
Keesokan harinya tepatnya di hari minggu ini Zahira harus bangun kesiangan karena setelah sholat subuh ia terpaksa tidur lagi akibat ulah suaminya yang tidak ada kata bosannya. Adam juga masih belum bangun, sama seperti Zahira setelah sholat subuh laki-laki tampan itu kembali melanjutkan tidurnya.
Saat ini Zahira sedang belanja di tukang sayur keliling bersama ibu-ibu tetangga lainnya yang kebetulan tukang sayurnya berhenti tepat di depan rumah Adam.
"Mau masak apa nanti Nak Hira?" Tanya seorang ibu paruh baya yang juga sedang belanja memilih apa yang ia mau beli.
"Mau buat rawon Bu." Jawab Zahira sopan seraya mengambil daging sapi setengah kiloan dua dan juga belanjaan lainnya.
Zahira langsung sigap belanjanya tidak perlu berlama-lama mengingat belum memasak apa-apa.
"Pasti enak sekali masakan Nak Zahira?" Sahut Ibu yang berkerudung seraya mengambil kangkung.
Zahira hanya tersenyum menanggapi pujian ibu itu lalu membayar belanjanya setelah bertanya berapa semua harganya.
"Mari ibu-ibu saya duluan." Pamit Zahira setelah selesai membayar sambil menenteng satu kresek belanjanya.
"Eh, iya Nak Hira." Jawab mereka kompak menatap Zahira.
Zahira melangkahkan kakinya ke dalam rumah, menuju dapur untuk memasak yang menurutnya kesiangan karena saat ini jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Untung saja tadi Ayah mertua sudah membeli bubur ayam untuk sarapan beliau dan Ibu. Sehingga Zahira tidak perlu tergopoh-gopoh.
Setelah berkutat selama satu jam setengah akhirnya masakan Zahira selesai juga. Tinggal mencuci baju yang belum ia lakukan. Setelah selesai mencuci baju di mesin cuci Zahira pun menjemur pakaian-pakaian itu. Beruntung cuaca hari ini sangat cerah hingga nanti pakaiannya akan cepat kering.
Zahira masuk ke kamar membangunkan Mas suami.
"Mas.. bangun, udah jam setengah delapan. Kamu nggak lapar apa karena belum sarapan." Ucap Zahira membangunkan Adam yang setia memeluk guling.
Adam tidak bergeming dia lelap sekali tidurnya.
"Mas.. ayo bangun!" Terpaksa Zahira menarik lengan Adam agar segera bangun. Adam mulai membuka kedua matanya dengan malas karena sejujurnya ia masih ngantuk.
"Lima menit lagi Yank.. Mas masih ngantuk." Jawab Adam kembali ke posisi tidurnya.
"Nggak ada lima menitan lagi, ayo bangun!" Kesal Zahira.
Adam masih di posisi tidurnya tanpa merasa terganggu dengan omelan Zahira.
"Ya udah kalau nggak mau bangun, aku pergi aja ke rumah Emak pasti di sana aku bakal ketemu Kak Haikal." Ucap Zahira sedikit mengancam.
Adam seketika terbangun setelah diberi ancaman oleh Zahira.
"Bicara apa tadi?" Tanya Adam dengan sorot mata tajam bercampur kekesalan.
__ADS_1
"Salah sendiri di bangunin enggak bangun-bangun." Omel Zahira.
"Mau jadi istri durhaka kamu! Pergi tanpa persetujuan suami." Balas Adam datar.
"Enggak." Jawab Zahira sambil menggeleng cepat.
"Terus kenapa tadi ngomong gitu. Mas nggak suka ya Ra, kamu masih nyebut nama itu lagi!" Tegas Adam.
"Iya maaf." Cicit Zahira menyesal.
Adam sebenarnya tidak marah tapi Zahira harus diberi peringatan agar tidak menyebut nama Haikal lagi yang mana jika nama itu di sebut oleh Zahira Adam pasti akan emosi.
***
"Assalamu'alaikum." Ucap salam Dini dan Eko sudah datang di rumah Adam.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Zahira senang menghampiri dua sahabatnya ini lalu memeluk Dini sejenak, kemudian mengajak mereka masuk ke dalam.
"Ayo masuk." Ucapnya.
Dini dan Eko pun mengikuti di belakang.
