
"Assalamu'alaikum." Salam Zahira memasuki rumahnya.
"Wa'alaikumsalam." Jawab kedua orang tua dan adiknya.
Yang lagi duduk lesehan menonton televisi. Zahira langsung merebahkan tubuhnya di pangkuan sang Ibu.
"Cie.. yang lagi kencan seharian sama Mas Adam. Pasti seneng banget kan?" Goda Akmal melihat kakaknya yang baru pulang.
"Seneng dong." Jawab Zahira.
"Kemarin aja pas mau dijodohin nangis-nangis." Sahut Ibu mencubit hidung Zahira membuat Bapak langsung tertawa.
"Beneran Mak, Mbak Hira nangis?" Tanya Akmal nampak tidak percaya.
"Benar Mal, katanya Mbak-mu ini takut jika menikah. Pas Bapakmu memaksa Mbakmu menerima perjodohan itu." Kata Ibu.
Zahira mencebikkan bibirnya.
"Mbak.. Mbak, nggak malu apa sama umur menikah kok takut." Ucap Akmal sok bijak.
"Anak kecil tau apa kamu. Mbak itu cuma belum siap aja. Dikira gampang apa menjalin rumah tangga." Kesal Zahira pada Akmal.
"Terus sekarang gimana? Udah nggak takut lagi kan?" Tanya Akmal menarik turunkan alisnya.
"Ya jelas sudah nggak takut lagi dong Le. Kan calonnya Nak Adam." Sahut Bapak juga ikutan menggoda.
__ADS_1
"Haha..." Akmal dan Ibu tertawa.
"Bapak.." Zahira merengek karena malu.
"Mbak ini malu-malu tapi mau." Cibir Akmal.
Bapak dan Ibu masih tertawa.
"Udah ah, aku masuk kamar aja. Senang banget kalian menggodaku." Dengan cemberut Zahira masuk ke kamarnya.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 07:00 pagi. Rumah juga sudah sepi, Akmal berangkat ke sekolah setengah jam yang lalu. Bapak juga sudah pergi ke sawah. Zahira masih santai di rumah belum berangkat kerja. Sedangkan Ibu pergi ke toko untuk berbelanja.
"Kamu kok belum siap-siap berangkat kerja Nduk?" Tanya Ibu sambil meletakkan kantong plastik berisi barang belanjanya.
Zahira begitu risih jika kuku tangan dan kakinya panjang. Maka, setiap kuku tangannya panjang sedikit saja akan langsung ia potong kesannya biar rapi.
"Hari ini, kamu bawa bekal makanan kan Nduk?" Tanya Ibu.
"Iya Mak, bawa kok udah aku siapin di dalam jok." Jawab Zahira.
"Ya sudah, gih pakai kerudung. Sudah jam tujuh lebih lima menit ini." Perintah sang Ibu.
Zahira sudah mandi hanya tinggal berdandan rapi saja. Yaitu memoles wajahnya dengan bedak tipis, memakai Liptin, lotion di kedua tangannya. Baru memakai kerudung segi empat andalannya. Tidak lupa juga menyemprotkan parfum segar kesukaannya lalu memasukkan dompet dan ponsel ke dalam tas slempang.
__ADS_1
"Beres." Gumamnya setelah tampilannya sudah sempurna.
"Mak, Zahira berangkat ya. Assalamu'alaikum." Pamit Zahira menyalami tangan Ibunya.
"Hati-hati Nduk di jalan, Wa'alaikumsalam." Jawab Ibu.
Zahira menyalakan motornya menyusuri jalanan kampung. Sesekali menyapa warga yang melintas berjalan kaki. Memberikan senyum ramahnya pada warga yang ia lihat. Kendaraan yang dia kendarai sudah memasuki jalan raya. Zahira tidak pernah terburu-buru dalam mengemudi selalu dalam kecepatan sedang.
Begitu sampai di tempat kerjanya, hal pertama yang ia lakukan adalah membersihkan debu-debu di rak, juga membantu rekannya menyapu lantai meski sudah ada yang bertugas di bagian itu. Bagi Zahira menyapu lantai bukanlah tugas yang berat. Karena jika lantai masih ada yang kotor sebelum Swalayan di buka maka sang pemilik akan memarahi semua karyawannya.
"Ra, kamu cek barang apa saja yang sudah habis, ini bukunya." Ucap rekan kerjanya.
"Semua ini yang harus di cek atau sebagian saja?" Tanya Zahira.
"Sebagian saja nanti rak nomer 10 sampai 20 biar di cek sama Dini." Katanya lagi.
"Oke, aku bertugas dulu." Jawabnya, lalu mengelilingi rak. Menulis barang apa saja yang sudah habis. Dan di serahkan ke bagian yang bertugas memasok barang.
Pengunjung yang berdatangan cukup ramai hari ini. Di kasir sangat kewalahan. Hingga Zahira harus turun tangan, membantu memasukan barang-barang yang sudah terhitung di mesin komputer ke dalam plastik yang berlogo tempat kerjanya.
"Huh, capek juga." Zahira mengelap keringat di dahinya dengan tisu setelah pekerjaannya selesai.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...