
Di hari Minggu ini, Adam mengajak Zahira untuk pergi jalan-jalan tetapi perempuan itu menolak sebab Zahira sudah memiliki janji dengan sahabat-sahabatnya untuk membuat rujak buah.
"Lain kali aja ya Mas jalan-jalannya mumpung mereka mau diajak ngumpul." Ucap Zahira.
Adam menemani Zahira mencuci baju.
"Ya sudah terserah kamu." Adam tidak mau memaksa toh masih bisa dilain hari.
"Mas, tolong kamu angkat cucian ini ya ke halaman samping." Zahira sudah selesai dengan cuciannya.
Lumayan banyak juga cucian sang istri, untungnya ia berada disitu kalau tidak, pasti berat sekali Zahira mengangkatnya. Adam juga turut membantu Zahira menjemur semua pakaian-pakaian itu.
"Eh ibu-ibu, itu lihat Adam membantu istrinya menjemur pakaian. Sayang banget ya Adam sama Zahira." Ucap salah satu tetangga Adam yang sedang berbelanja di tukang sayur keliling.
Para ibu-ibu yang kebetulan berbelanja juga langsung melihat ke arah yang di tunjuk ibu itu.
"Iya, bikin iri saja jika punya suami seperti Nak Adam. Andai saja Nak Adam dulu menyukai anak gadis saya, pasti sangat beruntung saya ini." Sahut salah satunya yang memang mendambakan ingin menjadi mertua Adam.
"Bukan cuma kamu saja yang pengen punya menantu seperti Nak Adam, saya juga mau banget malah." Celetuk ibu-ibu berbadan gemuk.
Semua yang mendengar tersenyum.
"Saya juga pernah menawari anak gadis saya kepada Nak Adam tapi langsung ditolak. Eh, dengan Zahira langsung setuju aja." Sahut ibu-ibu yang berkerudung sedikit sewot.
"Gimana nggak setuju, lha wong Zahira cinta pertamanya Nak Adam." Jawab ibunya Mila sambil tersenyum. Entah tahu dari mana jika Adam menyukai Zahira.
"Eh iya, denger-denger Zahira sekarang sudah hamil lho ibu-ibu." Timpal ibu-ibu yang berkerudung lebar sambil memilih tempe.
"Iya, saya juga sudah dengar." Jawab yang lainnya.
*
Selesai menjemur semua pakaian, mereka tidak langsung masuk ke dalam, mereka berjemur dulu di bawah sinar matahari di pagi hari.
"Kita duduk di sana dulu." Ajak Adam menarik tangan Zahira. Mereka pun duduk di kursi panjang yang memang sengaja diletakkan di halaman samping untuk duduk-duduk. Lima belas menit berjemur, Zahira mengajak Adam masuk ke dalam.
"Mas, tolong anterin aku ke pasar ya." Pinta Zahira sambil memoles wajahnya dengan bedak tabur.
"Ke pasar mau beli apa?" Tanya Adam yang baru keluar dari kamar mandi.
"Beli buah-buahan." Jawab Zahira singkat.
Adam mengangguk. "Ya sudah, ayo." Ajaknya sambil mengambil dompet dan kunci sepeda motor.
"Pakai sepeda motor Ayah saja Mas." Zahira menolak jika Adam memakai motornya sendiri.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Adam dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Nggak enak naik ke jok-nya, ketinggian." Jawab Zahira. Motor Adam adalah jenis motor sport, akan susah untuk naiknya. Zahira juga harus menjaga kandungannya.
Adam menghela napasnya. "Ayah tadi pergi bersama Ibu." Ujar Adam.
"Ya sudah, kalau gitu pakai motorku aja. Bentar aku nelpon Akmal dulu." Ucap Zahira.
Zahira pun menelpon sang adik, menyuruh untuk membawa motornya kemari. Akmal yang sebenarnya masih tidur, akhirnya terbangun juga begitu mendengar ponselnya berbunyi.
Adam duduk di tepian kasur sambil bermain ponsel.
"Kita ke depan Mas nunggu Akmal kemari." Ucap Zahira setelah menutup panggilannya.
Adam mengangguk dan mengiringi langkah Zahira ke teras depan. Tujuh menit menunggu akhirnya Akmal datang juga dengan sepeda motornya.
"Mau ke mana sih Mbak pakai bawa motor ini segala." Protes Akmal karena nanti motornya harus ia bawa keluar juga.
"Mau ke pasar Dek." Jawab Zahira setelah menerima kunci motornya.
"Aku juga mau keluar Mbak. Terus aku bawa motor siapa kalo motor ini Mbak bawa." Kesal Akmal.
