Tiba - Tiba Dijodohkan

Tiba - Tiba Dijodohkan
Baby Arvind


__ADS_3

Sayup-sayup terdengar kumandang adzan Subuh di ruang inap Zahira. Perempuan itupun terbangun karena ingin buang air kecil.


"Mas.. Mas Adam, bangun Mas." Zahira mengguncang pelan lengan suaminya yang tertidur lelap di sisi ranjang.


Perlahan-lahan Adam membuka kedua matanya untuk mengumpulkan nyawanya terlebih dulu setelah itu ia menegakkan badannya.


"Ya Sayang, ada apa?" Tanya Adam dengan suara parau khas bangun tidur.


"Aku mau pipis Mas." Jawab Zahira meminta bantuan suaminya untuk berjalan ke kamar mandi.


"Ayo Mas bantu kamu." Kata Adam lalu membantu Zahira bangun dari tidurnya.


"Pelan-pelan ya jalannya." Ucap Adam saat tangan satunya memegang botol infus sedangkan tangan kanannya memegangi lengan Zahira.


Zahira sudah tidak tahan untuk mengosongkan kandung kemihnya, secara hati-hati Adam membantunya agar jahitannya tidak sampai terkena air setelah itu Zahira meminta Adam untuk mengambil sesuatu di laci karena Zahira ingin menggantinya dengan yang baru.


"Nih Yank." Adam mengulurkan kepada Zahira.


"Terimakasih Mas." Ucap Zahira lalu membukanya.


"Kamu bisa memakainya sendiri atau perlu Mas bantu?" Tawar Adam.


"Nggak usah Mas aku bisa sendiri kok." Jawab Zahira yang takutnya nanti suaminya akan mual jika melihat itu. Namun Adam tetap bersikeras untuk membantu dirinya.


Zahira memandang lekat pada suaminya itu biarpun dia seorang pria tapi Adam tidak merasa jijik sekalipun. Adam tetap melakukannya meski sudah ia larang. Karena bagi Adam, ini itu tidak seberapa dengan perjuangan Zahira yang melahirkan anaknya ke dunia ini.


Adam kembali menuntun Zahira ke ranjang. Dan saat itu Ibu Zahira juga sudah terbangun dari tidurnya.


"Kamu tadi dari mana Nduk?" Tanya sang ibu.


"Dari kamar mandi Mak buang air kecil." Jawab Zahira yang duduk bersandar.


"Yank, Mas sholat dulu ya." Ucap Adam.


"Iya Mas." Jawab Zahira sambil mengangguk.


Adam sholat subuhnya di Musholla rumah sakit. Ia juga tidak bisa berlama-lama karena sang mertua juga belum melaksanakan sholat subuh karena tidak membawa mukenah dari rumah. Dua puluh menit kemudian Adam sudah kembali ke kamar Zahira.


"Mak, Adam sudah selesai. Emak bisa sholat sekarang di Musholla." Kata Adam.


Ibu Zahira mengangguk.


"Emak tinggal dulu ya Nduk." Ucapnya sambil mengelus lengan putrinya.


Setelah kepergian sang ibu.

__ADS_1


"Mas.. aku ingin sekali melihat bayi kita. Aku ingin mendekapnya." Ungkap Zahira yang sudah tidak sabar melihat anaknya.


"Sabar ya, kita tunggu Dokternya dulu sebentar lagi Dokternya akan kemari untuk meriksa kamu." Jawab Adam yang cukup mengerti dengan kegundahan istrinya.


***


Ibu Adam sudah begitu sibuk memasak di dapur karena ia harus mengantar sarapan pagi kepada besan laki-lakinya.


"Bu.." Panggil Ayah.


Ibu pun menoleh. "Iya Ayah, ada apa?" Tanya Ibu sambil menggoreng ayam.


"Mau Ayah bantu." Tawar Ayah agar masakan istrinya cepat selesai karena nanti ia juga harus mengantar istrinya ini ke rumah sakit membawakan baju ganti Adam.


"Boleh-boleh, Ayah goreng ayamnya ya. Ibu mau meracik bumbu dulu." Jawab Ibu dengan senang hati mendapat bantuan dari suaminya.


Ayah sedikit takut menggoreng ayam karena minyaknya yang tiba-tiba meletup kemana-mana. Ayah ini berbanding terbalik dengan Adam kalau urusan masak-memasak, Adam begitu pandai mengolah masakan sebab dari remaja Adam sudah terbiasa memasak sendiri. Sedangkan Ayah hanya bisa masak air saja.


