
Bangun tidur Zahira merasa perutnya sakit sekali. Ia pun menyingkirkan selimutnya untuk pergi ke kamar mandi. Di lihatnya Adam masih tertidur pulas, padahal jam sudah menunjukkan pukul 05:10 dan mereka belum melaksanakan sholat subuh.
Buru-buru Zahira melangkah ke kamar mandi untuk mengosongkan kandungan kemihnya. Saat melepas celana, ia kaget karena sedang kedatangan tamu bulanannya. Pantas saja perutnya sakit sekali ternyata ini penyebabnya nyeri datang bulan.
Zahira pun menuntaskan buang air kecilnya. Setelah itu keluar dari kamar mandi mengambil pembalut yang selalu ia sediakan agar tidak perlu repot-repot membeli, jika sewaktu-waktu ia datang bulan kapan saja. Karena siklus datangnya yang tidak menentu.
Zahira juga mengambil pakaian gantinya di dalam lemari sekalian mandi juga karena tidak enak rasanya bila belum mandi apalagi saat ini ia sedang kedatangan tamu. Zahira harus mandi secepat mungkin, mengingat Adam belum ia bangunkan untuk melaksanakan sholat subuh.
Lima belas menit waktu yang ia gunakan untuk membersihkan diri kemudian keluar dengan pakaian yang sudah lengkap. Zahira mendekati suaminya agar segera bangun.
"Mas.. bangun sholat subuh. Sudah mau pukul setengah enam nih." Zahira menepuk-nepuk pipi Adam dengan gerakan ringan.
Mendengar jika sudah pukul setengah enam, Adam langsung bangkit dari tidurnya. Menyingkap selimutnya begitu saja dan berjalan tergesa-gesa ke kamar mandi, hanya membasuh muka kemudian berwudhu.
Zahira geleng-geleng kepala melihat kelakuan Adam yang buru-buru masuk ke kamar mandi untuk berwudhu, ia pun menyiapkan sarung dan baju Koko untuk di pakai Adam sholat. Zahira juga sudah menggelar sajadah sehingga Adam langsung siap untuk melaksanakan kewajibannya itu. Sambil menunggu sang suami yang sedang sholat Zahira merapikan tempat tidurnya.
Usai dengan sholat subuhnya Adam menghampiri Zahira yang tengah menyandar di kepala ranjang sambil meringis memegangi perutnya, sekali-kali Zahira usap juga untuk mengurangi rasa sakitnya.
"Kenapa Yank.. sakit perut?" Tanya Adam. Saking khawatirnya ia belum sempat melepas sarung dan baju kokonya.
"Iya Mas, perutku sakit banget. Efek nyeri datang bulan nih." Jawab Zahira lirih tetap mengusap-usap perutnya.
"Sakit banget ya?" Tanya Adam sambil membelai pipi Zahira.
Zahira mengangguk tanda mengiyakan.
"Ada obatnya nggak, untuk mengurangi rasa sakit itu." Wajah Zahira terlihat pucat.
"Aku nggak biasa minum obat Mas, tapi biasanya aku minum air hangat. Aku juga menaruh air panas di dalam botol kaca terus aku tempelkan di perut untuk mengurangi rasa nyerinya." Jawab Zahira lirih.
"Ya sudah Mas buatkan kalau gitu, kamu di sini saja tunggu Mas." Ucap Adam.
"Mas.. tapi aku juga harus masak untuk sarapan, nanti kita makan apa kalau aku nggak masak." Zahira memegang tangan kanan Adam.
Tidak mungkin juga Zahira menyuruh ibu mertuanya memasak karena itu sangat tidak sopan menurutnya. Tapi bagaimana caranya, perutnya saja sakitnya minta ampun jika lagi awal-awal datang bulan. Biasanya jika ia mengalami nyeri haid di awal seperti saat ini, maka semua pekerjaan akan di lakukan oleh sang ibu tapi sekarang Zahira berada di rumah mertuanya.
"Tidak apa-apa kamu nurut aja sama Mas, sekali-kali biarkan Ibu yang masak. Agar Ibu punya kegiatan juga, biar Ibu tidak selalu mengeluh." Ujar Adam.
"Ya udah deh." Angguk Zahira menuruti ucapan Adam.
__ADS_1
"Pintar." Adam mengacak-acak rambut Zahira sebelum keluar kamar.
