Tiba - Tiba Dijodohkan

Tiba - Tiba Dijodohkan
Kesal


__ADS_3

Adzan subuh berkumandang bersaut-sautan dari Masjid dan Musholla setempat. Sedangkan dua insan yang masih terlelap dalam tidurnya tidak terusik sama sekali dengan seruan dari sang muadzin. Begitu nyaman bagi sang wanita yang sudah berstatus sebagai istri itu tidur dalam dekapan hangat suaminya.


Perlahan-lahan mata sang laki-laki mulai terbuka ketika mendengar suara iqomah dari Masjid. Ia merasa ada sebuah tangan mungil yang melingkar di perutnya, juga merasakan beban di atas dada bidangnya. Setelah sadar sepenuhnya, baru ia ingat jika yang memeluk posesif dirinya adalah gadis yang baru saja telah sah menjadi istrinya.


"Kenapa tidurmu seperti anak kecil yang begitu takut bila di tinggal ibunya pergi." Gumam Adam, tersenyum simpul memperhatikan cara tidur sang istri yang memeluk erat tubuhnya.


Tangannya juga merapikan rambut Zahira yang terlihat berantakan.


"Zahira bangun sudah subuh." Adam berbisik di telinga perempuan itu.


Zahira masih belum bangun malah semakin erat memeluk Adam seolah Adam adalah sebuah guling yang ia dekap.


"Zahira.. ayo bangun biar tidak kesiangan kita sholat subuhnya." Bisik Adam sekali lagi sambil menepuk ringan punggung sang istri.


"Mak.. Hira masih ngantuk." Sahut Zahira dengan sedikit rengekan.


Zahira mengira yang membangunkan dirinya adalah sang ibu. Tapi ada sesuatu yang aneh baginya kenapa guling yang ia dekap terasa berbeda? Ia pun meraba dada bidang Adam yang cukup keras lalu mendongakkan kepalanya melihat wajah Adam yang masih menatap dirinya.


"K-kak Adam." Zahira terkejut.


Seketika Zahira langsung melepaskan diri dari dekapan suaminya.


"B-bagaimana bisa Kakak a-ada di kamarku?" Tanya Zahira gelagapan melihat Adam tidur satu ranjang dengannya. Rupanya Zahira belum ingat jika ia sudah menikah.


Kini Adam mengubah posisinya manjadi duduk dan menghadapkan dirinya ke arah Zahira.


"Memangnya kenapa jika aku tidur bersamamu?" Tanya Adam santai menggoda Zahira.


"Ya Allah Kak.. itu tidak boleh.." Zahira menjadi panik sendiri dengan ucapan Adam, apalagi ia tidak memakai kerudung.


"Kata siapa tidak boleh!" Ucap Adam sambil menyentil kening Zahira agar gadis itu sadar.


"Eh..." Seketika Zahira ingat jika dia dan Adam sudah menikah tanpa menghiraukan rasa sakit di keningnya akibat sentilan Adam barusan.


"Sudah ingat? Jika sudah segeralah ke kamar mandi untuk wudhu. Kita sholat subuh berjamaah." Titah Adam meninggalkan Zahira untuk masuk ke kamar mandi.


"Aduh Zahira... dasar lemot gitu aja lupa." Zahira menepuk keningnya. Bagaimana ia bisa lupa bahwa mereka sekarang suami istri.


Begitu Adam sudah keluar dari kamar mandi, giliran Zahira untuk berwudhu tapi sebelum itu dia buang air kecil terlebih dahulu.

__ADS_1


Adam sudah menggelar dua sajadah sambil menunggu Zahira yang memakai mukenanya. Setelah sudah siap mereka pun sholat berjamaah. Zahira benar-benar bersyukur Adam laki-laki yang taat beragama. Begitu selesai mengucap salam Adam mengulurkan tangannya dan di raih Zahira lalu ia cium tangan suaminya itu.


***


Zahira kini sibuk berkutat di dapur memasak sarapan pagi untuk keluarga barunya. Ia begitu cekatan meski memasak seorang diri. Melihat suaminya yang berjalan ke arahnya. Ia langsung menghentikan aktifitasnya sejenak.


"Mau minum kopi apa teh Mas?" Tanya Zahira saat Adam berdiri di sampingnya.


"Kopi, dua untuk ayah juga. Kalau ibu sukanya teh hangat." Jawab Adam.


