
Sudah tiga minggu bayi Zahira masih dirawat di rumah sakit. Selama itu juga Zahira tidak ada bosan-bosannya untuk menjenguk putra mungilnya itu sembari mengantarkan ASI. Meski harus bolak-balik ke rumah sakit tapi Zahira tidak pernah mengeluh demi melihat perkembangan sang buah hati.
Dan hari ini adalah hari selasa, di mana sang buah hati sudah boleh dibawa pulang. Betapa senangnya hati ibu muda itu mendapat kabar menggembirakan dari pihak rumah sakit jika bayinya sudah bisa dibawa pulang.
"Ayo Mas, kita jemput Adek." Zahira begitu semangat mengajak sang suami ke rumah sakit.
"Iya, sebentar Yank. Mas pakai kaos dulu." Jawab Adam karena baru selesai mandi setelah mencuci kendaraan roda empatnya. Adam juga harus libur kerja satu hari ini demi membawa pulang malaikat kecilnya itu.
"Kamu sih Mas, mandinya lama. Pasti Adek udah nunggu kita." Omel Zahira yang duduk di tepi ranjang sambil melipat kedua tangan.
Adam menghela napasnya. Cerewet sekali istrinya ini, tapi Adam hanya mampu berucap dalam hati. Tidak mungkin mengucapkan secara langsung karena ia takut sang istri akan semakin marah jika dikatai 'cerewet' berlebihan.
"Sabar Sayang, lagian juga dokternya pasti belum datang." Ucap Adam enteng sambil memakai parfum.
"Ya udah, aku tunggu Mas di luar." Zahira meninggalkan laki-laki tampan itu yang masih belum selesai juga.
"Bu, ibu!!" Zahira mengetuk pintu kamar sang mertua dengan tidak sabarnya.
"Iya Nak, ada apa?" Tanya Ibu heran.
Zahira langsung memeluk tubuh wanita paruh baya itu dengan perasaan bahagia.
"Ibu.. Arvind pulang hari ini." Jawab Zahira antusias setelah melepaskan pelukan dari tubuh Ibu.
"Benarkah!! Alhamdulillah Ya Allah.. cucu hamba akhirnya bisa pulang juga." Ucap ibu sambil menadahkan kedua tangannya ke atas lalu disapuhkan ke wajah.
"Iya Bu, saat ini aku sama Mas Adam mau ke rumah sakit jemput bayiku." Jelas Zahira.
"Ibu ikut ya Nak. Bentar Ibu siap-siap dulu." Ibu masuk ke kamar untuk berganti baju, wanita paruh baya itu juga tidak mau ketinggalan.
"Ayo Yank." Ajak Adam.
"Bentar Mas, nunggu Ibu dulu. Ibu juga mau ikut." Jawab Zahira.
"Tadi aja suruh Mas cepat-cepat." Ucap Adam sambil melangkah ke depan diikuti Zahira di belakangnya.
"Iya, maaf.. aku udah buat Mas jadi buru-buru." Sesal Zahira.
Adam membukakan pintu untuk Zahira masuk ke dalam mobil. Dan tak lama ibu juga masuk ke dalam mobil dengan duduk di kursi belakang.
"Mas, kita ajak Emak sekalian." Ujar Zahira.
Adam hanya mengangguk lalu membelokkan mobilnya ke rumah mertuanya. Zahira turun dari mobil untuk memanggil ibunya yang kebetulan sedang menjemur pakaian di halaman samping.
Begitu melihat anaknya turun dari mobil, ibu menghentikan kegiatannya lalu menghampiri putrinya itu.
"Kamu mau ke rumah sakit lagi ya Nduk nengok anakmu?" Tanya Ibu Zahira.
__ADS_1
"Bukan Mak, tapi menjemputnya. Arvind sudah boleh dibawa pulang." Jawab Zahira sambil tersenyum.
"Alhamdulillah.. do'a Emak akhirnya terkabul juga Nduk!" Ucap ibu, yang setiap hari tidak pernah absen untuk selalu mendo'akan kesehatan cucu pertamanya itu di setiap sholatnya.
"Iya, Emak ikut kami ke rumah sakit ya." Pinta Zahira.
"Iya Nduk, Emak tak ganti baju dulu." Ucapnya bergegas masuk ke dalam agar sang menantu tidak menunggu lama. Lima menit kemudian ibu Zahira sudah keluar dan mengunci rumahnya lalu masuk ke mobil.
Di dalam mobil kedua nenek itu bercerita panjang lebar mengenai kondisi sang cucu yang berangsur membaik selama hampir satu bulan berada di inkubator. Mereka tak henti-hentinya meluapkan rasa suka citanya untuk bisa segera menggendong sang cucu.
Sekitar dua puluh menit mereka sudah sampai di rumah sakit. Zahira langsung keluar begitu saja meninggalkan Adam dan dua ibunya karena sudah tak sabar untuk bisa memeluk anaknya.
Adam di belakangnya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sang istri yang melupakan dirinya dan juga ibunya. Begitu sampai di ruangan bayi, sudah ada suster dan Dokter yang menunggu kedatangan ibu muda itu.
"Selamat pagi ibu Zahira." Sapa dokter Indra.
"Selamat pagi juga dokter." Jawab Zahira tersenyum ramah.
