Tiba - Tiba Dijodohkan

Tiba - Tiba Dijodohkan
Menjadi candu


__ADS_3

Zahira terbangun ketika mendengar suara adzan subuh. Ia menyingkirkan tangan Adam yang memeluk erat pinggangnya. Zahira merasa badannya sakit semua akibat per*ulatan semalam. Tapi Zahira senang akhirnya dia bisa memberikan haknya pada sang suami. Zahira pun turun dari ranjang, memakai kembali bajunya yang di buang sembarangan oleh Adam.


"Duh.. sakit banget ini rasanya?" Zahira merasakan perih di bagian bawahnya tapi ia tetap melangkah ke kamar mandi untuk mandi besar terlebih dahulu sebelum melaksanakan sholat subuh.


Dengan hati-hati Zahira berjalan menuju kamar mandi. Tiga puluh menit Zahira selesai dengan ritual mandi besarnya. Meskipun rada kedinginan karena baru pertama kali keramas di waktu subuh tapi ia tetap melakukannya. Zahira tidak mau melalaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Selesai sholat subuh Zahira membangunkan sang suami agar tidak kesiangan sholat subuhnya.


"Mas, bangun.. kamu belum sholat subuh tuh." Zahira menepuk-nepuk pelan lengan Adam.


"Jam berapa sekarang?" Suara serak Adam setelah kedua matanya terbuka, ia menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.


"Jam setengah lima lebih, ayo bangun terus mandi besar dulu gih.." Zahira menyuruh Adam agar segera turun dari ranjang.


"Kok kamu udah wangi aja." Goda Adam.


"Iyalah, aku kan udah mandi." Jawab Zahira sekenanya, lalu turun dari ranjang tapi Adam tidak membiarkan sang istri pergi begitu saja. Adam justru menarik tubuh Zahira untuk bersandar di tubuhnya yang hanya memakai celana pendek.


"Mas.. jangan gini kamu bau, belum mandi." Ronta Zahira agar Adam melepaskan tubuhnya.


"Enak saja. Meski Mas belum mandi, tapi kamu selalu nempel di tubuh Mas saat tidur." Adam tidak terima di bilang bau.


"Ya.. itu kan beda, udah jangan bicara cepat bangun!" Omel Zahira.


"Kayak emak-emak kamu sukanya ngomel." Ledek Adam mencubit hidung Zahira.


"Biarin." Balas Zahira.


Adam melepaskan tubuh sang istri lalu berjalan ke kamar mandi. Zahira menarik sprei yang terkena noda darahnya beserta selimut juga lalu membawanya ke mesin cuci yang ada di samping kamar mandi belakang di sebelah dapur untuk di cuci dengan baju-baju kotor lainnya yang sudah terkumpul.


Adam yang sudah selesai mandi pun tidak melihat keberadaan sang istri. Tapi melihat ranjang yang polos tidak ada kain sprei yang menutupi sudah bisa di tebak pasti sang istri berada di ruang belakang. Ia pun segera mengambil baju Koko dan sarungnya di lemari kemudian sholat subuh.


***


Pagi ini Zahira membuat nasi goreng sosis dan telur mata sapi tidak lupa dua cangkir kopi hitam dan teh hangat kesukaan sang ibu mertua. Sebelum memasak sarapan, Zahira menyapu rumah terlebih dahulu yang sudah menjadi kebiasaannya. Setelah itu baru menghidangkan masakan di atas meja makan.

__ADS_1


"Mas kamu hari ini sudah masuk kerja kan?" Tanya Zahira begitu memasuki kamar.


Kemudian melepas kerudungnya akibat kegerahan, meletakkannya di atas kasur.


"Iya, Mas sudah dua hari cuti libur." Jawab Adam, berdiri di belakang Zahira sambil mengecup rambut sang istri.


"Aku ambilkan dulu pakaian kerja Mas." Zahira membuka lemari mengambil pakaian kerja Adam.


Lalu membantu mengancingkan kemeja yang Adam pakai. Adam memandangi wajah istrinya yang berdiri di depannya, sangat manis apalagi jika tidak memakai kerudung seperti saat ini, jika di dalam kamar Zahira akan melepaskan kerudungnya tapi jika di luar Zahira selalu memakai kerudungnya. Karna hanya Adam saja yang boleh melihat rambut indahnya, tentu dengan kedua orang tua dan adiknya juga tapi itu sebelum menikah.


