
Adam menggeliatkan tubuhnya ketika mendengar suara adzan subuh berkumandang. Ia pun menoleh ke samping melihat Zahira yang masih tertidur pulas. Adam tersenyum tipis mengingat kegiatannya semalam bersama sang istri yang baru mereka lakukan lagi setelah menunggu hampir tiga bulan.
Adam duduk dari posisi tidurnya sambil menarik selimut yang hampir melorot di tubuh sang istri, ia beranjak dari kasur memungut kaos oblongnya yang tergelatak di lantai lalu masuk ke kamar mandi.
Selesai dengan sholat Subuhnya. Adam menghampiri Zahira yang masih bergelung di bawah selimut. Di tepuk lembut pipi sang istri agar segera bangun.
"Yank.." Ucapnya, duduk di tepi ranjang masih mengenakan sarung dan juga baju koko.
"Hmm.." Sahut Zahira dengan suara malas.
"Bangun, sudah subuh." Ucap Adam sambil merapikan rambut Zahira yang berantakan.
"Tapi aku masih ngantuk Mas, emang udah jam berapa?" Tanya Zahira, perlahan membuka kedua kelopak matanya.
Adam melihat jam di dinding. "Jam lima kurang. Ayo bangun biar nggak telat sholatnya. Mas juga udah siapin kamu air hangat." Ucap Adam.
Zahira bersandar sejenak di kepala ranjang. Adam mengambil daster Zahira yang berada tepat di bawah kakinya. Ia mengulurkan pada Zahira agar segera dipakai.
"Perlu Mas bantu ke kamar mandinya." Tawar Adam.
Zahira menggeleng. "Nggak usah, aku bisa sendiri." Tolaknya.
Setelah memakai dasternya kembali, Zahira turun dari ranjang masuk ke kamar mandi untuk mensucikan diri. Sementara Adam merapikan tempat tidurnya yang berantakan.
Zahira sudah keluar dari kamar mandi. Tubuhnya menggigil karena kedinginan meski sudah mandi dengan air hangat. Ia pun melaksanakan sholat subuh. Selesai melipat mukenanya, Zahira mengeringkan rambutnya yang masih basah.
"Ini Mas buatkan kamu teh hangat." Adam membawa dua gelas teh hangat, satu untuk dirinya satunya lagi untuk sang wanita tercinta.
"Makasih Mas." Zahira tersenyum lalu meneguk teh hangatnya.
"Ibu sudah di dapur ya Mas?" Tanya Zahira.
Adam mengangguk sambil menyeruput tehnya.
"Kamu kalau capek jangan ke dapur dulu. Istirahat saja." Ujar Adam meletakkan gelasnya di atas meja.
"Sini, Mas bantu gosok rambutmu." Adam mengambil alih handuk di tangan Zahira lalu mengeringkan rambut sebahu itu.
"Mas, hari ini jadwal check kandunganku." Kata Zahira.
"Mas hari ini harus kerja. Bakda Maghrib aja kita periksanya, gimana?" Tanya Adam.
Zahira mengangguk setuju. "Ya udah, nanti aku chat dokternya dulu." Balas Zahira.
Rambut Zahira sudah kering, ia menyuruh Adam untuk berhenti. Adam menurut dan menggantung handuk di tempat gantungan.
"Aku ke dapur ya Mas." Ucap Zahira sambil memakai kerudung instannya.
"Kamu di kamar saja tidak perlu ke dapur." Adam memegang lengan Zahira.
__ADS_1
"Nggak Mas, aku mau bantu Ibu. Kasihan Ibu harus masak sendiri." Jawab Zahira.
***
Keluarga Citra sedang sarapan pagi bersama.
"Kamu sudah minta maaf sama Adam dan istrinya?" Tanya Ayah Citra tanpa menatap pada lawan bicaranya.
"Belum Yah, nanti kalau sudah sampai kantor, aku akan minta maaf ke Adam." Jawab Citra pelan.
"Bukan hanya Adam saja tapi istrinya juga!" Ucap Ayah Citra penuh penekanan sambil menatap tajam anaknya.
Citra mengangguk. "Iy-ya Yah." Jawabnya takut.
"Di tempat kerja, bekerjalah yang baik jangan ganggu Adam lagi. Jika sampai Ayah dengar kamu masih merayu Adam atau apapun itu. Ayah akan minta sama atasan kamu agar kamu dipecat dari kantor itu." Omongan Ayah Citra tidak main-main. Selama ini dia dan istrinya sudah terlalu memanjakan anaknya itu. Kini sudah saatnya putrinya itu harus bisa bersikap dewasa sesuai usianya sekarang.
