
"Aku mohon kalian jangan berkelahi.." Pinta Zahira dengan suara sedih memandang keduanya.
"Mas.. tolong lepaskan tanganmu?" Ucap Zahira lagi mencoba mengurai tangan Adam di kerah baju Haikal.
Zahira benar-benar ketakutan jika mereka berdua sampai berkelahi dan akan di dengar oleh tetangga dekat. Zahira tidak mau masalah ini akan menjadi ajang gosip di kampung ini yang pastinya akan membuat malu seluruh keluarga, baik keluarganya maupun keluarga Adam sendiri.
Dengan terpaksa Adam melepaskan cengkraman tangannya dari baju Haikal. Dia juga mulai mengatur nafasnya untuk meredakan emosi yang menyala. Jika bukan karena Zahira yang memohon tentu sudah pasti Haikal akan ia seret ke luar rumah lalu ia hadiahi pukulan di wajahnya. Tapi Adam masih bisa berpikir dengan jernih tidak mungkin juga dia memukul Haikal yang tentunya akan mengundang tanda tanya di kedua orang tua Haikal.
"Sekarang pergilah dari rumah ini. Dan jangan pernah menganggu Zahira lagi karena istriku Zahira sudah memberi jawabannya!" Tekan Adam pada Haikal.
Haikal memandang lekat Zahira namun Zahira langsung memalingkan muka tidak mau melihat Haikal.
"Ra..." Panggil Haikal.
"Pergilah Kak.. carilah wanita lain yang pantas untuk diri Kakak. Jangan mengganggu rumah tanggaku yang baru saja di mulai? Karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah memilih Kak Haikal, bagiku semua hidupku sudah aku berikan pada suamiku yaitu Mas Adam." Ucap Zahira lirih.
Haikal menunduk lesu hancur sudah impiannya untuk memiliki Zahira gadis yang selalu bersamanya sewaktu sekolah dulu. Kini ia hanya bisa pasrah menerima keputusan Zahira.
Haikal menghela nafas dalam-dalam. "Baiklah Kakak akan pergi tapi jika kamu sampai di sakiti oleh dia, kamu jangan sungkan-sungkan untuk mengabari Kakak, karna Kakak akan selalu ada untukmu." Putus Haikal pada akhirnya.
"Itu tidak akan pernah terjadi karena aku akan selalu membahagiakan-nya." Ucap Adam dengan tegas sembari memeluk bahu Zahira.
Haikal hanya berdecih. "Kakak pergi, maaf sudah membuatmu sedih, Assalamu'alaikum." Ucap Haikal meninggalkan rumah Zahira dengan rasa kekecewaan.
"Wa'alaikumsalam." Lirih Zahira, dia begitu sedih dengan kenyataan yang ada.
Zahira menangis di pelukan Adam. Menelusupkan wajahnya di dada Adam dengan mencekeram erat kaos yang Adam pakai, hatinya sakit melihat Haikal seperti itu karena bagaimana pun juga dulu Haikal selalu ada untuknya susah senang mereka selalu lewati bersama.
"Sudah jangan menangis lagi, Mas tidak suka kamu menangisi dia." Ucap Adam mangelus punggung Zahira.
"M-maaf." Jawab Zahira di sela isak tangisnya.
***
Haikal memasuki kamarnya dengan langkah gontai. Ia duduk di lantai dengan bersandar di sisi ranjang. Ingin rasanya berteriak sekeras mungkin merasakan sesak di hatinya yang kian menjalar. Zahira selama ini tidak pernah menoleh ke arah dirinya sungguh miris sekali nasib cintanya yang hanya bertepuk sebelah tangan.
"Bodoh kamu Haikal.. kenapa dulu kamu harus meninggalkan-nya. Andai kamu tidak ikut orang tuamu mungkin kamu bisa memikat hatinya agar tertambat padamu. Sekarang lihat.. dia sudah bahagia dengan sahabat lamamu, dia juga enggan untuk menatap lama dirimu.." Lirih Haikal berkata seorang diri.
"Apa aku bisa untuk melupakan kamu Ra.. rasanya sangat berat untukku. Kenapa Tuhan harus memberikan kamu kepada Adam, rasanya aku tidak bisa menerimanya..." Haikal menundukkan kepalanya.
Di pandanginya foto lama antara dirinya dan Zahira ketika mereka masing-masing masih memakai seragam sekolah, dimana Haikal mengajak Zahira pergi ke sebuah turnamen futsal antara sekolahnya melawan sekolah sebelah. Haikal menjemput Zahira di sekolah lalu mereka menuju tempat turnamen tersebut yang diadakan, itulah kebersamaan terakhir mereka ketika Haikal akan pergi ke Pulau Sumatra bersama orang tuanya. Kini hanya penyesalan yang ia dapat.