"Dini Paman, Bibi." Ucap Dini seraya mencium tangan Ayah dan Ibu Adam bergantian.
Begitu juga dengan Eko dia juga mengenalkan namanya lalu mencium tangan kedua mertua Zahira. Ayah dan Ibu menjawab mereka dengan senyuman.
"Gimana kalau kita duduk di depan aja." Usul Zahira agar leluasa ngobrolnya tanpa mengganggu kedua mertuanya.
"Boleh juga." Jawab Dini setuju.
"Ya sudah kalau begitu Ayah, Ibu kami ngobrolnya di luar ya?" Kata Zahira.
"Iya terserah kalian Nak." Ibu mengangguk seraya tersenyum.
Mereka bertiga kini duduk di teras depan setelah Zahira menyuguhkan minuman juga beberapa cemilan di dalam toples.
"Jadi ada berita apa nih tentang kalian berdua?" Tanya Zahira berniat menggoda.
Dini langsung salah tingkah. "Sebenarnya.. sebenarnya kami udah jadian Ra." Jawab Dini pelan menahan malu membuat Zahira melongo.
"Sungguh!" Seru Zahira tidak percaya.
__ADS_1
Sontak Dini dan Eko langsung mengangguk.
"Ah.. akhirnya kalian jadian juga. Kamu benar-benar hebat Ko, bisa secepat itu menaklukkan hati Dini." Puji Zahira senang.
"Tentu aja Ra, ternyata usahaku selama ini nggak sia-sia. Aku selalu berusaha membujuk Dini agar mau nerima diriku ini yang apa adanya dan ternyata Dini bersedia juga menjadi kekasihku walau lama juga aku mengejarnya." Ucap Eko terkekeh mengingat perjuangan dirinya yang tidak pernah menyerah mendapatkan hati Dini.
"Haha.. dan Alhamdulillahnya Dini nerima cinta kamu. Tapi sejak kapan kalian jadiannya?" Tanya Zahira penasaran.
"Baru empat hari ini." Jawab Dini tersenyum.
"Oh.. Mas Eko sekarang udah nggak jomblo. Udah ada yang punya, jadi kapan nih rencananya mau nyusul ke pelaminan." Canda Zahira.
"Kalau soal itu aku masih belum siap Ra.. aku belum kepikiran untuk menuju ke jenjang pernikahan." Jawab Dini berterus terang sambil melirik Eko.
"Aku sih tidak masalah jika Dini belum siap, karena sampai kapanpun aku akan tetap setia menunggu Dini untuk bersedia menikah denganku." Sahut Eko dengan gayanya.
"Uh, kata-katamu Ko.. Ko.. kayak ada manis-manisnya." Ledek Zahira cekikikan, Dini juga ikut tertawa.
"Ya, karena aku juga tidak mungkin Ra memaksa Dini menikah denganku secepatnya, karena bagiku pernikahan itu hal yang serius yang tidak boleh di permainkan. Kita harus benar-benar siap dulu dalam memantapkan niatan kita untuk berumah tangga." Kata Eko dengan nada bijaknya.
"Iya, betul ucapan kamu Ko. Aku juga dulu sebenarnya belum siap menikah. Karena aku masih belum kepikiran untuk menjalani kehidupan rumah tangga. Tapi karena kedua orang tuaku terus memaksa agar aku segera menikah, mau nggak mau aku harus menerimanya. Sejujurnya aku ingin menolak waktu itu karena aku nggak tahu siapa yang akan jadi calon suamiku.." Ujar Zahira memberitahu.
"Jadi kamu dan Kak Adam itu dijodohkan Ra?" Tanya Dini dengan tidak percaya.
Zahira mengangguk. "Iya, kami dijodohkan dan yang nggak aku sangka ternyata dia adalah Mas Adam yang dari dulu sudah aku sukai, bisa di bilang dia adalah cinta pertamaku." Jawab Zahira.
"Lalu Kak Adam sendiri?" Gantian Eko yang bertanya.
"Haha.. dan ternyata kami ini suka saling suka, Mas Adam juga sudah lama menyukaiku.." Terang Zahira.
Dini dan Eko sama-sama manggut-manggut tanda mengerti.
"Sekarang di mana Kak Adam, dari tadi aku nggak melihatnya?" Dini celingukan mencari keberadaan laki-laki tampan itu.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1