Tiba - Tiba Dijodohkan

Tiba - Tiba Dijodohkan
Bersungguh-sungguh


__ADS_3

Sesuai dengan janjinya, malam ini Adam akan mengantar Zahira periksa rutin ke klinik Dokter Arni. Selepas sholat Maghrib mereka berdua berganti baju lalu berjalan keluar setelah berpamitan kepada kedua orang tua.


Adam membukakan pintu mobil untuk Zahira lalu menutup pintu mobil setelah memastikan Zahira sudah duduk aman. Adam memutari badan mobil, ia pun masuk dan duduk di belakang kemudi setelah memakai sabuk pengamannya. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.


"Kira-kira jenis kelamin anak kita apa ya Yank?" Ucap Adam sambil melirik Zahira sekilas.


Adam sangat penasaran dengan jenis kelamin sang anak. Di trimester kedua ini sudah waktunya untuk melihat jenis kelamin si janin.


Zahira menoleh sambil tersenyum. "Kalau Mas Adam sendiri nebaknya apa, cewek atau cowok?" Tanya Zahira.


Adam tersenyum tipis. "Kalau menurut Mas sih, sepertinya anak kita ini cowok Yank." Jawab Adam begitu pasti.


"Mas Adam yakin sekali kalau si Adek bakalan cowok?" Tanya Zahira lagi sembari mengelus perutnya yang tertutupi gamis longgar.


"Ya, cuma insting aja sih." Jawaban Adam membuat Zahira tertawa kecil. Segitu yakinnya suaminya ini tentang anak mereka yang bakalan cowok nantinya. Tapi bagi Zahira itu tidak masalah asalkan janin yang ia kandung saat ini sehat-sehat di dalam sana.


Tak terasa mobil pun sudah sampai di klinik Dokter Arni.


"Kamu jangan keluar dulu, biar Mas yang buka pintu mobilnya." Ucap Adam seraya melepas sabuk pengamannya.


Zahira mengangguk sebagai jawaban dan menunggu sang suami yang lagi membukakan pintu mobil agar ia segera keluar.


"Hati-hati turunnya." Adam memegang tangan kiri Zahira.


Mereka pun masuk ke dalam klinik sembari menunggu giliran untuk di panggil oleh perawat yang bertugas membantu Dokter. Lima belas menit menunggu akhirnya nama Zahira disebut juga.


Dokter Arni menyapa ramah Zahira dan Adam lalu menyuruh Zahira untuk berbaring di atas ranjang. Dengan hati-hati Zahira berbaring dengan bantuan sang suami.


"Kalian pasti sudah tidak sabar ya mengetahui jenis kelamin bayi kalian?" Tanya Dokter Arni kepada Adam dan Zahira.


Adam mengangguk dan tersenyum tipis. "Ya begitulah dok, saya memang sangat penasaran." Jawab Adam sambil menggenggam tangan kanan Zahira.


Zahira tersenyum melihat sang suami yang sudah tidak sabaran itu. Adam begitu bersemangat sekali.


"Baiklah, mari kita lihat perkembangan janin kalian di dalam." Kata Dokter Arni sambil menggerakkan alat USGnya.


Adam dan Zahira melihat layar monitor dengan seksama.


"Nah, ini sudah bisa dilihat. Oh.. ternyata Adek bayinya laki-laki ya Bun." Dokter Arni nampak antusias setelah berhasil melihat jenis kelamin sang janin.


"Yank.." Adam memanggil Zahira lalu membungkuk dan berbisik di telinga sang istri. "Benar kan insting suamimu ini Sayang." Ucap Adam dengan bangganya.


"Iya Mas." Angguk Zahira dengan binar bahagianya anak mereka adalah laki-laki.


"Alhamdulillah bayi kalian sehat, ukuran dan beratnya juga pas, 15,3 cm dan 250 gram. Sudah terlihat besar ini." Jelas Dokter Arni sambil tersenyum ke arah Zahira yang nampak tertegun menatap ke layar monitor.

__ADS_1


"Jangan lupa tetap jaga pola makannya ya Bun. Harus istirahat yang cukup.. dan emosi juga perlu dijaga." Tambah Dokter Erni menerangkan.


Adam dan Zahira sama-sama mengangguk.


"Iya Dok, tentu." Jawab Zahira yang sudah duduk di hadapan Dokter.


"Bu, ini foto USG bayi anda." Ucap sang perawat memberikan kepada Zahira.


Zahira tersenyum. "Terima kasih Sus." Ucapnya senang.


