
"Siapa yang nelfon Mas?" Tanya Zahira mendekati Adam.
"Kenapa kamu nyimpan nomor kontak Haikal?" Tanya Adam dengan sorot mata tajam. Adam juga mematikan panggilan tersebut tanpa menjawabnya.
"Ya nggak apa-apa lah cuma Kak Haikal, eh.. kenapa di matikan sih." Zahira mengambil ponselnya dari tangan Adam.
"Zahira.. sudah Mas katakan jangan berhubungan dengan laki-laki lain selain Mas dan keluarga kamu!" Ucap Adam dengan nada tegasnya.
"Kamu ini kenapa sih Mas, ini kan Kak Haikal bukan orang lain. Kamu juga mengenalnya, bahkan dia sahabat kamu sendiri." Zahira merasa aneh dengan suaminya, cemburu sih boleh tapi jangan seperti juga kali? pikir Zahira.
Sedang di sisi lain Haikal bingung kenapa panggilannya di matikan, Haikal mencoba kembali menelfon Zahira.
Dert.. dert.. dert..
Ponsel Zahira kembali berdering dan ternyata dari Haikal lagi yang menelfon. Zahira pun mengangkat panggilan itu tanpa memperdulikan Adam yang sedang menahan amarahnya.
"Hallo, Assalamu'alaikum Kak Haikal." Sapa Zahira di balik ponsel.
"Wa'alaikumsalam Zahira." Jawab Haikal sangat senang, akhirnya Zahira mengangkat telfonnya juga.
"Ada apa ya Kak?" Tanya Zahira.
"Apa besok kita bisa bertemu? Ada sesuatu yang ingin Kakak bicarakan sama kamu dan ini sangat penting, Ra." Jawab Haikal di seberang sana.
Zahira melihat suaminya yang masih menatapnya dengan wajah datar.
"Cuma berdua aja Kak?" Tanya Zahira memastikan.
"Iya. Kakak harap kamu bisa datang ya." Ucap Haikal.
"Maaf ya Kak.. aku nggak bisa, karena Mas Adam lagi sakit saat ini. Dan kalau untuk kita bertemu hanya berdua saja aku juga nggak mau. Kakak tahu sendiri kan kalau aku ini udah jadi seorang istri?" Ucap Zahira menjelaskan agar Haikal mengerti.
Adam bernafas lega istrinya ini tahu batasan juga.
"Ra.. Kakak mohon ya? Kamu datang besok." Haikal masih membujuk Zahira.
"Maaf Kak, aku tetap nggak bisa. Kakak katakan aja sekarang aku bakal setia mendengarkan kok." Jawab Zahira.
"Kakak nggak bisa bicara lewat telfon Ra.." Ucap Haikal dengan nada putus asanya.
Zahira mengernyit heran sepenting apa sih yang harus di bicarakan. Belum selesai Zahira berbicara pada Haikal, tiba-tiba saja Adam langsung merebut ponsel di tangannya. Zahira sendiri tidak berani memprotes jadi ia biarkan saja Adam yang berbicara kepada Haikal.
__ADS_1
Zahira memilih duduk di pinggir kasur, mendengarkan sang suami bicara.
"Ada perlu apa kamu menghubungi istriku?" Tanya Adam dengan nada dingin.
Deg..
Haikal tersentak kaget rupanya sekarang Adam yang bicara dengan dirinya.
"Tidak ada urusannya denganmu, sekarang cepat berikan ponselnya pada Zahira, aku ingin bicara dengannya bukan denganmu." Sinis Haikal di sebrang sana membuat Adam berdecih.
"Siapa kamu berani menyuruhku!" Tantang Adam.
"Ah, aku lupa jika kamu saat ini adalah suami dari wanita yang sangat-sangat aku cintai." Ucap Haikal dengan nada meremehkan.
"Ya dan sampai kapan pun, kamu tidak akan bisa mendapatkannya atau memilikinya." Balas Adam sengit dan langsung memutuskan panggilan tersebut.
Dengan kasar Adam melempar ponsel Zahira ke atas kasur sambil mendesah berat. Zahira bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi antara Adam dan Haikal sepertinya mereka bermusuhan.
* Di rumah Haikal *
"Sial." Ucap Haikal karena Adam memutuskan sepihak telfon darinya.
