
"Mama.. Mama.. adek nanis Ma.." Arvind memanggil Zahira yang berada di dapur. Ia berlari memberitahu sang Mama agar segera ke kamar.
Zahira pun mematikan kompornya meninggalkan acara masaknya sejenak lalu mencuci tangannya di wastafel.
"Iya, ayo ke kamar sayang." Zahira menggandeng tangan mungil Arvind.
"Cup.. cup.. putri Mama sudah bangun rupanya." Zahira menggendong baby Fisha lalu ia beri ASI dulu sebelum ia mandikan.
"Adek nanis na tencang ya Ma." Ucap Arvind melihat adiknya sedang meminum Asi.
Zahira tersenyum, benar yang dikatakan Arvind. Putri kecilnya ini kalau menangis suaranya melengking sekali berbeda dengan Arvind dulu. Apalagi kalau minum ASI bisa sampai setengah jam lebih lamanya.
"Iya sayang, adek kalau lapar ya gitu.." Jawab Zahira mengelus kepala Arvind dengan sayang.
"Papa belum pulang ya dari olahraga paginya?" Tanya Zahira.
"Beyum." Jawab Arvind sambil menggeleng.
Zahira meletakkan baby Fisha di atas ranjang karena harus menyiapkan air hangatnya dulu untuk memandikan bayi mungilnya itu dan juga untuk mandi Arvind.
"Kakak jagain adek ya, Mama mau ke kamar mandi dulu." Sambil meletakkan dua buah guling disisi kiri dan kanan.
"Ote ciap.." Jawab Arvind lalu naik ke atas ranjang.
Arvind menciumi wajah adiknya dan juga menoel-noel pipi chubby Fisha. Arvind sangat gemas karena adiknya ini seperti boneka, lucu sekali.
"Nanti mandi cama tatak ya dek. Danan nanis talau mandi.." Arvind mengajak baby Fisha berbicara dan bayi yang berumur 3 bulan itu tersenyum, juga bergumam seolah menimpali omongan saudaranya itu.
Adam tersenyum melihat dua buah hatinya sudah bangun tidur. Ia baru pulang dari olahraganya yang seminggu tiga kali ia lakukan. Terkadang ia juga mengajak Arvind, berhubung hari ini Arvind bangunnya kesiangan. Adam memutuskan untuk lari pagi seorang diri.
"Eh, Papa." Ucap Zahira melihat suaminya tengah menyandar di pintu sambil melipat tangan di dada karena menyaksikan anak-anaknya berceloteh.
Adam tersenyum kemudian mendekat ke arah mereka.
"Mau mandi?" Tanya Adam saat Zahira melepas semua pakaian di tubuh bayi mungilnya.
"Iya Mas, tolong kamu lepas juga bajunya Kakak." Pinta Zahira. Adam mengangguk.
Kini mereka sama-sama masuk ke kamar mandi karena Arvind minta dimandikan oleh Papanya. Zahira dan Adam geleng-geleng kepala melihat tingkah Arvind yang bermain busa sehingga baju Adam sampai basah.
"Mas, sekalian aja kamu mandi." Ucap Zahira karena ia sudah selesai memandikan baby Fisha lalu keluar dari kamar mandi.
Arvind juga menyusul Mamanya keluar dengan handuk yang melilit di tubuh kecilnya. Ia mengambil sendiri pakaian di dalam lemarinya tak lupa juga membantu membawakan bedak dan popok untuk adiknya.
"Ini Mama, popok na adek." Arvind mengulurkan pada Zahira.
"Makasih ya Kak.." Zahira tersenyum senang.
"Cama-cama." Jawab Arvind lalu berusaha memakai pakaiannya sendiri.
Zahira menoleh. "Bisa Kak?" Tanyanya pada bocah tampan itu.
__ADS_1
"Hehe.. ndak bica Mama." Jawab Arvind cengengesan.
"Tunggu ya. Bentar lagi adek selesai, tinggal pakai bedak saja kok." Ucap Zahira dan diangguki oleh Arvind.
Kini giliran Arvind yang dibantu Zahira memakai pakaiannya. Arvind pun wangi dan sudah rapi sama seperti adiknya. Tak lama Adam sudah selesai mandi, keluar sambil menggosok-gosok rambut pendeknya.
"Papa, Alpin cama adek udah lapi halum ladi." Arvind melapor pada Adam saat pria itu mengambil baju di dalam lemari.
"Iya, Kakak kalau udah mandi semakin tampan." Puji Adam tersenyum.
"Mas, aku mau teruskan masakku yang tadi aku tinggal. Kamu gendong adek ya." Ucap Zahira.
"Iya Sayang." Sahut Adam mengangguk.
Ibu dan Ayah tidak ada di rumah, mereka menginap di rumah sakit menemani Uwak Sari yang jatuh sakit.