__ADS_1
***
"Mas sholat di Masjid dulu ya.. kamu tidak apa-apa kan jika Mas tinggal?" Tanya Adam menghampiri Zahira yang lagi melepas kerudungnya untuk ambil wudhu karena sudah mau waktu sholat maghrib.
Zahira mengangguk. "Jangan khawatir Mas, aku sudah tidak apa-apa kok." Jawab Zahira meyakinkan Adam.
Adam tersenyum. "Mas tidak akan pulang karena sekalian sholat isya juga, kalau kamu udah lapar jangan nunggu Mas ya?" Kata Adam.
"Nggak, aku nunggu Mas Adam aja makan malamnya." Putus Zahira.
"Ya sudah jika kamu memaksa, Mas ke Masjid dulu." Pamit Adam lalu mulai melangkah ke luar untuk pergi ke Masjid.
Zahira sudah selesai dengan sholatnya, dia juga berdo'a kepada sang maha kuasa untuk menjaga keutuhan rumah tangganya bersama Adam, dijauhkan dari segala godaan syetan dalam menjalani ibadah terpanjang ini, juga memohon semoga Haikal segera melupakan dirinya dan segera mendapatkan penggantinya.
Di meja makan Zahira sedang menata hidangan yang tadi ia masak kemudian memanggil kedua mertuanya jika makan malamnya sudah siap.
"Ayah dan Ibu silahkan makan duluan. Aku nanti saja, mau nunggu Mas Adam." Ucap Zahira memberitahu kedua mertuanya.
"Iya sayang, Ayah dan Ibu akan makan berdua saja kalau begitu." Ucap Ibu kemudian mengambilkan makanan untuk Ayah.
"Segini cukup kan Yah?" Tanya Ibu menuangkan nasi dan lauk pauk.
"Cukup kok Bu." Jawab Ayah.
Sembari menunggu Adam pulang, Zahira mengecek ponselnya mungkin ada chat yang masuk dari sang sahabat yaitu Risma atau Dini dan ternyata ada sebuah chat masuk yaitu dari Dini.
📩Dini
"Assalamu'alaikum bestie😍😍." Setelah Zahira buka kebetulan Dini juga sedang online.
📩Me
"Wa'alaikumsalam bestie aku😛😛". Balas Zahira.
📩Dini
"*Kangen nih aku, udah lama ngg*ak jumpa sama kamu😂."
📩Me
"Sama aku juga😊."
__ADS_1
📩Dini
"Gimana kalau besok aku dan Eko main ke rumah kamu, kita bisa kangen-kangenan sepuasnya."
📩Me
"Boleh juga tuh, aku tunggu ya🤗."
📩Dini
"Ok deh.. sampai jumpa besok Miss U😚."
📩Me
"Miss U too💖💖." Zahira mengakhiri chatingannya.
"Chatingan sama siapa Yank.. serius sekali sampai suami pulang kamu nggak sadar" Ucap Adam duduk di samping Zahira membuat Zahira kaget.
"Eh, kamu udah pulang Mas. Maaf nggak tahu, ini aku lagi chatingan sama Dini katanya besok dia mau kemari." Jawab Zahira menunjukkan isi chatnya pada Adam. Adam hanya mengangguk.
"Ya sudah, ayo kita makan Mas udah lapar." Ajak Adam menggandeng tangan Zahira menuju meja makan.
"Mas mau pakai lauk apa?" Tanya Zahira mengambilkan makanan untuk Adam.
"Pakai bakwan jagung aja Yank sama ikan asin." Jawab Adam.
Zahira mengangguk lalu meletakkan sepiring nasi berisi bakwan jagung, ikan asin dan sayur sop di depan suaminya. Mereka kini menyantap makan malamnya. Setelah selesai mereka langsung menuju kamar.
Adam merebahkan tubuh kekarnya di kasur setelah dia menggosok giginya terlebih dahulu, sedangkan Zahira dia melaksanakan sholat Isya.
"Baru juga jam segini Mas, masa udah mau tidur." Ucap Zahira setelah selesai sholat.
"Bukan mau tidur, tapi Mas minta bantuan kamu. Tolong pijat badan Mas!" Ucap Adam dengan posisi tengkurap.
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1
Like, vote dan hadiah jangan lupa ya..