Tiba - Tiba Dijodohkan

Tiba - Tiba Dijodohkan
Akhirnya malam pertama juga


__ADS_3

Bahkan selesai makan malam pun Zahira masih mendiamkan Adam. Sementara Adam sama sekali tidak berniat untuk membujuk Zahira. Adam santai saja nanti juga istrinya itu akan bersikap seperti biasanya. Karena Adam sendiri tahu bagaimana sifat sang istri yang tidak setega itu orangnya.


"Ada apa dengan istrimu Nak, sepertinya dia sedang kesal?" Tanya Ibu kepada Adam, melihat raut wajah menantunya yang dari tadi hanya diam saja saat makan malam.


"Paling juga karena putra kita Bu." Sahut Ayah santai. "Baru juga jadi suami istri kalian sudah marah-marahan segala." Ayah geleng-geleng kepala.


"Benar itu?" Ibu memicingkan matanya.


"Kamu tuh harusnya bisa hilangkan sifat dingin kamu.. Ibu tidak suka ya kalau menantu Ibu kamu sakiti." Sambung Ibu memukul lengan putranya yang duduk di sampingnya menonton berita.


"Adam tidak berbuat apa-apa pada menantu Ibu." Jawab Adam tidak mau di salahkan.


Zahira sendiri sedang mencuci piring, bekas makan malam mereka.


"Entahlah Bu, mirip dengan siapa sifat dingin putra kita ini." Kekeh Ayah.


Zahira sudah selesai dengan kegiatan mencuci piringnya. Ia langsung masuk ke kamarnya untuk menghindari Adam.


"Ayah ibu, Hira ke kamar ya mau lipat-lipat baju." Pamitnya pada kedua mertuanya.


"Iya Nak." Jawab Ayah dan Ibu bersamaan.


"Tuh ngambek istri kamu, sudah sana kamu susul ke kamar." Ucap Ayah menyuruh putranya untuk menyusul sang menantu.


Adam beranjak dari duduknya mengikuti Zahira ke kamar sambil geleng-geleng kepala, ada-ada saja tingkah istrinya.


"Haha.. melihat mereka berdua yang lagi marahan, Ibu jadi ingat dengan kita dulu ya Yah?" Kenang Ibu saat sudah menjadi istri dari Ayah.


"Haha.. iya, Ibu kalau merajuk lama sekali. Mana Ayah tidak boleh tidur di kamar lagi, di suruh tidur di ruang Tv di temani banyak nyamuk-nyamuk." Jawab Ayah tertawa cukup keras membuat ibu langsung mencubit perut Ayah.


"Itu karena Ayah ketahuan ngobrol sama mantan Ayah." Ketus Ibu.


Ayah tidak bisa untuk tidak menghentikan tawanya.


***

__ADS_1


Adam melihat sang istri tengah melipat baju di atas kasur. Ia pun mengunci pintu kamarnya, menghampiri Zahira yang sama sekali tidak melihat ke arahnya.


"Masih marah?" Tanya Adam duduk di depan sang istri.


"Enggak tuh." Jawab Zahira cuek kemudian berjalan memasukkan lipatan baju-baju ke dalam lemari.


Adam juga berdiri kemudian memeluk Zahira dari belakang. Zahira pun kaget dengan aksi spontan suaminya ini. Adam mulai melepas kerudung instan yang di pakai Zahira dengan satu tangannya dan meletakkannya di dalam lemari kemudian menutupnya.


Zahira masih diam saja membiarkan Adam membuka kerudungnya. Tiba-tiba tanpa komando Adam menciumi leher jenjang Zahira. Zahira merasa kegelian, ia pun membalikkan badannya menghadap laki-laki tampan itu.


"Apa sih Mas, geli tahu?" Protes Zahira sambil mendorong dada Adam agar menyingkir dari hadapannya tapi sayangnya suaminya itu tidak mau menghindar.


"Dosa suami di cuekin." Balas Adam lalu merapatkan tubuh ramping Zahira agar menempel padanya. Zahira sendiri langsung siaga dengan menahan dada Adam.


"Duh.. Mas Adam kenapa jadi begini sih?" Batin Zahira mulai was-was.


"Salah Mas sendiri di tanya ada masalah apa, kenapa marah-marah? Malah diam aja." Ketus Zahira mencoba untuk lepas dari pelukan Adam.