"Mas duduk saja di kursi depan, nanti aku antar ke sana." Ucap Zahira.


"Mau aku bantu?" Tawar Adam.


"Nggak usah Mas, aku bisa sendiri." Tolaknya.


"Yakin?"


"Yakin dong." Adam mengangguk lalu melangkah ke teras.


Tidak lama setelah itu Zahira menghidangkan dua kopi, teh hangat untuk ibu mertuanya, tidak lupa pisang goreng yang baru saja matang.


"Menantu ibu rajin sekali pagi-pagi udah buat pisang goreng." Ucap ibu melihat pisang goreng yang masih mengeluarkan asap panas.


"Sini duduk dulu, kita makan sama-sama pisang goreng buatan kamu ini." Perintah ibu agar Zahira duduk bersama mereka.


Zahira menuruti titah ibu mertuanya. Mereka kini menikmati pagi bersama dengan berbincang ringan di teras depan.


"Nanti ajak suamimu pergi ke rumah ibumu ya Nak, kalian harus mengunjungi mereka sebagai pengantin baru." Ucap ibu.


"Iya Bu, nanti Hira dan Mas Adam bakal berkunjung ke sana." Jawabnya.


"Kamu masih cuti dua hari kan Dam?" Tanya Ayah.


"Iya Yah, Adam masih cuti." Jawab Adam mengangguk.


***


"Mas.. Kak Haikal udah tiba di sini lho." Zahira memberitahu Adam yang sedang memainkan ponsel duduk di tepi kasur.

__ADS_1


"Iya aku sudah tahu." Jawab Adam acuh.


"Mas nggak mau gitu ketemu Kak Haikal, aku aja udah rindu banget sama dia pengen nyapa." Ucap Zahira sambil memasang kerudung segi empatnya di depan meja rias sambil duduk.


Sontak Adam meletakkan ponselnya begitu saja di kasur setelah mendengar Zahira sangat merindukan kawan lamanya itu.


"Kamu tadi bilang apa? Rindu dengan Haikal?" Ulang Adam dengan nada dingin. Dia tidak suka jika Zahira merindukan laki-laki lain.


"Iya, aku pengen sekali lihat bagaimana sekarang rupa wajah Kak Haikal." Jawab Zahira sambil terkekeh, dia belum menyadari raut wajah datar suaminya.


Adam tidak menyahuti ucapan Zahira, ia cukup kesal dengan istrinya ini.


"Kok diem?" Tanya Zahira menolehkan kepalanya melihat Adam, setelah selesai memasang kerudung.


"Apa dulu kamu suka dengan Haikal?" Tanya Adam dengan wajah datarnya pada Zahira.


"S-suka tapi sebagai kakak dan adik, kan dulu kita selalu bersama-sama." Zahira bingung melihat raut wajah kesal suaminya.


Adam menghela nafas. "Bukan sebagai kakak dan adik tapi lebih dari itu seperti kamu mencintainya, mungkin?" Masih dengan suara dinginnya Adam bertanya, mengorek tentang masa lalu antara Zahira dan Haikal yang tidak ia ketahui.


Zahira menggeleng cepat sebagai jawaban jika ia dan Haikal tidak ada hubungan apa-apa.


"Aku nggak pernah naruh rasa cinta sama Kak Haikal. Meski dulu kita emang akrab banget tapi pertemanan kita murni cuma sebatas itu aja nggak lebih. Karena waktu itu kan aku belum punya saudara Mas." Jelas Zahira.


"Yakin?" Adam masih belum bisa percaya begitu saja.


Zahira mengangguk. "Mas Adam kenapa sih nggak percaya banget kalau aku dan Kak Haikal nggak ada rasa apa-apa sejak dulu." Zahira mulai kesal lalu membelakangi Adam.


"Ada apa dengannya.. apa Mas Adam cemburu? Ah, Tapi itu nggak mungkin." Batin Zahira bertanya-tanya.


Melihat sang istri yang sedang kesal Adam bangkit dari duduknya berjalan ke arah istrinya itu lalu menepuk pelan kepala Zahira.


"Sudah lupakan saja pertanyaan ku tadi. Bukankah kita mau ke rumah Emak dan Bapak? Mungkin mereka sudah menunggu kita." Kata Adam.


Bukannya minta maaf Adam malah menyuruh Zahira untuk melupakan masalah tadi.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2