
"Karena tadi sore tuh pas Mas Adam pulang kerja. Aku kan nyuruh Mas Adam mampir dulu ke toko kue membeli kue bolu kesukaan Ibu. Eh.. nggak taunya, di sana Mas Adam malah ketemu sama ulet keket. Mana mesra-mesraan lagi mereka." Jelas Zahira sebal.
"Bukan mesra-mesraan Sayang." Ralat Adam.
"Sama aja." Balas Zahira cuek.
"Siapa ulet keket itu? Kenapa Adam sampai mesra-mesraan segala?" Tanya Andi heran.
Adam menghela nafas kemudian minum air putih miliknya yang masih tersisa.
"Citra, cewek yang dari dulu ngejar-ngejar Mas Adam itu lho Kak Andi." Jawab Zahira.
"Hah, Citra! Kamu ketemu lagi sama cewek ganjen itu Dam?" Andi bertanya kepada Adam dengan mata mendelik.
Adam mengangguk. "Iya, bahkan sudah dua kali aku bertemu dengannya." Ucap Adam menoleh ke arah Zahira.
"Terus maksud Zahira yang kalian mesra-mesraan itu gimana?" Ujar Andi yang belum paham juga.
"Dia meluk tubuhku di depan banyak orang." Jelas Adam.
"Wah.. bener-bener gi*a tuh orang. Rupanya nggak jera juga dengan ancamanmu kala itu." Ucap Andi geleng-geleng kepala. Tak habis pikir.
Zahira tiba-tiba menguap, sudah tidak tahan lagi dengan rasa kantuknya sehingga kembali menyandar di pundak Adam. Menghiraukan dua pria yang masih berbincang itu.
"Ya, sepertinya dia menulikan pendengarannya dengan ancamanku." Ujar Adam begitu dingin.
"Lalu apa rencana kamu sekarang? Jika sewaktu-waktu dia bertemu denganmu lagi?" Tanya Andi.
"Entahlah, aku juga bingung. Aku sama sekali tidak mau mengurusi dia, fokusku hanya pada Zahira saja. Aku tidak mau mengurusi yang lain." Jawab Adam.
"Ya elah Dam, istrimu sudah molor duluan. Tuh lihat." Ucap Andi menunjuk Zahira yang tidur dengan mulut sedikit terbuka.
Adam menunduk sedikit melihat sang istri. Ia tersenyum tipis.
"Pasti karena kelelahan." Ucap Adam sambil mengelus lengan Zahira memberi kenyamanan.
"Ya sudah, aku cabut kalau gitu. Kamu bawa masuk Zahira, kasihan di sini banyak nyamuk." Ucap Andi.
"Iya." Jawab Adam singkat sambil mengangguk.
"Assalamu'alaikum." Pamit Andi berlalu.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Adam.
Dengan hati-hati Adam mengangkat tubuh Zahira yang sama sekali tidak terusik saat di gendong.
__ADS_1
"Tambah berat aja kamu Sayang." Gumam Adam dengan bobot tubuh Zahira yang menurutnya sedikit bertambah.
Setelah meletakkan Zahira di ranjang, Adam keluar lagi mengunci pintu utama yang belum ia kunci tadi. Mematikan semua lampu dan kembali ke kamar. Sebelum tidur, Adam mencuci muka dan berkumur terlebih dahulu. Setelah itu merebahkan tubuh tegapnya di samping sang istri.
"Mimpi indah Sayang." Bisiknya sambil mengecup kening Zahira, memeluk tubuh perempuan itu.
*
Jam satu dini hari, Zahira terbangun karena sudah tidak kuat menahan kandung kemihnya yang minta segera dikeluarkan. Ia pun melepas tangan Adam yang berada di pinggangnya dan cepat-cepat masuk ke kamar mandi.
Adam yang merasakan sentuhan di tangannya pun membuka matanya perlahan-lahan. Di lihatnya sang istri tidak tidak ada di sampingnya tapi mendengar suara gemericik air dalam kamar mandi.
Adam sudah tidak bisa tertidur lagi karena teringat jika sang istri belum memenuhi keinginannya yang tadi pagi ia bisikkan di telinga Zahira.
Zahira keluar dari kamar mandi dengan muka segarnya karena ia basuh wajahnya.
"Lho Mas, kamu malah bangun?" Tanya Zahira melihat Adam yang lagi bersandar di kepala ranjang.