Mereka berdua pamit undur diri setelah melakukan transaksi pembayaran. Karena tidak ingin berlama-lama, mengingat banyaknya ibu hamil juga yang meriksakan kandungannya di klinik itu.


***


"Assalamu'alaikum." Ucap salam Andi memasuki rumah Adam.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Ayah di ruang tamu.


Andi menyalimi tangan Ayah Adam lalu duduk di sofa.


"Pasti kamu cari Adam kan?" Tanya Ayah langsung tanpa basa-basi.


Andi mengangguk. "Haha. Iya Yah, tahu aja." Jawabnya.


"Adam tidak ada di rumah, lagi ngantar istrinya periksa kandungan." Jelas Ayah Adam.


"Ayah juga tidak tahu. Kamu ada urusan penting sama Adam?" Tanya Ayah yang bisa melihat gelagat Andi.


"Iya, Yah. Penting banget." Angguk Andi.


***


Adam dan Zahira makan di sebuah cafe yang jaraknya tidak jauh dari klinik yang mereka kunjungi tadi. Kebetulan mereka juga belum menyempatkan makan malam.


Tidak jauh di meja yang lain, Citra juga makan di cafe ini, dia tidak sendiri melainkan dengan temannya.


"Kamu lihatin siapa sih Cit? Dari tadi lihat ke sana terus?" Tanya teman Citra.


"Itu, aku lagi lihatin Adam sama istrinya." Jawab Citra yang matanya masih mengarah dimana Adam dan Zahira duduk.


Teman Citra mengikuti apa yang dilihat oleh Citra.


"Itu istrinya Adam?" Tanya teman Citra sambil menunjuk.


Citra mengangguk sambil menyedot es yang ia minum. "Iya, sekarang dia sedang hamil." Jawab Citra memberitahu.

__ADS_1


Teman Citra manggut-manggut.


"Cantik juga istri Adam. Pakai hijab lagi." Pujinya.


Citra tersenyum mendengar teman karibnya memuji kecantikan Zahira.


"Aku ke sana bentar ya, kamu jangan kemana-mana." Ucap Citra meninggalkan temannya sendirian dan berjalan menghampiri pasangan suami istri itu.


Citra merasa takut jika nanti dia mengganggu ketenangan Adam dan Zahira di cafe ini. Tapi ini adalah kesempatannya untuk bisa mendapat maaf dari Zahira.


"Hai Zahira.." Sapa Citra dengan senyum ramah.


Zahira mengerutkan keningnya ketika mendapati Citra di cafe ini. Belum lagi dia hanya menyapa dirinya saja tidak menyapa suaminya. Aneh, pikir Zahira.


"Hai.." Balas Zahira cuek.


"Emm.. boleh kalo aku gabung dengan kalian?" Tanya Citra memandang Zahira.


Sebelum menjawab ucapan Citra, Zahira menatap suaminya dulu meminta persetujuan. Dan Adam mengangguk sebagai jawaban.


"Ya sudah, kamu boleh gabung sama kita." Jawab Zahira meski dalam hatinya ada rasa tidak suka.


Citra tersenyum lebar kala Zahira mempersilahkan dirinya duduk.


"Zahira, Emm.. ada sesuatu yang mau aku omongin sama kamu." Ucap Citra pelan. Jujur ia sangat canggung kepada Zahira.


"Mau ngomong apa emang?" Tanya Zahira penasaran.


Citra memegang tangan Zahira yang berada di atas meja.


"Zahira, Aku.. aku minta maaf yang sebesar-besarnya sama kamu. Aku minta maaf karena aku udah berniat untuk merusak rumah tanggamu sama Adam." Jawab Citra dengan suara lirih.


"Aku punya niat tidak baik sama kamu Ra, kamu mau kan maafin aku? Sekarang aku sudah sadar bahwa laki-laki di dunia ini bukan cuma Adam saja melainkan masih banyak lagi." Lanjut Citra.


Zahira mencari kebohongan di mata Citra. Ia cukup terkejut ketika Citra memohon maaf padanya.


"Yank." Adam membuyarkan lamunan Zahira.


"Benarkah? Apa kamu sungguh-sungguh dengan ucapanmu ini? Kamu tidak akan mengganggu suamiku lagi kan?" Tanya Zahira yang sebenarnya masih ragu.


"Sungguh Ra.. aku nggak bohong. Aku minta maaf untuk semua kesalahanku." Jawab Citra sambil menggenggam erat kedua tangan Zahira.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2