Tiba - Tiba Dijodohkan

Tiba - Tiba Dijodohkan
Jangan ada yang tahu


__ADS_3

"Mereka ada di kamar San." Jawab Ibu Zahira.


"Ya Allah anakku.. nggak di rumah, nggak di sini selalu saja ngajak istrinya ngamar terus." Ibu hanya bisa berucap dalam hati.


"Panggil saja mereka, masa ada orang tuanya mereka tidak keluar." Sahut Bapak menyuruh istrinya memanggil Adam dan Zahira.


Bagi Bapak sangat tidak sopan, ada kedua mertuanya. Zahira tidak kunjung keluar dari kamarnya. Apa mereka tidak mendengar?


"Iya Pak." Jawab ibu.


Tok.. Tok.. Tok..


Ibu Zahira mengetuk pintu kamar anak perempuannya.


"Nduk.." Panggilnya.


"Mas, itu ada suara Emak yang manggil." Ucap Zahira sambil menyingkirkan wajah Adam yang berada di ceruk lehernya.


"Mana.. Mas nggak dengar tuh." Jawab Adam seolah-olah menulikan pendengarannya.


Tok.. Tok.. Tok..


Ibu Zahira mengetuk pintu lagi.


"Nduk.. kamu dengar suara Emak kan, di luar ada kedua mertuamu. Kamu cepat keluar ya." Panggil Ibu sekali lagi karena tidak mendapat sahutan dari dalam.


"I-iya Mak.." Sahut Zahira kemudian, setelah mendengar suara sang Ibu lagi.


Ibu Zahira langsung menyingkir dari balik pintu sang putri lalu bergabung dengan kedua Besannya lagi.


"Mana Mak mereka berdua?" Tanya Bapak, melihat sang istri yang hanya kembali seorang diri tanpa adanya anak dan menantu tampannya.


"Masih di kamar Pak, bentar lagi juga akan keluar." Jawab Ibu.


Ayah dan Ibu Adam saling pandang lalu mereka sama-sama mengulum senyum. Sudah mereka duga jika putra mereka pasti sedang mesra-mesraan di dalam sana.


"Mas.. sudah, berhenti bermainnya. Di luar ada Ayah dan Ibu tuh." Ujar Zahira sedikit kesal.


"Iya-iya." Adam terpaksa menjauhkan wajahnya dari leher sang istri, meskipun belum puas tapi ia harus keluar untuk menjumpai Ayah dan Ibunya.


Zahira turun dari ranjang lalu merapikan baju bagian atas. Ia bercermin dulu untuk melihat penampilannya. Perempuan itu menghela nafas, melihat banyak sekali tanda yang berada di sekitar leher hingga ke batas dada.


"Ayo keluar, kenapa bengong di depan cermin seperti itu." Ujar Adam.


" Eh, iya Mas, bentar aku pakai kerudung dulu." Buru-buru Zahira memakai penutup kepalanya. Mereka pun keluar kamar dan bergabung dengan para orangtua.


"Nah, itu mereka." Ucap Ibu Zahira melihat Adam dan Zahira sudah mendekat ke arah mereka lalu duduk di kursi.


"Lama amat kalian di kamar." Sindir sang Ibu.


Zahira tersenyum kaku sekaligus menahan malu. "Iya maaf Bu." Hanya tiga kata itu yang keluar dari bibirnya.

__ADS_1


"Ayah dan Ibu sudah lama di sini?" Tanya Adam yang sama sekali tidak mempan dengan sindiran ibu.


"Sudah dua puluh menit yang lalu Nak." Jawab Ayah.


"Tumben kalian datang kemari?" Tanya Adam lagi.


"Kami juga mau menyambangi Besan, sudah lama juga Ayah dan Ibumu ini tidak kemari." Jawab Ayah.


Bapak Zahira tersenyum. "Iya San, kami pun memaklumi." Sahut Bapak.


Bapak Zahira cukup mengerti dengan kesibukan Ayah Adam yang berprofesi sebagai guru. Apalagi setelah pulang mengajar, sorenya Ayah Adam akan pergi ke sawah juga. Jadi Bapak dan Ibu Zahira lah yang sering mengunjungi Besannya itu di kediamannya.


Mereka pun berbincang-bincang cukup lama diselingi dengan canda tawa juga hingga akhirnya Ayah dan Ibu Adam memutuskan untuk pulang.


"Yah.. Kita pulang yuk." Ajak Ibu kepada Ayah saat melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul setengah sembilan lebih.


Ayah menoleh ke arah sang istri kemudian mengangguk.


