
Dengan cepat Zahira menghentikan tangisannya, ia takut jika suara tangisnya di dengar oleh sang Ibu mertua. Ia pun berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka, matanya sembab dan hidungnya juga memerah sangat kentara sekali.
"Nggak boleh cengeng, masa gitu aja harus nangis." Gumam Zahira berkaca di depan meja rias lalu mengambil bedak tabur dan lipstik untuk menutupi wajahnya yang kusut akibat tangisnya.
Tok.. tok.. tok..
"Nak.. ini Ibu, apa Ibu boleh masuk." Suara Ibu mertua mengetuk pintu kamarnya.
Zahira buru-buru memoles wajahnya dan memakai kerudung lalu ia berjalan untuk membuka pintu kamarnya.
Ceklek
"Ada apa Bu?" Tanya Zahira setelah pintu terbuka lebar. Ibu tersenyum melihat Zahira baik-baik saja.
"Apa kamu sibuk, Ibu mau ngajak kamu ke pasar untuk belanja karena semua bumbu-bumbu dapur sudah pada habis." Jawab Ibu.
"Nggak sibuk kok Bu. Maaf ya Bu, Hira lupa kalau persediaan barang di dapur udah mulai menipis." Ucap Zahira tidak enak hati.
"Nggak apa-apa, kamu sudah siap kan sekarang ayo kita jalan." Ajak Ibu.
"Bentar Bu, aku ambil tas dulu." Zahira berbalik badan mengambil tas di dalam lemari lalu memasukkan dompet serta ponselnya ke dalam tas slempangnya.
"Ayo Bu, oh ya.. terus kita naik motor siapa? Bukannya motor Ayah di pakai pergi ke sekolah ya?" Tanya Zahira. Karena mereka hanya mempunyai dua sepeda motor satu milik Ayah dan satunya milik Adam.
"Ayah berangkatnya naik mobil, tadi Ibu sudah beritahu Ayah kalau motornya bakal kita pakai ke pasar." Jelas Ibu.
"Oh.." Jawab Zahira sambil manggut-manggut.
"Bentar, Ibu kunci rumah dulu." Ucap Ibu, tidak lupa mengunci rumahnya sebelum di tinggal.
Zahira sudah stand by di sepeda motor milik Ayah mertuanya sambil menunggu sang Ibu mertua untuk memberi kunci motornya.
"Ini Nak kuncinya." Ibu mengulurkan kunci lalu segera memakai helm yang di sodorkan Zahira.
"Sudah siap Bu?" Tanya Zahira menoleh ke belakang. Memastikan sang Ibu, apa sudah duduk dengan benar di jok belakang.
"Sudah." Jawab Ibu.
Zahira melajukan sepeda motornya dengan santai. Mengenai masalah dengan suaminya, Zahira tidak mau larut bersedih. Ia tidak ingin sang ibu mertua kepikiran. Meski merasa bersalah juga karena pergi keluar tidak izin Adam terlebih dahulu. Mau bagaimana lagi, suaminya aja berangkat kerja tidak melirik padanya.
Dua puluh menit berkendara akhirnya mereka sampai di pasar. Zahira memarkirkan sepeda motornya, petugas parkir datang menghampiri untuk memberi secarik karcis parkir.
__ADS_1
"Lima ribu Mbak biaya parkirnya." Kata petugas karcis setelah Zahira dan Ibu melepas helm.
"Sebentar Pak saya ambil uang dulu." Ucap Zahira mengambil uang di dalam dompet.
"Ini." Zahira memberikan uang lima ribu pas pada petugas parkir.
"Terima kasih Mbak dan selamat belanja di pasar ini." Ucap petugas parkir dengan ramah. Zahira membalas dengan anggukan dan senyuman.
"Bu kita beli apa dulu nih?" Tanya Zahira, mereka melangkah masuk ke dalam pasar dengan Zahira mengandeng lengan kiri sang Ibu mertua.
"Kita beli bumbu-bumbu dulu. Setelah itu baru cari ikan, ayam dan lainnya." Jawab sang Ibu.
"Oke." Jawab Zahira.
Mereka berdua berhenti di stand yang menjual bumbu-bumbu super lengkap. Mereka harus mengantri terlebih dahulu karena lumayan juga yang membeli kebutuhan dapur tersebut.