***
"Anak Papa yang pintar, Papa kerja dulu ya Dek." Ucap Adam sambil mencium perut Zahira.
"Iya Papa.. hati-hati di jalan." Balas Zahira dengan senyuman.
Adam menegakkan tubuhnya lalu mencium kening dan bibir Zahira sekilas. Tidak lupa Zahira juga mencium punggung tangan suaminya.
"Mas berangkat ya, Assalamu'alaikum." Pamit Adam.
"Sayang.." Panggil Ibu mertua kepada Zahira yang berdiri di depan pintu.
Zahira menoleh. "Ya Bu, ada apa?" Tanyanya.
"Nanti jam sembilan kamu ikut Ibu ke rumah teman Ibu ya." Ajak Ibu mertua.
"Jauh nggak Bu?" Jika tempatnya jauh Zahira malas keluar rumah.
"Enggak Sayang, dekat kok tempatnya." Jawab Ibu.
Zahira mengangguk setuju. "Iya, nanti aku ikut Ibu." Ucapnya sambil menggandeng lengan Ibu untuk masuk ke dalam.
*
Citra menunggu kedatangan Adam di tempat parkir. Ia berniat meminta maaf atas semua kekhilafan yang sudah ia perbuat kepada laki-laki tampan itu. Ia juga menyesali semua sikapnya yang sangat keterlaluan. Hanya karena sebuah obsesi, hatinya menjadi buta dan bahkan berujung pada pertengkaran di dalam rumah tangga Adam dan istrinya.
Begitu Adam sudah memarkirkan motornya. Citra bergegas mendekat.
"Adam.." Ucapnya setelah Adam melepas helm.
"Ada apa lagi?" Tanya Adam dengan raut dingin, kakinya terus melangkah.
"Tunggu sebentar, aku mau bicara sama kamu." Citra menghadang jalan Adam.
__ADS_1
Laki-laki berparas tampan itu menatap tajam pada gadis yang menghalau jalannya membuat Citra menundukkan kepalanya sebelum mengatakan sesuatu.
"Bicara apa lagi. Masih belum puas kamu!" Sarkas Adam.
"Aku mau minta maaf sama kamu Dam.. minta maaf atas semua kesalahan yang sudah aku lakukan. Aku menyesali semuanya.. aku sudah jahat pada kalian berdua." Ujar Citra dengan mata berkaca-kaca.
Adam tidak percaya begitu saja dengan ucapan Citra. Pasti Citra saat ini sedang melakukan sandiwara agar mendapat simpati dari dirinya.
"Aku tidak percaya." Balas Adam datar.
"Aku bersungguh-sungguh Dam, aku nggak bohong." Sahut Citra cepat.
"Buktinya?" Adam menantang Citra untuk menunjukkan kesungguhannya jika dia sudah berubah.
"Aku tidak akan mengganggu kamu lagi." Jawab Citra mantap.
"Cuma itu?" Tanya Adam lagi sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Aku juga berencana mau minta maaf sama Zahira. Aku mau minta maaf yang setulus-tulusnya." Jawab Citra sembari menunduk.
Karena tidak ingin berlama-lama berduaan dengan Citra, Adam setuju saja untuk memberikan maaf.
"Baiklah aku terima permintaan maafmu. Tapi kalau kamu masih punya niat untuk menghancurkan rumah tanggaku lagi. Siap-siap saja, aku akan memberimu pelajaran setimpal." Ancam Adam lalu meninggalkan Citra di tempat parkiran.
Citra memandang punggung Adam yang sudah menjauh. Ia kaget dengan sebuah tepukan di pundaknya.
"Lagi lihat apa Dek?" Tanya Tholib kepada Citra.
"Oh, t-tidak lihat apa-apa kok." Jawab Citra ramah sembari tersenyum.
Mulai hari ini, ia bertekad akan menjadi orang yang baik. Ia tidak akan bersikap angkuh lagi dan tidak akan memandang rendah orang lain. Ia ingin menjadi pribadi yang di senangi teman-taman lainnya karena Citra sadar sedari dulu dia hanya punya teman sedikit akibat dari sifatnya yang terlalu menyombongkan diri.
Tholib sampai terkesima begitu melihat senyum tulus dari Citra.
"MashaAllah.. senyummu indah sekali Dek.." Puji Tholib sampai dirinya seperti terbang ke awan.
"Ah, kamu bisa aja." Ucap Citra malu-malu.
"Iya, Mas Tholib nggak bohong. Kamu tambah cantik kalau senyum seperti ini." Ungkapnya.
"Udah, berhenti gombalnya. Ayo kita masuk." Tanpa banyak kata Citra menggandeng lengan Tholib.
.
.
Bersambung...
.
__ADS_1