
"Assalamu'alaikum." Ucap Haikal di luar rumah.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Ibu Zahira.
"Seperti suaranya Nak Haikal, Emak lihat dulu ya." Ibu bangkit untuk berjalan ke depan.
Adam seketika menghentikan suapannya setelah mendengar suara Haikal. Ia sudah tidak berselera makan lagi meski masih banyak yang tersisa.
"Kenapa nggak di habiskan Mas?" Tanya Zahira setelah Adam membungkus nasi pecelnya yang masih ada setengahnya.
"Mas udah kenyang." Jawab Adam berbohong.
"Cepet banget kenyangnya padahal masih banyak tuh yang belum kamu makan, sayang lho Mas kalau nggak di habiskan." Zahira menunjuk nasi pecel Adam.
"Nggak apa-apa." Jawab Adam singkat.
Zahira pun berinisiatif untuk menyuapi suaminya kemudian membuka nasi pecel yang tadi di bungkus Adam.
"Ayo buka mulutnya biar aku suapi." Zahira mendekatkan sendok yang berisi nasi pecel ke mulut Adam.
Bapak dan Akmal senyum-senyum sendiri melihat Zahira menyuapi Adam. Adam sebenarnya malu di lirik oleh mereka berdua, hingga Adam harus membuka mulutnya menerima suapan dari Zahira.
"Nggak usah malu Nak Adam, anggap saja Bapak dan Akmal tidak ada di sini." Ujar Bapak yang mengetahui jika menantu tampannya itu merasa malu karena di suapi oleh putrinya.
"Haha.. santai aja sama kami Mas, kami nggak akan ganggu kok." Sambung Akmal dengan wajah jahilnya.
Adam hanya bisa tersenyum tipis.
"Ayo buka mulutnya lagi." Zahira masih menyuapi Adam membuat Adam langsung melahapnya.
"Kamu juga harus makan." Ucap Adam, Zahira mengangguk dan mulai memakan nasi pecelnya dan bergantian menyuapi Adam.
Ternyata adegan di mana Zahira sedang menyuapi Adam di lihat langsung oleh Haikal yang masuk ke dalam bersama Ibu Zahira.
"Ayo Nak Haikal silahkan duduk, kebetulan kita juga lagi sarapan." Ajak Ibu pada Haikal untuk duduk di tikar bersama mereka.
Haikal mengangguk mengambil tempat duduk di samping Bapak tepat di hadapan Zahira. Haikal menatap dalam wajah Zahira yang semakin hari semakin cantik saja.
"Mak, tolong ambilkan piring untuk Nak Haikal biar ikut sarapan juga." Bapak menyuruh istrinya.
Ibu Zahira berjalan ke dapur mengambil piring, sendok dan gelas. Lalu mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk Haikal.
__ADS_1
"Ini silahkan di makan Nak Haikal." Ibu menyodorkan piring berisi nasi lengkap di depan Haikal.
"Terima kasih Mak, maaf pagi-pagi saya sudah merepotkan kalian, sudah ikut kalian sarapan." Jawab Haikal merasa sungkan sambil menerima piring itu.
"Kak Haikal kayak sama siapa aja, nggak usah sungkan Kak. Ayo silahkan di makan Kak nasinya." Sambung Zahira sambil tersenyum.
Haikal juga membalas senyuman Zahira.
Sebenarnya Haikal sengaja datang pagi-pagi ke rumah Zahira karena saat Haikal sedang berolahraga di depan pagar rumahnya, secara tidak sengaja ia melihat Adam dan Zahira memasuki rumah orang tua Zahira, sehingga Haikal mempunyai kesempatan untuk bisa bicara langsung dengan perempuan itu.
***
Mereka semua sudah selesai sarapan dan Bapak sudah pergi ke sawah, Akmal juga sudah berangkat ke sekolah. Kini tinggal Adam dan Haikal yang berada di ruang tamu duduk saling berhadap-hadapan. Sementara Zahira dan sang Ibu tengah mencuci piring di dapur.
"Aku tahu maksud kedatangan kamu kemari." Ucap Adam dengan nada dingin.
Kedua laki-laki tampan itu saling menatap tajam.
"Bagus lah jika kamu sudah tahu dan aku akan mengatakannya pada Zahira bahwa aku sangat mencintainya." Jawab Haikal tak kalah dingin pada Adam.
Adam geleng-geleng kepala dengan tingkah kawan lamanya ini.
