Tiba - Tiba Dijodohkan

Tiba - Tiba Dijodohkan
Ekstra part 7


__ADS_3

"Papa kerja dulu ya sayang, jagain Mama di rumah." Pesannya pada sang anak seraya mengecup kepala Arvind lalu berganti mengecup kening Zahira.


"Ciap Papa." Angguk lucu Arvind. Adam tersenyum mengacak-acak gemas rambut bocah itu.


"Mas berangkat! Kalau ada apa-apa segera kabari Mas." Ujar Adam kepada Zahira.


"Iya Mas." Jawab perempuan hamil itu setelah menyalami tangan suaminya. Arvind juga menyalami tangan Papanya.


"Assalamu'alaikum." Ucap Adam berlalu dari hadapan mereka.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Zahira.


"Dada.. Papa.." Lambai tangan Arvind.


"Ayo masuk sayang." Ajaknya menggandeng tangan mungil Arvind.


Zahira merasa pinggangnya sakit sekali padahal dia tidak melakukan kegiatan apapun, memasak sarapan tadi saja ibu mertuanya yang mengerjakannya. Zahira segera merebahkan tubuhnya di sofa.


"Mama napa?" Tanya Arvind melihat Zahira yang meringis sembari memijat punggungnya.


"Pinggang Mama sakit Nak." Jawabnya.


"Cakit?" Ulang Arvind.


"Iya sayang." Angguk Zahira. Dan tanpa disuruh tangan mungil Arvind memijit punggung Zahira. Pikirnya, biar Mamanya itu tidak merasa kesakitan lagi jika ia membantu memijit juga.


Zahira merasa tersentuh dengan yang dilakukan Arvind. Anaknya ini sudah seperti orang dewasa saja. Di usia kehamilan Zahira yang sudah membesar ini, Arvind tidak pernah meninggalkan dirinya. Arvind selalu mengintili kemana Zahira pergi bahkan sampai ke kamar mandi saja untuk buang air kecil Arvind ikut juga.


Adam selalu berpesan pada bocah tampan itu untuk selalu menjaga Mamanya jika ditinggal Adam kerja dan Arvind mengangguk patuh menuruti titah dari Papanya itu.


"Macih cakit Mama?" Tanya Arvind tanpa menghentikan pijatannya.


"Sudah lumayan kok Nak." Jawab Zahira jujur.


Ibu menghampiri mereka setelah selesai mencuci piring bekas sarapan mereka. Ia berkerut dahi saat Arvind memijit punggung menantunya.


"Kamu kenapa Nak?" Tanya Ibu mendudukkan dirinya di sofa lain.


Zahira tersenyum. "Nggak apa-apa kok Bu, cuma tadi pinggangku sakit aja." Jawabnya.


"Cudah ya Mama tanan Alpin capek." Ucapnya.


Zahira terkekeh. "Iya, makasih ya anak baik budi Mama, sudah memberi pijatan yang sangat enak di punggung Mama." Jawab Zahira memuji Arvind.


Zahira kini berganti posisi lalu menyandarkan punggungnya pada sofa setelah Arvind menghentikan pijatannya.


"Cama-cama." Jawab Arvind mengecup pipi kanan Mamanya lalu berganti mengelus perut Zahira.


"Dedek cekalang lagi apa Mama?" Mendongak pada Zahira.


"Dedek lagi tidur Kak." Sahut Zahira memberi usapan lembut di kepala Arvind.


Ibu tersenyum haru melihat Arvind yang begitu penyanyang kepada adiknya meski cucu keduanya itu belum lahir. Sebenarnya Ibu dan Ayah sangat mencemaskan Arvind takut jika Arvind bakalan cemburu jika dia mempunyai adik bayi tapi anggapan Ibu ternyata salah justru Arvind sangat antusias mengetahui jika akan punya saudara.

__ADS_1


"Sini sayang Uti mau peluk Kakak." Pintanya sambil merentangkan kedua tangannya.


Arvind pun berhambur memeluk neneknya. Ibu memberikan ciuman bertubi-tubi di wajah tampan Arvind membuat bocah itu terkekeh karena geli. Ibu begitu bahagia karena pilihannya tidak salah telah memilih Zahira sebagai menantunya. Apalagi Adam sang anak ternyata dari dulu sudah menaruh hati pada Zahira.


Juga mendapatkan cucu seperti Arvind yang sangat mengerti ditambah lagi akan menanti kelahiran cucu keduanya yang menurut Dokter tinggal tujuh hari lagi. Namun juga tidak bisa dipastikan kapan HPL nya akan terjadi karena bisa saja maju atau mundur tanggal persalinannya.


Hari-hari Ibu selalu bahagia, di usianya yang hampir kepala lima itu ia telah mendapatkan apa yang ia mau. Punya menantu yang penyayang, anak yang sholeh, suami yang sangat mencintainya dan hadirnya Arvind yang selalu memberikan keceriaan di rumah ini. Ibu sangat-sangat bersyukur kepada yang maha esa.


"Uti sayang Arvind." Ucap Ibu.


"Alpin uga cayang Uti." Balas bocah tampan itu.


"Sama Mama sayang nggak?" Sambung Zahira bertanya.


Arvind menoleh pada Mamanya lalu memeluk perempuan hamil itu.


"Cayang Mama banak-banak." Jawab Arvind tersenyum lebar.


***


"Anak Tholib sakit apa, Ron?" Tanya Adam pada Roni.


"Katanya sih sakit muntaber, sekarang di rawat di rumah sakit umum." Jawab Roni.


