
Di jam pulang kantor, Citra bergegas mengejar Adam yang sudah keluar terlebih dulu bersama Andi. Citra memanggil nama Adam agar berhenti. Adam pura-pura tidak mendengar dan tetap melanjutkan langkahnya.
"Adam.. tungguin aku!!" Teriak Citra di lobby kantor.
Semua karyawan yang juga hendak pulang menoleh ke arah Citra yang teriak-teriak memanggil nama Adam. Citra tak putus semangat ia tetap mengejar langkah Adam sampai di parkiran. Adam sudah memakai helmnya dan naik ke atas motor, begitu juga Andi.
Citra mengatur napasnya akibat capek mengejar Adam yang cepat sekali jalannya.
"Adam, aku nebeng kamu ya." Pinta Citra dengan menampilkan wajah memelasnya di depan motor Adam.
Andi yang melihat Citra masih berusaha mendekati Adam langsung turun dari motornya.
"Dasar keong racun, sudah sana jauh-jauh dari Adam." Andi menarik tangan Citra yang memegangi setir motor Adam.
"Ish, apaan sih. Main tarik-tarik aja." Kesal Citra sambil melepaskan tangan Andi yang mencengkram erat tangannya.
"Dam.. kamu cepat pulang, biar keong racun ini aku yang urus." Titah Andi.
Adam mengangguk dan melajukan motornya meninggalkan tempat parkiran.
"Eh, Adam!!" Citra akan mengejar Adam tapi langsung ditarik Andi lagi.
"Kamu?" Citra menunjuk Andi dengan berang karena niatnya untuk pulang bersama Adam harus pupus gara-gara Andi.
"Apa?" Sahut Andi menantang.
"Gara-gara kamu, aku tidak bisa ikut Adam. Dan tadi, kamu manggil aku apa, Keong racun? Enak saja kamu menyebutku keong racun." Balas Citra tidak terima.
"Memang pantas kamu disebut keong racun." Ucap Andi mengejek.
"Ada apa ini?" Tanya Roni melihat Citra dan Andi bertengkar di tempat parkir.
"Ini, si keong racun dengan tidak tahu malunya minta diantar pulang sama Adam." Jawab Andi melirik Citra sinis.
Citra bersedekap dada.
"Emang apa salahnya?" Sahut Citra ketus.
"Salahnya itu, kamu tidak nyadar diri jika Adam tidak mau kamu dekati. Jadi perempuan kok nggak punya malu sekali." Balas Andi.
"Enak saja, bilang aku tidak punya malu." Sangkal Citra.
"Memang itu kenyataannya. Masih mau ngelak situ." Ucap Andi.
__ADS_1
"Sudah-sudah berhenti debatnya. Lihat, kalian sekarang jadi tontonan para karyawan lain." Tegur Roni menghentikan pertikaian mereka berdua.
Halaman parkir sudah ramai oleh para karyawan yang mau pulang.
"Kamu pulang denganku saja, sekarang kamu tunjukkan di mana alamat rumah kamu?" Tanya Roni kepada Citra.
"Ngapain kamu ngantar dia pulang Ron.. udah, biarkan dia pulang sendiri. Nanti badan kamu malah gatal-gatal lagi jika dekat-dekat sama keong racun ini." Sahut Andi yang masih belum puas mengejek Citra.
Citra hendak mencakar wajah Andi tapi tangannya langsung di tarik oleh Roni menuju ke motor laki-laki itu.
"Awas kamu!!" Geram Citra karena tidak berhasil mencakar wajah Andi.
"Nggak takut gue." Balas Andi.
Sementara para karyawan yang masih ada di parkiran mengulum senyum, mendengar Andi menyebut nama Citra dengan sebutan keong racun, sungguh lucu sekali cantik-cantik harus disamakan seperti hewan yang ada di sawah yang suka makan tanaman padi.
Dengan terpaksa Citra menerima ajakan Roni dari pada harus naik ojol yang kemungkinan datangnya lama. Untung saja Roni berbaik hati mau mengantar dirinya pulang karena hari ini dia tidak membawa sepeda motornya.
"Ini semua gara-gara Andi sialan. Lihat aja besok." Batin Citra menahan kesal.