"Iya, Mas nunggu kamu Sayang." Jawab Adam tersenyum penuh arti.
"Nungguin, buat apa coba. Ayo tidur lagi." Ucap Zahira sambil menarik selimut.
Tapi sebelum itu Zahira sudah berada dalam kuasa Adam.
***
Adam sendiri sedang berolahraga di halaman depan. Ibu yang bertugas memasak kali ini, karena saat ia keluar dari kamar, Ibu belum mendapati sang menantu di dapur. Padahal biasanya Zahira sesudah sholat subuh sudah begitu sibuk dengan alat masaknya.
Tapi Ibu bukanlah mertua yang cerewet yang mana jika menantunya belum bangun maka sang mertua akan mengomel menyuruh menantunya untuk segera bangun pagi. Justru Ibu ini sebaliknya, Ibu termasuk mertua idaman bagi setiap menantu karena ia juga mengerti di balik belum bangunnya Zahira pasti ada suatu kendala.
"Pasti tadi malam Adam rakus sekali, makanya menantuku belum bangun juga, hihi.." Gumam Ibu terkikik geli membayangkan Adam dan Zahira.
"Ibu lagi menertawakan apa?" Tanya Ayah. Tiba-tiba sudah berdiri di samping Ibu.
"Astaghfirullah!!" Sontak Ibu kaget sambil mengelus dadanya.
"Ayah.. ngagetin Ibu aja." Ibu yang kesal memukul lengan sang suami.
"Dari tadi Ayah sudah manggil Ibu, tapi Ibu malah melamun. Lagi melamunin apa pagi-pagi begini?" Tanya Ayah sambil geleng-geleng kepala.
"Haha.. tidak melamun apa-apa kok Yah." Ucap Ibu menyangkal.
"Ya sudah, tolong buatkan Ayah kopi. Ayah tunggu di teras." Kata Ayah.
"Iya Yah." Jawab Ibu mengangguk patuh.
__ADS_1
***
Jam menunjuk diangka setengah tujuh, tapi Zahira masih belum bangun juga, masih anteng dengan tidurnya. Adam bahkan sudah selesai mandi tinggal memakai pakaian kerjanya saja.
"Yank.. bangun." Ucap Adam lembut menepuk pipi Zahira.
"Nanti ya Mas, malas bangun aku." Suara serak Zahira dengan mata yang masih terpejam bahkan selimut ia eratkan di tubuhnya.
"Jangan gitu, ini sudah jam setengah tujuh Sayang.." Rayu Adam.
"Mas.. tapi aku masih ngantuk.." Zahira merengek seperti anak kecil membuat Adam menghela nafas.
"Iya, tapi bangun dulu ya.. kita sarapan dulu." Bujuk Adam dengan sabar karena ia tahu sang istri begini juga karena ulahnya semalam.
"Enggak, nanti saja." Jawab Zahira malas.
"Atau gini saja, Mas ambilin kamu sarapan. Kita sarapan di kamar, bagaimana?" Tanya Adam.
Zahira tidak menjawab, dengan terpaksa Adam membiarkan Zahira tidur. Ia berjalan ke lemari mengambil pakaian kerjanya sendiri. Setelah dirasa penampilannya sudah rapi, Adam keluar kamar mengambil sarapan buat dirinya dan Zahira.
"Mana istrimu Nak?" Tanya Ibu yang menghidangkan nasi goreng di meja makan.
"Masih tidur Bu." Jawab Adam singkat.
Ibu tersenyum penuh arti. "Kamu bangunin dong. Nggak kasihan apa kamu, ini kan waktunya sarapan." Ucap Ibu.
"Iya Bu, ini Adam ambil sarapan juga untuk Zahira. Kami makannya di kamar." Jawab Adam menuangkan dua porsi nasi goreng ke dalam piring beserta air putihnya juga.
"Aduh anakku.. ternyata gagah sekali ya, sampai-sampai istrinya dibuat tak berdaya." Kekeh Ibu melihat Adam sudah berlalu.
"Yank.. ayo bangun, ini nasi gorengnya sudah Mas siapkan." Adam meletakkan nampan di atas meja.
Terpaksa Zahira harus bangun meski ia enggan meninggalkan kasur empuknya. Zahira pun menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.
"Mas.. aku minta teh hangat dong." Pinta Zahira dengan wajah memelas.
"Teh hangat?" Beo Adam.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1