"Terserah kamu, aku juga tidak akan melarang jika kamu ingin menyatakan cinta pada istriku. Kamu siap-siap saja, jika tahu jawaban apa yang akan keluar dari mulut Zahira." Balas Adam santai.
"Ini aku bawakan kopi tapi masih panas ya." Sela Zahira meletakkan dua cangkir kopi di meja. Lalu duduk di sebelah Adam ikut bergabung dengan kedua laki-laki ini.
"Terima kasih." Jawab Adam dan Haikal bersamaan.
"Nduk.. Kamu masih lama kan di sini? Emak mau ke rumah tetangga sebelah bantu masak di sana." Kata Ibu.
"Masih kok Mak. Emang tetangga sebelah lagi ngapain Mak?" Tanya Zahira.
"Mau tasyakuran dia." Jawab Ibu.
"Oh.." Angguk Zahira.
"Ya sudah kalau gitu Emak tinggal, jangan lupa kalau mau pulang kunci pintunya. Letakkan di tempat biasa, Emak pergi. Assalamu'alaikum." Pamit Ibu Zahira meninggalkan mereka bertiga.
"Wa'alaikumsalam." Jawab mereka serempak.
"Oh ya Kak, semalam Kakak menelfonku ada hal penting apa yang mau di bicarakan?" Tanya Zahira setelah kepergian sang ibu.
__ADS_1
Haikal berdehem sebentar sebelum mengutarakan niatnya pada Zahira. Sedangkan Adam, ia juga menunggu Haikal untuk berbicara.
"Ra.. sebenarnya ada satu rahasia yang selama ini Kakak simpan sama kamu." Kata Haikal dengan nada lembut menatap kedua netra coklat milik Zahira.
"Apa itu?" Tanya Zahira penasaran.
"Kakak selama ini menyukai kamu Ra.. dan alasan kenapa Kakak pulang kampung karena sebenarnya Kakak ingin melamar kamu untuk menjadi istri Kakak. Kakak sangat mencintai kamu Ra.." Terang Haikal mengungkapkan isi hatinya.
Deg..
Jantung Zahira seraya mau loncat mendengar penuturan Haikal, tidak ia sangka jika laki-laki yang ada di hadapannya ini yang sudah ia anggap sebagai saudara ternyata menaruh hati pada dirinya dan berniat untuk menjadikannya istri, Zahira benar-benar terkejut bahkan hampir tidak percaya.
"K-kak Haikal bicara apa? Aku sudah menikah lagian aku juga tidak pernah mencintai Kak Haikal, a-aku cuma menganggap Kakak sebagai saudara. Cuma itu nggak lebih.." Jawab Zahira pelan dengan terbata-bata matanya juga mulai mengembun.
"Ra.. apa tidak ada harapan buat Kakak untuk memiliki hati kamu? Kakak akan setia menunggu kamu Ra.." Sambung Haikal memohon.
Zahira diam sambil menundukkan kepala. Air mata mulai menetes membasahi kedua pipinya. Zahira tidak sanggup melihat wajah Haikal yang memohon padanya untuk membalas rasa cintanya.
"Kak.. mengertilah.. aku tidak akan pernah meninggalkan suamiku, aku sangat mencintai Mas Adam. Sudah sedari dulu aku menyukainya.." Zahira mulai terisak kecil setelah terdiam sesaat.
"Ra.. lihat Kakak." Haikal bangun dari duduknya kemudian berjongkok di depan Zahira yang sedang menunduk lalu menggenggam dengan lembut kedua tangan gadis itu.
Zahira dan Adam sama-sama terkejut. Hal itu membuat Adam menjadi marah.
"Apa yang kamu lakukan, berani-beraninya kamu memegang tangan istriku!" Geram Adam lalu bangkit dari duduknya.
Adam memegang kerah baju Haikal agar berdiri dan menjauh dari Zahira. Haikal juga tak kalah diam ia langsung melepaskan tangan Adam, namun sayang tangan Adam begitu kuat mencekram bajunya. Mereka berdua kini sama-sama di landa emosi.
Zahira yang melihat itu sangat takut dengan amarah keduanya tapi ia harus memisahkan mereka agar tidak sampai berkelahi.
"Lepaskan tanganmu!" Bentak Haikal.
"Tidak akan, sebelum aku menyeretmu keluar dari rumah ini." Jawab Adam dengan amarahnya.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Jika ingin lanjut beri Author semangat ya dengan memberi like, vote dan hadiah😊😊