Tiba - Tiba Dijodohkan

Tiba - Tiba Dijodohkan
Hormon Ibu hamil


__ADS_3

Dengan langkah malas Zahira kembali ke ranjang. Ia kembali menata dua buah guling di tengah-tengah ranjang mereka lagi dan langsung tidur begitu saja. Sedang Adam, dibuat menjadi cengo.


"Kenapa Zahira jadi aneh sekali?" Gumam Adam menatap Zahira yang sudah masuk ke alam mimpi.


Tangannya ingin sekali membelai rambut sang istri tapi ia urungkan takut jika Zahira terbangun dan kembali mual. Adam hanya bisa pasrah bila malam ini harus tidur tanpa memeluk Zahira. Huft...


"Selamat malam, istriku." Bisik Adam dan juga memejamkan mata.


***


Setelah sholat subuh Zahira membantu sang ibu mertua membuat sarapan. Meski sudah dilarang keras oleh Ibu, Zahira tetap bandel ingin membantu dirinya memasak. Tapi Zahira hanya mengerjakan yang ringan-ringan saja, seperti mengupas bawang dan bumbu-bumbu lainnya dan juga mencuci beras. Selebihnya semuanya di lakukan oleh ibu mertua.


"Lebih baik kamu kembali saja ke kamar Nak, ini biar Ibu yang melakukan sendiri." Ucap Ibu saat sedang menumis bumbu untuk nasi goreng.


"Enggak Bu, aku di sini aja nungguin Ibu masak." Balas Zahira yang duduk di kursi sambil menyeruput teh hangat yang baru ia buat.


"Nanti kamu dicariin sama suami tampanmu lagi." Ujar Ibu melirik sekilas.


"Mas Adam juga udah tahu kalo aku lagi di dapur." Jawab Zahira.


"Ya sudah, terserah kamu saja." Ibu tidak memaksa lagi.


Adam terbangun lebih dulu ketimbang Zahira. Sebenarnya semalam Adam tidak bisa tidur nyenyak. Miring kiri miring kanan untuk mencari posisi tidur yang pas, tapi tetap saja tidak ada posisi yang enak selain memeluk Zahira. Meski mata juga sudah mengantuk.


Adam menjadi kelimpungan sendiri sejak semalam. Berkali-kali ia membuka matanya dan menoleh ke arah sang istri yang tidurnya sangat lelap tanpa merasa terganggu oleh pergerakannya. Adam dibuat frustasi sendiri, mau tidur tapi tidak bisa tidur padahal besok dia harus bekerja.


"Nanti siang kamu mau di masakin ikan apa, Nak?" Tanya Ibu yang sudah selesai membuat nasi goreng tinggal memasak yang lain.


"Ikan gurame aja Bu, di goreng garing ya, hmm.. pasti enak banget." Jawab Zahira sambil membayangkan krenyesnya daging ikan itu.


Ibu tersenyum lucu. "Baiklah, nanti Ibu belikan ikan guramenya di pedagang sayur keliling." Ucapnya.


"Sini Bu, biar aku aja yang mindahin nasi gorengnya ke mangkuk besar." Zahira mengambil alih.


Zahira berdiri dan mengambil mangkuk kaca di lemari untuk wadah nasi goreng. Ibu pun menggeser badannya sedikit. Zahira juga mencicipi nasi goreng buatan Ibu itu.


"Enak Bu." Ucap Zahira saat sudah memasukkan dua suapan sendok ke dalam mulutnya.


Ibu geleng-geleng kepala. "Duh.. bumil-bumil, masih pagi buta kok udah lapar aja." Canda sang Ibu.

__ADS_1


"Hehe.. iya Bu, bawaannya pengen makan mulu." Kekeh Zahira.


Adam keluar dari kamar untuk melakukan olahraga rutinnya setaip pagi. Sebelum berolahraga di depan, Adam ke dapur dulu untuk minum air putih. Ibu dan Zahira yang tadinya sedang bercanda sama-sama menolehkan kepala ke arah Adam.


"Mau olahraga Nak?" Tanya Ibu sekedar basa-basi.


Adam mengangguk sambil meneguk air putihnya di gelas, ia juga menatap ke arah sang istri.


"Anak Ibu makin tampan aja ya kalau tiap hari selalu rutin olahraga." Kelakar Ibu sambil tersenyum, Zahira juga turut tersenyum.


"Iya Bu, menjaga kesehatan juga sangat penting, terlebih lagi supaya bentuk tubuh Adam ini makin sixpack." Jawab Adam lalu meletakkan gelas di meja.