"Uh, tampannya suamiku.." Ucap Zahira tersenyum lebar setelah Adam rapi dengan pakaian kerja yang di pilihnya.


"Mas sudah tampan dari dulu jika kamu lupa." Jawab Adam dengan pedenya lalu mencium bibir Zahira cukup lama. Zahira juga membalas dan mengalungkan kedua tangannya di leher laki-laki tampan itu.


"Sudah puas kan? Ayo keluar sarapan, pasti Ayah dan Ibu sudah nunggu kita." Ajak Zahira setelah ciuman itu terlepas.


"Kamu buat Mas menjadi candu." Ucap Adam mengelap bibir Zahira.


"Haha.. tentu saja." Jawab Zahira lalu menarik tangan Adam keluar menuju meja makan setelah ia memakai kerudungnya.


***


"Mas berangkat kerja dulu, apa ada yang kamu inginkan untuk di beli nanti?" Tanya Adam.


"Beli martabak telur ya.." Jawab Zahira dengan senyum manisnya.


Adam mengangguk. "Iya, nanti Mas belikan, baik-baik di rumah bersama Ibu. Assalamu'alaikum." Pamit Adam lalu meninggalkan Zahira dengan menaiki sepeda motornya.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Zahira sedikit keras sambil melambaikan tangan.


Zahira masuk ke dalam setelah Adam tidak terlihat lagi. Ia pun menghampiri kedua mertuanya.


"Lho, Ayah kok belum berangkat?" Tanya Zahira pada mertuanya yang sedang santai di ruang tamu.


"Ayah nanti masuk siang Nak, karena cuma menghadiri rapat guru-guru saja." Jawab Ayah memberitahu.

__ADS_1


Zahira pun mengangguk mengerti.


"Ibu sudah minum obat belum, kalo belum Hira ambilkan ya?" Tawar Zahira.


"Ibu sudah minum obat, tadi Ayahmu yang ambilkan." Jawab Ibu tersenyum.


"Terus kapan Ibu chek-up ke dokter lagi?" Tanya Zahira sembari ikut duduk.


"Lusa kalau tidak salah, ya kan Ayah." Jawab Ibu lalu menoleh ke sang suami.


"Iya Bu." Sahut Ayah mengangguk.


"Hira boleh ikut nggak?" Pintanya.


"Tidak usah sayang, kamu di rumah saja karena biasanya antrinya lama." Tolak Ibu dengan lembut tidak ingin kalau Zahira nanti menjadi bosan di sana.


"Iya, betul kata Ibumu. Yang chek-up bukan cuma Ibu kamu saja tapi banyak sekali. Apalagi kamu juga pasti lelah karena tugas kamu juga banyak dalam mengurus rumah ini, juga mengurus suamimu." Sambung Ayah memberi pengertian.


"Hira sama sekali nggak keberatan mengurus rumah ini seorang diri Yah? Karena itu sudah menjadi tugas Zahira sebagai seorang menantu." Ujarnya sambil tersenyum.


Mereka juga ikut tersenyum, sangat bersyukur memiliki seorang menantu yang tidak membeda-bedakan dengan orang tuanya sendiri. Selalu perhatian pada mereka dan sang menantu juga tidak pernah mengeluh jika membersihkan rumah hanya seorang diri dengan rumah yang cukup luas ini. Besannya benar-benar pintar berhasil mendidik menantunya ini.


"Ya sudah, kalau begitu Hira mau jemur pakaian dulu." Pamitnya.


Lalu berjalan menuju ke arah belakang untuk mengambil cucian yang ia tinggalkan sebentar karena tadi harus mengantar sang suami berangkat kerja.


Di rumah ini Zahira mencuci dengan mesin cuci berbeda dengan di rumahnya yang hanya mengandalkan tangannya saja. Tapi meski begitu Zahira tetap bersyukur memiliki orang tua yang sangat sayang kepada anak-anaknya.


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


Jangan lupa beri like, vote dan hadiahnya ya.. agar author tambah semangat🤗🤗 Terima kasih.


__ADS_2