"Maaf ya San, sepertinya kita harus pulang." Ujar Ayah.


"Baru juga jam segini San, kalian sudah mau pulang saja." Sahut Bapak. Sepertinya Bapak belum puas mengobrol banyak dengan Ayah Adam.


"Kapan-kapan kita sambung lagi." Jawab Ayah sambil terkekeh menepuk bahu sang besan.


"Ibu dan Ayah pamit pulang ya Nak." Ucapnya kepada Zahira.


"Iya Bu." Jawab Zahira menyalimi kedua mertuanya.


Dert.. dert.. dert


Ponsel Adam bergetar di atas meja, sepertinya ada panggilan masuk. Zahira yang mendengar deringan dari ponsel sang suami langsung melihatnya, siapa malam-malam gini yang menelfon. Sementara Adam sendiri berada di kamar mandi.


"Kak Andi." Gumam Zahira, melihat nama Andi yang ternyata menelpon sang suami.


Zahira pun mengangkatnya meski sang pemilik ponsel tidak ada di tempat.


"Halo, Assalamu'alaikum." Ucap Zahira.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Andi diujung sana.


"Ada apa Kak Andi?" Tanya Zahira langsung.


"Oh, tidak ada apa-apa kok Ra.. Adam mana ya?" Tanya Andi yang sebenarnya ada sesuatu yang mau ia bicarakan sama Adam.


"Mas Adam lagi di kamar mandi Kak." Jawab Zahira.


"Masih lama?" Tanya Andi lagi.


"Sebentar lagi juga akan balik." Jawab Zahira lalu terdengar suara pintu terbuka dari luar.


"Nah, ini Mas Adam." Ucap Zahira setelah Adam mendekat ke arahnya.

__ADS_1


"Kamu nelpon siapa Yank?" Tanya Adam karena Zahira memakai ponselnya.


Zahira pun mengulurkan ponsel itu kepada Adam.


"Ini, Kak Andi nelpon kamu Mas." Jawab Zahira.


Adam mendekatkan ponsel ke telinganya.


"Halo Ndi, ada apa?" Tanya Adam.


"Dam, besok kita berangkatnya berboncengan aja ya." Sahut Andi membuat Adam menaikkan sebelah alisnya lalu duduk di tepian kasur.


"Motor kamu kenapa?" Tanya Adam lagi. Tumben-tumbenan sahabatnya ini minta berboncengan segala biasanya juga selalu sendiri-sendiri naik motornya.


"Motorku sih nggak kenapa-kenapa, hanya saja aku ingin membantumu biar si keong racun itu tidak minta lagi untuk nebeng di motormu." Jelas Andi yang begitu mengerti dengan siasat Citra kemarin.


Jika dirinya dan Adam berboncengan maka Citra tidak akan bisa memaksa Adam untuk mengantarkan pulang.


Adam mengangguk paham. "Bagus juga idemu, aku setuju. Lalu pakai motor siapa? motorku atau motor kamu?" Tanya Adam.


"Pakai motorku saja. Jangan pakai motormu nanti malah menjadi kesempatan lagi buat si keong racun itu." Jawab Andi.


Andi masih menyebut nama Citra dengan sebutan keong racun. Dia sangat kesal sehingga julukan itu sangat pas bagi gadis seperti Citra.


"Bailklah, tapi besok jemput aku di rumah mertuaku. Karena saat ini aku menginap di rumah mereka." Ujar Adam.


"Beres.." Ucap Andi singkat.


"Oh ya, satu lagi. Jangan sampai ada yang tahu jika dia bekerja satu ruangan sama kita." Tekan Adam.


Adam ingin agar Andi merahasiakan hal ini dari siapapun termasuk Zahira juga, karena Adam tidak ingin Zahira sampai tahu dan menjadi beban pikiran bagi sang istri sehingga nanti bisa mengakibatkan Zahira menjadi stres jika sampai mengetahuinya.


"Aman kalau masalah itu. Aku akan merahasiakan ini." Jawab Andi dengan pasti.


"Terimakasih banyak." Ucap Adam merasa lega.


"Sama-sama Bro. Sudah dulu, aku mau tidur sampai jumpa besok." Klik.. Andi mengakhiri sambungannya.


"Siapa yang bekerja satu ruangan, Mas?" Tanya Zahira dengan tiba-tiba.


Deg..


Adam menoleh ke belakang ternyata sang istri sedari tadi belum tidur. Semoga saja Zahira tidak mendengar sepenuhnya percakapannya dengan Andi di telpon tadi.


"Kenapa belum tidur?" Adam balik bertanya kepada Zahira.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2