"Apa kamu sudah membuka ponsel kamu?" Tanya Adam, Zahira hanya menggelengkan kepalanya.


"Jadi karena hal itu Mas marah? Apa Mas juga cemburu dengan Kak Haikal?" Tanya Zahira memastikan yang sebenarnya.


"Ya, Mas memang cemburu, dari dulu Mas sudah cemburu melihat kedekatan dan kebersamaan kamu dengan Haikal." Jawab Adam berterus terang.


Zahira melongo mendengar jawaban Adam, apa katanya tadi dari dulu sudah cemburu dengan Haikal.


"Hah.. berarti sudah dari dulu dong Mas suka sama aku?" Tunjuk Zahira pada dirinya sendiri.


"Ya." Adam mengangguk. "Makanya, kenapa Mas selalu bersikap dingin dan menatap kamu datar, karena Mas kira kamu suka sama Haikal dan menanti kedatangannya agar bisa kembali kepada kamu." Jelas Adam.


"Haha.. sayangnya cemburunya Mas itu tidak pernah terjadi, tapi aku suka." Zahira sangat senang lalu memeluk erat tubuh Adam.


Adam juga membalas pelukan Zahira sambil menciumi rambut Zahira penuh sayang.


"Aku mencintaimu Zahira.. dari dulu sampai sekarang. Jangan pernah tinggalkan Mas ya." Ucap Adam dengan perasaan leganya karena sudah mengungkapkan isi hatinya yang selama ini ia pendam.

__ADS_1


"Aku juga mencintai Mas Adam.. dan aku sama sekali tidak pernah suka dengan siapapun selain Mas Adam." Balas Zahira jujur.


Akhirnya Adam mengucapkan perasaan cintanya juga pada Zahira.


Adam melepas pelukannya, menangkup kedua pipi Zahira dengan senyum menawannya membuat Zahira seolah terhipnotis. Sedetik kemudian Adam mencium bibir Zahira, ciuman lembut yang sangat mesra. Zahira sendiri tidak tahu harus apa, karena jujur saja ini adalah pengalaman pertama baginya dan juga bagi Adam tentunya.


Adam belum melepas *agutannya, sedikit demi sedikit menggiring Zahira menuju kasur. Zahira sendiri sudah terbuai oleh ciuman lembut dari sang suami meski sedikit kaku untuk membalas, tapi tetap berusaha untuk mengimbangi nya.


"Maaf, Mas sudah tidak bisa menahannya. Apakah boleh?" Adam berada di atas tubuh Zahira setelah *agutan itu terlepas dan memberi kesempatan Zahira untuk bernafas. Sebelum melakukannya ia bertanya dulu.


"Zahira sudah siap Mas.. lakukanlah!" Jawab Zahira malu-malu seraya menatap dalam kedua mata Adam.


Dengan senang hati Adam langsung men*amah tubuh Zahira dengan penuh kelembutan. Mereka berdua terhanyut dalam kehangatan tubuh masing-masing. Merasakan sensasi yang begitu mendalam di setiap rasa yang baru pertama kali mereka rasakan. Juga ibadah yang menjadikan pahala bagi mereka yang sudah halal di mata agama. Dan berharap dengan hadirnya seorang penerus yang bersemayam di dalam perut sang istri.


"Terima kasih dan maaf jika kamu kesakitan tadi." Ucap Adam setelah per*ulatan mereka selesai.


Zahira hanya mengangguk tanda mengiyakan sambil menelusupkan wajahnya pada dada sang suami. Adam menutupi tubuh *olos mereka dengan selimut.


"Kenapa?" Tanya Adam terkekeh dengan tangan kiri yang melingkar di pinggang Zahira.


Zahira mendongak melihat wajah tampan suaminya. Adam merapikan rambut lengket Zahira yang sebagian menutupi wajah istrinya itu.


"Nggak, cuma malu aja." Jawab Zahira dengan pipi yang bersemu merah.


"Mas sangat berterima kasih pada kedua orang tua kita, akhirnya kamu menjadi pasangan halal bagi Mas. Dan jamu juga pandai menjaga hatimu biar tidak di miliki orang lain." Ucap Adam lalu mengecup bibir itu sekilas.


Zahira tersenyum manis dan mencium pipi kiri Adam.


"Aku juga berterima kasih pada Mas, karena sudah menjadikan aku wanita satu-satunya yang ada di hati ini." Tunjuk Zahira di dada Adam.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2