Setelah itu mereka beralih ke tempat penjual sayur dan juga penjual ikan yang masih segar.
"Sudah semua kan Bu, apa masih belanja lain lagi?" Tanya Zahira sambil menenteng kantong kresek yang berisi bumbu-bumbu.
"Sudah lengkap ini. Kamu sendiri, apa mau beli sesuatu?" Ibu bertanya balik.
Zahira menggeleng. "Nggak ada sih Bu, cuma.. karena lama juga muterin pasar, perutku lapar lagi." Ucap Zahira dengan cengiran.
"Ya sudah, kamu mau makan apa?" Lanjut Ibu.
"Kita makan bakso aja ya Bu." Ajak Zahira dengan semangat karena ia sangat suka dengan makanan yang berkuah satu itu.
Mereka pun mencari penjual bakso yang berjualan di dalam pasar. Setelah ketemu mereka langsung memesan dua mangkuk bakso serta es jeruk.
\*\*\*
Setibanya di rumah Zahira langsung membawa barang belanjanya ke dapur. Sebagian ia masukkan ke dalam kulkas dan sebagian lagi ia taruh di dalam wadah seperti bawang merah dan bawang putih.
"Ibu, aku ke kamar dulu ya mau ganti baju." Pamit Zahira setelah selesai menata semua barang belanjanya.
"Iya sayang, pergilah." Jawab Ibu.
Saat Zahira tengah berganti pakaian tiba-tiba ponselnya berdering.
"Siapa yang nelfon." Gumamnya sambil menarik resleting di bagian dada.
__ADS_1
Zahira pun melihat layar ponselnya, di situ tertulis nama sang 'Bapak'.
"Bapak.. ada apa jam segini nelfon." Zahira langsung mengangkat panggilan masuknya.
"Hallo, Assalamu'alaikum Pak?" Sapa Zahira terlebih dahulu di balik sambungannya.
"Wa'alaikumsalam.. Ini Emak Nduk bukan Bapak." Jawab Ibu Zahira di sebrang sana.
"Owalah Emak, kirain Bapak. Ada apa Mak?" Tanya Zahira.
"Gini Nduk, Emak mau beritahu kamu kalau nanti jam satu, Emak sama Bapak mau pergi ke tempat Pak Dhe kamu."
"Ke tempat Pak Dhe? Emang kenapa dengan Pak Dhe Mak?" Tanya Zahira dengan heran.
"Tadi pagi Emak dapat kabar, Pak Dhe kamu masuk rumah sakit. Kena stroke." Jawab Ibu Zahira.
"Ya Allah.. Kok tiba-tiba Mak sakitnya, bukannya Pak Dhe sehat-sehat aja ya pas datang ke akad kemarin itu." Sahut Zahira.
"Namanya juga musibah Nduk.. siapa yang bakal tahu." Zahira manggut-manggut membenarkan ucapan ibunya.
"Jadi berapa hari Emak di sana? Rumah Pak Dhe kan jauh?" Tanya Zahira.
"Paling juga dua hari. Nggak terlalu jauh juga Nduk, kan waktu tempuhnya cuma 2 jam perjalanan." Jawab Ibu. Itu pun kalau tidak macet.
"Ya sudah Emak sama Bapak hati-hati ya berangkatnya. Kalian nyewa mobil kan, tidak naik bus?"
"Iya, kami nyewa mobil kok Nduk.. O ya, nanti malam jangan lupa ya? Adikmu kamu kirimi makanan biar ndak kelaparan dia pas Emak tinggal. Sama untuk satu hari ke depan." Pinta Ibu agar Zahira mengurus Akmal.
"Iya, Emak tenang aja semua keperluan Akmal bakal aku urus kok. Kalau bisa aku juga bakal tidur di sana menemani Akmal." Ucap Zahira.
"Kalau kamu tidur di sini, terus gimana sama suamimu, pasti dia keberatan?" Ibu nampak tidak setuju.
"Nggak akan Mak.. Mas Adam juga pasti ngerti kok." Jelas Zahira.
"Yo wes jika itu mau kamu. Emak mau siap-siap dulu biar ndak ada barang yang kelupaan yang nanti kami bawa. Sudah ya Nduk Emak akhiri, Assalamu'alaikum."
"Iya Mak, Wa'alaikumsalam." Jawab Zahira.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...