"Aduh.." Keluh Ayah begitu kena cipratan minyak di tangannya.


"Kenapa Yah?" Tanya Ibu.


"Ini Bu, minyaknya nyiprat ke tangan Ayah." Jawabnya.


"Cuma kecil Bu cipratannya." Ucap ayah membuat Ibu geleng-geleng kepala.


"Setelah ini menggoreng apa lagi?" Tanya Ayah.


"Tahu sama tempe Yah." Jawab Ibu.


Setengah jam kemudian masakan ibu sudah selesai. Ibu memasukkan nasi dan lauk pauk ke dalam rantang.


"Yah, antar makanan ini ke Besan ya." Ucap Ibu.


"Iya." Jawab Ayah singkat.


Ayah pergi ke rumah Bapak dengan motor maticnya.


"Assalamu'alaikum." Salam Ayah.


Bapak yang lagi menyapu di ruang tegah harus berhenti sebentar untuk melihat siapa yang datang.


"Wa'alaikumsalam. Eh, Besan. Ada apa ya San?" Tanya Bapak.


"Ini San, mengantarkan sarapan pagi kalian. Ibunya Adam sudah selesai masaknya jadi kalian tidak perlu beli di warung." Jawab Ayah sambil memberikan rantang kepada Bapak.

__ADS_1


"Kami jadi merepotkan San." Kata Bapak sungkan.


Ayah tertawa kecil. "Kayak orang asing aja pakai bilang merepotkan segala." Ujar Ayah.


Bapak pun tertawa. "Kalau gitu ayo kita sarapan bersama." Ajak Bapak.


"Tidak bisa San.. nanti ibunya Adam tidak ada temannya jika saya ikutan makan disini." Jawab Ayah yang menolak.


"Oh ya sudah, terimakasih banyak ya San.." Ucap Bapak.


"Iya sama-sama. Kalau gitu saya pulang dulu." Pamit Ayah.


***


Zahira senang sekali akhirnya ia bisa melihat anaknya. Dengan duduk di kursi roda dan di dorong Adam mereka menuju ruangan dimana putra mereka dirawat. Begitu memasuki ruangan, mereka mendekat ke nama bayi yang bertuliskan nyonya Zahira di inkubatornya. Zahira sama sekali tidak bisa membendung air matanya begitu melihat sosok mungil yang sedang tidur itu.


"Anak Mama.. ini Mama Sayang. Kamu lucu sekali Nak." Lirih Zahira menahan agar isaknya tidak keluar.


Bayi yang lahir dengan BB 2,3 kg itu nampak anteng saat dikunjungi oleh kedua orang tuanya. Dia juga sudah diberi ASI yang telah diperah. Walau ASI Zahira masih keluar sedikit namun Dokter menyarankan agar tetap memberi ASI untuk mendukung tumbuh kembang dan kesehatan bayi. Karena ASI kaya akan berbagai manfaat yang tidak di dapat di susu formula.


"Mas, dia mirip sekali denganmu mulai dari hidung, mata bahkan bibirnya juga." Ucap Zahira yang memperhatikan wajah anaknya yang semuanya di dominasi oleh suaminya.


Adam tersenyum, memang benar wajah putra mereka mirip sekali dengan dirinya, istrinya ini tidak kebagian apa-apa hanya kebagian mengandung saja.


"Iya, kamu tidak cemburu kan Yank jika putra kita lebih mirip Mas?" Tanya Adam yang berjongkok di depan Zahira.


Zahira tertawa kecil. "Enggak lah Mas buat apa coba aku harus cemburu. Aku justru senang jika putra kita lebih mirip kamu." Jawab Zahira.


"Yank.. kamu tidak penasaran dengan nama anak kita?" Tanya Adam yang sejak semalam sudah memikirkan nama yang pas untuk bayi mereka.


"Siapa Mas?" Tanya Zahira begitu antusias.


Meski belum memiliki rencana untuk memberi nama sang bayi tapi jika Adam sudah mendapatkannya, itu tidak masalah malah lebih baik, pikir Zahira.


"ARVIND ZAHAIR PRATAMA. Gimana apa kamu suka?" Tanya Adam.


Zahira mengangguk senang. "Suka Mas, aku suka. Nama yang bagus, jadi kita manggilnya ARVIND ya." Jelas Zahira.


.


.


Gimana menurut readers bagus nggak nama bayi Mas Adam dan Zahira.


.

__ADS_1


__ADS_2