
"Tidak akan, sebelum kamu memaafkan Mas." Ucap Adam lalu menyandarkan kepala Zahira di dadanya. Adam juga mengelus kepala sang istri dengan sayang sesekali ia kecup jua.
Zahira hanya cemberut, dapat ia bayangkan bagaimana senangnya Citra saat itu karena sudah berhasil memeluk suaminya. Pasti sekarang gadis itu sedang berbunga-bunga, 'Ck' Zahira hanya bisa berdecak sebal.
"Sayang.. jangan marah lagi ya?" Adam memohon pada Zahira yang hanya diam saja di pelukannya.
Zahira menghela nafas dalam, ini semua juga bukan kemauan suaminya tapi si ulet keket itu yang tidak punya rasa malu. Tapi bagaimana pun juga Zahira masih saja tidak terima, ingin rasanya dia mencakar-cakar wajah Citra untuk melampiaskan kekesalannya.
"Iya deh, aku maafkan. Karena aku tahu ini juga bukan kesalahan Mas Adam." Jawab Zahira pada akhirnya, setelah terdiam beberapa saat.
Zahira mendongakkan kepalanya melihat wajah Adam lalu ia kecup pipi suaminya itu dengan lembut.
Adam sangat lega, akhirnya Zahira mau memaafkan dirinya. Ternyata istrinya ini punya pemikiran dewasa dan cemburunya hanya sesaat saja, tidak seperti dirinya kalau lagi cemburu sangat keterlaluan.
Mereka saling tatap dan sama-sama tersenyum.
"Terima kasih." Bisik Adam, lalu kembali memeluk Zahira dengan memberi ciuman berulang-ulang di kepala perempuan itu.
"Mas.. jangan kenceng-kenceng meluknya sesak nafas aku.." Keluh Zahira karena Adam memeluk dirinya cukup erat.
Adam mulai melonggarkan pelukannya ia terkekeh kecil, sungguh istrinya ini menggemaskan sekali. Di cubitnya kedua pipi Zahira dengan gemas.
"Manisnya istri Mas ini." Puji Adam.
Sedikit raut wajah Zahira kembali berseri mendengar ucapan suaminya itu. Seulas senyum berbaris di bibir tipisnya.
"Yank.. nanti sehabis Maghrib Andi akan ke sini." Ucap Adam.
"Ngapain Mas?" Tanya Zahira lalu mengurai pelukannya.
"Mau datang ke rumahnya Mila." Jawab Adam.
Zahira pun turun dari pangkuan Adam. Duduk sendiri di tepi kasur lalu melepas kerudungnya karena gerah juga, lagi pula ia hanya di kamar saja.
"Hah, mau apa Kak Andi datang ke sana?" Tanya Zahira dengan bingung.
Adam tersenyum tipis sebelum menceritakan tentang sahabatnya itu.
"Ternyata selama ini Andi suka sama Mila, dia minta bantuan kita untuk melancarkan pendekatannya nanti." Jawab Adam.
"Jadi nanti kita bakal jadi Mak comblang gitu, haha.." Ucap Zahira terkekeh. Lucu juga menurutnya.
"Nggak papa, demi bantu sahabat tidak ada salahnya juga." Sahut Adam santai.
__ADS_1
***
"Dam.. aku deg-degan banget ini." Ucap Andi, duduk di teras rumah Adam sebelum pergi ke rumah Mila.
Zahira tersenyum lucu melihat raut wajah Andi. "Kak.. ini bukan lamaran lho jadi santai aja." Ujar Zahira berusaha menenangkan Andi.
"Haduh Ra.. ini tuh pertama kalinya buatku. Aku takut nanti kedatanganku di sana malah di tolak sama Bapaknya Mila." Tutur Andi dengan nada cemas.
"Belum di coba juga, kamu sudah berkata yang tidak-tidak." Sahut Adam geleng-geleng kepala.
"Tenang Kak Andi.. Bapaknya Mila itu orang yang baik kok. Tidak galak seperti yang Kak Andi pikirkan." Sambung Zahira.
"Ya udah, sekarang ayo kita ke rumahnya Mila." Ajak Adam pada Andi dan Zahira.
"Ayo." Jawab Zahira dengan semangat.
Adam tersenyum geli melihat semangat istrinya ini. Yang punya keinginan siapa? Yang semangat siapa.
