
Karena merasa penasaran akhirnya Adam mendekati istrinya yang tiba-tiba merintih sembari memanggil namanya.
"Mas Adam.." Suara lirih Zahira. Biasanya jika sakit Zahira akan memanggil nama ibunya namun itu sudah tidak berlaku lagi sekarang, karena ia sudah terbiasa dengan kehadiran Adam disisinya.
"Zahira.." Panggil Adam sambil mengguncang pelan bahu perempuan itu.
"Dingin Mas.." Ucap Zahira seraya merapatkan selimutnya.
Adam mengerutkan keningnya lalu telapak tangannya ia tempelkan di dahi sang istri. Dan ia terkejut dengan suhu badan Zahira yang terasa panas.
"Zahira, kamu demam." Ucap Adam cemas.
Sejak kapan badan istrinya panas seperti ini. Ia pun duduk di tepi ranjang lalu menepuk lembut pipi Zahira agar perempuan itu membuka matanya.
"Zahira bangun, Yank.. kamu dengar suara Mas kan." Panggil Adam dengan intonasi lembut.
Perlahan-lahan kedua mata Zahira terbuka, wajahnya terlihat begitu pucat.
"Mas.. kepalaku pusing." Ujarnya parau, dengan sayu ia memandang wajah suaminya.
"Sudah minum obat?" Tanya Adam memastikan.
"Belum Mas." Jawab Zahira lirih semakin mengeratkan selimutnya.
"Sejak kapan kamu demam?" Tanya Adam lagi.
"Sejak tadi Mas.." Jawab Zahira lemah lalu kembali memejamkan matanya karena badannya benar-benar lemas.
Adam menghela napasnya sesaat, itu berarti ibunya juga tidak tahu kalau Zahira sakit. Untungnya ia pulang cepat jika tidak, pasti istrinya ini akan meringkuk terus di dalam kamar tanpa ada yang mengetahui. Belum minum obat pula istrinya ini.
"Mas ambil obat dulu untuk kamu ya." Ucap Adam sambil mengecup kening perempuan itu sekilas sebelum ia tinggal keluar.
Adam menutup pintu kamarnya. Melangkah ke teras menanyakan pada sang ibu dimana menyimpan kotak obat.
"Bu.." Panggil Adam mendekati kedua orang tuanya.
Ibu malah memberikan Arvind kepada Adam. Ibu pikir anaknya itu mau menggendong cucunya. Adam sendiri tidak bisa menolak saat Arvind sudah dalam gendongannya lalu ia cium wajah anak lucunya itu, seharian tidak bertemu membuatnya rindu terlebih lagi ia juga merindukan Zahira meski masih terselip rasa kesal.
"Sama Uti lagi ya Nak, Papa tidak bisa lama-lama gendong kamu karena Mama kamu saat ini sakit." Adam memberikan Arvind pada ibu.
Ayah dan Ibu mengernyit heran mendengar penuturan Adam yang mengatakan kalau Zahira sakit padahal tadi menantunya itu baik-baik saja.
"Istrimu sakit apa Dam? Tadi dia sehat-sehat saja." Ujar Ayah bertanya.
"Zahira demam Yah." Jawab Adam singkat sambil mengelus pipi baby Arvind.
"Dimana ibu menyimpan kotak obat?" Tanya Adam kepada ibunya agar Zahira segera minum obatnya.
__ADS_1
"Di dalam lemari di sebelah televisi." Jawab Ibu.
Adam membuka lemari untuk mengambil Paracetamol, obat penurun panas. Setelah itu ke dapur mengambil air putih untuk memudahkan Zahira minum obatnya.
"Yank. Ayo, buka mata kamu. Mas sudah bawa obatnya." Ucap Adam seraya membuka bungkus obat.
Zahira menyandarkan tubuh lemahnya di kepala ranjang dengan selimut yang masih membungkus tubuhnya.
"Tapi aku belum makan apa-apa sejak siang tadi, Mas." Jelas Zahira lirih.
Selesai masak makanan untuk Bapak, Zahira makan di sana. Ia merasa lapar setelah membersihkan seluruh rumahnya. Apalagi Zahira juga masih sungkan untuk makan di rumah suaminya, karena ibu mertuanya saja belum memanggil dirinya masih saja bersikap ketus. Membuatnya serba salah.
Adam tersenyum. "Ya sudah, sekarang Mas ke dapur. Ambil makanan untuk kamu." Jawab Adam.
Tangan Adam dipegang Zahira sebelum laki-laki tampan itu melangkah keluar lagi.
"Mas, maaf.. jika aku merepotkan kamu." Ucap Zahira dengan tidak enak hati.
Adam melepaskan tangan Zahira lalu kembali duduk.
"Nggak masalah Sayang, justru Mas semakin sedih kalo lihat kamu sakit kayak gini. Kasihan kan anak kita tidak bisa manja-manja sama ibunya, beda lagi dengan Mas yang tiap saat bisa bermanja sama kamu." Hibur Adam mencolek hidung bangir Zahira.
