Tiba - Tiba Dijodohkan

Tiba - Tiba Dijodohkan
Jadi manja


__ADS_3

Zahira mengangguk. "Iya, tolong buatkan ya Mas." Pinta Zahira dengan suara lirih.


"Ya sudah, Mas buatkan kalau gitu." Tanpa bertanya lagi Adam keluar kamar karena tidak tega juga melihat wajah sang istri yang terlihat lesu.


"Malas banget hari ini. Mana badanku pegel-pegel semua lagi." Keluh Zahira memijiti kaki dan lengannya secara bergantian.


"Kamu sedang buat apa Nak?" Tanya Ibu. Tiba-tiba sang putra sudah berada di dapur, mengaduk air dalam gelas.


Adam menoleh. "Lagi bikin teh hangat Bu." Jawab Adam.


"Untuk siapa?" Tanya Ibu dengan dahi mengkerut.


Karena biasanya anaknya ini di setiap pagi akan minta dibuatkan kopi sama persis seperti Ayahnya.


"Untuk Zahira Bu, dia minta teh hangat." Jawab Adam.


"Oh.." Ucap Ibu singkat sambil manggut-manggut.


Teh hangat pun sudah jadi, Adam mengantarkan untuk Zahira di kamar.


"Yank.. ini tehnya sudah jadi." Adam mendekati Zahira di ranjang yang masih memijat kakinya sendiri.


"Siniin Mas gelasnya, biar aku minum." Tangan Zahira terulur meraih gelas di tangan suaminya.


Zahira pun minum teh hangatnya pelan-pelan karena masih panas dengan dibantu Adam.


"Badan kamu pegel ya Yank?" Tanya Adam merasa bersalah.


Zahira mengangguk. "Iya Mas.. kayaknya aku butuh tukang pijit deh." Jawab Zahira. Adam meletakkan gelasnya di meja.


"Sekarang makan nasi gorengnya ya." Kata Adam dengan lembut.


"Suapin..." Pinta Zahira dengan manja.


Adam tersenyum tipis dan geleng-geleng kepala. "Kenapa kamu jadi manja gini sih, tapi Mas suka." Adam mengacak-acak rambut Zahira.


"Hmm.. enak banget Mas nasi gorengnya. Ini Ibu kan yang masak?" Tanya Zahira di sela-sela kunyahan nya.


Adam mengangguk. "Iya, nasi goreng ini Ibu yang masak lalu siapa lagi coba." Jawab Adam merasa aneh dengan pertanyaan sang istri sambil menyuapkan nasi goreng ke mulutnya sendiri.


"Ya, kirain siapa gitu." Sahut Zahira.


"Enggak, ini buatan Ibu kok." Ujar Adam.


Zahira makan sambil di suapi Adam hingga dua porsi nasi goreng itu habis tak tersisa.


"Mas.. jangan sampai lupa. Nanti pulangnya beliin aku kue!" Zahira mengingatkan Adam.


"Iya, nanti Mas belikan kamu kue. Sekarang minta kiss paginya dulu." Adam menunjuk bibirnya.


Tentu dengan senang hati Zahira menuruti permintaan suaminya itu. "Terima kasih." Jawab Adam tersenyum.

__ADS_1


"Ayo, aku antar Mas ke depan." Setelah memakai kerudungnya tak lupa membawa nampan sekalian.


*


"Baik-baik di rumah dan nanti minta tolong sama Ibu biar dicarikan tukang pijat perempuan." Ujar Adam sebelum menaiki motornya.


Zahira mengangguk patuh. "Iya Masku." Jawabnya sambil mencium punggung tangan Adam.


Adam juga mengecup kening Zahira. "Assalamu'alaikum." Ucap Adam lalu meninggalkan sang istri.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Zahira.


***


Zahira membantu Ibu mencuci semua peralatan masak yang tadi belum sempat Ibu cuci.


"Bu, aku minta tolong, boleh?" Tanya Zahira.


"Minta tolong apa Nak?" Tanya Ibu menoleh pada sang menantu.


"Hehe.. tolong panggil tukang pijit perempuan ya Bu, badanku pegal-pegal semua." Jawab Zahira malu.


Ibu tersenyum lucu. "Oh.. beres, nanti Ibu telpon orangnya." Jawab Ibu kemudian.


"Memang semalam sampai jam berapa? Sampai kamu minta di pijit segala?" Bisik Ibu sambil terkikik geli.