Mereka datang ke rumah Mila cukup berjalan kaki saja, karena letak rumah Mila berada tepat di sebelah kanan rumah Adam.
"Assalamu'alaikum.." Ucap salam mereka di depan pintu rumah Mila yang pintunya tertutup rapat.
"Wa'alaikumsalam." Jawab seorang pria dari dalam.
Ceklek
Andi berusaha menguasai dirinya agar tidak gugup di depan calon mertuanya itu. Iya kalau pedekate nya di terima kalau di tolak?
"Eh, ada tamu rupanya. Kalian mau ketemu siapa?" Tanya Bapak Mila dengan ramah.
"Kami mau bertemu dengan Mila, Pak Dhe. Apa Mila nya ada?" Tanya Zahira bertutur sopan.
"Oh, mau ketemu Mila toh. Ada kok, Mila ada di rumah. Ayo silahkan masuk kalian." Jawab Bapak Mila mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam.
Andi, Adam dan Zahira langsung duduk di kursi.
"Sebentar, Pak Dhe panggil Mila dulu di kamarnya." Ucap Bapak Mila.
"Tegang banget kamu Ndi?" Tanya Adam setelah Bapak Mila hilang dari pandangan.
"Gimana aku nggak tegang Dam, lihat Bapaknya Mila tadi." Jawab Andi. Dirinya benar-benar gugup.
Tidak berapa lama Mila dan kedua orang tuanya datang menghampiri mereka. Mila merasa bingung karena tidak biasanya mereka datang ke sini mencari dirinya.
__ADS_1
"Eh.. ada Nak Adam, Zahira dan Nak Andi toh yang mencari Mila." Sambut Ibunya Mila dengan senyum khas ibu-ibu sambil membawa nampan berisi tiga cangkir teh hangat kemudian meletakkan di meja.
"Silahkan di minum tehnya mumpung masih hangat." Sahut Bapak Mila yang sudah duduk di hadapan Andi begitu juga dengan Mila dan Ibunya yang juga sudah duduk.
"Iya, Pak Dhe." Jawab Adam dan Zahira bersamaan. Sedangkan Andi jangan ditanya, dia sedang melawan rasa gugupnya di hadapan gadis yang ia sukai.
"Ah iya, ini ada buah tangan dari saya, Mila." Ucap Andi setelah terdiam beberapa saat sambil mengulurkan sekotak kue yang ia beli tadi sore.
Mila menerimanya dengan senang hati. "Terima kasih Kak Andi." Ucapnya tersenyum.
"Iy-ya sama-sama." Jawab Andi terbata-bata melihat senyuman Mila.
Adam dan Zahira saling pandang lalu tersenyum lucu melihat Andi yang tiba-tiba menjadi gagu.
"Pak.. kita pergi saja. Sepertinya ini urusan anak muda." Ibu Mila berbisik di telinga suaminya.
Bapak Mila mengangguk setuju dan berkata 'iya'. "Ya sudah, kami tinggal ya. Silahkan kalian ngobrol dengan Mila, kami tidak mau nganggu urusan anak muda." Ucap Bapak Mila memberi pengertian.
"Iya, kami mau ke belakang dulu ya." Sambung Ibu Mila.
"Terima kasih ya Bu Dhe, Pak Dhe." Ucap Zahira tersenyum. Mereka mengangguk dan berlalu.
"Tumben Kakak-kakak ini mau bertemu denganku?" Tanya Mila mengawali obrolannya.
"Jadi begini Mil, maksud kedatangan kami ke sini tuh untuk mengenal kamu jauh lebih dekat lagi." Jawab Zahira mewakili.
"Maksudnya?" Tanya Mila, karena tidak paham seraya memandang mereka bertiga secara bergantian.
"Ayo Ndi, kamu harus bicara jangan diam saja." Adam menepuk paha Andi.
"Emm, Sebenarnya.. aku datang ke sini mempunyai tujuan lain Mil.." Ucap Andi bingung mau memulai dari mana.
"Tujuan apa Kak?" Tanya Mila menunggu Andi berbicara lagi.
Andi mengumpulkan keberaniannya.
"Jujur ya Mil.. aku sudah lama suka sama kamu." Jawab Andi pada akhirnya.
"Hah..." Ucap Mila dengan rasa kagetnya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....