sahut Andi menimpali, melihat pasangan suami istri itu dibalik kaca spion.
"Mungkin saja." Jawab Adam ragu-ragu.
Zahira sendiri sudah tertidur pulas di pelukan laki-laki tampan itu. Adam mulai menghentikan pijatannya di kening sang istri.
"Tidur ya Dam, Zahira?" Tanya Andi setelah mereka terdiam sesaat.
Adam mengangguk. "Iya." Ucapnya sambil mengelus-elus punggung Zahira.
"Kasihan sekali Mbak Hira, mungkin lelah juga karena tidak memiliki tenaga setelah muntah-muntah di toilet tadi." Sambung Mila.
"Dam, jika kamu ngantuk, kamu tidur saja. Lagian kita pulangnya juga masih lama." Ucap Andi dengan pandangan yang tetap fokus ke depan pada laju mobil yang dia kendarai.
Adam mengangguk. "Baiklah, nanti jika sudah sampai, segera bangunkan aku." Ucap Adam membuat Andi mengangguk sambil berkata 'iya'.
Lalu memejamkan kedua matanya turut tertidur sama seperti Zahira yang sudah terlebih dulu memasuki alam mimpi.
"Dek, kamu nggak mau tidur juga?" Tanya Andi melirik sekilas ke arah Mila.
"Enggak Kak, aku mau nemenin Kak Andi. Lagian aku juga tidak ngantuk." Jawab Mila memandang wajah Andi.
Andi dibuat tersenyum. "Tidak apa-apa kalo kamu tidur. Sampai rumah juga masih lama. Belum lagi jika kena macet." Tutur Andi.
"Cie.. perhatian sekali calon istriku." Goda Andi membuat wajah Mila tersipu malu.
"Ah iya, besok kamu temani Kakak ya. Ke resepsinya Bowo." Ucap Andi.
Mila mengangguk. "Boleh, jam berapa Kak?" Tanya Mila.
"Jam sepuluh. Besok Kakak jemput kamu, kita ke sananya juga bareng mereka. Jangan lupa nanti Adek dandan yang cantik." Ujar Andi dengan terkekeh.
"Kak Andi ada-ada saja." Jawab Mila sambil tersenyum.
***
Dua jam lebih di perjalanan akhirnya mobil yang di kendarai Andi sampai juga di rumah Adam dengan selamat. Adam sudah terbangun dari setengah jam yang lalu. Sementara Zahira masih tertidur nyaman di pelukannya.
"Alhamdulillah, sampai rumah juga." Gumam Mila setelah mobil yang di tumpanginya berhenti di pekarangan rumah Adam.
Andi dan Mila sama-sama melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil untuk mengambil semua barang-barang di bagasi.
"Yank.. bangun, kita sudah sampai rumah." Ucap Adam dengan menepuk-nepuk punggung Zahira.
__ADS_1
Seketika Zahira langsung terbangun dari tidur nyenyaknya. Tapi rasa pusing di kepalanya masih terasa.
"Huek.." Zahira membekap mulutnya saat rasa mual itu ingin keluar lagi.
Cepat-cepat Zahira keluar dari mobil lalu muntah di samping taman di dekat kran air.
"Huek.. huek.." Tidak ada sisa makanan yang keluar dari mulut Zahira hanya cairan kuning saja.
Adam juga langsung keluar dari mobil menyusul sang istri yang muntah-muntah sambil berpegangan pada tembok. Adam memberi pijatan di pundak Zahira.
"Huek.. huek.." Zahira sudah tidak kuat karena tubuhnya sudah tidak ada tenaga lagi kali ini.
Andi dan Mila juga dibuat terkejut saat Zahira tiba-tiba berlari sempoyongan menuju kran air.
"Mbak Hira kok masih mual-mual aja sih. Apa dia masuk angin, karena bermain di pantai tadi." Gumam Mila sambil membawa barang-barang Zahira untuk dibawa masuk ke dalam.
"Kakak juga tidak tahu Dek." Ujar Andi mendengar gumaman Mila sambil mengangkat kedua bahunya.
Ayah dan Ibu mendengar suara mesin mobil berhenti di depan rumah seketika keluar untuk melihat siapa yang datang.
"Mereka sudah pulang Bu." Ujar Ayah melihat mobil Adam terparkir di halaman rumah.
"Iya Yah, Ibu kira mereka akan pulang malam." Sahut Ibu.
"Mas..." Panggil Zahira lirih, tubuhnya lemas setelah muntahnya berhenti. Ia menyandar di tubuh Adam.
"Mas gendong kamu ke dalam ya." Adam tidak tega melihat Zahira seperti ini.
Zahira hanya mengangguk saat Adam mengangkat tubuhnya, rasanya ingin sekali menangis.
Andi dan Mila masuk ke dalam rumah Adam dengan membawa barang-barang yang mereka beli tadi.
"Lho lho.. istri kamu kenapa Nak?" Tanya Ibu terkesiap melihat Adam tiba-tiba menggendong Zahira.
"Kita masuk ke dalam dulu Bu." Ucap Adam lalu melangkahkan kakinya menuju ruang tengah agar Zahira bisa istirahat di sana.
"Yah.. menantu kita kenapa?" Tanya Ibu dengan perasaan khawatir.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...