Suster menyerahkan baby Arvind ke tangan Zahira. Dengan perasaan campur aduk Zahira menggendong anaknya lalu ia cium lembut pipi yang masih terlihat merah itu.
"Assalamu'alaikum Sayang.. akhirnya Mama bisa peluk kamu juga Nak." Zahira mengajak anaknya berbicara dan Baby Arvind hanya menggeliat pelan saat digendongan Mamanya.
Adam merangkul bahu istrinya dari samping setelah berjabat tangan dengan Dokter Indra. Lalu Zahira menatap Adam sembari menunjukkan bayinya. Adam mencium pipi anaknya. Sementara kedua Uti harus menunggu di luar ruangan.
"Bu Zahira, bayi anda sudah bisa anda bawa pulang sekarang. Putra anda semakin sehat dan kondisinya juga bagus. Dan saya sarankan untuk periksa rutin setiap satu bulan sekali ya Bu, untuk mengetahui perkembangannya." Terang Dokter Indra.
"Dan satu lagi, usahakan untuk tetap memberi ASI eksklusif. Dua jam sekali anda harus beri ASI pada bayi anda agar asupan gizinya cukup. Ingat ya dua jam sekali beri dia Asi." Tekan Dokter Indra.
"Tentu Dok." Jawab Zahira sambil mengangguk.
Kini Dokter Indra beralih kepada Adam.
"Jaga baik-baik anak kalian." Ucapnya sambil menepuk bahu Adam.
Adam tersenyum sambil mengangguk. "Pasti Dok, saya ucapkan terima kasih banyak untuk kerja kerasnya selama merawat bayi kami." Ucap Adam.
"Sama-sama. Itu juga sudah tugas kami, Pak." Jawab Dokter Indra.
Adam dan Zahira keluar dari ruangan setelah berpamitan pada sang Dokter.
"Yank, kamu tunggu Mas di lobby ya. Mas mau urus administrasinya dulu." Ucap Adam.
"Iya Mas." Jawab Zahira lalu mendekat ke arah dua ibunya.
"MasyaAllah cucu Uti.." Ibu langsung mencium dahi cucunya.
"Sini Nak, biar Emak yang gendong." Zahira memberikan bayinya pada sang ibu.
__ADS_1
Mereka berjalan menuju lobby untuk menunggu Adam. Tak lama Adam sudah selesai mengurus biaya perawatan sang anak.
"Ayo kita pulang." Ajak Adam sambil merangkul bahu Zahira.
Zahira tersenyum lalu menyingkirkan tangan Adam di pundaknya dan berganti ia yang menggandeng lengan suaminya. Mereka berjalan di belakang kedua Uti.
*
Sampai di rumah, Ibu Zahira langsung membawa cucunya ke kamar Adam dan menidurkan bayi mungil itu di atas kasur.
"Nduk, beri ASI gih anakmu ini." Suruh ibu.
"Bentar Mak, Hira cuci tangan dulu." Zahira masuk ke kamar mandi mencuci tangan dan kakinya.
Setelah itu Zahira duduk di tepi ranjang sambil mengambil bantal lalu diletakkan di pahanya agar mudah memberi ASI pada anaknya. Namun baby Arvind sepertinya kesusahan untuk meminum sumber kehidupannya itu.
"Kok nggak mau ya Mak?" Tanya Zahira.
"Coba sekali lagi, pelan-pelan saja." Jawab sang Ibu.
"Tetap nggak mau Mak?" Keluh Zahira namun masih berusaha mendekatkan ke mulut baby Arvind.
"Ada apa Yank?" Adam yang baru masuk kamar bertanya, kemudian duduk di samping istrinya.
"Ini Mas. Anakmu nggak mau minum ASI aku." Jawab Zahira sendu. Ia takut jika baby Arvind tidak bisa meminumnya secara langsung.
Adam menghela napasnya sejenak. "Anak Papa kenapa nggak mau minum? Ayo minum Sayang biar kamu semakin sehat." Adam mengusap-usap lembut pipi baby Arvind.
"Itu lumrah Nduk, selama ini kan minumnya bukan dari kamu langsung. Makanya Arvind kesulitan melekatkan mulutnya. Ayo jangan patah semangat gitu, kasihan anakmu pasti sudah kelaparan." Ujar Ibu.
Dan pada akhirnya Zahira berhasil memberi minum baby Arvind dan ibu muda itu merasa lega meski rada-rada aneh rasanya karena baru pertama kali.
"Anak Mama.." Ucap Zahira sembari mengelus ringan dahi putranya yang begitu lembut itu. Baby Arvind kuat sekali nyedotnya membuat Adam tersenyum senang.
Ibu Zahira keluar kamar begitu saja tanpa pamit, karena tidak ingin mengganggu kebersamaan mereka bertiga.
"Mas kamu nggak mau belikan adek box bayi?" Tanya Zahira memandang wajah suaminya.
"Besok saja ya Yank, untuk sementara biar Arvind tidur di tengah-tengah kita." Jawab Adam.
Entahlah kenapa ia bisa lupa untuk membelikan tempat tidur anaknya itu karena Adam hanya fokus pada kesehatan Arvind saja sampai-sampai tidak terpikirkan untuk membeli box bayi.
"Ya udah terserah kamu deh Mas." Ucap Zahira.
.
Bersambung...
__ADS_1
.