Adam mengulurkan kunci sepeda motornya kepada Akmal. Wajah Akmal yang tadinya kesal sekarang berubah menjadi ceria. Dipinjami sepeda motor milik sang kakak ipar tentunya Akmal sangat senang karena bisa bergaya sedikit memakai motor sport itu.
"Makasih ya Mas." Ucap Akmal tersenyum lebar. Kapan lagi ia bisa naik motor kakak iparnya itu.
"Iya." Angguk Adam.
"Mbak, minta uangnya juga dong. Buat jajan nanti." Akmal menampilkan senyum terbaiknya kepada sang kakak.
"Nah kan, ujung-ujungnya ada maunya juga kamu." Cibir Zahira sambil mengambil uang di dompetnya. Meski begitu Zahira tetap memberi uang jajan kepada sang adik.
Akmal hanya nyengir mendapat cibiran dari Zahira.
"Ini, Mbak kasih lima puluh ribu. Kamu jangan minta sama Emak lagi." Kata Zahira memperingati. Akmal lantas mengangguk.
"Tambahin seratus lagi Yank." Sahut Adam, karena ia jarang memberi uang jajan kepada Akmal.
"Nggak usah Mas, segitu juga udah cukup." Tolak Zahira tidak mau memberi tambahan uang kepada sang adik takutnya nanti habis dan tidak ditabung oleh Akmal.
Akmal yang tadinya bersorak senang dalam hati karena uang jajannya ditambahin kini jadi cemberut kesal.
"Udah, tidak apa-apa." Balas Adam kepada Zahira.
Zahira memberi uang lagi kepada Akmal. "Tapi ingat jangan sampai habis. Uangnya harus kamu tabung juga." Titah Zahira dengan tegas.
__ADS_1
"Okay Mbak." Jawab Akmal senang tiada terkira.
***
Mereka sudah sampai di pasar. Hari Minggu seperti ini memang ramai sekali, bahkan tempat parkir saja sampai tidak muat. Adam menggandeng tangan Zahira saat masuk ke dalam pasar tradisional itu.
"Di mana tempatnya?" Tanya Adam. Laki-laki itu tidak pernah menginjakkan kakinya di pasar sebab sang ibu tidak pernah mengajaknya pergi ke tempat seperti ini. Ibu lebih sering diantar oleh Ayah.
Zahira tersenyum. "Lurus aja Mas nanti kita belok ke kiri." Jawab Zahira menunjukkan tempat penjual buah-buahan.
Zahira pun memilih buah-buahan yang cocok untuk di buat rujak. Tidak ketinggalan ia juga memilih mangga muda yang sangat ia inginkan sejak dirinya tahunya hamil, juga membeli anggur merah yang begitu menggiurkan.
"Cuma ini buah yang kamu beli?" Tanya Adam saat mereka sudah pergi dari kios buah itu. Sambil menenteng kresek.
"Iya." Angguk Zahira.
"Sekarang mau beli apa lagi?" Tanya Adam.
"Nggak ada sih Mas. Kita pulang aja." Jawab Zahira memeluk lengan Adam berjalan keluar pasar. Saat di parkiran, mata Zahira menangkap penjual batagor dan siomay.
"Mas, aku beli batagor dan siomay dulu ya. Kamu di sini aja." Ucap Zahira meninggalkan Adam yang berdiri di samping motornya.
Jaraknya cukup jauh, sehingga Adam harus menyusul. Banyak juga gadis-gadis yang membeli siomay di sana. Adam mendekati Zahira dan berdiri tegap di belakang sang istri. Zahira tidak menyadari jika Adam menyusulnya.
Para gadis yang juga turut membeli siomay lirik-lirik ke arah Adam. Ada juga yang tersenyum manis, siapa tahu mereka bisa kenalan sama laki-laki tampan ini. Ada juga yang memberanikan diri mendekatkan badannya ke lengan Adam.
"Mau beli siomay juga ya Mas?" Tanya gadis itu menatap wajah tampan Adam sambil menyelipkan rambut ke telinga.
Adam melirik sekilas tanpa menjawab membuat gadis itu sedikit cemberut bercampur malu. Sementara temannya terkikik geli karena Adam tidak menanggapi omongan temannya itu.
"Jangan ketawa kamu." Bisik gadis itu sambil melotot.
"Hehe, sorry." Jawabnya lalu menghentikan tawanya.
Pesanan Zahira sudah selesai, ia pun berbalik badan. Namun..
"Aduh." Keluh Zahira saat keningnya membentur sesuatu yang keras. Zahira pun mendongak melihat seseorang yang berdiri di hadapannya.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1