Roni pun mengantar Citra pulang setelah gadis itu menyebutkan alamat rumahnya.
***
Adam pulang ke rumahnya terlebih dulu untuk mandi dan juga berganti baju, sebab di rumah mertuanya dia tidak menyediakan baju ganti disana. Sekalian juga Adam membawa pakaian kerjanya dan juga pakaian rumahan agar besok ia tidak bolak-balik pulang ke rumahnya sendiri.
"Baru saja Bu." Jawab Adam singkat.
"Kamu mau ke mana lagi ini, pake bawa-bawa ransel segala?" Tanya Ibu lagi.
"Nggak kemana-mana, ransel ini isinya pakaian Adam. Adam juga mau nginap di rumah mertua." Jawab Adam.
"Oalah.. kirain kamu mau pergi ke mana gitu?" Pikir Ibu.
Adam tersenyum tipis. "Enggak lah Bu." Ucapnya.
"Sudah ya Bu, Adam pergi dulu. Adam udah rindu istri soalnya." Pamit Adam sambil mencium kening sang Ibu.
"Dasar kamu Nak." Ucap Ibu sambil geleng-geleng kepala setelah Adam hilang dari pandangannya.
"Ibu bicara sama siapa?" Tanya Ayah yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Ibu.
"Allahu Akbar.." Kaget Ibu lalu menoleh ke sumber suara.
__ADS_1
"Ayah.. senang sekali buat Ibu jantungan." Ucap Ibu sambil memukul pelan bahu Ayah.
"Haha.. gitu saja kaget. Bu.. Bu." Ujar Ayah sambil tertawa.
"Kaget lah, tiba-tiba Ayah sudah di belakang Ibu. Ayah ini sama seperti Adam, suka sekali buat ibu terkejut." Ibu mengomeli Ayah.
Ibu pun berjalan ke teras depan di susul oleh Ayah juga.
"Iya, Ayah minta maaf sudah buat ibu jantungan tadi." Ayah duduk di samping sang istri.
"Ibu belum jawab pertanyaan Ayah, Ibu tadi bicara sama siapa?" Tanya Ayah yang masih penasaran.
"Ibu tadi bicara sama putra kita Yah, katanya dia sangat rindu sama istrinya." Jawab Ibu sambil tersenyum.
"Oh.. wajar lah Bu, putra kita merindukan istrinya apalagi menantu kita sedang hamil muda. Jadi bawaannya pengen selalu mesra-mesraan. Sama seperti kita dulu." Jelas Ayah mengingatkan momen romantis mereka sewaktu ibu juga sedang hamil muda.
Ibu hanya terkekeh kecil.
***
Zahira sedang menunggu kepulangan sang suami di teras depan sambil bercengkrama bersama Bapak dan Ibu. Tidak lama terdengar suara sepada motor Adam masuk ke pelataran rumahnya. Zahira begitu semangat menyambut kedatangan suaminya itu.
Zahira segera mencium tangan Adam begitu Adam sudah turun dari motor.
"Mas tadi pulang dulu ya?" Tanya Zahira memindai pakaian Adam yang kini berganti dengan kaos berwarna cream dan juga celana pendek.
Adam mengangguk. "Iya Sayang. Mas kan tidak punya baju ganti di sini." Jawab Adam lalu menyalami tangan kedua mertuanya.
"Ajak suamimu masuk Nduk." Kata Bapak.
"Iya Pak. Sini Mas.. tasnya biar aku yang bawa." Ujar Zahira hendak meraih ransel yang ada di pundak sang suami.
"Tidak usah, biar Mas bawa sendiri." Tolak Adam.
Mereka berdua masuk ke dalam kamar. Adam langsung merebahkan tubuh kekarnya di ranjang dengan kaki yang menjuntai. Zahira pun membuka tas ransel dan mengeluarkan semua isinya lalu ia masukkan ke dalam lemari.
Zahira juga melepaskan kerudungnya dan mendekati Adam yang lagi tiduran di ranjang. Ia pun memijit tubuh sang suami.
"Capek banget ya Mas hari ini?" Tanya Zahira.
"Banget Yank. Tapi kalo udah lihat wajah kamu, capeknya langsung hilang." Goda Adam membuat Zahira tersipu malu.
.
__ADS_1
.
Bersambung...