"Aku sampai kasihan lihat anak Tholib, badannya sampe lemes gitu." Timpal Hadi.


Tholib mempunyai seorang putra yang berusia 2 tahun. Jarak pernikahan Andi dan Tholib hanya berjarak tiga bulan saja. Begitu Tholib sekeluarga datang melamar, Ayah Citra langsung setuju menerima lamaran dari pemuda itu untuk menjadi suami dari putrinya. Citra juga sudah mengatakan pada Ayahnya jika dia mempunyai pacar, teman kantornya sendiri dan Ayah Citra tidak masalah dengan status keluarga Tholib. Yang penting menantunya itu bisa membimbing putrinya menjadi pribadi yang lebih baik.


"Permisi Mas-Mas pesanan kalian sudah jadi nih." Sela Andi meletakkan beberapa makanan yang ia pesan pada petugas kantin.


"Thanks Ndi." Ujar Roni.


"Thanks untuk apa'an?" Tanya Andi berhadapan dengan Roni duduknya.


"Untuk makanannya lah." Jawab pria berkaca mata itu.


"Eits, nggak gratis ya Bro.. sekali-kali Lo yang harus traktir kita. Jangan Adam terus yang selalu bayar makanan yang kita pesan." Ujar Andi.


"Cuma bawa makanan aja, Lo sampai minta traktir segala." Protes Roni disela-sela makannya.


"Harus dong, bawa makanan tadi juga butuh tenaga dan tenaga itu kudu dibayar." Balas Andi menaik turunkan alisnya.


"Dikit-dikit imbalan, dikit-dikit imbalan. Harusnya Lo tuh Lillahi ta'ala menolong sesama biar pahala Lo makin gede." Ujar Roni.


"Eh.. jangan salah ya. Gue selalu ikhlas membantu sesama namun kalau dengan kalian lain lagi." Jawab Andi tersenyum miring.


"Ck, itu sama aja Demek." Sahut Hadi.


"*ialan Lo ngatain gue demek. Wajah gue tampan gini." Protes Andi tidak terima.


Dan berdebatan mereka di meja kantin siang itu menjadi hiburan tersendiri bagi beberapa karyawan lain yang memang sudah hafal betul dengan tingkah mereka.


***

__ADS_1


Selesai melaksanakan sholat Ashar, Zahira merasakan perutnya sakit sekali seperti kram pada saat menstruasi tapi ini intensitas sakitnya jauh lebih kuat.


"Uhh.. Apa aku mau melahirkan ya.." Ringis Zahira memegangi perutnya yang seperti dililit-lilit.


Zahira tidak mau panik, ia mengatur nafasnya sejenak. Kemudian keluar kamar mencari keberadaan ibu mertuanya. Sambil berpegangan pada dinding dan tetap tenang Zahira menghampiri Ibu di ruang tengah menemani Arvind bermain.


"I-ibu.." Panggil Zahira sembari memegangi punggungnya yang sudah tidak nyaman itu.


"B-bu.. perutku sakit sekali.." Zahira menahan rasa sakit yang tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata, sesekali ia memejamkan mata.


Ibu yang sudah berpengalaman tidak mau panik melihat Zahira yang sepertinya sudah waktunya melahirkan. Ia bergegas ke kamar mengambil tas berisi perlengkapan Zahira dan bayinya.


"Mama napa.." Arvind menangis melihat Zahira merintih.


Zahira membuka kedua matanya saat rasa sakit itu tiba-tiba menghilang.


"Adek bayi akan segera lahir Kak." Jawabnya menenangkan Arvind.


"Mama.. Alpin tatut." Ucapnya sembari menghapus sisa air mata di kedua pipinya.


"Ayo kita segera ke klinik, Ayah sudah menunggu kita di depan. Kamu masih kuat jalan kan, Nak?" Tanya Ibu.


"Masih kok Bu." Jawab Zahira. Arvind menggandeng erat tangan Mamanya, bocah itu takut sekali.


Zahira sudah masuk di ruang bersalin hanya ditemani Ibu saja. Ibu Zahira belum datang kemari karena harus menunggu Bapak dulu. Sementara Ayah menunggu di luar membujuk Arvind yang tidak mau jauh dari Mamanya.


"Bu.. belum diangkat juga sama Mas Adam?" Tanya Zahira.


Saat ini baru pembukaan delapan, sedari tadi Ibu sudah menelpon Adam namun panggilannya tidak dijawab.


"Belum Nak." Geleng Ibu lalu meletakkan ponselnya di nakas.


Zahira sedih, kenapa disaat seperti ini ponsel suaminya tidak aktif. Ini sudah waktunya Adam pulang kerja. Zahira berharap Adam berada disisinya menemani dia melahirkan. Apakah Adam di sana tidak merasakan sesuatu?


"Argghh.. Ibu.." Jerit Zahira mencengkram erat tangan Ibu mertuanya. Ia merasa dorongan hebat dari dalam perutnya.


Untunglah Dokter datang saat itu juga lalu memeriksa jalannya lahir.


"Sudah waktunya Bu, ikuti instruksi dari saya ya. Atur nafas.."


**


"Kenapa Dam?" Tanya Andi heran.


"Nggak tahu, tiba-tiba perasaanku tidak enak." Jawab Adam dengan gelisah mendadak pikirannya tertuju pada Zahira.


Roni, Hadi, Tholib dan Citra memandang Adam. Mereka berada di rumah sakit menjenguk anak Tholib yang sakit.


Karena perasaannya semakin tak karuan ia mengambil ponselnya dari saku celana.


"*ial mati lagi ponselku." Desah Adam.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2