"Bagaimana pun juga, aku akan tetap memperjuangkan kamu Zahira, aku yakin kamu tidak pernah menyukai Adam dan hanya aku yang bisa memilikimu." Haikal berkata seorang diri dengan penuh keyakinan.
Selesai dengan sholatnya Haikal berkumpul dengan Ayah dan Ibunya untuk makan malam bersama. Mereka makan dengan keheningan karena Ayah Haikal menerapkan peraturan tidak boleh makan dengan adanya suara.
Kini mereka telah selesai makan malam dan berkumpul sambil melihat televisi.
"Kal.. sudah saatnya kita kembali ke Pulau Sumatra." Kata Ayah mengawali pembicaraan.
Haikal langsung menoleh pada sang Ayah. "Kenapa cepat sekali Yah.. kita di sini bahkan belum ada satu Minggu baru juga lima hari." Protes Haikal karena misinya untuk mendapatkan Zahira belum kesampaian.
"Ayah tidak bisa berlama-lama di sini, restoran kita tidak bisa di tinggalkan begitu saja meskipun sudah ada orang kepercayaan kita yang mengurus semuanya. Tapi tetap saja Ayah tidak bisa lepas dari tanggung jawab itu." Ujar Ayah.
"Benar Nak kata Ayahmu, Ibu juga sama seperti kamu masih ingin berlama-lama di kampung ini tapi Ibu juga khawatir dengan restoran kita yang ada di sana." Sahut Ibu menimpali perkataan suaminya.
"Ayah juga sudah memesan tiketnya." Sambung Ayah.
Haikal mendesah berat. "Ayah dan Ibu balik berdua saja. Haikal masih ingin berada di sini." Ucap Haikal.
"Ya sudah terserah kamu saja, Ayah tidak akan maksa kamu." Jawab Ayah mencoba mengerti kemauan putranya jika masih ingin berada di kampung ini.
__ADS_1
"Semoga saja misiku tercapai." Batin Haikal berharap.
***
Adam berdiri di depan jendela kamarnya dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Masih terpikirkan oleh ucapan Haikal, ingin sekali ia mengatakan pada Zahira tapi Adam tidak tahu harus mengawalinya dari mana.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, Zahira sudah terbawa ke alam mimpi. Adam menoleh kepada sang istri yang sudah tertidur lelap, Adam tersenyum simpul melihat wajah damai istrinya. Ia pun berjalan mendekat lalu duduk di samping Zahira sambil mengusap kepala Zahira lalu mencium keningnya cukup lama.
Zahira sendiri merasa terusik, ia pun membuka kedua matanya membuat Adam menegakkan tubuhnya.
"Mas, kenapa belum tidur?" Tanya Zahira memicingkan kedua matanya.
"Mas nggak bisa tidur Yank." Jawab Adam.
Zahira melihat jam di dinding kamarnya. "Udah mau jam sepuluh loh Mas. Ayo tidur, Mas harus istirahat biar kondisi Mas cepat pulih." Ucap Zahira membuat Adam tersenyum.
"Mas sudah tidak apa-apa, badan Mas juga sudah tidak sakit lagi, Mas cuma mau kamu. Boleh kan?" Adam merayu.
"Kalau aku nggak mau." Jawab Zahira dengan terkikik geli
"Mas akan tetap maksa. Lagian dosa kalau kamu tidak menuruti kemauan suami." Tegur Adam.
"Haha... pintar sekali bawa-bawa kata dosa segala." Balas Zahira.
"Jika kita tidak sering-sering melakukannya kapan lagi kita mempunyai anak." Modus Adam.
"Heleh, bisa aja jawabnya." Ejek Zahira.
"Kapan kita mulainya ini. Dari tadi kamu bicara mulu." Protes Adam lantaran Zahira banyak bicara.
"Dari tadi juga aku juga udah siap, Mas aja tuh yang banyak bicara." Balas Zahira tidak mau di salahkan.
Adam semakin gemas dengan tingkah istrinya ini, ada-ada saja perdebatan mereka sebelum melakukan kegiatan olahraga malam yang menguras banyak tenaga dan akhirnya Adam bisa menguasai tubuh Zahira.
.
.
.
Segitu aja ya penjelasannya karena Author masih di bawah umur😄😄
__ADS_1
Author juga minta sumbangan nih like, vote dan hadiahnya..