Adam membawa kedua anaknya keluar rumah untuk berjemur di pagi hari disamping rumah. Arvind mengejar kupu-kupu yang terbang di hadapannya sampai ke pinggir jalan. Pandangan Arvind kini beralih pada tukang sayur keliling yang dikerubungi para ibu-ibu untuk berbelanja.
"Papa.. Papa.. Alpin mau beyi jajan." Ucapnya menghampiri Adam.
"Beli jajan dimana Nak?" Tanya Adam.
"Itu." Arvind menunjuk tukang sayur.
"Kamu ke kamar, ambil dompet Papa yang ada di laci meja rias." Suruh Adam.
"Iyya." Arvind berlari masuk ke dalam mengambil dompet Papanya.
"Ayo kita beli jajannya, kita lihat ada jajan apa saja di sana." Adam mengajak Arvind menghampiri tukang sayur yang masih di kerubungi para ibu-ibu.
"Eh, Mas Adam. Mau beli apa Mas?" Tanya salah satu ibu-ibu dengan ramah ketika Adam mendekat ke arah mereka.
"Ini Bi, Arvind minta dibelikan jajan." Jawab Adam.
"Cah ganteng mau jajan juga ternyata?" Tanya Ibu yang lain sembari mencubit gemas pipi Arvind.
"Iyya." Angguk Arvind lucu.
Arvind memilih jajan yang ia mau. Bocah tampan itu mengambil tiga pukis, dua donat, tiga kerupuk, dua dawet dan tiga pastel basah. Dan langsung dimasukin ke dalam kresek oleh si tukang sayurnya lalu memberikan kepada Arvind.
"Sudah?" Tanya Adam.
"Cudah Papa." Jawab Arvind.
Membuat ibu-ibu itu gemas sekali dengan anak Zahira dan Adam ini, belum lagi sama baby Fisha yang imutnya kebangetan. Tangan mereka rasanya sudah gatal ingin mencubit pipi chubby bayi mungil yang lagi tidur itu.
"Berapa Bang?" Tanya Adam.
"28.000 Mas." Jawab si tukang sayur. Adam mengulurkan uang lima puluh ribu.
"Makasih ya Mas." Sambil menyerahkan uang kembalian Adam.
__ADS_1
"Sama-sama, mari ibu-ibu saya duluan. Ayo sayang." Pamit Adam dan mengajak Arvind masuk ke rumah.
**
"Hmm, pantas aja Mama cariin kok nggak ada, rupanya abis beli jajan ya?" Zahira tersenyum melihat tangan mungil Arvind menenteng kresek putih transparan.
Adam duduk di samping Zahira sementara Arvind minta dipangku sang Mama sambil membuka jajan yang ia beli.
"Banyak banget Kak. Abis semua nggak nih?" Tanya Zahira.
"Endak.. Mama cama Papa uga halus matan." Jawab bocah tampan itu.
"Iya deh, Mama ambil pastel basah. Kalau Papa mau apa?" Zahira menoleh bertanya pada Adam.
"Pukis sama pastel basah tapi suapin ya Ma." Ucap Adam.
Zahira terkekeh, nggak anak nggak suami. Mereka sama saja, manja pada dirinya.
"Papa matan cendili.. tayak Alpin nih." Menunjuk dirinya yang lagi makan donat tanpa bantuan Zahira.
"Papa kan lagi gendong adek, Nak." Ucap Adam memberi alasan.
"Talau ditu bial Alpin cuapin Papa. A..." Arvind mengulurkan Pukis ke mulut Adam.
Adam tersenyum tipis dan menerima suapan dari putra pintarnya itu. Pagi yang indah bagi Zahira dan Adam, mereka menghabiskan waktu bersama dengan kegiatan yang sederhana.
"Adek Fisha kalau digendong Papa kok anteng banget sih.." Zahira mencium gemas kedua pipi gembul putri mungilnya.
"Mas juga Yank." Pinta Adam dengan mata mengerling.
Zahira pun mencium pipi kiri suaminya.
"Cup.. hadiah untuk Papa." Ucap Zahira.
"Makasih Mama. I love you so much." Ucap Adam.
"Alpin uga cayang Mama, Papa dan adek banak-banak." Sahut Arvind menatap kedua orangtuanya bergantian, membuat Adam dan Zahira tak kuasa untuk tidak tersenyum haru.
"Kami juga sayang kakak dan adek." Jawab Adam dan Zahira bersamaan, mereka pun mencium pipi Arvind.
Betapa Tuhan telah bermurah hati, memberi banyak kebahagiaan yang tak mereka duga. Sepasang buah hati yang menjadikan hidup mereka semakin sempurna. Cita-cita masa lalu juga tercapai sudah.
.
.
Terimakasih para readers sudah menyempatkan waktunya untuk membaca novel receh Author ini, sedih juga harus berpisah sama Mas Adam, Zahira dan si comel Arvind🙁 Lembah bunga jalanan bersalju, impian cinta semua itu untukmu..😊
Jika berkenan silahkan mampir di novel Author yang satunya..
.
__ADS_1