Tiba - Tiba Dijodohkan

Tiba - Tiba Dijodohkan
Ekstra part 3


__ADS_3

"Aneh gimana Mas?" Tanya Zahira.


"Sore-sore gini kamu pengen makan mangga muda." Jawab Adam seraya membalikkan badannya menghadap perempuan itu.


"Aku juga nggak tahu Mas, sedari tadi aku udah ngiler banget pengen makan yang masam-masam, makanya itu aku nyuruh Mas metik mangga muda." Jelas Zahira.


Adam memegang kedua bahu Zahira menatap dalam pada istrinya itu.


"Kamu ingat nggak, kapan terakhir kali kamu datang bulan?"


Adam bertanya pada istrinya ini apakah ingat atau tidak. Karena setahu Adam di bulan ini Zahira sama sekali belum menstruasi di lihat dari sholatnya yang tidak pernah bolong.


Zahira mengkerutkan keningnya. "Seingatku bulan lalu, kenapa emang?" Tanyanya heran.


Aneh sekali tidak biasanya suaminya ini menanyakan tentang datang bulannya.


"Dan di bulan ini apa kamu sudah mengalami haid?" Adam bertanya lagi.


Zahira menggeleng. "Belum." Jawabnya.


"Sayang.. bisa jadi saat ini kamu tengah hamil." Ujar Adam begitu bahagia.


Zahira masih ragu jika dirinya saat ini hamil. Dia kan selalu rutin minum pil KB. Gimana bisa hamil coba?


"Nggak mungkin lah Mas." Elak Zahira.


"Nggak mungkin gimana sih Yank. Ini aja udah tanggal 30, tanggal terakhir di bulan ini. Jadi udah pasti kalau kamu hamil." Jelas Adam begitu yakin.


"Apa iya.." Batin Zahira karena masih belum percaya.


"Biar lebih jelasnya, nanti Mas belikan kamu testpack ya." Ucap Adam yang menangkap keraguan di wajah Zahira.


***


"Mama, tata Om Amal ada pacal mayam. Alpin mau yihat." Memberitahu Zahira.


Mereka sedang makan malam bersama.


"Di mana Nak?" Tanya Zahira sembari menyuapi bocah tampan itu.


"Ndak tahu." Geleng Arvind.


Zahira tertawa lalu menoleh kepada suaminya.


"Mas, kamu tahu di mana lokasi pasar malamnya?" Tanya Zahira.


Adam mengangguk. "Tahu, di lapangan dekat pasar." Jawabnya


"Ayo Papa tita tecana." Ajak Arvind memandang Adam dengan wajah semangat.


Adam hanya mengangguk.


"Iya, nanti kita kesana tapi Kakak harus habiskan dulu makanan ini." Zahira menyodorkan makanan ke mulut Arvind.


"Iyya." Jawab Arvind, bocah kecil itu pun makan dengan lahap agar segera habis dan ia bisa melihat pasar malam.


"Akung sama Uti kok nggak diajak?" Sahut Ibu.


Arvind kembali menoleh ke arah Papanya.

__ADS_1


"A'kung cama Uti boyeh itut Pa?" Tanya Arvind.


"Boleh sayang." Jawab Adam.


Arvind pun tersenyum. "Tata Papa boyeh." Ucapnya pada sang nenek.


"Haha.. Uti cuma bercanda sayang. Kalian saja yang pergi, Uti di rumah saja sama Akung." Ujar Ibu.


"Napa?" Tanya bocah tampan itu.


"Akung banyak kerjaan yang harus Akung selesaikan." Ayah yang menjawab.


"Mama cuda, Alpin teyang." Arvind menggeleng, tidak mau disuapi lagi padahal tinggal sedikit nasi dan ayam gorengnya. Zahira juga tidak memaksa dan segera memberi Arvind minum.


Kini mereka selesai makan malam. Zahira dan ibu membereskan meja makan lalu membawa piring-piring kotor ke dapur untuk Zahira cuci, sementara Ibu menyimpan sisa lauk ke dalam lemari.


Arvind menyusul sang Mama di dapur, menarik-narik celana Zahira.


"Ayo Mama.." Dia sudah tidak sabar untuk ke pasar malamnya.


"Iya sayang, sabar." Zahira hanya bisa menghela nafas. Arvind menariknya ke kamar, di mana Adam sedang memakai jaket.


"Jangan lama-lama Yank, Mas tunggu kamu di luar." Titah Adam.


"Iya Mas." Jawab Zahira.


"Ayo jagoan kita tunggu Mama di mobil." Ajak Adam menggandeng tangan Arvind.


Lima menit kemudian Zahira masuk ke mobil.


