Tiba - Tiba Dijodohkan

Tiba - Tiba Dijodohkan
Jangan menyesali


__ADS_3

"Tapi anda jangan khawatir, istri anda juga baik-baik saja dan sekarang akan dipindahkan ke ruang perawatan." Jelas Dokter Indra sambil tersenyum melihat wajah tegang Adam.


"Dokter ini, bikin kita tambah takut saja." Ungkap Ibu Zahira merasa seperti dikerjai.


"Haha.. maaf Bu, maaf." Ucap Dokter Indra tertawa lebar.


Adam tersenyum simpul sambil geleng-geleng kepala.


"Terimakasih banyak ya Dok." Ucap Adam lalu menjabat tangan Dokter Indra.


"Sama-sama dan selamat anda sudah menjadi Ayah sekarang. Kalau gitu saya permisi." Ucap Dokter Indra sambil menepuk bahu kokoh Adam.


Pintu ruang operasi dibuka dan nampak lah seorang suster yang menggendong bayi Adam lalu di belakangnya beberapa perawat mendorong brankar Zahira yang akan di pindahkan ke ruang perawatan.


Semua orang pun menoleh terlebih lagi Adam yang sudah tidak sabar untuk melihat wajah anaknya.


"Ini bayi saya Sus?" Tanya Adam dengan mata berkaca-kaca yang menghadang jalannya suster.


Semua orang juga mengerubungi bayi itu. Bayi yang sangat tampan dan dalam keadaan sehat.


"Cucu Uti.." Gumam Ibu menitikkan air mata membuat Ayah langsung merangkul bahu Ibu sambil mengusap-usap juga.


"Benar Pak, ini adalah bayi anda. Tapi maaf saya tidak bisa berlama-lama di sini karena bayi anda harus segera masuk ke ruang inkubator untuk memulihkan keadaannya." Jawab suster.


"Anda bisa mengikuti saya untuk mengadzankan anak anda." Lanjutnya.


Adam mengangguk. "Iya Sus." Ucapnya lalu mengikuti langkah suster itu dari belakang bersama ibu.


Sementara yang lainnya mengikuti perawat yang mendorong brankar Zahira.


Di ruang NICU, Adam mengadzankan buah hatinya dibalik inkubator dengan meneteskan air mata karena sang bayi yang tidak boleh disentuh. Adam tidak bisa menahan sesak di dadanya begitu melihat malaikat kecilnya yang harus lahir sebelum waktunya. Walau begitu, Adam tetap bersyukur atas karunia Tuhan yang telah memberikan dia amanah yang begitu berharga yang harus ia jaga dengan segenap jiwa raganya.


"Terimakasih Sus." Ucap Adam lalu ia keluar sambil menghapus sisa air matanya.


"Sabar ya Nak." Ujar Ibu yang berdiri di samping pintu karena tidak diperbolehkan masuk.


Tak lama suster juga keluar dari ruang NICU . Ibu pun bertanya kepada suster tersebut.


"Sus kira-kira berapa lama ya cucu saya harus dalam perawatan inkubator?" Tanya Ibu yang sangat mencemaskan kondisi cucu pertamanya itu.


"Kalau untuk itu anda bisa bertanya pada Dokternya langsung Bu." Jawab si suster.


"Permisi." Suster pun meninggalkan Ibu dan Adam yang masih mengawasi bayi mungil itu dari kaca jendela. Bayi yang harus mendapat perlakuan khusus sebelum boleh dibawa pulang.


"Papa tinggal ya Nak." Ucap Adam setelah puas memandangi anaknya.


"Ayo Bu kita ke kamar Zahira." Ajak Adam sambil merangkul pundak sang ibu.


Adam menelpon Andi, di ruang apa istrinya di tempatkan dan untungnya ruang perawatan Zahira masih di lantai yang sama dari ruangan NICU anaknya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum." Ucap Adam memasuki kamar inap Zahira.


"Wa'alaikumsalam." Jawab semuanya yang duduk di sofa panjang.


Zahira masih belum sadar. Ia masih memejamkan kedua matanya. Adam segera mendekati sang istri lalu menciumi seluruh wajah Zahira tidak perduli dengan semua orang yang berada di ruangan itu.


Adam sangat-sangat berterimakasih kepada perempuan yang masih tidur itu karena sudah bertaruh nyawa untuk melahirkan buah hatinya dengan rasa sakit yang luar biasa. Adam berjanji kepada dirinya sendiri untuk selalu membahagiakan Zahira dan memberikan cinta lebih kepada wanita yang sudah lama bersemayam di dalam hatinya itu.


"Nak, nanti Emak nginap di sini ya menemani putri Emak." Ujarnya kepada Adam. Ia tidak tega jika harus meninggalkan putrinya yang baru melahirkan itu.


"Jangan Mak, biar Adam saja yang nunggu istri Adam. Emak butuh istirahat, Emak juga lelah setelah beberapa hari sibuk sekali mengurusi acara tujuh bulanan." Ucap Adam.


