
"Iya." Jawab Zahira.
Adam menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ini apalagi coba yang diinginkan Zahira. Mau cari dimana Nasi boranan itu jika tidak di tempat asalnya. Adam kembali naik ke ranjang mencoba menawarkan makanan lain yang mudah di dapat.
"Makanan itu tidak ada di tempat kita Yank. Apa kamu mau makanan yang lain. Nanti Mas buatkan." Ucap Adam dengan sabar.
Zahira cemberut dengan muka ditekuk.
"Tapi aku maunya makan itu Mas.." Rengek Zahira.
"Cobaan apa lagi ini, Zahira.. kenapa tingkah kamu makin menjengkelkan sih." Batin Adam meronta sembari memijit pelipisnya.
"Gimana kalau Mas buatkan nasi goreng, mau?" Bujuk Adam siapa tahu Zahira mau.
"Nggak mau!" Zahira menggeleng keras. Orang mau makan Nasi boranan kok nggak diturutin sih, Zahira nampak sebal.
"Terus Mas harus cari di mana? Ini tengah malam Zahira.." Adam juga ikut-ikutan kesal.
Perempuan itu pun terdiam, benar juga kata suaminya ini. Tapi perutnya benar-benar lapar, dia hanya ingin makan itu.
"Ya udah deh, kalau gitu aku mau makan..." Zahira berpikir sejenak sebelum menyebut makanan lain.
Adam begitu setia menanti jawaban istrinya. Juga harap-harap cemas semoga keinginan Zahira tidak aneh-aneh.
"Buatkan aku orek tempe dan telur dadar. Gimana kamu bisa kan Mas?" Tanya Zahira. Memilih makanan yang mudah di olah, lagian nanti kalau keluar di tengah malam dia juga nggak akan sanggup. Cuacanya dingin banget.
Adam menganggukkan kepalanya.
"Iya, Mas bisa." Jawab Adam. Untungnya Zahira bisa dibujuk, dia juga mampu untuk masak itu.
"Ayo kita ke dapur!" Ajak Zahira dengan semangat.
Zahira hanya diam duduk di kursi sambil melihat Adam yang memasak untuk dirinya. Beruntung di kulkas masih ada persediaan tempe. Jadi kemauan ibu hamil ini terlaksana. Adam nampak sibuk dengan memasaknya agar cepat selesai, kasihan sang istri sudah kelaparan. Tidak begitu lama, masaknya pun sudah jadi dan siap dinikmati.
"Nih sayang, silahkan kamu makan." Ucap Adam sambil menyuguhkan nasi plus tempe orek dan telur dadar.
Zahira tersenyum senang. "Makasih ya Mas." Ucapnya. Masakan Adam benar-benar enak. Zahira pun mengacungkan jari jempolnya, memuji makanan yang ia makan.
Lima belas menit Zahira sudah selesai. Lalu memberikan piring kotor itu kepada Adam agar di cuci oleh suaminya itu. Adam juga tidak keberatan jika harus mencuci piring kembali.
"Sudah Yank, ayo ke kamar." Menarik lembut tangan Zahira.
Zahira mengangguk sebagai jawaban. Namun Zahira tidak langsung tidur ia duduk selonjoran dulu di ranjang mengistirahatkan sejenak perutnya setelah diberi makan. Sementara Adam sudah terbawa ke alam mimpi.
__ADS_1
***
Pagi hari, Adam menyuruh Zahira untuk menyetrika pakaian kerjanya yang masih lusuh. Menghampiri Zahira di dapur yang sedang membantu ibu memasak.
"Yank." Panggil Adam.
Zahira menoleh. "Ada apa Mas?" Tanya perempuan itu.
"Tolong kamu setrika pakaian kerja Mas ya." Ucap Adam.
Zahira pun menghentikan meracik bumbunya lalu mencuci tangannya.
"Mak, aku tinggal sebentar ya." Kata Zahira kepada Ibunya.
"Iya Nduk." Jawab Ibu sambil mengangguk.
Zahira mengambil kemeja dan celana Adam lalu ia menyetrika di samping meja televisi sambil duduk di kursi.
"Mbak aku titip bajuku juga ya." Akmal mengulurkan seragamnya kepada Zahira.
"Iya, kamu taruh saja di situ." Kata Zahira.