Zahira tersipu malu. "Mas, kamu tambah pintar aja ya gombalnya pasti karena ajaran Kak Andi nih." Ujar Zahira seperti memiliki tenaga lagi setelah Adam bersikap manis padanya.
Adam tertawa. "Haha.. tidak dong Sayang, masa gombali istrinya harus berguru dulu pada Andi kampret itu." Jawab Adam seraya geleng-geleng kepala. Biarpun dia orangnya dingin tapi untuk urusan merayu Zahira, ia tidak akan kalah sama Andi si raja gombal itu.
"Tuh kan, keasyikan gombali kamu Mas jadi lupa ke dapur." Ujar Adam.
"Siapa yang suruh." Ledek Zahira.
"Jika kamu tidak sakit, Mas akan makan kamu sekarang juga." Bisik Adam di telinga Zahira.
"Emang berani?" Tantang Zahira karena yakin suaminya ini hanya membual saja.
"Oh, kamu nantangin Mas ya. Tunggu aja, setelah kamu sembuh. Kamu harus siap-siap." Balas Adam sebelum pergi ke dapur.
***
Arvind begitu mengerti dengan kondisi Mamanya saat ini. Bayi lucu itu sama sekali tidak rewel meski tidak bersama Zahira.
Arvind berada di ruang tengah bersama Uti dan Akungnya. Dengan gerakan lincah, bayi lucu itu mengemut kepalan jemari tangan kanannya membuat yang melihatnya semakin gemas saja.
"Sudah tidur istrimu?" Tanya Ayah kepada Adam.
"Sudah Yah." Jawab Adam membaringkan tubuh atletisnya di samping sang anak.
"Anak Papa kok belum tidur." Sambil menyalakan mainan Arvind agar anaknya terhibur.
__ADS_1
"Kamu nggak makan malam Nak?" Tanya Ibu.
Adam sama sekali belum makan, sedari tadi ia hanya di kamar menemani istrinya. Menemani Zahira yang memberi Arvind minum kemudian anaknya dibawa ibu keluar agar Zahira bisa melanjutkan kembali tidurnya.
"Nanti saja Bu, Adam belum lapar." Jawabnya.
"Malam ini, biar Arvind tidur sama ibu ya." Bujuk Ibu pada Adam karena ibu ingin meringankan Zahira jika sewaktu-waktu cucunya bangun di tengah malam.
"Terus minumnya gimana Bu, Zahira tadi tidak memompa ASI untuk Arvind?" Tanya Adam tanpa memandang sang ibu.
"Kamu bangunin dulu istrimu itu, suruh ia memompa ASI nya." Ucap Ibu memaksa.
"Kasihan Bu, Zahira baru tidur." Sahut Ayah.
"Justru Ibu lebih kasihan lagi Yah, jika Arvind tetap tidur dengan menantu kita, nanti Zahira tidak bisa istirahat lagi." Jawab Ibu.
Adam menghela napas. "Baiklah, Adam bangunkan istri Adam." Ucapnya kemudian.
Sebenarnya Adam juga kasihan untuk membangunkan Zahira tapi benar kata ibunya jika Arvind tidur bersama mereka yang ada istrinya itu akan sulit istirahatnya.
Sekitar setengah jam Adam kembali lagi lalu memberikan kepada ibunya. Awalnya Zahira enggan saat Adam membangunkan dirinya karena rasa pusing masih mendominasi.
"Cucu Uti yang tampan, sekarang bobo sama Uti dan Akung ya." Ibu menggendong Arvind masuk kamar.
Di ruang tengah hanya ada Ayah dan Adam saja mereka menonton pertandingan sepak bola hingga laganya pun usai.
"Yah, Adam duluan." Pamitnya untuk masuk kamar karena ia sudah mengantuk.
Ayah mengangguk. "Iya, Ayah juga sama." Jawabnya lalu mematikan televisi.
Sebelum tidur Adam membasuh mukanya terlebih dahulu lalu naik ke atas ranjang sambil mengecek suhu panas di kening Zahira.
"Syukurlah panasnya sudah tidak seberapa." Ucap Adam pelan.
Kemudian masuk ke dalam selimut yang sama dengan Zahira, membawa tubuh ramping itu ke dalam dekapannya. Apalagi di luar hujan turun dengan derasnya membuat Zahira semakin menduselkan kepalanya ke dada Adam mencari kehangatan di tubuh suaminya itu.
"Dingin.." Lirih Zahira.
"Iya, Mas di samping kamu Sayang." Jawab Adam menenangkan Zahira seraya mengeratkan pelukannya. Adam tidak akan bisa berlama-lama mendiamkan istrinya terlebih keadaan Zahira tengah sakit seperti ini.
.
.
Bersambung...
.
__ADS_1