"Adam ke depan dulu." Lanjutnya.


Beberapa detik kemudian Zahira bersuara.


"Bu, aku mau ke depan juga. Lihat Mas Adam olahraga." Pamit Zahira pada sang Ibu mertua.


"Kalian benar-benar pasangan aneh." Gumam Ibu sambil geleng-geleng setelah Zahira berlalu.


Zahira duduk di kursi teras menyaksikan sang suami tampannya sedang berolahraga. Ia tersenyum sendiri saat Adam sedang melakukan gerakan push up. Zahira pun membayangkan andai ia duduk bersila di atas punggung kekar Adam saat laki-laki itu menggerakan badannya saat push up.


Kemudian Adam mengubah menjadi gerakan sit up. Lagi-lagi Zahira terpesona melihat Adam yang begitu lihai dalam gerakan sit up -nya.


"Duh.. suamiku. Kenapa makin hari makin tampan aja kalo lagi olahraga kayak gitu." Ucap Zahira menatap Adam penuh kekaguman.


Setengah jam kemudian Adam menyudahi olahraganya. Ia berjalan mendekat ke arah Zahira. Adam juga mencoba untuk duduk di sebelah sang istri sambil mengelap keringat di sekitar wajahnya.


"Sini Mas, aku bantu ngelap keringat kamu." Zahira mengambil alih handuk kecil yang di pegang Adam lalu mengelap keringat di dahi sang suami dan juga di leher.


Adam merasa aneh dengan perubahan Zahira, semalam saat dia peluk Zahira mual-mual tapi sekarang malah kebalikannya.


"Kamu nggak mual kalo dekat-dekat Mas?" Tanya Adam.


"Enggak.." Jawab Zahira dengan gelengan kepala.


"Tapi semalam, kenapa kamu bisa mual-mual pas Mas peluk kamu?" Tanya Adam lagi.


"Ya, mana aku tahu." Jawab Zahira dengan entengnya.

__ADS_1


Bagaimana Zahira bisa tahu? Sedangkan baru pertama kali ini dia mengalami masa kehamilan yang mana bisa langsung mengubah psikologis dalam dirinya. Kadang bisa marah, cuek, tidak mau dekat sang suami tapi sekarang malah nempel dengan sendirinya.


Adam menghela napasnya. "Ya sudah, sekarang ayo masuk kamar. Mas mau mandi tolong kamu siapkan pakaian kerja Mas." Adam menarik tangan Zahira masuk ke dalam kamar.


Zahira mengambil pakaian kerja Adam di dalam lemari lalu ia letakkan di atas kasur. Sepuluh menit kemudian Adam sudah keluar dari dari kamar mandi dengan rambut basahnya. Harum sabun serta shampo menguar di indera penciuman Zahira.


Seketika itu Zahira memeluk tubuh Adam tanpa peduli dengan sisa air yang masih menempel di tubuh sang suami.


"Yank.. lepas dulu, badan Mas masih basah nanti baju kamu juga ikutan basah." Adam melepaskan kedua tangan Zahira yang melingkar di pinggangnya.


"Iih.. bentar aja, pelit amat padahal cuma mau peluk." Protes Zahira, menyebikkan bibirnya.


"Bukan pelit, tapi badan Mas basah. Mas keringkan dulu dengan handuk ya. Setelah itu kamu bisa puas-puasin." Tutur Adam dengan lembut.


Ternyata menghadapi ibu hamil harus ekstra sabar, jika tidak maka Zahira akan marah lagi kepadanya.


"Ya udah." Zahira pun melepaskan pelukannya.


Adam langsung mengeringkan badannya dengan handuk lalu memakai pakaian kerja yang sudah di pilihkan Zahira.


"Sudah, sekarang kamu bisa peluk tubuh Mas." Ucap Adam dengan merentangkan kedua tangannya.


Dengan senang hati Zahira menuruti ucapan Adam. Ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh sang suami. Adam mengelus lembut rambut Zahira sesekali ia kecup juga.


"Sudah!" Ucap Zahira kemudian. Hanya beberapa detik saja ia memeluk tubuh atletis itu membuat Adam terheran.


"Kenapa cuma sebentar?" Tanya Adam.


Zahira mengangguk. "Iya, perutku udah lapar banget Mas. Mau makan." Jawabnya sambil tersenyum manis.


"Oh.. jadi anak Papa sudah lapar ya.." Adam menundukkan kepalanya di perut Zahira.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2