"Sudah?" Tanya Adam ketika Zahira selesai memasang sabuk pengamannya.


"Jagoan Papa dipangku Mama ya, biar Papa tidak repot nyetirnya." Adam memindahkan tubuh Arvind ke pangkuan Zahira.


Begitu mobil melaju, Arvind berceloteh dengan bahasa cadelnya membuat Adam dan Zahira tak henti-hentinya tertawa.


"Sebelum ke pasar malam kita singgah dulu ke apotek ya." Ujar Adam melirik sekilas pada istrinya itu.


"Terserah Mas Adam saja." Jawab Zahira singkat.


"Kamu kenapa?" Tanya Adam. Istrinya ini seperti tidak semangat sekali.


"Nggak papa kok Mas." Jawab Zahira sembari menyematkan senyum.


Adam membelokkan mobilnya ke Apotek terdekat.


"Napa belhenti Papa?" Tanya Arvind.


"Papa mau beli sesuatu dulu. Kalian di dalam saja, tidak usah keluar." Ucap Adam melepas safety beltnya.


Zahira memandang Adam yang sudah masuk ke dalam apotek. Ada rasa sedih dalam dirinya jika ia tidak hamil. Pasti suaminya akan kecewa. Padahal Adam juga tahu kalau ia selalu rutin minum pil KB, tapi kenapa suaminya itu bisa beranggapan jika dirinya hamil?


"Sayang.." Panggil Adam.


Zahira tersentak dari lamunannya. "Iya Mas, ada apa?" Tanya Zahira begitu Adam sudah masuk ke dalam mobil.


"Ini testpack nya, kamu simpan di tas kamu." Adam memberikan benda itu kepada Zahira.


"Banyak sekali Mas?" Ada tiga buah testpack yang Adam beli.

__ADS_1


"Iya, besok saat bangun tidur, kamu coba semuanya." Jawab Adam.


"Yet do Papa tita te pacal mayam." Perintah Arvind dengan tidak sabarnya.


"Ok Boy.." Jawab Adam melajukan mobilnya kembali.


Beberapa menit kemudian mereka sampai di pasar malam. Arvind terlihat senang sekali melihat berbagai macam permainan apalagi banyak juga anak-anak seusianya yang berlari kesana kemari.


"Mama.. Mama beyi itu." Tunjuk Arvind pada gula kapas.


"Boleh Yank?" Tanya Adam kepada Zahira.


Zahira tersenyum. "Boleh Mas, sekali-kali juga nggak apa- apa." Jawab Zahira.


"Yee.." Riang Arvind dan langsung berlari ke arah sana, meninggalkan kedua orangtuanya.


"Mama mau makan itu juga nggak?" Canda Adam membuat Zahira terkekeh.


"Nggak lah Mas. Aku kan bukan Arvind." Ucap Zahira.


"Mama beyi dua ya, catu walna melah catu walna putih." Pinta Arvind mendongak kepada Zahira.


"Satu aja sayang, ingat apa kata Mama nggak boleh terlalu banyak makan yang manis-manis nanti gigi Kakak bolong terus bisa sakit." Jelas Zahira menjajarkan tubuhnya pada tubuh Arvind.


"Ya deh." Jawab Arvind mengangguk patuh.


"Ini Bu, gula kapasnya." Si penjual memberikan kepada Zahira dan Adam langsung membayarnya.


"Gimana kalau sekarang kita naik wahana. Kakak mau naik yang mana?" Tanya Zahira ketika Arvind menikmati gula kapasnya.


Arvind pun melihat-lihat wahana yang ada.


"Itu." Arvind menunjuk bianglala.


"Ok, ayo kita naik bianglala." Ajak Zahira lalu menyuruh Adam untuk menggendong Arvind.


Setelah mengantri mereka pun masuk ke dalam bianglala. Arvind berada dipangkuan Papanya, bocah lucu itu begitu takjub saat bianglala berputar sedikit demi sedikit.


"Wah.. Mama tita telbang." Sorak Arvind dengan mata berbinar.


"Jagoan Papa takut nggak?" Tanya Adam.


"Ndak." Arvind menggeleng sambil melihat ke bawah dimana banyak orang berlalu lalang.


"Anti Alpin mau naik itu." Dari ketinggian Arvind menunjuk rumah balon.


"Iya sayang, pokoknya sepuas Kakak. Mau naik apa aja bakal Mama dan Papa turutin." Ucap Zahira mengelus kepala Arvind.


"Acikk.."


Adam tersenyum melihat istrinya. Dan tanpa Zahira duga Adam mengecup bibirnya membuat Zahira melebarkan matanya.


"Mas..." Protesnya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2