Adam berjalan menuju dapur. Di dapur Adam melihat sang Ibu yang sepertinya tengah memasak.
"Ibu sedang apa?" Tanya Adam mendekat ke arah ibu.
Ibu menoleh dan tersenyum pada putranya. "Ini ibu lagi masak untuk sarapan kita nanti." Jawabnya.
"Kebetulan banget Bu, Zahira saat ini sakit perut. Jadi Adam suruh dia untuk istirahat saja di kamar." Ucap Adam lalu mulai menyalakan kompor untuk masak air.
"Sakit perut kenapa Nak.. apa tadi malam kalian makan makanan pedas-pedas?" Tanya Ibu.
"Enggak Bu, Zahira sakit perut karena efek datang bulan." Jelas Adam.
"Oh, kirain.." Jawab Ibu manggut-manggut.
"Kasihan menantu Ibu, pasti sakit sekali rasanya. Ibu dulu juga saat masih gadis, tidak kuat bila nahan rasa nyeri akibat datang bulan. Kamu belikan obat saja di apotek untuk menghilangkan rasa nyerinya." Saran Ibu.
"Zahira tidak mau Bu, katanya tidak terbiasa minum obat. Zahira cuma ingin minum air hangat saja." Ucap Adam.
"Ya sudah jika seperti itu, Ibu ambilkan kamu botol kaca. Terus kamu isi dengan air panas ya biar Zahira tempelkan di perutnya."
"Ini botolnya, segera kamu isi." Ucap Ibu sambil meletakkan botol kaca di samping Adam.
Adam kemudian menuangkan air panas ke dalam botol kaca lalu ia letakkan di nampan beserta air hangatnya.
Zahira saat ini tidur meringkuk. Adam yang melihatnya menjadi kasihan, segitu sakit kah rasa nyeri datang bulan?
"Yank.. ini air hangatnya kamu minum dulu." Ucap Adam.
Zahira pun bangkit dari tidurnya lalu meminum air hangat pelan-pelan dengan bantuan Adam.
"Makasih ya Mas." Ucap Zahira.
"Ini botol kacanya, sudah Mas isi dengan air panas." Adam menyingkap baju Zahira, ia angkat sedikit ke atas lalu ia letakkan botol kaca tersebut di perut Zahira.
"Hufth.. lega rasanya." Jawab Zahira. Perutnya sudah mulai enakan sekarang.
"Mas.. kamu mandi aja. Kamu kan harus kerja." Ucap Zahira sambil memegangi botol kaca yang menempel di perutnya.
__ADS_1
Adam mengangguk lalu mengambil handuk kemudian masuk ke kamar mandi. Zahira meletakkan botol kaca di atas meja. Ia berdiri mengambil pakaian kerja Adam di dalam lemari.
Sepuluh menit kemudian Adam sudah selesai dengan ritual mandinya. Adam mulai memakai pakaiannya yang sudah di siapkan Zahira.
"Sini Mas, aku bantu pasang kancingnya." Ucap Zahira.
Adam mengambil kesempatan dengan mengecup bibir Zahira dan itu ia lakukan berulang-ulang.
Cup.. cup.. cup
"Sudah Mas hentikan.." Ucap Zahira.
"Dikit lagi ya Sayang.." Baginya bibir Zahira adalah candu untuknya. Setelah dirasa pasokan oksigen mereka habis Adam langsung menyudahinya.
"Sekarang pakai kerudungmu, kita sarapan." Titah Adam.
Kini mereka menikmati sarapan. Dan untuk pertama kalinya Zahira makan masakan ibu.
"Masakan Ibu enak sekali." Ucap Zahira memuji.
"Terima kasih Sayang untuk pujiannya, perut kamu sudah tidak sakit lagi kan?" Tanya wanita paruh baya itu.
"Udah mendingan kok Bu, karena tadi Hira pakai istirahat. Dan maaf, Hira nggak bisa bantu Ibu masak." Sesalnya.
"Tidak masalah Sayang.. yang penting perut kamu sudah tidak sakit lagi." Balas Ibu tersenyum.
"Yank.. Mas sudah selesai. Mas berangkat dulu." Adam menyudahi sarapan paginya.
"Ya sudah, ayo aku antar Mas ke depan." Zahira juga menyudahi sarapannya.
Adam mencium tangan kedua orang tuanya setelah itu ia keluar bersama Zahira.
"Baik-baik ya di rumah." Ucap Adam mengecup kening Zahira.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...