
Sore itu Adam dan Zahira mengantar Mikha pulang ke rumahnya. Batita cantik itu sebenarnya tidak mau berpisah dengan Zahira, bahkan sampai dibujuk oleh Mama Papanya pun Mikha tidak mau melepaskan tangan Zahira. Memegang sangat erat.
Dan dengan terpaksa suami Risma langsung menggendong putri kecilnya itu untuk dibawa masuk ke dalam agar Adam dan Zahira bisa pergi ke tempat dokter kandungan. Zahira sendiri tidak tega melihat Mikha yang menangis sambil meronta-ronta minta di turunkan.
"Mas.. sebenarnya tadi aku kasihan sekali lihat Mikha yang nangis kejer kayak gitu." Ujar Zahira menoleh ke arah Adam yang fokus mengemudi.
"Ya, mau bagaimana lagi. Tidak mungkin juga Mikha kita ajak ke sana." Sahut Adam menoleh sekilas.
"Iya sih." Angguk Zahira membenarkan ucapan Adam.
"Duh Mas.. kok aku jadi grogi ya." Ucap Zahira.
"Grogi kenapa?" Tanya Adam dengan tangan satunya menggengam tangan Zahira.
"Grogi karena mau periksa kehamilan ini." Jawab Zahira jujur.
Adam tersenyum tipis. "Sudah, kamu rileks saja tidak usah tegang gitu. Bentar lagi kita juga sampai." Adam menenangkan sang istri.
"Kita ini ke kliniknya langsung ya Mas?" Tanya Zahira.
Pasalnya Zahira sama sekali tidak tahu akan dibawa Adam kemana untuk periksa kandungannya ini. Adam hanya bilang untuk pergi periksa saja. Apalagi ini di hari Minggu mana ada klinik yang buka, pikir Zahira.
"Iya, kebetulan kliniknya berada di sebelah rumahnya jadi kita bisa datang ke sana." Jawab Adam.
Zahira hanya mengangguk.
Sekitar dua puluh menit berkendara akhirnya mobil yang di kemudikan Adam sudah sampai di klinik yang di maksud. Mereka berdua segera keluar dari mobil dengan Adam yang menggandeng tangan Zahira.
Di teras rumah di samping klinik tersebut terlihat sepasang suami istri yang tengah berbincang ringan.
"Assalamu'alaikum." Ucap salam Adam dan Zahira menghampiri pasangan suami istri itu.
Pasangan itu menoleh. "Wa'alaikumsalam." Jawab mereka berbarengan sambil tersenyum.
"Adam.." Panggil wanita yang di perkirakan berusia sekitar empat puluh lima tahun itu.
__ADS_1
"Apa kabar Bibi, Paman." Sapa Adam sambil menyalami tangan mereka begitu juga dengan Zahira yang juga turut menyalami.
"Alhamdulillah, kabar kami baik Nak." Jawab sang pria yang seusia Ayah Adam.
"Jadi ini istri kamu, aduh cantik sekali ya.." Wanita itu memuji Zahira.
Adam dan Zahira sama-sama tersenyum.
"Iya, namanya Zahira Bi." Adam memperkenalkan.
"Dan Bibi ini namanya dokter Arni, Yank." Lanjut Adam.
"Ya sudah, ayo kita masuk ke klinik." Ajak dokter Arni.
Adam dan Zahira mengikuti langkah Dokter Arni masuk ke dalam klinik lalu menuju ke dalam kamar periksa. Adam dan Zahira sama-sama duduk di kursi.
"Jadi ada keluhan apa?" Tanya Dokter Arni dengan senyum ramahnya.
"Sejak kemarin saya mual-mual dok, pusing juga. Terus porsi makan saya juga nambah." Jawab Zahira.
Dokter Arni mengangguk. "Silahkan untuk menimbang berat badan dulu." Ucapnya.
"Sekarang silahkan berbaring di ranjang untuk kita USG mengetahui kondisi janinnya." Sambung Dokter Erni.
Adam membantu Zahira untuk tidur di ranjang yang sudah di sediakan. Sedangkan dokter Arni bersama perawat magang menyiapkan alat-alat yang diperlukan.
Zahira begitu erat menggenggam tangan Adam untuk mengurangi rasa gugupnya. Adam memberikan seulas senyumnya.
"Jangan tegang Sayang." Bisiknya mengelus punggung tangan Zahira.
Dan Zahira hanya mengangguk.
Dokter Arni yang melihat Zahira merasa tegang pun tersenyum. "Santai saja, tidak usah tegang ya." Ujarnya lembut.
"Permisi ya Bu, bajunya saya buka dulu." Ucap perawat magang sambil tersenyum.
__ADS_1
Adam menggeser sedikit badannya.
Perawat magang mulai mengolesi gel di perut Zahira dan rasa dingin itu terasa di kulit perutnya. Dengan teliti dokter Arni melihat gambar di layar monitor sambil menggerakkan alat Transducer.
"Bisa lihat dengan jelas gambar titik hitam ini?" Dokter Arni menunjukkan bulatan kecil di layar monitornya.
Adam dan Zahira sama-sama mengangguk.
"Itu adalah janin kalian yang saat ini berusia sekitar dua Minggu." Terang Dokter Arni tersenyum.
"Mas.." Suara Zahira memanggil Adam dengan mata berkaca-kaca melihat calon anaknya yang kini bersemayam di dalam rahimnya.
Adam tersenyum dan mengangguk lalu mengecup kening sang istri.
"Mas.. sangat bahagia Sayang, terima kasih banyak." Bisik Adam di telinga Zahira.
Adam sangat bersyukur di usia pernikahan mereka yang baru dua bulan lebih ini Zahira sudah hamil. Itu berarti usahanya selama ini tidak sia-sia untuk membuahi sang istri.
"Selamat ya buat kalian berdua." Ucap Dokter Arni yang juga turut bahagia.
"Terimakasih Dok." Jawab Zahira dan Adam bersamaan.
"Dijaga dengan baik ya kandungannya, karena ini masih awal dan sangat rentan." Terang Dokter Erni sambil membereskan alat-alat periksa tadi dengan di bantu oleh sang perawat magang.
"Tentu Dok." Sahut Zahira sambil mengelus perut datarnya.
Kini mereka berdua sudah duduk di kursi mendengar dengan seksama semua penjelasan dari Dokter Arni mengenai seputar kehamilan dan apa saja yang tidak boleh dimakan oleh Ibu hamil juga beberapa saran. Mereka berdua langsung mengangguk paham.
"Jadi untuk saat ini tidak boleh hubungan suami istri dulu ya Dam.. kamu harus puasa dulu." Dokter Arni melirik Adam dengan tatapan jahilnya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung..
Like, Komen, Vote dan Hadiah jangan lupa🙏😊