Usai menyetrika, Zahira masuk ke kamarnya meletakkan pakaian suaminya di atas kasur. Adam sendiri sedang mandi setelah bergantian dengan Akmal. Tiba-tiba ponsel milik Adam berbunyi ada panggilan masuk, Zahira pun melihatnya dan tertera nama 'Citra' dilayar ponsel itu.
Ia pun mengangkatnya karena penasaran, untuk apa coba pagi-pagi sudah nelpon suami orang, gerutunya kesal.
"Ha--" Suara Zahira langsung disela oleh Citra.
"Hallo Adam, nanti kamu jemput aku ya di rumah. Jangan lama-lama datangnya, aku tunggu kamu. Klik." Ucap Citra disebrang sana tanpa memberi jeda di setiap ucapannya lalu mematikan sambungan telpon begitu saja.
Zahira mengepalkan kedua tangannya. Emosinya pun memuncak.
"Sabar Zahira sabar.." Gumamnya sambil menetralisir amarahnya karena tidak baik untuk kondisi sang janin.
Tidak lama Adam masuk ke kamar sambil bersiul-siul.
"Seneng sekali Mas?" Tanya Zahira sambil bersedekap dada.
Laki-laki berparas tampan itu tersenyum kepada sang istri.
"Seneng banget dong Sayang, kan kamu sudah maafin Mas." Jawab Adam sambil memakai pakaian kerjanya.
"Oh iya, tadi selingkuhan kamu nelfon tuh. Katanya kamu disuruh jemput dia di rumahnya." Ucap Zahira ketus.
__ADS_1
Adam yang sedang memakai jam tangan seketika menoleh ke arah Zahira. Sejenak dia menghela napas, tidak mau ribut lagi.
"Siapa yang selingkuh sih Yank. Mas nggak pernah selingkuh ya." Sahut Adam, tidak terima jika dibilang berpindah ke lain hati. Yang ada di hatinya hanya nama Zahira seorang.
"Kamu lah sama si ulet keket itu. O ya, sejak kapan Mas tahu rumah gadis genit itu?" Tanya Zahira penuh selidik.
Demi keharmonisan rumah tangganya, Adam bicara jujur sama Zahira jika dia pernah menolong ibunya Citra yang jatuh pingsan di rumah lalu membawanya ke rumah sakit. Juga mengenai Citra yang sudah lama bekerja di tempat kerjanya.
"Maaf ya Yank, bila Mas selama ini tidak jujur sama kamu." Ucap Adam sambil menggenggam kedua tangan Zahira.
Zahira melepas kasar tangan Adam.
"Mas, kamu sendiri kan yang bilang sama aku kalau jangan sampai ada rahasia-rahasia segala. Tapi kenapa kamu mengingkarinya." Ujar Zahira berusaha menahan sesak di dada.
"Mas cuma takut nanti kamu kepikiran Yank, lalu mengganggu kehamilan kamu." Tutur Adam.
"Bohong, bilang aja kalau Mas udah bosen sama aku." Ucap Zahira.
"Nggak masalah kok Mas, kalo kamu lebih memilih gadis lain ketimbang aku yang sekarang jadi jelek gini. Aku akan membebaskan kamu jika kamu minta pisah." Sambung Zahira dengan wajah sendu.
"Ya Allah Yank.. jangan bicara seperti itu." Adam mendekap tubuh Zahira. Ia takut jika istrinya ini bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
"Mas cintanya cuma sama kamu Yank, hanya kamu seorang yang Mas inginkan." Lanjut Adam lagi.
Dert.. dert.. Ponsel milik Adam bergetar lagi.
Adam mengurai pelukannya lalu melihat siapa yang menghubunginya. Lagi-lagi nama Citra. Zahira menatap suaminya dan tanpa dia duga Adam langsung memblokir nomor itu dari ponselnya.
*
"Ish.. malah dimatiin telfonnya. Adam mana sih, udah ditungguin dari tadi tapi nggak muncul-muncul." Citra ngedumel sendiri di depan rumahnya menanti kedatangan Adam.
"Kok belum berangkat Nak?" Tanya Ibu Citra.
"Nungguin Adam Bu, dia belum jemput aku. Padahal udah aku telpon tapi nomernya malah nggak aktif." Jawab Citra cemberut.
"Palingan lagi di jalan, kamu sabar aja." Ujar Ibu.
.
.
Tbc.
__ADS_1
.