Blush


Pipi Zahira langsung bersemu merah. Ibu mertuanya ini tahu saja jika sang menantu habis di garap habis-habisan sama anaknya.


"Kita ini sesama perempuan jadi tidak usah malu-malu gitu. Duh.. pasti anak Ibu gagah sekali kan?" Ibu kembali menggoda sambil menyenggol lengan Zahira.


Zahira mengangguk membenarkan sambil menunduk.


"Haha.. sudah bisa ke tebak itu Nak. Apalagi suami kamu itu rajin banget olahraganya." Kata Ibu dengan tawanya.


***


Di kantor Adam.


"Dam.. besok kan hari sabtu. Gimana kalau kita berempat jalan-jalan ke pantai." Usul Andi mendekat ke meja Adam.


"Ber-empat dengan siapa?" Tanya Adam tanpa melihat Andi karena matanya fokus dengan komputer di hadapannya.


Andi berdecak. "Ck, ya dengan pasangan kita lah Dam.. memang dengan siapa lagi." Sahut Andi kesal.


"Boleh juga ide kamu. Nanti aku beritahu Zahira, pasti senang sekali dia diajak jalan-jalan ke pantai." Ujar Adam.


"Jangan bilang kalau kamu belum pernah ngajak Zahira pergi ke pantai selama kalian menikah." Tebak Andi dengan penuh selidik.


"Memang belum pernah." Jawab Adam jujur.

__ADS_1


Andi geleng-geleng kepala. "Adam Adam.. selama kalian jadi suami istri, tega banget kamu nggak pernah ngajak Zahira ke sana. Suami macam apa kamu!" Sinis Andi meledek Adam.


"Kenapa kamu yang sewot, Zahira saja tidak keberatan." Balas Adam dengan santainya.


"Andai aku jadi Zahira, sudah aku putusin kamu. Lalu aku mencari yang lain, yang lebih perhatian." Cetus Andi.


"Sayangnya kamu bukan Zahira." Kekeh Adam.


"Nanti, kalo aku sudah menikah dengan Mila. Aku akan ngajak istriku itu pergi jalan-jalan keluar ke mana gitu, biar tidak bosen di rumah terus." Tutur Andi dengan gaya sombongnya.


"Iya, kalo Mila mau nikah sama kamu, kalau enggak?" Canda Adam.


"Ya elah, jangan ngomong gitu dong Dam.. aku udah ngebet kawin nih." Protes Andi kesal.


"Haha..." Membuat teman-teman mereka tertawa karena turut mendengarkan obrolan mereka.


"Memang kamu sudah punya pacar Ndi." Sahut laki-laki berkaca mata.


"Sudah dong.. Andi gitu loh." Kata Andi sambil menarik sedikit kerah bajunya.


"Wah.. jadi nanti kita bakal kondangan lagi nih." Sambung laki-laki bertubuh gemuk.


"Iya, di tunggu saja undangannya." Jawab Andi tersenyum lebar.


***


Zahira sedang di pijit oleh tukang pijit perempuan yang berusia sekitar lima puluh tahun lebih. Zahira tengkurap dengan ber-alaskan karpet bulu di depan televisi sambil menonton film.


"Tumben Neng.. minta di pijit segala?" Tanya tukang pijit yang bernama Wak Siti itu.


"Iya Wak, lagi capek aja." Jawab Zahira.


Zahira memang tidak pernah di pijat. Jika sedang sakit maka langsung pergi ke dokter. Baru kali ini saja minta di carikan tukang pijat.


"Enak juga pijatan Wak Siti." Ucap Zahira menikmati pijatannya.


Wak Siti tersenyum senang di puji begitu. "Suami Neng lagi kerja ya?" Tanya Wak Siti melihat sekeliling ruangan.


"Iya Wak, Mas Adam sedang bekerja." Jawab Zahira.


"Wak Siti, ini saya buatkan teh dan tahu isi." Ibu datang membawa secangkir teh panas dan beberapa tahu isi yang masih hangat lalu di letakkan di atas meja.


"Aduh, tidak perlu repot-repot Bu.. saya jadi tidak enak." Jawab Wak Siti merasa sungkan.


"Tidak apa-apa Wak Siti, biar Wak Siti tidak lapar setelah memijit menantu saya." Ucap Ibu sambil tersenyum.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


Bantu Author dengan beri like, vote dan hadiah ya..🤗🤗


__ADS_2