"Tidak apa-apa biarpun Emak lelah yang penting Emak ada disisi putri Emak." Ibu Zahira tetap keukeuh tidak mau berpisah dari anaknya membuat Adam menghela napas.


"Mak, jika Emak disini nanti siapa yang akan masak di rumah?" Tanya Akmal menimpali.


"Kamu dan Bapakmu kan bisa beli di warung. Lagian cuma sehari aja Emak di sininya." Jawabnya.


"Sudah Nak, biar saja ibu mertuamu disini, nanti kalau urusan makan biar Ibu yang mengirimi adik dan Bapakmu makanan." Sahut Ibu.


"Baiklah." Ucap Adam singkat tidak mau berdebat lagi.


"Mas.." Lirih Zahira memanggil nama suaminya. Perempuan itu sudah sadar meski kepalanya merasakan pusing.


Adam membalikkan badannya begitu mendengar suara Zahira.


"Ya Sayang kamu sudah sadar?" Tanya Adam lalu ia duduk di kursi sambil menggenggam tangan Zahira yang bebas dari cairan infus.


"Gimana anak kita Mas?" Tanya Zahira yang khawatir.


Adam mengusap kening sang istri. "Alhamdulillah dia sehat meski harus masuk inkubator." Jawab Adam lembut.


"Maaf ya Mas karena keteledoran ku anak kita harus lahir prematur." Ungkap Zahira merasa sedih.


"Shutt.." Adam menempelkan jari telunjuknya di bibir Zahira.


"Jangan bicara seperti itu Yank, ini sudah takdir dari Allah SWT yang penting kalian berdua selamat itu sudah lebih cukup buat Mas." Jawab Adam serak.


"Iya Nduk, benar kata suamimu." Sahut sang Ibu berjalan mendekat ke ranjang Zahira.


"Kamu jangan menyesali semua yang sudah terjadi ya." Lanjutnya.


"Iya Mak." Jawab Zahira.


"Kamu tadi nangis ya Mas. Kok mata Mas sembab?" Tanya Zahira memegang pipi Adam.


Adam menumpukkan tangannya di tangan Zahira lalu ia kecup lembut tangan istrinya itu.


"Karena Mas sangat mengkhawatirkan kamu Yank." Jawab Adam membuat Zahira tersenyum.

__ADS_1


"Peluk..." Pintanya manja begitu sang suami sangat mencemaskan dirinya.


Adam tersenyum simpul lalu memeluk tubuh Zahira dengan hati-hati karena takut akan melukai jahitan di perut sang istri.


Andi melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.


"Akmal, Ayah, Ibu, paman kalian tidak mau pulang? Sudah larut malam nih." Ujar Andi mengajak mereka untuk kembali ke rumah.


Mereka semua melihat jam di dinding.


"Nggak kerasa kalau sudah malam aja." Gumam Akmal.


"Kamu benar Nak. Baiklah besan ayo kita pulang." Ucap Ibu.


Bapak mengangguk lalu menghampiri Zahira.


"Nduk, Bapak pulang ya. Semoga kamu bisa segera pulang juga." Ucap Bapak mengelus kepala Zahira yang tertutupi kerudung instant.


"Iya Pak." Jawab Zahira lalu mencium tangan Bapak, Ayah dan Ibu.


"Selamat ya Ra, atas kelahiran anakmu. Kamu wanita hebat." Puji Andi.


"Iya terimakasih ya Kak Andi." Balas Zahira tersenyum mengingat kebaikan Andi.


"Ndi besok tolong buatkan aku surat cuti selama tiga hari." Pinta Adam sebelum Andi pergi.


Adam ingin merawat Zahira dan anaknya meski hanya beberapa hari saja.


Andi menepuk bahu Adam. "Iya, kamu tenang saja serahkan padaku." Jawabnya.


"Pak, besok jangan lupa ya rumah di sapu juga biar tidak kotor." Ibu Zahira mengingatkan suaminya. Karena tidak mungkin menyuruh Akmal yang bangunnya saja selalu kesiangan.


"Iya, Mak." Jawab Bapak.


Kini kamar inap Zahira sudah sepi hanya tinggal Adam dan ibu mertua saja.


"Mak, kalau Emak sudah ngantuk, Emak tidur di sofa saja." Adam melihat ibu mertuanya sudah menguap.


"Iya Nak, Emak tidur duluan ya." Ucapnya dan Adam hanya mengangguk.


"Mas kamu juga nggak tidur?" Tanya Zahira.


"Enggak, Mas mau nemenin kamu begadang." Jawab Adam.


"Aku tahu Mas juga sangat capek, tidur ya atau mau tidur satu ranjang denganku." Tawar Zahira, merasa kasihan kalau melihat suaminya harus tidur sambil duduk.


Adam tersenyum. "Iya Mas akan tidur tapi Mas tidur di kursi saja." Jawab Adam.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa Vote, like dan komennya...


__ADS_2